Oleh: Ningrum | 10 Mei 2011

Surat teruntuk Ibu Negara, Ani Bambang Yudhoyono

Kepada Yth;
Ibu Negara, Ani Bambang Yudhoyono
di -
Tempat

Assalamualaikum Wr.Wb

Semoga Ibu dan sekeluarga selalu dalam limpahan keberkahan-Nya, amin. Apa kabar ibu?. Bu, kali ini saya ingin curhat (curahan hati) kepada ibu, bersediakah ibu mendengarkan curhat, tepatnya keinginan saya?.  Sebelumnya ijinkan saya mengutarakan ini dengan bahasa yang tidak terlalu formal, tapi mengalir saja. Semoga ibu tidak berkeberatan, sebelum dan sesudahnya terimakasih ibu.

Bu, saya cukup mengapresiasi penghargaan (piala bergilir) ibu negara kepada pemenang Lomba Rancang Kebaya 2011 seperti yang diberitakan di website resmi ini.   Juga kepada majalah Kartini  yang telah mengadakan “Kartini Award”  dengan berbagai jenis kategori yang juga diberitakan di web site resmi kepresidenan RI tersebut. Ya, saya percaya bahwa tim verifikasi memiliki kualifikasi dan standart-standart tersendiri hingga perempuan-perempuan yang terpilih tersebut dianggap layak sebagai perempuan Indonesia yang menginspirasi dan diberi penghargaan di hari Kartini, 21 April 2011 lalu. Sekilas saya melihat, nyaris semua  perempuan-perempuan terpilih tersebut adalah perempuan-perempuan cerdas dengan tingkat ekonomi yang  mapan, hingga sangat mendukung mereka untuk bisa melakukan banyak hal atau memiliki prestasi tanpa harus “berperang” dengan kebutuhan dasar:pangan yakni perut.

Jika saya boleh memberikan usul, bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia, khususnya ibu negara, Ani Bambang Yudhoyono  beserta Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar  yang memimpin lembaganya. Keduannya dapat berkolaborasi secara aktif  mengadakan acara serupa. Misalnya pada hari ibu Desember mendatang  atau peringatan hari Kartini tahun depan. Bu, hal ini penting sebagai wujud negara mengapresiasi atau memberi penghargaan atas prestasi-prestasi perempuan, tentu dengan kategori beragam.  Apa saja kategorinya bisa dibicarakan dikemudian hari dengan tim yang saya yakin berkompeten dan berpengalaman.

Bu, (jika saya diperkenankan) usulan dari saya sebagai berikut:

Pertama, kategori pencerah;pencerdas keluarga, khusus  untuk ibu-ibu yang belum sejahtera secara  ekonomi atau dengan taraf ekonomi keluarga menengah kebawah tapi, mereka punya semangat mencerdaskan,  tangguh, mampu  berjuang juga bercita-cita ditengah keterbatasan yang menyedihkan. Namun beliau-beliau berhasil dalam menyekolahkan anakknya hingga strata 1 atau 2.

Misalnya saja seperti yang ditayangkan Kick Andy edisi Kick Andy Hero, Jumat, 07 Mei 2011.  Saya cukup terharu ketika ibu Sumiyem, penjual jamu gendong memiliki tekad menyekolahkan anaknya sampai manapun. Beliau yang bicaranya polos dan lugu berhasil menghantarkan anaknya mengenyam pendidikan hingga S.2 ke negeri Sakura Jepang. Pada kesempatan itu beliau mengatakan bahwa  yang penting anaknya bisa sekolah. Makan  hanya dengan menu seadannya, nasi dan sambal bawang sebagai pelengkapnya.

Selain bu Sumiyem, ibu Siem (adik ibu Sumiyem) dengan profesi yang sama, penjual jamu gendong. Juga seorang ibu  yang profesinya sebagai pemulung ( telah tayan beberapa minggu lalu, jadi maaf nama dan asalnya saya agak lupa, kalau tidak salah ingat dari NTB atau NTT. Bisa di cek (konfirm) ke tim Kick Andy Show). Ibu yang kesehariannya pemulung tersebut berhasil menyekolahkan anaknya hingga Strata satu.

Untuk saat ini, strata satu memang sudah umum. Namun ini adalah sebuah keistimewaan  bagi beliau-beliau dengan tingkat ekonomi rendah, rela makan seadanya asal perut terganjal, bukan asal bergizi.  Ibu negara, menurut saya beliau-beliau berprestasai telah berhasail membiayai dan menamatkan anak-anaknya hingga strata satu. Intinya adalah demi pendidikan anaknya, mereka mampu berjibaku dalam  kehidupan yang serba sulit.

Kedua, kategori pencerah: mencerdaskan masyarakat, misalnya  lain sosok perempuan yang juga patut mendapatkan penghargaan dari negara adalah ibu Kiswanti. Hanya berpendidikan SD, yang pernah berprofesi sebagai tukang jamu gendong, Juga pernah menjadi pembantu rumah tangga yang meminta digaji dengan buku dan seterusnya, kisahnya telah diberitakan di web site ini (silahkan klik). Ibu negara, kata-kata  yang saya catat  dari ibu Kiswanti adalah “Kita harus melayani tanpa meminta pamrih dan memberi tanpa meminta kembali. Jangan khawatir tidak punya modal, tidak punya pendidikan untuk membantu orang lain, tetapi jadilah contoh, terutama bagi anak-anak”.  Kata-kata yang perlu perjuangan untuk mewujudkannya ya Bu.

Sosok-sosok dan gambaran  di atas adalah sebuah prestasi yang membanggakan dan patut diapresiasi oleh negara.  Ini penting untuk dipublikasikan secara  luas dan dilakukan secara terus menerus. Perlunya adalah memotivasi perempuan-perempuan lain. Juga bisa mengabarkan bahwa bukan hal yang mustahil dalam keterbatasan ekonomi dan kesulitan hidup,  masih ada kekuatan (semangat)  untuk  berjuang dan akhirnya mampu berbagi dan menginspirasi perempuan-perempuan lain.

Jadi ibu negara, menurut saya beliau-beliau lebih memungkinkan untuk menjadi duta “Ibu Pencerah”. Karena, ada kedekatan atau kesamaan pengalaman (terutama dalam tingkat pendidikan dan perekonomian mereka dengan kondisi mayoritas penduduk negeri ini). Latar belakang kehidupan itu, pengalaman-pengalaman  yang penuh keterbatasan itu, bisa mempermudah untuk menggugah ibu-ibu yang bernasib sama. Sebaliknya, seorang perempuan pengusaha sukses dengan latar belakang keluarga mampu dan berpendidikan tinggi memerlukan energi yang lebih untuk sekedar mengkomunikasikan keberhasilan-keberhasilannya  kepada masyarakat dalam hal ini ibu-ibu dengan ekonomi menengah kebawah. Artinya, demi efektifitas proses menginspirasi atau mengkomunikasikan sesuatu itu, kesamaan latar belakang (nasib) menjadi hal yang bisa mempermudah proses dan ini penting.

Dengan demikian, negara dengan perngkat-perangkatnya perlu terus mencari sosok yang mampu mengsinspirasi. Untuk mempermudah dan memperbanyak inspirator perempuan, barangkali pemerintah daerah hingga ke tingkat rukun tetangga (RT) dapat lebih difungsikan. Selain itu, media juga dapat digunakan sebagai patner pemerintah,  sebagai pusat informasi  sekaligus publikasi. Terutama media yang memiliki  program atau concern dengan hal seperti ini. Ya, demi terwujudnya salah satu tujuan negara, mencerdaaskan kehidupan bangsa; memberdayakan warga negaranya. Khususnya para perempuan atau juga ibu yang menjadi  “Perpustakaan pertama bagi anak-anaknya”, meminjam ungkapan Tantowi Yahya, duta baca Indonesia.

Demikianlah ibu curhatan saya, semoga  terbaca dan bisa ditindaklanjuti.  Terimakasih ibu.

Wassalam

Ciputat, Senin 10 Mei 2011

Handayaningrum

About these ads

Responses

  1. Ibu Ani, semoga nanti, aku lomba menang ya… doain bu, soalnya ibu yang akan saya kirimi surat.

    • Oke nanti akan ibu doain.. hehehe, iseng nnggak ade temen

  2. mbak Shofah
    maksudnya apa ya?.
    Kalau maksud saya sih, Agar Ibu presiden memperhatikan para ibu-ibu yang punya kontribusi terhadap negara (baik secara langsung atau tidak) terutama pada contoh: dalam ekonomi terbatas/sangat sulit, para ibu tetap berjibaku;berupaya semampunya demi mampu menghantarkan anaknnya ke jenjang pendidikan yang tinggi atau juga contoh lain yang sudah saya sebutkan pada postingan di atas. Intinya mereka mampu menjadi inspirator atau contoh ibu-ibu lain yang dalam keadaan sama terbatas/sulitnya.
    Jadi, penghargaan bukan hanya seputar kebaya dan kecantikan atau apalah sejenisnya yang tidak menyentuh “akar rumput”.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: