Aku telah mengalami banyak hal yang menyakitkan. Sejak kecil, setiap segi dalam hidupku meski diperjuangkan seperti perang. Menyerah adalah pilihan yang menghinakan bagiku. Tak pernah aku takluk pada apapun tanpa lebih dahulu berjibaku.
Jika aku tak pernah berani bermimpi sekolah ke perancis, jika aku dulu tak meneggakkan sumpah untuk sekolah setinggi-tingginya demi martabat ayahku. Aku dapat melihat diriku terang sore in sedang berdiri dengan tubuh hitam kumal, yang kelihatan hanyalah mataku dan menggantikan tugas ayahku. Aku menolak perlakuan buruk nassib pada ayahku pada kaumku. Kini Tuhan telah memeluk mimpiku. Detik ini di Jantung Paris, di hadapan tonggak penjara Bastille, perlambang kebebasan, aku telah merdeka, tak goyah, tak pernah sedetikpun menyerah. Di sini atas nama harkat kaumku, martabat ayahku, kurasakan dalam aliran darahku saat nasib membuktikan sifatnya yang haqiqi bahwa ia akan memihak para pemberani, hlm 33.
Aku merasa amat beruntung telah bertemu dengan bang Zaitun, sebab seribu kaca yang datar, cembung, cekung, dari samping, atas atau bawah tak pernah cukup untuk menganali diri Bukankah siapapun selalu tak yakin akin keadaan diri sendiri? Tak pernah ada gambaran utuh itu. Sebagian karena fisika; terbatasnya informasi dari refleksi kaca dua dimensi. Sebagian karena kecenderungan narsis memuji diri, sebagian yang terbesar karena Lanjutkan membaca ‘Kata Andrea Hirata Seman Harun Said dalam Maryamah Karpov’
Komentar Terakhir