Kerap terulang baru merasa. Merasa tahu pada yang baru disuaMustahil tahu tentang segala. Karena segala-Nya tak akan habis dimakan kala.
Tahu satu, tumbuh seribu yang tak tahu. Tahu dua, muncul seribu tambah satu atau lebih yang juga belum tahu.
Tahu tiga, empat, lima, meruyaklah ketaktahuan itu. Benar kata tahu, jika sesungguhnya ada yang tak tahu. Benar kata tak tahu, kalau ketaktahuan ini mendahului tahu yang itu.
Tidak tahu, hadirlah sepanjang waktu. Mendekatlah, meleburlah pada tahu, Untuk menjadi debu lalu padu dan tahu.
Sayang, semakin kemari tahu itu. Semakin tidak tahu pada ribu-ribu yang ada di sini dan di situ.
Tak tahu, hantuilah yang ini dan yang itu. Buatlah semua mencekam lagi pilu. Bertembang tak tahu. Bak tersayat sembilu. Tuk menjemput asa pada pikir dan rasa yang berhasrat tahu.
Tahu, datanglah, sandingi rindu. Buncahkanlah tahu. Hantarkan kembali ke titik tak tahu
Tahu dan tak tahu, tak berhilir tak berhulu. Semua melingkar lugu.
Merajamlah tak tahu. Habiskanlah peluh ragu. Hingga menjadi tahu lalu malu pada Al-Alim,Yang Maha Tahu
wah, bagus puisinya. ajari aku dong!
@:
Masa’ si bagu, wong acak-acakan gitu ko.
Maksih sungai, btw filosofi namamu apa tuh, Sungai?
Jeng, ini sangat menarik sebuah pertanyaan masalah ke-Tahuan kita di banding semilyar lebih ke-Tahuan di alam sana…
sebuah puisi yang menempatkan tahu diri dibanding ke-Tahuan-Nya… asik gila!
@ :
Yang gila emang kadang asik bang, hehehe
Sayang yah sajaknya super berantakan