Soal Desa dan Dunia dalam Genggaman

Ini cerita soal telekomunikasi orang desa (termasuk saya) di Lampung dan Ibu Maryam. Bu Maryam adalah tetanggaku, petani bersahaja yang belum genap satu bulan menggunakan jasa provider telefon seluler.

Pagi itu beliau berkata kepadaku “Saiki ki dunyo wes neng genggeman yo Num (begitu beliau memanggilku)“. (artinya: Sekarang ini dunia sudah dalam genggaman ya Num). Hmm….ini soal hanphone-telekomunikasi, tapi memang sebelumnya kami terlibat pembicaraan tentang dunia, jadi kebawa juga dunia-nya. Diantaranya soal matahari itu tak lagi muncul di tempat semula seperti beberapa puluh tahun sejak ibuku tinggal di sini. Semakin cepatnya perputaran bumi mengelilingi matahari (waktu). Mengecilnya (menciutnya) tanah desa pak Saman, suami bu Maryam, membahas tanda-tanda bumi sudah lelah-tua dan sebagainya.

Sembari menyeseti (menguliti) dan memotongi ranting di kebun (kebon) belakang rumahnya, bu Maryam berkata lagi kepadaku “Num saiki ki jaman canggih yo, Mekkah wek iso didelok lewat henpon, arep ndelok luar negeri tinggal pencet nggo remot, tinggal pilih nang tipi. Ono perlu tinggal telpon, suarane jelas, ngomong langsung, kabeh cepet, Jawa timur we ketoe cedak”

Artinya; “Sekarang ini jaman canggih ya, Mekah-Arab Saudi saja bisa kita lihat lewat handphone, mau lihat luar negeri tinggal pencet pake remot, tinggal milih saluran TV. Ada keperluan tinggal telfon, bisa dengan suara jelas, bicara langsung, semuannya cepat, Jawa Timur juga terasa dekat“. Kata-kata itu muncul setelah beliau menerima panggilan melalui telfon seluler pagi itu dari Ali, anak bungsunya berusia belasan tahun yang sedang menuntut ilmu di Banyuwangi, Jawa Timur.

“Hallo, assalamualaikum, opo Li?” kata beliau dengan handphone yang digenggam tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya masih terlihat memegang sabit yang digunakan untuk membersihkan daun-daun yang masih bersatu dengan ranting-ranting pohon yang ditebang pak Saman, suaminya. Kayu-kayu yang diseseti dan dipotongi itu akan digunakan sebagai bahan bakar tungku untuk memasak. Bu Maryam dan pak Saman sosok yang sederhana dan bersahaja bukan? Sudah puluhan tahun mereka tetap setia kepada alam, terus menanam dan tetap menggunakan kayu bakar. Tak tergoda kompor berbahan bakar minyak atau gas produk pertamina. Padahal saya yakin mereka mampu membelinya. Ya, beliau ini adalah seorang investor barang tak bergerak (sawah) dan berhasil menyekolahkan ke-tiga putri dan satu putra hingga ke pulau Jawa (seberang sumatra).

Bu Maryam adalah salah satu orang yang menunjukkan kepadaku bahwa informasi-telekomunikasi yang dimediasi oleh provider telekomunikasi tak menganal status. Apakah ia petani atau pejabat, apakah ia seorang loper koran atau pemilik-perusahan koran, pedagang kecil di pasar tradisional atau pedagang-pemilik hypermart, pemroduksi atau pengkonsumsi. Semuanya butuh informasi akurat, cepat-lancar.

Masih hangat dalam ingatan saya, ketika belum ada tower (sekarang sudah ada empat tower provider seluler) di desa saya. Setiap kali pulang ke desa, saya harus keluar rumah atau mencari tempat yang lapang atau agak tinggi untuk bisa mendapatkan sinyal. Wah kebayang kan repotnya :-) .

Sekarang, warga desa kami bisa berkomunikasi lumayan lancar, kadang-kadang masih error juga si. Selain itu, warga desa kami bisa berinternet-terbatas, dengan menggunakan kabel telfon, jasa layanan salah satu perseroan terbatas yang sahamnya didominasi pemerintah. Tapi yah… (maaf) koneksinya agak lemot kadang sangat lemot dan sering putus-putus, tarifnya lumayan mahal juga (buat saya). Perjamnya Rp.12 ribu-an (kalau belum berubah), sedangkan warung internet (yang ada di kota Metro, sekitar 10km dari desa saya) hanya Rp.5000,-/jam (tarif yang juga masih mahal jika dibandingkan dengan Bandar Lampung Rp3000,-/jam, berjarak sekitar 85km dari desa). Seandainya saja, ada provider yang menyediakan jasa layanan berinternet murah (seperti di negara tetangga), saya dan juga barangkali warga desa lainnya cukup senang karena, bisa mendapatkan informasi yang lebih banyak, membuka wawasan-pengetahuan dan lebih banyak punya kesempatan untuk melihat belahan dunia lainnya bukan hanya lewat globe miniku.
Blog prempuannya Ningrum.

9 Tanggapan ke “Soal Desa dan Dunia dalam Genggaman”


  1. 1 sitijenang 04-11-08 pukul 11:52:am

    wah mahal amat… kalo pake modem CDMA mungkin lebih murah, mbak.

  2. 2 syaiful 04-11-08 pukul 2:17:pm

    artikelnya bagus..mudah di konsumsi di semua kalangan..sukse deh

  3. 3 mata elang 04-11-08 pukul 9:59:pm

    kreatif.. realistis banget.. sukses mbak Ning..

  4. 4 ningrum 06-11-08 pukul 12:27:pm

    4.Sam SJ
    Iya emang mahal,coba sekalian kasih tahu saya infonya :-)

    4.Syaiful
    Makasih…..

    4.Mata Elang
    Amin….. *terimakasih doanya*

  5. 5 bedh 06-11-08 pukul 7:18:pm

    ada sedikit kritikan terhadap kemajuan zaman yang di sampaikan dengan ringan dan santai. apa ini maksudnya sedikit ada perasaan nggak rela warga desa mulai menikmati kemajuan zaman?
    kalo mang iya alasannya knapa?

  6. 6 Sawali Tuhusetya 06-11-08 pukul 7:35:pm

    wow … kecanggihan teknologi agaknya telah merambah hingga ke pelosok2 dusun ternyata. ini menandai adanya beradaban baru, mbak ningrum, semoga tak sampai disalahgunakan utk melakukan aksi yang merugikan orang lain. btw, selama ini mbak ningrum ternyata tinggal di lampung, yak?

  7. 7 esensi 06-11-08 pukul 8:49:pm

    Maaf out of topic,
    kenapa face blog anda menjadi italic semua, tetap dibiarkan?
    Ini cukup mengganggu “pemandangan”. Pasti ada yang salah dengan kode HTML anda ketika menyisipkan tag . Kemungkinan ada tag lain setelah tag more ini. Kalau ya, hapus saja, agar tampilan awal blog Anda tidak lagi italic.
    .
    salam,

  8. 8 Timun 07-11-08 pukul 11:27:am

    ada sisi negatif dari kemajuan teknologi komunikasi jaman sekarang, banyak orang jadi autis, keasyikan sendiri dan jarak yang seharusnya dekat makin jauh karena tak ada lagi komunikasi yg melibatkan sisi manusia para manusia pemakai teknologi komunikasi itu

    pemutusan hubungan lewat komunikasi seluler juga sedang tren tuh, tak ada lagi rasa kemanusiaan disana

    salam!

  9. 9 ningrum 28-11-08 pukul 11:24:am

    4.Sam Bed
    Gak rela gimana? saya juga bagian dari mereka kok yang menginginkan akses itu cepat dan tidak menjadikan konsumen itu merugi :-)

    4.Bang Sawal
    Hehee, iya…

    4.Sam Esensi
    Makasih sam, ini sekarang udah dibenerin :-)

    4.Mbak Timun
    Dipikir-pikir, iya juga ya mbak…Tampaknya gimana-gimana masih menyenangkan jika bisa berkomunikasi langsung tatap muka


Tinggalkan Balasan




Silahkan…

Ambil jika memang ada yang baik. Acuhkan yang bernada emosi;amarah. Abaikan bila tidak penting.

Dari Saya

Maaf jika ada kekeliruan. Terima kasih atas koreksi. Terima kasih kunjungannya.
Visit Yogyakarta / Jogja

 

November 2008
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Blog Stats

  • 20,910 hits