Seperti hidup tidak adil bagi lek Giyo, ketika saya duduk di Sekolah Dasar ia berprofesi sebagai penjaja es balon dengan cool box biru sederhana, terbuat dari logam yang di dalamnya terdapat lapisan busa stereform. Hari ini beliau masih berprofesi sebagai penjaja makanan ringan dengan box yang terbuat dari bambu. Jika saya hitung, sudah puluhan tahun ia mencari uang receh dari kayuhan sepeda tuanya.
Saya bertemu dengan beliau di suatu tempat. Tapi saya kira beliau sudah tidak mengingat saya. Tampak biasa saja, hanya mengeluarkan kata “Masuk saja mbak, ada orangnya kok di dalam” kata beliau sembari menurunkan makanan ringan dari box bambunya.
Beliau tampak lebih kurus dari pada dulu ketika beliau menjadi penjaja keliling es balon. Pakaiannya lusuh, kulitnya tampak sudah kebal dengan sengatan matahari, meskipun ia juga masih menggunakan jenis topi yang sama; berbentuk bundar yang juga sudah tampak pudar warnanya.
Hidup ini tidak adil baginya? Atau tepatnya nasib baik tidak berpihak kepadanya?. Karena bisa dibayangkan berapa banyak tetesan keringat yang sudah menjadi saksi kelelahannya. Menjadi bukti betapa beratnya cara mendapatkan rupiah yang hingga puluhan tahun tidak dapat mensejahterkannya, karena bisa jadi hasil usahanya belum mencukupi, kecuali sekedar untuk mengganjal perutnya.
Sesak melihat beliau, keletihannya sangat jelas pada raut mukanya. Ribuan putaran roda sepedanya tak sebanding dengan rupiah yang lek Giyo peroleh. Bagi beliau, betapa tidak mudahnya mendapatkan uang.
Syahdu dalam keharuan dan kesesakkan.
Salam mengkhidmati hidup.
setelah anda melihat itu, lalu apa yang anda akan lakukan?
Oleh: tobeornot221@gmail.com on 6 Desember 2011
at 11:06 AM