Oleh: Ningrum | 6 September 2007

Antara yang Pasti Hilang pada Kita dan Kata

12:30 wibb, 3 September 2007
Hiring almathrud

Antara menunjukkan adanya sebuah jeda atau jarak daripada satu tempat dengan tempat lainnya. Antara itu menunjukkan keterpisahan, ketidak satu tempatan antara kita dan kata. Kita disini menunjuk kepada manusia, sedangkan kata adalah sebuah ungkapan yang keluar dari pita suara. Terucapnya kata bisa melalui proses berpikir, dengan segera, berjeda lama atau bahkan tidak di pikirkan asal saja keluar dari mulut kita.

Keadaan proses berfikir disini, maksudnya seseorang yang akan berkata-kata dengan lawan bicaranya selalu saja memperhatikan atau memperkirakan apa saja akibat-akibat, efect atau respon yang akan ada ketika kata-kata tersebut diucapkan. Terkadang pemilik kata pun berfikir benar tidaknya hal-hal yang akan diucapkannya, biasanya menyakut sebuah peristiwa yang lebih menuntut sebuah ketepatan, waktu, isi yang dibicarakan dan sebagainya.

Bicara soal effect, selalu saja berlaku baik, buruk. Hal-hal baik yang sudah dikonsep secara matang lalu disampaikan oleh pemilik kata belum tentu membawa kebaikan bagi pendengar, bahkan mungkin tidak ada, karena tanpa diikuti oleh tindakan nyata, alias omong doang. Misalnya saja seorang pejabat ataupun para calon elit, kaum elit negeri ini ketika mempromosikan dirinya atau golongannya agar dipilih oleh rakyat. Seorang pedagang yang juga dalam rangka meningkatkan nilai mutu barang kepada calon pembeli, rela memperdaya konsumen. Seorang teman yang membuat beragam alasan pada saat yang bersangkutan tidak dapat menepati janjinya, juga melakukan kegiatan berfikir sebelumnya.

Namun sayangnya pemilik kata-kata jarang memikirkan atau memperkirakan kekecewaan yang akan timbul pada lawan bicara. Untuk para orator politik misalnya. Ketika pemilih sudah mencoblos calon elit yang berorasi kampanye dsb, ternyata ia tidak bisa memberikan sesuatu seperti ketika mempromosikan diri, program ini dan itu hanya tinggal program saja. Begitupun dengan penjual yang berpromosi,beriklan. Akhirnya Pembeli mendapatkan kualitas tidak sama dengan yang diiklankan. Timbulnya juga kekecewaan. Begitupun dengan teman yang sudah coba memenuhi janji atau permintaan tolong teman dengan mengorbankan waktu, melakukan usaha. Ternyata, justru temannya, yang meminta pertolongannya malah mengabaikan semua usaha, janji dan permintaan yang ditujukan kepada yang dimintai bantuan.

Di depan tampak bicara baik, ternyata setelah berbalik benar-benar berkata terbalik dari yang dibicarakan di muka. Artinya kata-kata tidak mewakili apa adanya kita. Beberapa contoh diatas adalah salah satu cara menyelamatkan diri atau mencapai yang diinginkan.

Ketika proses berfikir didekatkan dengan sebuah rasa tanggungjawab terhadap diri, teman juga sang Pencipta. Orang yang bersangkutan akan berupaya menjaga kebenaran dari yang akan dibicarakannya, bukan dusta atau seperti umum disebut kemunafikan. Orang yang bersangkutan percaya bahwa sebuah kejujuran akan membawa kebaikan. Tak terbayangkan ketika banyak diantara kita mengatasnamakan kebaikan diatas kemunafikan ataupun kebohongan. Hei sentuhlah, lidah tak bertulang memang.

Yang menjadi kegelisahan saya adalah, sudah terlalu banyak kata-kata yang keluar dari mulut itu tidak sesuai dengan kondisi sesungguhnya. Bukankah sebuah kebohongan, kemunafikan yang seringkali dibiasakan atau dipelihara akan menjadi sebuah kewajaran?, Memburamkan nilai dari benar tidaknya? Bukankah salah itu tetaplah salah? Yang benar itu tetap benar?

Kata-kata leluhur “Anjining diri gumatung soko lati” artinya “Harga diri seseorang tergantung pada lidahnya”. Mungkin kata itu sudah terlupakan, tergerus oleh kepentingan individu dan materi. Sungguh persoalan tidak mudah menghilangkan antara di antara kita dan kata.

Padahal, ada saatnya nanti tidak ada lagi jarak antara kita dan kata. Karena yang berbicara bukan kita, melainkan mulut, tangan kaki, mata sebagai indra yang ketika hidup kita manfaatkan untuk memenuhi segala hasrat kita. Kalau ada jarak berarti akan ada pertimbangan, kalau tidak ada antara itu sepertinya kita tidak akan berada dalam masalah ketika indra-indra kita bersaksi hal-hal yang memang tidak sepatutnya dilakukan.

Saya jadi teringat penggalan lagu rohaninya almarhum Crisyhe. Lagu itu terakhir kalau tidak salah saya dengar empat tahun lalu, kira-kira penggalan baitnya begini:
“Akan tiba masa mulut dikunci suara tak ada lagi. Berkata tangan kita tentang apa yang dilakukannya, berkata kaki kita kemana dia melangkahnya, dan seterusnya”.
Bisakah antara itu benar-benar hilang diantara kita dan kata? Mudah-mudahan.
Ada permintaan dari saya untuk pembaca, jika berkenan dan pernah dengar lagu tersebut diatas, tolong dilengkapi syairnya dalam kolom komentar ya, terimakasih.

Salam kata-kata

PerempuanNya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: