Oleh: Ningrum | 1 Februari 2011

Kata-kata yang Menumpulkan Logika dan Mematikan Keberanian Anak

Terkadang, mungkin juga sering, bahwa orang-orang yang berinteraksi secara intens dengan anak-anak tak menyadari bahwa, hal-hal yang ia lakukan atau katakan baik sesekali atau berulang kali akan secara otomatis disimpan di tempat “aman” alias alam bawah sadar anak. Lalu, setiap waktu atau bisa kapan saja, bahkan dimasa dewasanya ia bisa berlaku atau berkata sama persis. Yang tak kalah parah adalah berakibat pada ketumpulan logika. Juga munculnya ketakutan-ketakuan yang tak berdasar.
Hmm…tanpa sadar kita telah mewariskan dan menanamkan hal-hal tersebut menjadi bagian dari pribadi anak, hanya lewat kata-kata.

Kata-kata yang tampak sepele tapi berakibat fatal itu misalnya; “Kenapa jatuh, sayang? Mejanya nakal ya? Ayo pukul mejanya”:ini nge-copy dari status kawan yang menceritakan istrinya yang sedang menjaga anaknya. Menurut teman saya tersebut dengan kata-kata atau perintah itu, anaknya telah mengerti/ belajar dua hal: kambing hitam dan balas dendam. Lalu saya tambahkan “tanpa  disadari ada penumpulan logika di sana”. Hanya kata sederhana yang dimaksudkan untuk anak segera tenang itu ternyata memiliki  tiga hal negatif yang akan menjadi penghuni alam bawah sadar anak.

Kata-kata itu juga sangat instan, saya sebut instan karena komunikator selalu bermaksud cepat dan mudah. Kita enggan memberikan penjelasan rasional yang (umumnya)lebih sering memakan waktu. (barangkali) kita selalu menganggap anak tidak akan mengerti dengan penjelasan-penjelasan panjang/logis. Padahal seorang anak kecil itu  sudah dapat belajar, mudah diajarkan dan bisa mengerti. Ya,, meskipun untuk awal-awal orang tua agak repot, karena harus menghubung-hubungkan atau memunculkan hal paling sederhana ke hal yang dimaksudkan untuk tetap memiliki alasan logis;masuk diakal anak.

Cobalah, ketika mereka sudah dibiasakan dengan hal-hal yang logik, pada akhirnya mereka akan berfikir dengan logis dan jika ia memiliki alasan pun akan mudah diterima oleh kita. Lalu, dengan sedirinya ia akan menjadi anak yang kritis dengan logika yang hidup dan tidak tumpul.

Akibat lainnya, ketakutan tak berdasar karena kata-kata. “Eh adek jangan keluar, nanti ada gendruwo, nanti digondol selong atau hhiiii nanti ada orang gila di sana”. “Jangan nakal ya, Awas kalo nakal, ada pak polisi lho”. Ketakutan-ketakutan sudah dibentuk sedemikian rupa rupa oleh lawan bicaranya. Selain logikanya tidak hidup, anak akan menyimpan rasa takut.

Wah wah, tanpa kita sadari kita sudah bersalah pada anak-anak, dengan mewariskan ketumpulan dan ketakutan-ketakutan.
Semoga kita bisa belajar soal ini, mulai hari ini. Salam…

Catatan terkait: Ibu Guru Cilik

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: