Oleh: Ningrum | 9 September 2007

Masalah Mendasar adalah Mentalitas Bangsa

02.40, Minggu 9 Agustus 2007

Atap Putih

Bicara soal mentalitas, berarti juga bicara soal cara berfikir, tabiat ataupun watak. Ketiganya akan memegang peranan penting dalam membuat cita-cita perubahan dalam program kedepan sekaligus cara tepatnya atau setrateginya. Dalam tulisan saya kali ini saya ingin sedikit bicara soal mentalitas bangsa kita. Mental bangsa kita yang tidak juga bergeser dari negara berkembang yang dicangkan sejak kala rezim Soeharto hingga empat periode berikutnya-kini. Bangsa yang juga tidak bergeser dari bangsa peminta-minta menjadi negara mandiri dan mampu memberi baik secara finansial ataupun non materi (pemikiran). Mental bangsa yang baru kegirangan mengonsumsi belum memproduksi dan punya jati diri.

Indonesia kita stagnan, sulit maju. Reformasi yang ada seperti hidup segan mati tak mau. Tahun-ketahun bangsa ini selalu direpotkan dengan kemana dan pada siapa lagi semua pembanguanan akan dibiayai, alias mencari bantuan (utang). Melakukan ujicoba penyelamatan rakyat miskin dengan memberi ikan bukan kail. Belum lagi, semakin menggeliatnya gerakan separatisme di Aceh (GAM), Maluku (RMS), Ambon, Irian jaya; Gerakan Papua Merdekanya. Itu semua adalah gambaran kompeksitas persoalan yang ada tak urung membuat negeri ini harus ekstra kerja keras, bak mengurai benang kusut. Semua ingin dilakukan secara serempak oleh pemerintah, tetapi ada yang terlupa. Soal terabaikannya ke-sekarat-an mentalitas bangsa (warga) sebagai ruh juga pondasi dari pembangunan yang sudah seharusnya mendapat perhatian khusus.

Coba simak isi pidato SBY pada kuliah umum di Universitas Airlangga Surabaya (4-9), seperti yang dilansir kantor berita Antara yang saya resume. Presiden memperkirakan Indonesia baru akan menjadi negara maju tahun 2050. Dengan syarat, jika melakukan berbagai perubahan yang signifikan.

Yang mesti dilakukan; Pertama, memberikan kelonggaran pada daerah untuk membangun dirinya. Pertanyaan saya apakah benar, otonomi yang sebagaimana dimaksudkan untuk meratakan kesejahteraaan rakyat antara pusat dan daerah bisa terwujud?. Pengamatan saya, yang terjadi adalah banyaknya kasus korupsi yang dilakukan oleh pejabat daerah, mulai dari distrik I (Gubernur) hingga tingkat bawah RT (rukun tetangga), mencari loka-loka rakyat (terkecuali bagi yang tidak). Otonomi justru menciptakan “raja-raja” baru demi darah daging, anak cucu dan saudara sedarahnya. Bukankah ini persoalan mental pejabat, merasa harus mencukupi semua karena merasa selalu kurang?

Kedua¸ memadukan sumber daya alam dengan sumber daya pengetahuannya, bagaimana caranya ya akan berpengetahuan jika pendidikan kita semakin jauh dari rakyat miskin. Ketiga, menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai pertumbuhan yang bekeadilan. Bagaimana bisa? Usaha Kecil Mayarakat yang membutuhkan dana tidak dipercayai oleh Bank Pemerintah sebagai pemodalnya, dimanakah adil?. Bukankah ini juga bersumber dari mentalitas?

Strategi lain; memperkokoh pertahanan dan kemandirian bangsa; Hmm mencari dan mendapatkan pelaku penurunan, perobekan dan pencurian bendera merah putih di Aceh, Maluku, Irian Jaya yang diganti oleh oknum setempat, dengan bendera gerakan daerah masing-masing pun belum mampu. Mencari Black box milik salah satu maskapai penerbangan yang hilang di perairan Sulawesi Barat pun maih meminta bantuan USA. Lalu mandiri? Bagaimana bisa disebut? Hutang kita menjadikan kebijakan politik luar negeri bahkan dalam negeri pun penuh interfensi negara Adi kuasa beserta kroninya, kita takut, takut tidak akan diberi bantuan lagi, tidak berani menolak. Sungguh persoalan yang berasal dari mental lagi kan?

Lalu SBY dalam pidatonya juga mengungkapkan target jangka menengah 10 tahun mendatang; pengurangan kemiskinan secara tajam, pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan dan berkelanjutan. Penignkatan demokrasi serta memenangkan kompetisi dalam globalisasi. Peningkatan good governance seraya menegakkan hukum. Hukum ditegakkan? Dengan apa? uang kah? Bagaimana dengan mafia peradilan yang sudah menjadi budaya tak kunjung di berantas? Lagi-lagi benarkan ini soal mentalitas penegak hukum itu. Tapi mengapa sumber persoalan itu justru tidak disampaiakan secara jelas dan terbuka. Terkesan tertutupi dengan aspek-aspek lain? Mengapa tidak mengulang ajakan Baharudin Jusuf Habibie dulu ketika menjabat sebagai presiden, mengajak rakyat mengencangkan perutnya di senin dan kamis, untuk prihatin dan mengasah hati. Mengapa negeri ini tidak bisa mengawali semuanya dengan berdikari;berdiri di kaki sendiri. Memperbaiki habbit, memperbaiki mental. Mengapa?

Salam Tanya

PerempuaNya
(Ningrum)


Responses

  1. permisi
    minta bhny y.. boleh kan

  2. Bahan? sebagai materi maksudnya?. Silahkan…. Tapi postingan ini adalah subyektifitas saya lho

  3. Ningrum, saya hanya memberikan tambahan informasi mengenai tulisan anda mengenai Mentalitas Bangsa Indonesia sbb:
    Kalau kita lihat sekilas saat ini Bangsa Indonesia tidak mempunyai daya saing di Dunia Internasional, Negara kita kaya raya Sumber Daya Alam (SDA) tapi rakyatnya miskin, Kenapa karena Sumber Daya Manusianya (SDM) kurang baik dan kurang Kompeten sehingga tidak mampu mengelola SDA nya untuk memajukan Negara dan mensejahterakan Rakyatnya, ada tiga fondasi performance SDM,yaitu; 1. Knowledge, 2 Skill, 3. Attitude, Utamanya para pemimpin kita saat ini belum memiliki perpaduan Fondasi SDM tersebut, Knowlede atau Ilmu Pengetahuan , Kita sudah banyak memiliki Insinyur, Sarjama Ekonomi, Sarjana Hukum, Doktor Ekonomi Sarjana Pertanian,Dll. ini dapat ditempuh dalam pedidikan dalam hitungan tahun saya, SKILL juga sdm kita banyak memilik keterampilan dalam bidang apapun termasuk Leadership, Tetapi sayangnya ATTITUDE bangsa Indonesia utamanya para pemimpin kita sangat LEMAH, Kenapa?, Attitude tidak ada sekolahnya, Attitude seseorang/Suku/Bangsa dibentuk oleh antara ain; Keturunan /Gen, Adat Istiadat,Agama,Letak Geografi. Pendidikan,Limgkungan. Percuma kita punya pemimpin yang memiiki Knowedge dan Skil yang kuat tetapi ber attitude lemah, Sehingga dalam kinerjanya selalu mementingkan Kepentingan Jangka Pendek tidak pernah mementingkan kepentingan memajukan Negaranya serta mensejahterakan rakyatnya , yang tentunya dilakukan untuk jangka panjang dan berkelanjutan.Membangun sebuah Negara untuk menjadi Negara maju butuh berbagai Upaya yang berjangka panjang, seperti Amerika,India,Jepang,China,Malaysia.Kenapa Attitude bangsa kita lemah?, Mari kita lihat Sejarah Bangsa ini, Indonesia adalh Negara yang didirikan Oleh kurang lebih 500 Suku yang besar dan dua bangsa yaitu Mongolian dan Melanesian, Jepang hanya satu suku,India, China, Malaysia hanya beberapa suku. Indonesia dahulunya adalah terdidi dari Kerajaan Kerajaan kecil, Indonesia terletah di Katulistiwa, hanya ada dua musim, tanahnya subur. Di Indonesia orang tidak mudah mati karena Iklim dan Makanan, Apa saja yang kita tanam di Bumi Indonesia pasti tumbuh tanpa pemeliharaan yang rumit.Hal2 tersebut yang membuat Bangsa kita mempunyai Habit yang kurang mempunyai DAYA SAING sebagai Individu maupun Bangsa.Hasil penelitian saya, Saya mempunyai Habits/Sifat 13 jenis yang buruk yang saya dfapat dari Orang Tua saya/Gen,walaupun ada 5 jenis yang baik. Apa Habits saya yang buruk dan tidak berdaya saing? diantaranya : 1. Saya tidak memiliki tanggung jawab, Saya suka iri hati/dengki, Saya Pemalas, Saya mudah diadu Domba, Saya Pengecut, Saya Munafik, Saya mementingkan kepentingan sendiri dll. Andai kata Attitude Bangsa ini dapat diperbaiki menjadi Orang/Bangsa yang memiliki habits ; Bertanggung Jawab, Berani menanggung Resiko, Rajin, Ulet,Tidak mudah dihasut,memikirkan kepentingan orang lain dll. Maka Bangsa kita bisa maju, INILAH AKAR PERMASALAHAN BANGSA INDONESIA. Selama kita masih memelihara Habits kita yang buruk, maka siapapun Pemimpin Negara ini maka akan tetap keadaannya seperti saat ini malah kemungkinan Bangsa ini bisa LENYAP. Lalu bagaimana SOLUSINYA? karena kita sudah tahu akar Permasalahan Bangsa Indonesia MAKA tidak ada jalan lain , Pemimpin kita harus punya Konsep/Program unutk meningkat Attitude Bangsa Indonesia menjadi Ber Attitude yang berdaya Saing. Apa Mungkin? Bisa kalau mau/ Goverment will. Ada contohnya; Bangsa Jepang , pada Perang Dunia Kesatu dan Kedua terkenal dengan Bangsa yang Kejam, Membunuh .Memperkosa dll. Tapi lihat Bangsa Jepang sekarang, Sangat Santun dan Bermoral, Jadi Dik Ningrum , saya masih Optimis some day kita punya pemimpin yang tahu Akar Permasalahan Bangsanya, Indonesia dan mau membuat Konsep/Program yang dapat membangun/mmperbaiki Attitude Bangsa Ini, untuk memilki Attitude yang berdaya saing, MERDEKA!!!, Heroe Wiedjatmiko Pecinta Fanatik NKRI, UUD 1945, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

  4. Heran, sekian tahun berlalu tapi Blog ini masih saja relevan (dan benar).
    Saya jadi saksi dan mengalami sendiri betapa konyolnya bangsa ini kalau sudah terkait soal attitude dan mentalitas SDM.
    Sebagai pengusaha, saya bergerak di dua bidang: kerajinan tangan dan bengkel las. Anda tahu, kerajinan tangan bisa mendatangkan dollar jika diurus dengan sangat serius, sementara bengkel las (seperti di China, Korea) bisa berlanjut menjadi perakitan sepeda motor bahkan mobil.
    Tapi dalam 3 tahun ini saya terus saja ketemu SDM “loyo”: Entah perempuan atau laki-laki, SAMA saja. Wanita pengrajin (terdiri dari penjahit, tukang sulam dll) sering mendadak mangkir. Anak, suami dijadikan alasan. Pekerja bengkel las (umumnya pria) juga gitu. Dalam tugas, mereka sering ogah membenahi mutu pekerjaan yang kurang halus/kurang rapih.
    Dimarahin? Ngambek. Didiamkan? Melonjak. Di lain pihak, mereka ini “ulet” kalau menuntut kenaikan upah, minta kasbon/pinjaman utk rupa-rupa keperluan, hitung-hitungan cuti.
    Maka dari itu, saya (1) tidak percaya sedalam-dalamnya bahwa bangsa kita akan berubah nasibnya sebab tidak ada keterpaksaan ekstrem, (2) tidak percaya bualan indah pemimpin yang bilang ‘ekonomi kita tumbuh, rakyat sudah cerdas bla-bla-bla’ dan (3) lagi mikir-mikir brgkali lebih baik saya main saham saja, sebab untung-rugi-imbalan-risiko hanya dipikul oleh diri saya sendiri tanpa direpotkan ulah SDM/aparat/pihak lain yang manja-manja.

  5. Pak heru n pak dimas terimakasih apresiasi positifnya…
    semua yang tersaji di negara ini adalah merupakan akumulasi dari pribadi-pibadi (tepatnya si laku mayoritas). Individu-individu yang lahir dari sistem pendidikan dan budaya negeri ini yang begitu (mohon di interpertasikan sendiri apa itu begitu). Jadi ketika saat dan tamat dididik ya begitu, jadi pemimpin ya begitu.

    Setelah difikir-fikir, enggan menyalahkan yang begitu, walaupun gregetannya sampai begitu.

    Btw, ada yang saya sepakati dari komentar-komentar bapak. Termasuk penjelasan-penjelasan dan contoh-contohnya berikut analisanya. Sebenarnya hal-hal itu bisa dijadikan trobosan. Lebih baik lagi jika itu disepakati/dibuat menjadi kebijakan publik. Sehingga bisa dilakukan serentak agar hasilnya terlihat. Karena yang terlihat dari sebuah negara (kemakmuran, budaya, kekayaan, kemajuan atau bahkan kemisikinan) adalah hasil akumulasi laku atau kebiassaan tiap penduduk yang ada di dalamnya.
    Tapi jika yang sadar atau yang berdaya hanya satu atau dua dari sekian ratus juta penduduk. Hmm…. hasilnya ya akan begitu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: