Oleh: Ningrum | 6 September 2007

Menetralkan Emosi dengan Sapu

Sapu yang saya jadikan judul ini hanyalah bisa-bisa nya saya hari ini yang lagi mendapatkan ide untuk menarasikannya. Sapu singkatan dari sajak-sajakan dan puisi puisian. Kalau dalam tata bahasa Indonesia, singkatan dengan cara ini si sepertinya tidak dibenarkan, tapi ya tidak apalah, maaf kepada pakar tata bahasa Indonesia. Maklum, soalnya saya sedang berguru, belum menjadi guru yang sudah patut digugu dan ditiru.

Debu atau sampah dalam pengertian pada sapu yang kita bicarakan ini adalah bentuk dari emosi saya, bisa keresahan, kegembiraan, kesedihan dsb. Hal-hal tersebut datang pergi silih berganti. Selalu akan datang lagi dan lagi dengan kegelisahan yang sejenis atau berubah bentuk
.
Kaitannya dengan ini, sapu (sajak-sajakan dan puisi-puisian) saya gunakan untuk menghilangkan atau membersihkan kegundahan saya, juga mengekspresikan segala rasa. Terkadang rasa dan atau kegundahan itu membawa manfaat, bisa memunculkan gambaran-gambaran masalah yang kadang hadir tanpa solusi, namun juga seringkali disusul penyelesaian dikemudiannya. Jadi kita bisa membangun rasa optimis. Problem biasa atau emosi manusia saya pikir, selalu ber-re, revolusi;berubah dengan cepat atau reformasi; yang membutuhkan waktu lebih lama. Lalu saya melakukan pengekspresian dan atau penghilangan, menetralkan lagi, dan terus demikian, bisa dengan sapu atau tulisan-tulisan lainnya. Saya ingatkan lagi, saya masih berguru dan ingin selalu berguru.

Lanjutkan,

Kenapa dinamai sajak-sajakan atau puisi-puisian, karena saya sadar benar, seperti yang sudah saya ungkapkan dalam bot mi and blokoe, tulisan sapu juga biasa saja, belum menjadi sajak sesungguhnya atau puisi yang sempurna. “Sapu” akan menunjukkannya kepada pembaca, bahwa saya bukanlah seorang pujangga, yang bertatabahasa-puitis, mungkin juga jauh dari romantis. Saya cuma ingin menulis sedikit manis, kalau ternyata hasilnya tidak manis juga ya sudah. Bukankah kita tak perlu pesimis. Yang penting sapu ditulis, sebelum rasa habis ditepis, asal jangan narsis. Begitulah temans.

Mari-mari Mengalirkan Emosi

Ningrum

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: