Hmm…mencoba mengumpulkan yang tercecer soal buku dan yang berkaitan dengannya, salah satu yang terlekat adalah baca. Tampaknya, buku dan baca adalah dunia yang terlihat jauh dari yang difavoritkan, kehingar bingaran, pesta pora atau kesukacitaan.
Keduannya dalam keumuman barangkali adalah dunia yang dianggap “sunyi” dan tak terlalu banyak memberi manfaat secara langsung, layaknya air untuk menghilangkana dahaga. Mungkin, buku dan baca tak lebih penting daripada menonton sinetron yang sama-sama mengandalkan mata. Kesannya, buku dan baca terasa melelahkan dibanding dengan acara rumpi-rumpi. Bisa jadi, bagi pecandu nikotin, buku dan baca belum bisa senikmat bakaran tembakau yang dalam satu bulan berbudget ratusan ribu (hmm… lebih dari cukup untuk membeli buku best seller). Jika pecandu itu adalah seorang tukang becak, ia akan menghabiskan hampir separuh pengasilannya untuk puntung-puntung yang berfilter atau tidak, kemudian baru membagi sisa penghasilannya untuk kebutuhan keluarga;biaya rutin bulanan;listrik,dapur dan harus membagi lagi untuk sekolah anak yang butuh buku dan baca dari sisa budget lintingan tembakau itu (jika ini tukang becak sekelas pak Mat, yang berpenghasilan rata-rata Rp10-25 per hari).
Dalam ke-konsumeris-an, buku dan baca belum bisa sepopuler Lanjutkan membaca ‘Buku dan Baca’


Ini cerita soal telekomunikasi orang desa (termasuk saya) di Lampung dan Ibu Maryam. Bu Maryam adalah tetanggaku, petani bersahaja yang belum genap satu bulan menggunakan jasa provider telefon seluler.
Komentar Terakhir