
Children Heaven:kisah kakak beradik dan sepasang sepatu yang mengharukan dan memanusiakan1
Langsung saja tanya, mengapa mayoritas (berarti ada yang tidak lho) novel-novel Islami itu ber-cover wajah perempuan? Kira-kira Tujuannya? Sangat komersilkah-punya nilai jual tinggikah perempuan pada novel Islam selama ini? Apakah memang wajah perempuan itu sangat merepresentasikan cerita? Atau perempuan itu tokoh tunggal? Kalau bukan mengapa tidak ada wajah lain selain perempuan? Atau segmen pembacanya prempuan, jadi bercover perempuan? Atau mungkin isinya sangat perempuan? Lainnya, mengapa sangat banyak bersanding dengan kata cinta,sering kali cinta?!
Pertanyaan itu muncul di Gramedia waktu sore, saat aku mencari majalah sembari menunggu beduk magrib-buka. Ternyata majalah yang kuingini tidak ada, barangkali habis. Jadilah kemudian berjalan ke rak di dekatnya, melihat deretan, membaca yang terpajang dan terususun, adalah itu novel-novel Islami.
Rupanya ada yang menarik perhatianku, bukan untuk membaca isi, tapi keseolahan keseragaman-kesenadaan, barangkali juga kelatahan, terutama pada tampilan-gambar dan judul novel.
* * * * *
Ku sebutkan beberapa novel-novel yang “dagang” wajah perempuan dan atau “menjajakan” kata cinta dan atau tanpa cinta serta warna-warninya. (terlepas dari cinta kepada manusia maupun kepada penciptanya, yang jelas banget si judulnya begitu).
Republika: Mencari Cinta yang Hilang, Dalam Perjamuan Cinta.
Hikmah : Karena Aku Cemburu, Cinta Adinda
Lingkar Pena: Dalam Sujud Cinta, Takdir Cinta,
Diva Press : Perempuan Suci, Lafazt Cinta, Berselimut Surban Cinta, Kitab Cinta Yusuf dan Zulaikha (cover tanpa sosok yang dianggap Yusuf). Mukzizat Cinta
Grafindo : Bismillah ini tentang Cinta, Bait-bait Cinta
Qanita dan Mizan saya lihat juga termasuk didalamnya.
*btw barangkali-kemungkinan ini ada yang tertukar antara judul buku dan penerbit, maklum….*
Hmm…. novel yang “menjual” wajah perempuan itu tersering bersanding dengan kata cinta. Aku tidak bias membahas lebih jauh, soalnya untuk kemarin lalu dan saat ini aku bukan penikmat novel bergenre;jenis ini.
Mengapa judul penerbit atau penulis sering jatuh kepada dan menggunakan kata cinta? Tak adakah pilihan lain? Tak adakah yang dianggap juga bisa universal?
Boleh menilik obyek bacaan lain The City of Joy “Negeri Bahagia”nya Dominique Lapiere (tak perlu membawanya ke isu SARA ya). Meskipun kata cinta tak ada dalam judul novel tersebut, ternyata Dominuque sangat mampu menyampaikan pesan cinta dan kemanusiaan. Hingga membuat novel tersebut sangat menyentuh sisi kecintaan kita dan kemanusiaan kita terhadap manusia lain dan kehidupan penuh warna. Bahkan, novel yang saya nilai sangat syarat dengan laku pemenang dan perempuan-prempuan tersebut, tak tampak menjadikan perempuan sebagai obyek atau strategi pemasaran.
Jadi, saya kira novel yang penuh kemanusiaan yang bisa berarti manusia (memang berada pada posisi sebagai manusia ;orang) dan atau hamba Allah (jika memang ini yang ingin disampaikan penerbit novel Islami tersebut) berikut cinta manusianya, tak musti bersanding dengan kata cinta atau menjadikan kata cinta bagian dari judul. Pernahkah ini terpikirkan oleh penerbit atau penulis?. Bisa jadi judul yang pasaran justru memberikan kesan bahwa hasil karya yang ada sangat monoton (banyak sekali novel Islami yang berebut kata cinta) dan seolah-olah stagnan (hanya berkutat di persoalan cinta). Padahal (barangkali-sangat bias jadi) ada sisi atau pesan yang lebih menarik dalam novel tersebut selain kata yang katanya universal itu. Misalnya semangat, kegigihan, perjuangan, pengorbanan atau bahkan sepak terjang tokoh yang bersangkutan. Bukankah ini juga atau sangat mungkin lebih mengesankan dari pada kata yang merupakan kumpulan lima huruf itu?.
Cuma pengen tanya-tanya, syukur jika ada yang memberikan jawaban, termasuk penerbit dan penulis novel Islami. ***Blog perempuannya ningrum
hmmm… tidak bisa komentar. jarang baca novel jg hehe. tapi kalau berdasarkan penerawangan dari jauh, mungkin itu pertanda latah saja
melihat ada yang sukses jadi best seller, muncullah tema-tema serupa, sampai pada cover nya juga
Problema kemanusiaan terbesar sekarang ini, masalah cinta mencintai kali … banyak yang hanya ingin memiliki tapi enggan mencintai …
hai,,,ass.w.w….
latah mbak…..
sekali lagi latah….
sebagian dari teman maupun kalangan yang lebih luas…memang mengagumi LATAH ,,ITUPUN DI DUNIA INDUSTRI APAPUN termasuk dunia musik dan tv….sekedar contoh ada sebuah band baru,,,simpel,,dan punya basic musikal yang minim kebetulan booming …semua produser latah ikut mencari dan memproduksi grup band bermusikalitas minim…apalagi tentunya ditambah dengan cost production yang minim,,,alhasil banggalah mereka berjubah musik minimalist…DITAMBAH DENGAN PENGALAMAN ESTETIS dari konsumen musik yang piramida terbanyak adalah demikian adanya,,,klop sudah..
di buku juga gitu seh,,,hehehe…saat mas nunu bikin QUANTUM IKHLAS dan booming…eh rame2 muncul…QUANTUM 2X YANG LAIN,,,QUANTUM SAHADAT ,,QAUNTUM IBADAH,,QUANTUM ZAKAT..QUANTUM TAHAJUDD,,,QUANTUM MACEM2X DEH yang setelah dibaca ngga ada korelasinya dgn “quantum”..walau sebelumnya mereka ngga aware ada buku bagus “quantum leap thinking”..
Agak berbeda dgn yg dari luar…SECRET..LAW OF ATTRACTION..COSMIC ORDERING,,power of now,,,tidak saling latah walaupun..SEJATINYA mereka IN LINE…
Tinggal kitapun ternyata ikut menerbitkan secret ini itu juga hehehe 33x,,,
Nah di tv,,muncullah fenomena,,,binan ,cowo flamboyan..laku keras bo..berangkat dari beberapa masa sebelumnya dimana,,,kaum laTAh..MENDOMINASI SEBAGIAN DUNIA LAWAK…HIHIHI..
alhamdulillah hidup tambah “menarik” …”this too will pass”
hidup latah…hihihi33x..btw udah baca komentarku soal semar ,covey…
salam cahaya
namanya orang jualan. sayangnya di negara kita konsep pemasaran kok cenderung kurang kreatif. *halah*
namanya orang jualan. sayangnya di negara kita konsep pemasaran kok cenderung kurang kreatif. *halah*
hehe…ituloh..mas syeh siti jenang..bener banget…
mungkin dunia pendidikan kita persentasinya mulai harus diperbanyak pengembangan sisi kreatifnya,,,otak kanannya…dan tentunya pendidikan sisi spiritualnya juga…
salam kenal mas
4.Sam Cecep Mahbub
Ya,ya tampak kurang berani membuat sesuatu-memilah bahasa-judul yang berbeda. Jadinya malah buat seragaman judul, memicu kebosanan.
4. Sam Achmad Marzoeki
Benarkah itu masalah terbesar kemanusiaan??
4.Sam Antum
Wa’alaikumsalam wwb
Saya kira, karya sastra itu bergerak bebas, artinya tidak berpakem atau terikat aturan. Tapi setelah lihat novel-novel itu kok malah tampaknya malah terkesan terpagari, jadi terlihat gak kreatif dan gak menarik. Hingga mempengaruhi imej calon pembaca “Lah paling-paling isinya kek gitu-gitu aja”
Weh koleksi bacaan luar banyak juga ni sam, bolehlah
. *aslinya si saya iri, hiii*
Coba ditulis resensinya-dibagi, jadi saya dan bloggers lainnya juga bias ikutan tahu.
Bener!!! Dah ada kok The Secret versi Indonesianya. “The Secret of Ikhlasnya Serambi, ma The Secretnya Tawakal punya Gramedia Pustaka Utama.
4. Sam Siti Jenang n Sam Antum
Heehee, bener banget, barangkali emang mayoritas konsumen dilihat oleh produsen (dinilai) menyukai hal-hal yang passaran kali. Jadi pemasarannya ya pake judul pasaran
Ada yang salah pada pendidikan kita, terlihat kan yang diunggulkan itu anak dengan kemampuan otak kirinya, sedangkan otak kanan kemampuannya dianggap biasa-biasa saja bahkan barangkali tak terlalu penting. Jadi, ya begini ni ni….
@ antum
salam kenal juga. mana blognya?
@ ningrum
kalo kata teman saya parameter yg dipake di sini ketinggalan hampir 100 tahun. sebagian besar masih berkutat di IQ, yang lebih diartikan kecerdasan otak kiri. padahal selain otak juga ada rasa… *haiyah*
4. Sam Siti jenang
. Padahal soal hati juga perenah kita bahas ya di Managemen qolbu atau pengelolaan akal, walaupun tak secara gambalang saya sebut itu seperti ini Managemen qolbu atau pengelolaan akan Emotional Quetiont (ala Goelman) atau ESQ nya Ari Ginanjar. Btw-padahal slogan blog ini “memaknai (kerja otak) mengkhidmati (kerja hati)”. Backteri luput-nya masih hidup 
Wah 111 tahun mundur neih sam saya
Matur tengkyu diingetin sam.
Saya kira, penerbit sudah tau target pemasaran… dan emang, ternyata “Cinta” bisa menarik perhatian banyak orang… mengkritik jauh lebih mudah dari berkarya. Ya, kita hargai saja dengan tak lupa memberi masukan2 yang positif…
Kita anggap saja itu kekurangan tanpa melihat kelebihannya. yang penting, mereka masih mau berkarya. masalah judul atau cover, itu bisa diperbaiki
4. Mbak Saniyah
.
Heehe… mbak agak panjang ni komentar balik dari saya
Yakin mbak bahwa tema atau judul “cinta” itu menarik perhatian?. Hanya sebagai salah satu contoh; Laskar Pelangi (dapat award MOST POWERFULL BOOK), Adakah kata cinta di judul itu? Faktanya, novel tersebut cukup menarik dan berhasil megabil simpati pembaca, termasuk di Malaysia, Eropa:Belanda, Inggris, Perancis. Bahkan bukan saja di dunia perbukuan, tapi juga merambah ke musik dan sineas2 (dunia perfilman). Mengapa? Karena (menurut saya) Tetraloginya Andrea Hirata (terlepas dari banyaknya metafor-metafor atau terlalu imajinatif) novelnya itu punya JIWA, terlebih karena lahir dari kisah nyata. Jadi, bisa membuat BANYAK PEMBACA merasa “gue banget” dan novel itu bisa membangkitkan kesadaran juga memotivasi. Ini kuncinya, buka di pe-publikasian kata “cinta”nya tapi jiwanya, kalau kata iklan si yang penting ada “taste”.
Mengkritik lebih mudah dari berkarya? Sudah betul itu. Lalu, lebih mudah-baik mana, diam saja (tak membahas) dari pada mencipta kritik (yang bisa berarti tanda peduli akan fenomena) ?
Bagus untuk difikir, kritikan (sebenarnya bukan kritikan, kalau saya si menyebutnya keheranan diri). Keheranan yang lahir dari fakta (di toko buku). Fakta yang ternyata menjadi pertanyaan, bertanya itu salah satu tanda aktifitas berfikir. Berfikir itu bermanfaat lho. Apalagi kalau maksud berfikirnya untuk perbaikan. Kan untuk penerbit dan penulis novel juga. Keknya seru kalau banyak novel-novel Islami jadi best seller atau most powrfull book.
Btw, bukannya sebuah karya juga lahir dari berfikir;bertanya-keheranan;kritik?.
Seandainya saja mbak mau menyebutkan kelebihan-kelebihan novel yang saya tulis dalam postingan kali ini, dengan senang hati akan saya baca
Inilah pasar, so ada banyak arus kepentingan disana. disini peran marketing untuk memainkan kepentingan itu menjadi sebuah pilihan sadar konsumen.
Keknya emang gitu ya mbak/bu?. Kadang sebuah realitas yang diciptakan produsen didekatkan dengan keinginan konsumen yang kemudian akan dibuat menjadi (keseolah-olahan)sebuah kebutuhan.
tidak semua monoton. ISABELLA karya Maulana Saeed Dehlvi, salah satunya. Novel Islam yg berani. Kisahnya bisa dilihat di http://klubbacanavila.blogspot.com
4. Mbak cewek manis dan imuet
Ya saya juga bilang gak semua monoton, hayu baca lagi
Makasih mbak untuk komentar dan site-nya. lam kenal
salam kenal tidak semua mjalah itu monoton lo mbak salam salam ya mbak(^_^)