Arsip untuk September, 2008

Undang-Undang Pornografi Gak Penting Banget??

Persoalan ini sudah muncul di 2006. Saya pun ingat ketika seorang teman menempelkan tulisan penolakan rancangan undang-undang (RUU) pornografi di mejanya. Sepertinya ia terilhami oleh aksi demonstrasi anti RUU Pornografi yang dilakukan oleh LSM Perempuan Damar yang tampak juga melakukan koordinasi dengan LSM Perempuan seluruh Indonesia.

Mau tahu  sett-big isue demonstrasi itu? budaya daerah-kebhinekaan dan hak asaasi manusia. Ternyata isu ini juga yang masih menjadi “senjata” penolakan di 2008, ini juga kembali muncul di segmen Save Our Nation-nya Metro TV beberapa waktu lalu.

Sebelum bicara setuju atau tidak, perlu atau tidak perlu mari pertanyakan kepada diri sendiri dulu, menggunakan setandar umum. Relakah jika anak-anak anda nantinya sedikit-banyaknya terpengaruh-terobsesi oleh hal-hal yang berbau porno?. Tengoklah bagaimana penasarannya anak remaja (masa transisi) pada hal-hal yang memang menarik (hal-hal yang bagi mereka baru) dengan stimulasi awal adalah media masa;cetak dan elektronik? Relakah anda jika sejak dini mereka sudah memiliki orientasi yang disebabkan-dipengaruhi kepornoan aksi media itu? (Apakah itu porno? Contohnya? Standarnya-barometernya? hmm… pasti persepsi beda-beda, tergantung kecenderungan dan tata nilai yang diyakini)

Cocokan jawaban anda (pertanyaan ini) dengan alasan Lanjutkan membaca ‘Undang-Undang Pornografi Gak Penting Banget??’

Novel-Novel Islami itu Monoton

kisah kakak beradik dan sepasang sepatu yang mengharukan dan memanusiakan1

Children Heaven:kisah kakak beradik dan sepasang sepatu yang mengharukan dan memanusiakan1

Langsung saja tanya, mengapa mayoritas (berarti ada yang tidak lho) novel-novel Islami itu ber-cover wajah perempuan? Kira-kira Tujuannya? Sangat komersilkah-punya nilai jual tinggikah perempuan pada novel Islam selama ini? Apakah memang wajah perempuan itu sangat merepresentasikan cerita? Atau perempuan itu tokoh tunggal? Kalau bukan mengapa tidak ada wajah lain selain perempuan? Atau segmen pembacanya prempuan, jadi bercover perempuan? Atau mungkin isinya sangat perempuan? Lainnya, mengapa sangat banyak bersanding dengan kata cinta,sering kali cinta?!

Pertanyaan itu muncul di Gramedia waktu  sore, saat aku mencari majalah sembari menunggu beduk magrib-buka. Ternyata majalah yang kuingini tidak ada, barangkali habis. Jadilah kemudian berjalan ke rak di dekatnya, melihat deretan, membaca yang  terpajang dan terususun, adalah itu novel-novel Islami.

Rupanya ada yang menarik perhatianku, bukan untuk membaca isi, tapi keseolahan keseragaman-kesenadaan, barangkali juga kelatahan, terutama pada Lanjutkan membaca ‘Novel-Novel Islami itu Monoton’

Covey, Semar dan Pandawa; Langkah Menuju Manusia Paripurna (bagian2-habis)

Kebiasaan-kebiasaan positif-efektif yang dipopulerkan Covey yang menurut Pitoyo juga dimiliki Semar dan Pandawa yang Jawa dan nge-Ramayana-ni lainnya adalah:

3. Batara Kresna; Mendahulukan Yang Utama. Kebiasaan ketiga ini melatih aspek personal management; mengatur dan memilah yang mana terpenting, penting kurang penting atau tidak penting. Hal terse but tentu saja sangat berhubungan dengan persoalan waktu dan  jenis kegiatan atau aktifitas. Pelaksanaannya sesuai dengan misi diri. Dalam pewayangan Pitoyo mengidentikkan poin kebiasan ketiga ini dengan Raden Naryana (nama ketika muda) alias Prabu Sri Batara Kresna.

Yang saya tangkap dari cuplikan kisah Kresna adalah ia sosok dengan misi menciptakan perdamaian, seringkali melakukan upaya preventif agar tidak ada  peperangan dan perpecahan yang ketika itu adalah persoalan yang cukup rentan ada. Dengan visi-misi yang dimiliknya tersebut, sejak usia muda ia menganggap silahturahmi dalam rangka membangun kepercayaan adalah hal yang paling penting dilakukan. Bahasa mudahnya si, Naryana melakukan diplomasi dan tampak ia adalah sosok yang diplomatis dan Lanjutkan membaca ‘Covey, Semar dan Pandawa; Langkah Menuju Manusia Paripurna (bagian2-habis)’

Covey, Semar dan Pandawa; Langkah Menuju Manusia Paripurna (Bagian 1)

Saya pikir, tak terlalu berlebihan jika menyebut The 7 Habits of Highly Effective People-nya Steven Covey (SC;1990) yang kemudian mengalami perkembangan di 2004 menjadi The 8`th Habit From Effectiviness to Greatness adalah sebuah konsep untuk mencipta manusia paripurna (bukan sempurna, coz no body is prefect). Hal itu tersirat pada buku The 7 Habits of Highly Effective People versi Semar dan Pandawanya Pitoyo Amrih.

Saya kira (hipotesa dari hasil membaca buku tersebut), keparipurnaan  manusia itu ada ketika ia sudah berhasil melatih dirinya, mengefektifkan dirinya terhadap hidup sehingga mampu membangunkan kesadarannya hakikinya (menghidupkan lentera hati) dan mengoptimalkan segala potensi yang dianugrakan Sang Maha Pencipta.

Lalu, keparipurnaan itu lebih terdapat pada kondisi psikologis. Kondisi yang akan berpengaruh dan sangat mandominasi tindakan dan keputusan yang bersangkutan dalam kehidupan sehari-hari. Keduannya akan muncul dari keyakinan akan tuntunan nilai-nilai (suara hati;kebajikan) yang dipegangnya untuk berusaha kepada tujuan “besar“ hidupnya hingga juga bisa hidup dengan  dan menjadi manusia paripurna.

Bagaimana teknisnya? Teknisnya saya dapatkan di buku yang tampaknya meresume sekaligus mencoba menggali dan mencocokkan nilai Barat (Covey) dengan khasanah timur (Indonesia) khususnya dunia pewayangan Jawa-Ramayana. Pitoyo Amrih, penulis buku yang berjudul The 7 Habits of Highly Effective People versi Semar dan Pandawa juga tampak mengambil Lanjutkan membaca ‘Covey, Semar dan Pandawa; Langkah Menuju Manusia Paripurna (Bagian 1)’

Ter-untuk Hidup

Sudah beberapa  hari ini aku gelisah. Akankah aku mampu memenuhi harapanku?
Kata banyak orang tua, hidup sudah ada yang mengatur, kita-masing-masing pun sudah dijatah menjadi lakon yang berbeda dalam memainkan peran. Mampukah aku memainkan peran itu sebaik mungkin? Melewati episode demi episode. Aku ingin sekali mensudahkan-berhasil melewati fase-fase ini

Hmmm….
Bagiku, hidup itu misteri, penuh katak tahuan dan sedikit Lanjutkan membaca ‘Ter-untuk Hidup’

Halaman Berikutnya »


Silahkan…

Ambil jika memang ada yang baik. Acuhkan yang bernada emosi;amarah. Abaikan bila tidak penting.

Dari Saya

Maaf jika ada kekeliruan. Terima kasih atas koreksi. Terima kasih kunjungannya.
Visit Yogyakarta / Jogja

 

September 2008
S S R K J S M
« Agu   Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Blog Stats

  • 21,441 hits