Oleh: Ningrum | 3 Desember 2007

Manejemen Qolbu (Hati) atau Pengelolaan Akal? Manakah yang Lebih Penting?

Memanajemeni atau mengelola akal dan hati sama-sama betujuan untuk mengoptimalkan daya guna keduanya. Sehingga, pada akhirnya keduanya dapat menuntun empunya hati dan akal ke arah yang tujuannya baik. Walaupun ukuran baik itu tersering disubyektifkan dan berbeda satu dengan lainnya. Kali ini nilai-nilai baik disini kita normatifkan saja untuk mempermudah dan meyederhanakan, disetandarkan seperti umumnya.

Kita awali dengan mengungkap potensi qolbu dan akal. Sejauh yang saya pelajari dan rasakan, dua-duanya memiliki kandungan positif dan negatif. Positfnya, pikiran atau akal yang melalui proses berfikirnya bisa menghantarkan manusia mengenali semua tanda-tanda kekuasaanNya lewat segala yang diciptakanNya. Sedangkan hati adalah tempat ketentraman, sabar, empati; kasih sayang dan bisa menghantarkan manusia mencapai kehadiratNya.

Negatifnya, akal bisa menjadikan manusia menipumuslihati manusia yang satu dan lainnya. Akal-akalan yang digunakan hanya untuk kesenangan dirinya. Jika tidak digunakanpun ini akan menjadikan manusia disebut gak punya otak, entah wujudnya itu merugikan atau mengganggu orang lain. Jadi bagaimnana? Digunakan atau tidak digunakan masih tetap memiliki efek negatif. Nah disinilah saya kira pentingnya pengelolaannya.

Akal yang tidak diatur atau dibarengi dengan rasa percaya kepadaNya, akan cenderung takabur (sombong). Manusia akan merasa mampu menciptakan banyak hal atau sampai ke taraf segalanya dengan kemampuan berakalnya/berfikirnya. Hingga seseorang tersebut memiliki anggapan bahwa semuanya yang ada, yang dimilikinya semata-mata hanya karena usahanya, karena akalnya, tanpa ada campur tangan Nya. Kemudian, kemungkinan besar sangat sulit sekali mempercayai hal-hal irrasional yang memang banyak muncul dalam kejadianNya (baca: kejadian yang diciptakanNya).

Begitu pula dengan hati. Hati adalah tempat bersarangnya dengki, iri, hasat, hasut, kikir, sombong, dendam, amarah juga tempat tempat selemah-lemahnya iman. Sifat negatifnya sudah tentu berlawanan dengan potensi positifnya.

Lalu manakah yang lebih penting manajemen qolbu atau pengelilaan akal? Keduanya memiliki potensi yang tidak bisa diabaikan baik kepositifannya juga kenegatifannya bukan?

Tanpa akal bisakah manusia mengenali kekuasaaaNya? Seringkali dijelaskan secara gambalang dan berulang dalam kalamNya. Kalau manusia itu dikarunia akal untuk berfikir, memperhatikan segala yang ada di langit dan di bumi, untuk bertaqwa, mengambil pelajaran dan mendapatkan keberutungan. Karena sebaik-baik bekal adalah bertaqwa bagi orang yang berakal.

Tanpa hati bisakah kita beriman? mengasihi sesama? berempati? berprikemanusiaan? Mampukah manusia menjadi mulia dihadapanNya dan atau di mata manusia tanpa memiliki hati? mampukah merasa tanpa ada hati? bukankah hati juga bisa menahan hasrat menyemena-menakan sesuatu/ seseorang dari hasil akal-akalan?

Akal tanpa hati mungkinkah? Hati tanpa akal masuk diakalkah?

Saya kira keduanya berbeda yang berada dalam satu aku-kita. Akal lebih senang bekerja untuk hal-hal yang konkret dan rasional. Sedangkan hati, berkecenderungan pada hal-hal sulit dirasionalkan. Nyatanya, dunia juga dipenuhi dan memerlukan kolaborasi apik antara hati-akal.

Akal juga ikut andil dalam mencipta strategi, menentukan yang mana yang harus dilakukan. Memilih yang lebih menguntungkan atau lebih baik dipilih atau yang buruk; yang umumnya lebih banyak mendatangkan kerugian baik bagi diri juga orang lain. Atas dasar itu lah muncul sebuah ungkapan akal sehat. Tapi tunggu dulu, hati juga tak kalah berperannya dalam menuntun seseorang untuk berbuat baik, bahkan hati pun menjadi penentu luaran manusia (perbuatannya). Hingga muncullah ungkapan jika baik segumpal darah ini:hati maka, baiklah seluruhnya; laku manusia. Jika buruk, buruklah semuanya.

Jadi sampailah kita kepada kunci jawabanya. Pengelolaan hati dan akal bisa dilakukan dengan berusaha mengembangkan sifat-sifat positifnya dan memperkecil bidang kenegatifannya. Bagaimana prakteknya? Nah ini, tak semudah mendapatkan kunci jawaban. Menjadi yang baik itu lebih sulit dibandingkan menjadi buruk. Mempertahankan yang baik itu jauh lebih beresiko dan tak semudah menjadi baik. Perlu kebulatan tekad, kesabaran, kontiunitas ataupun keajegan juga pengorbanan untuk mengabaikan berbagai macam hasrat negatif, melumpuhkan berbagai godaan-godaan dahyat yang sering melintas menggila.

Managemen Qolbu atau pengelolaan akal? Manakah yang lebih penting? Silahkan dijawab sendiri ya. Kalau menurut saya sih yang terpenting, paling utama adalah pengaturan kerja-kerjanya. Bagaimana caranya agar keduanya bisa menjadikan kita termasuk orang-orang yang beruntung, seperti kataNya.

Apakah kita semua akan mampu? Semoga

Salam harap selalu

Perempuan


Responses

  1. Akal diciptakan untuk mencerna sesuatu dengan tujuan agar kita bisa mengenal Allah…
    Jika semua hasil kerja akal tidak bisa mengenalkan kita kepada Sang Pencipta kita, maka sia-sialah tujuan penciptaan akal itu….
    Jika akal sudah menerimanya, maka diharapkan hati juga mau meyakininya…

    Seringkali akal kita sudah cape-cape mencerna tanda-tanda kebesaran Allah, tapi hati ini tetap sulit untuk meyakini apa yang telah dicerna oleh akal…
    Dalam hati kadang mempermasalahkan lagi semua hasil yang dicerna oleh akal…

    Apakah mungkin…?
    Apakah itu benar….?
    Apakah itu pasti…?

    Sia-sialah kerja akal karena setiap kali sang akal memberitahu akan keberadaan Allah, tetapi hati selalu menolaknya….

    Mengapa hati kita terlalu keras…?
    Mengapa hati kita selalu menolak kebenaran yangsudah jelas…?
    Bahkan setelah dicerna oleh akal kita sendiri…?

    *Ya Rabb… Ampuni diri ini….*

    Perempuan:

    Sam BK, akal memang diciptakan untuk mengenal kebesaranNya, memikirkan segala yang diciptakanNya agar manusia itu bertaqwa dan beruntung.

    Soal kerja akal itu adalah tangungjawab manusianya, wujud syukur salah satunya adalah menggunakannya dengan maksimal. Akal juga tidak menjamin akan mengantarkan kita kepadaNya kalau tidak dikelola, karena akal pun punya potensi memperbesar kesombongan manusia karena merasa mampu menciptakan segalanya dengan kemampuan berfikirnnya. Akal juga memiliki keterbatasan, jika seseorang hanya mempercayai hal-hal yang rasional bagaimana? Padahal pada kekuasaan dan kejadian yang diciptakanNya itu banyak yang irrasional tapi benar adanya. Akal ternyata perlu hati kok, hati yang lurus.

    Proses penerimaan keberadaanNya manusia satu dengan lainnya berbeda. Ada yang melalui proses berfikir panjang lalu beriman (akal dulu baru ke hati). Sebaliknya, (hati dulu baru ke akal) beriman dulu kemudian setelah itu baru memikirkan tanda-tanda kekuasaaNya; ini terjadi pada saya yang mempercayaiNya karena turut agama orang tua. Namun seiring berjalannya pertumbuhan akal, mulai memikirkanya secara sadar pilihan-pilihan yang ada. Ternyata, semua yang diturunkanNya membuat saya bertambah percaya akan kebenaran dan keberadaanNya.

    Yakinkah sam BK pada kerja-kerja hati itu memikirkan kemungkinan, kebenaran dan kepastian?
    Sebenarnya, soal kerja hati atau akal juga sudah saya sebutkan dalam postingan ini. Saya kira keduanya berbeda yang berada dalam satu, aku-kita. Akal lebih senang bekerja untuk hal-hal yang konkret dan rasional. Sedangkan hati, berkecenderungan pada hal-hal sulit dirasionalkan. Nyatanya, dunia dan kebenaran juga dipenuhi dan memerlukan kolaborasi apik antara hati-akal.

    Kerja akal sia-sia? Sungguh tidak, minimal akal sudah bekerja. Tugas empu telah berkurang, tinggal memberdayakan hatinya.
    Jika hati menolak? Ada yang konslet di gumpalan yang menentukan baik buruknya manusia ini, di tempat inilah keimanan itu ada dibantu akal sebagai pengantarnya.

    Oleh sebab itu hati pun perlu permanajemenan hingga potensi positifnya itu mampu mengalahkan potensi negatifnya (Potensi negatif dan positif pada hati dan akal juga sudah ada di postingan saya, bisa dibaca kembali). Jika sudah kepositifan yang muncul, sang empu akan berbuat sesuai dengan nuraninya yang memiliki kecenderungan positif dan mempercayaiNya.

    Hati akan menjadikan manusia lebih manusiawi dimata sesama manusia juga dimataNya. Semoga kita bisa, amin.

  2. akal ama hati kyknya emg ga bisa digabung d

    Perempuan:
    Bisa, tapi kudu kerja keras sih. Bisa digabung atau bekerjasama kalau visi hati dengan akal udah sama. Punya tujuan yang sama, ke Dia, ke dunia atau memanfaatkan dunia untuk bisa ke Dia, tinggal pilih yang mana. Disamakan dulu, kalau tujuannya beda-beda ya agak susah. *kayaknya gitu sam Syaf*

  3. Balik lagi ke manajemen, saya tahunya cuma fungsi-fungsi manajemen dari skolah dulu, meliputi planning, organizing, directing, controlling; pengelolaan adalah terjemahan langsung dari manajeman, jadi fungsi-sungsi pengelolaan adalah identik dengan fungsi-fungsi manajemen. Dari situ saya mulai..
    Akal sering orang terjemahkan sebagai rasio, mesin penghitung atau penimbang dalam pikiran manusia, padahal sesungguhnya lebih dari itu, seperti komentar dari blogkeimanan di atas, akal adalah bersih.. Nafsu yang kemudian mengambil manfaat dari akal itu, so selama akal digunakan dan dikendalikan oleh hati yang bersih dan lurus tidak dikuasai oleh nafsu sesaat, kecenderungan kepada diri sendiri, tidak akan ada masalah. Dekrit dari Allah, Muhammad SAW diutus menjadi Rasul terakhir adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia zaman akhir, diwujudkan dalam memberi contoh yang terbaik bagi seluruh umat manusia akhir zaman. Akhlak terbaik itu cuma terdiri dari dua aspek yaitu mengenddalikan hawa nafsu dan memakmurkan dunia (mencetak prestasi). So, buat saya yang perlu ditinjau adalah output dari manajemen kalbu dan pengelolaan akal tersebut apakah mengarah kepada perbaikan akhlak, atau hanya segenap teori yang justru mempersulit diri sendiri, itu saja.. kalau saya cuma pingin bisa memdefinisikan yang orang paling goblok pun bisa tahu dan dengan mudah mengerjakannya, ada yang pengin..?

    Gatho, Master of Il Mugo Blog

    Perempuan:
    Manajemen diambil untuk mempermudah saja bagaimana akal dan hati itu dikelola. Prinsip-prinsipnya si sama bagaimana merencanakan, menata, melaksanakan dan melakukan kontrol keduanya. Saya sebut keduanya karena hati dan akal itu memang perlu dikelola dan diarahkan kepada tujuan baik untuk tujuan baik, tentu saja sesuai dengan nila-nilai yang dipercayai.

    Sudah bener itu sam Gatho, kalau hati itu adalah pengendali akal dengan catatan hatinya juga harus bagus/baik. Nah untuk baik/bersih perlu pengaturan dan ini lebih familiar dengan sebutan manajemen qolbu yang akan memacu kecerdasan emosi juga ruhani. Semua yang dilakukan itu akan bertujuan dan diakhirkan kepadaNya dengan tidak mengabaikan hubungan terhadap manusia. Kalau Muhammad SAW sebagai contoh sosok sih ya gak diragukan lagi untuk umat Islam, soalnya dia sendiri terkenal dengan julukan al-quran berjalan dan al-Aminnya.

    Manajemen qolbu memang teori. Teori yang bisa diterapkan secara berangsur-angsur untuk memperbaiki juga secara bertahap. Harapannya teori tersebut bisa mempermudah, karena mensepesialisasikan diri kepada pengelolaan dan perbaikan hati dan akal yang merupakan penggerak manusia. Hasilnya akan terefleksikan lewat perbuatan/akhlak. Jika sang empu mampu mengembangkan sifat sifat positifnya, yang akan keluar darinya adalah hal-hal yang positif. Juga sebaliknya.

  4. Akal tanpa hati mungkinkah? Hati tanpa akal masuk diakalkah?

    hehehehe….. bhn renungan yng cantik! :)

    Perempuan:
    Merenung emang cantik :-)

  5. hihihihiii kurasakan renunganku itu secantik penulis artikel ini…
    *hanya renungan, syukur yang sebenarnya*

    Perempuan:
    Bener, hanya renungan bang :-)
    Jauhlah saya dengan cantik yang di setereotipkan media.
    Maka dekatlah saya dengan kesyukuran pada seluruh pemberianNya

  6. numpang mbacot di sini ah…

    segala sesuatu konon berasal dari niat. kalau dalam diri manusia, niat itu berarti kan dari hati. berarti hati dulu yang harus diluruskan dan dibersihkan. nalar hanya berusaha mencerna apa yang diniatkat itu kan… istilah kerennya analisis.

    artinya, setelah itu nalar harus mengamini dulu apa yang berasal dari niat.

    setelah itu, langkah terakhir menurut saya, adalah meluruskan hasrat. hasrat inilah yang mampu memanifestasikan niat dalam bentuk realitas.

    contoh: niat makan tapi cuma niat. lalu memikirkan makanannya. ya tetep aja kurang manfaat. wong cuma angan-angan aja sih :D
    tapi kalo betul-betul sudah makan… lha barulah kita benar-benar mendapat yang namanya manfaat. kalo tidak percaya silakan tanya ustadz kurtubi :D

    Perempuan:
    Maksud sam onohaw segala sesuatunya tergantung pada niatnya, gitu sam onohaw? udah bener….Penilaian dan balasanNya akan diberikan sesuai dengan yang diniatkan manusia, buruk atau baik, pamrih atau ikhlas, dunia atau akherat.

    Kasus pertama, niat bisa lahir dari proses berpikir atau bernalar ria. Jadi analisa kondisi dulu baru ada niat. Contohnya: si X tahu akibat bahaya merokok,efek dan segala macemnya. Karena tahu (hasil olah pikirnya-penalaranya-analisanya) lalu ia berniat berhenti merokok. Belum tentu ia berniat berhenti merokok jika ia tidak tahu mengapa harus berhenti merokok? Artinya sebuah penalaran juga bisa mendahului niat.
    Apakah bisa ter-lakukan? Tergantung empunya nalar dan hati. Bulat gak niatannya untuk melakukannya. Artinya ada proses timbang menimbang, ada kerjasama yang mendahului antara analisa dan niat hingga melahirkan perbuatan.

    Kasus kedua, Perbuatan juga belum tentu lahir dari nalar dan niat kalau keduanya belum sampai pada tahap “dewasa”. Contohnya: awal mula saya berislam karena mengikuti saja agama orang tua. Saya sholat dan melakukan segala kewajiban karena keislaman itu, ya pokoknya harus melakukan. Keimanan saya ketika itu belum didahului kegiatan memikirkan yang ada di langit dan yang di bumi, belum mengambil pelajaran dari yang ada. Lah wong waktu kecil belum bisa menalarkan keimanan itu je. Niat saja baru sebatas kata-kata “saya niat sholat shubuh. dst, saya niat puasa dst. Apakah niatnya itu benar-benar ikhlas? Wah ini kapan-kapan kita bahas di bab yang lain.
    Jadi, perbuatan sebagai hasil kerja-kerja nalar-analisa tidak berlaku pada kasus ini.

    Ada masukan baru ni saya sam onohaw. Pertama, tentang refrensi, jadi kalau saya ndak percaya tanya ustadz Kurt ya? Saya biasa panggil bang Kurt. Kedua, tentang hasrat. Makasih, jadi inget postingannya sam deKing yang mudah-mudahan bisa merajai dengan bijak hati dan nalarnya, heee.

    Bukankah keingingan (hasrat) tidak lebih bulat daripada niat? Kalau menurut saya, hasrat itu mendahului niat. Ingin dahulu, karena ingin banget jadi deh niat bulat atau tekad. Biasanya kalau sudah bertekad memudahkan kita sampai kepada perbuatan. Saya bilang biasanya, karena ada yang tidak biasa lho. Kalau soal manifestasinya kembali ke kasus pertama dan kedua diatas.

    Makasih masukannya sam onohow.

  7. maksudnya mungkin hasrat berkaitan dengan nafs. kita hidup perlu nafsu, tapi bijaksanakah bila dibiarkan dominan? maksud dia mungkin hati yang bersih itulah awal sebaik-baiknya niat. kalau hasrat ingin mencumbu saking ngebetnya trus jadi berniat, saya kira jadi kurang bersih niatnya.

    btw, konon keinginan tak sama dengan kebutuhan. orang yang ingin belum tentu benar-benar butuh. kalau memang butuh, mestinya dibarengi keinginan karena kalau tidak ya tidak terpenuhi.

    lha masalah munculnya niat itu dari berpikir ada benarnya. tapi, sebelum itu apa gak ada niat untuk memikirkan? jadi, maksudnya mungkin 3 aspek tersebut perlu diluruskan. perkara siapa yang muncul duluan, ya seperti menanyakan duluan mana ayam atau telur… he he… jawabannya bisa beda-beda.

    Perempuan:
    Dia siapa? dia yang mana ne sam Syech *oh maaf ternyata saya salah kira, maaf sam deking*
    Jadi saya tersendat bekomentar, karena salah kira *malu….*
    Soalnya komentar balik dari saya waktu itu belum lama dari emmbaca topik yang serupa milik orang lain.

    Ya hati bersih adalah tujuan dan hasil dari sebuah proses perjuangan diri. Tapi jika ditilik dari asal muasalnya nafsu itu sendiri ada dalam hati. Nafsu itu tidak selamanya negatif (nafsu: merebut hak orla dsb) ada nafsu positif juga lho: misalnya nafsu makan, nafsu belajar. Cuma hal itu jarang digunakan dalam bahasa keseharian kita. Jadi nafsu itu tersering dikonotasikan negatif, padahal gak. karena hati itu kaya akan kepositifan dan kenegatifan.
    Jadi ya itu, manfaatkan dan perbesar wilayah yang positif dan perkecil wilayah yang negatif.

    Kalu ditanya duluan mana ayam dengan telur, bingung juga saya :-(

  8. Asalamualaikum warohmatullahi wabarokatuhu,
    Alhamdulillahirba,sholawat untuk Nabiyullah MUHAMMAD SAW.
    Terimakasih atas infonya soal hati/qalbu.Mari kita terus merasa bodoh dan terus belajar,belajar dan belajar.Karena persoalan kita selaku manusia memang sulit menyelaraskan amanah raga,hati,pikir,perilaku dalam sinyal yang selalu matching dengan ALLAH JALAJALALLUHU.
    Kesadaran tanpa jeda bahwa kita hamba yang lemah,bodoh,lupa mari kita jaga pula dengan beramal benar[bergerak,berpikir,berbuat,berucap]dalam qalbun salim.
    Kita hidup ternyata hanya pantas buanyak istighfar,bersyukur atas trilyunan anugerah-Nya,MALU KEPADA-NYA TAPI HARUS TETAP BERHARAP YANG TERBAIK DARI-NYA.SEMOGA ALLAH RIDLA MEMBAROKAHI PENDALAMAN HIDUP DANKEHIDUPAN DENGAN AL QUR’AN DAN AL HADIST SECARA LILLAHI TA’ALA.AMIN.
    Wasalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuhu.Maaf…

    @Yudi Utoyo
    Alaikumussalam….
    Hidup memang tempat kita belajar tanpa henti hingga memang sudah dihentikanNYA. Pikir dan rasa sudah semestinya berjalan bersama, namun terkadang sisi kemanusiaan kita menggoda dan membuat pertimbangan-pertimbangan sendiri dan kita selalu menghadirkan pemakluman yang belum tentu benar pada-NYA.
    Tak akan habis ilmu_NYA kita amalkan dan pelajari, isyaallah Allah memberkahi dan meridhoi juga memulyakan. Ya memang banyak keharusan yang kita lakukan; bersyukur, belajar, mengambil makna dan pelajaran dari setiap potongan-potongan peristiwa dalam hidup yang ada dalam sebuah kejadian kini dan yang sudadh tertulis dalam kalam-NYA.
    Maaf, maaf anda tidak saya terima karena anda tidak sedikitpun berlaku salah terhadap saya :)

    Allaikummussalam dan terimakasih atas komentarnya, salam…

  9. betul…hati adalah penggerak manusia untuk berbuat baik dan jelek baru trus berakal yang menentukan cara2 itu


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: