Oleh: Ningrum | 17 Maret 2011

Rumah Seribu Malaikat

Satu lagi kisah seru disabtu itu.  Ibu Yuli Badawi  atau Endang Yuli Purwati dengan bukunya berjudul “Rumah seribu Malaikat” yang diterbitkan oleh Hikmah, Mizan Grup.

Ibu Yuli adalah seorang guru agama SMA N 4 Bandung, beliau  bersama Pak Badawi memilih menyantuni juga mendidik puluhan anak terlantar yang ditinggalkan orang tuannya atau tidak diinginkan keberadaannya juga anak-anak jalanan sejak tahun 2004. Beberapa diantaranya sudah menamatkan diri dari  ITS, IPB dan ada juga yang sudah jadi dokter. “Sekarang masih ada 17 anak yang kami didik di rumah” kata Ibu Yuli.

Pasangan suami istri ini melakukan atau merawat puluhan anak terlantar bukan karena mereka  tidak  memiliki anak kandung. Tapi memang panggilan hati mereka untuk menolong hidup anak-anak:berbagi.  Menurut  Ibu Yuli, jika dihitung dalam perhitungan manusia, biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan hidup dan membiayai pendidikan mereka tidak sedikit,  tapi hal-hal seperti ini dalam perhitungan Allah tidaklah mahal.   Ada saja rizki yang datang,  misalnya saja seringkali tukang sayuran menaruhkan sayuran juga lauk di pagar rumah beliau. Banyak juga yang bertanya uang darimana untuk menghidupi sebegitu banyak anak-anak?. RIzki yang dibagi; dikeluarkan dengan ikhlas untuk kebaikan  orang lain akan mendapatkan ganti yang jauh lebih besar dari Tuhan. Boleh lihat postingan saya yang ini, silahkan klik

Ada beberapa hal yang menjadi perjanjian dia bersama suaminya juga anak-anak yang sudah mengereti akan keadaan mereka: Pertama,  kesuliltan-kesulitan ekonomi di dalam rumah  tidak diperbolehkan untuk diceritakan atau di keluhkan kepada oang lain. Kedua, dilarang meminta-minta sumbangan. Ketiga, harus  berbagi dan adil. Beliau juga berpesan kepada anak-anaknya itu untuk tidak minder (baca:malu) karena miskin. Kecuali jika miskin ilmu, iman dan akhlaq.

Saat itu, ada seorang ibu yang bertannya sambil meneteskan air mata haru. “Bagaimana cara mendidik anak sebanyak itu bu?”

Ibu Yuli menjawab, meemang da kesulitan. Terutama mendidik anak  yang  sudah besar, ini lebih sulit ketimbang  mendidik anak yang sejak masih bayi sudah ada dalam perawatannya. Terutama pada pembentukan karakternya. Beliau mengatakan, mendidik anak-anak ia mulai dari hal-hal yang kecil.  Misalnya saja dalam persoalan pembagian kue, makanan atau yang lainnya.  Setiap jam 10.00 dan pukul 14.30 akan ada pembagian snack. Yang mendapat giliran membagi (semua pada akhirnya akan mendapatkan giliran) diharuskan mengedepankan perut orang lain dan wajib adil. Jika ada yang  tidak adil, maka akan mendapatkan pengarahan atau diajak berdialog. Terus demikian, kebiasaan inilah cara kami membentuk karakter adil  dan mengutamakan kepentingan orang lain.

* * *
Pada kesempatan itu ibu Yuli berkisah tentang masa kecilnya, hidupnya serba pas-pasan. Jika jam istirahat sekolah tiba, beliau hanya bisa memandangi teman-temannya yang  sedang menyantap jajan ataupun kawan-kawannya yang membawa rupa bekal yang tampak nikmat. Hingga pada suatu waktu, ia bercerita kepada ibunya prihal hal tersebut.  Juga memberi pertanyaan kepada Ibunya beliau, kapan bisa makan enak seperti temana-temannya?.

“Nanti kalau kau sudah lulus sekolah tinggi” kata Ibunya beliau. Kemudian  sang Ibu memberikan sebuah bungkusan kertas yang diletakkan ke kantong  Ibu Badawi  “Nak,  tempelkan ini ketika kau melihat teman-temanmu bersantap” kata Ibunya beliau. Tahukah kau kawan apa yang Ibunya beliau berikan? garam yang dibungkus kertas. Lalu, setiap kali Ibu Badawi kecil menginginkan makanan enak, ia mengolesi bibirnya dengan garam yang sudah dibekalkan oleh ibunya. Menurut beliau sejak saat itu ia bertekad untuk sekolah tinggi hanya karena ingin makan enak.

* * * *
Barangkali memang Tuhan memberikan kemulyaan kepada seseorang dengan beberapa ujian dulu ya kawan? ada tangga yang harus dilalui untuk ia sampai ke puncak yang tinggi. Di masa kecilnya yang sulit, tapi ia tetap bersabar. Dalam kondisi yang tidak mewah, beliau tetap punya semangat berbagi: menyantuni, memelilhara  dan mendidik anak-anak terlantar. Lalu sampailah beliau mendapatkan penghargaan dari Tuhan, yakni datangnya kemudahan-kemudahan, pengembalian berlipat dan keberhasilan beliau menjadi inspirasi jutaan orang. Semoga kita bisa juga :)

Salam Berbagi

About these ads

Responses

  1. Cahya, terimakasih ya tuk apresiasinya :)

  2. Klo gak keberatan, saya usul klo Umi endang setuju untuk memberitahu no rekening, sekiranya ada orang yang mau membantu uang melalui transfer antar bank atau via atm.

  3. Assalamualaikum,,,, mbak boleh mnta alamatnya rumah seribu malaikat??? insya Allah kalau ada umur mau silaturahmi

  4. wa’alaikumussalam wr.wb. Alamat perisinya bisa ditanyakan ke SMA 4 Bandung, tempat beliau mengajar Jl. Gardujati No. 20 Bandung Telp. 022 4203861

  5. Assalamualaikum,, mbak boleh minta alamat emailnya rumah seribu malaikat ???


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: