Oleh: Ningrum | 24 September 2007

Berguru Sebuah Kemandirian Hidup pada Mino’ Seorang Tunamulti (tunawicara, tunadaksa; cacat fisik dan mental)

Sure’s Place, Agustus 2007

Sisa hujan itu masih membekas, dinginnya udara, basahnya tanah coklat membuat aku merindu lagi. Rindu akan sebuah jawaban dari berbagai harapan-harapan hidup. Kulangkahkan kaki dengan panjang dan pasti, seperti itulah ingin kuteruskan harapku pada waktu. Waktu yang seringkali meresahkan aku dan ruang yang masih tetap disini aku. Hatiku tak damai sore itu. Namun tetap kulanjutkan langkahku menuju tempat pemberhentian.

Pandanganku mengarah pada keramaian yang berhasil mengambil perhatianku pada anak-anak yang sedang bercanda di sana. Mereka juga biasa memberikan senyum dan sapa tulusnya padaku. Biasanya ada si gadis kecil manis memanggil dan menyapa ramah kepadaku, Rina namanya. Kali ini dia tidak ada, hanya ada teman-temannya yang juga masih bertanda keluguan dan jujur sepertinya.

Perhatianku langsung terarah pada Mino’, seorang pemuda dewasa yang memiliki keterbelakangan mental, gagu-bisu dengan tangan kirinya tidak normal (tidak lurus dan sulit digunakan, sepertinya syarafnya mengalami gangguan). Tiba-tiba, adanya Mino’ bisa membantu menenangkan hatiku sore itu.

Setiap hari dikala sore, ia mendorong box kecil rakitan yang ringkih. Karena memang itulah kesan yang aku dapatkan dari kotak yang dibuat dari sisa potongan teriplek. Box dorong triplek itu dilengkapi empat tiang (besi berdiameter lima milimeter) yang dikaitkan untuk menggantungkan jajanan (snack) yang berbungkus menarik karna warna-warninya. Box itu selalu menemani hari-harinya, menjadi sahabat sejatinya. Mungkin juga pertahanan hidupnya. Saat itu kulihat dia, gerak tubuhnya tampak tidak seimbang. Gontai bila ia berjalan. Namun sepertinya, kegontaian tidak menggoyahkan tekadnya untuk terus punya arti pada box, pada dirinya dan anak-anak itu, juga kita.

Box itu selalu ia dorong dari rumahnya menuju tempat anak-anak mendapatkan ilmu pokok bagi salah satu pemeluk agama. Untungnya, jarak tempat yang ia tuju tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya, hanya sekitar 75 meter. Sepatu butut hitam kecoklatan menjadi saksi langkahnya. Saat itu celana panjang hitam pudar ia kenakan sebagai setelan kemeja kota-kotak yang juga mulai memudar, warnanya redup, meredupkan rasaku sore itu.

Seperti biasa, bisa kutebak ia akan mengarahkan pandangannya kearahku. Lalu merekahkan senyumnya sambil bergumam tidak jelas. Mungkin ia berkata sapa kepadaku, atau mungkin ia pun sesungguhnya sama sepertiku ingin berbincang, layaknya karib yang menginginkan pertemuan. Kemudian, berbagi kisah-cerita suka dan duka yang dialaminya hingga bisa tertawa atau menangis bersamaku.

“Kepada siapa ya ia berbagi rasa?”, tanyaku dalam hati. Kepada anak-anak itu? pada bok kecil itu? Atau kepada tetangganya? Ah ya tidak mungkin, selama ini sungguh sulit baginya untuk berkomunikasi dengan orang lain karena keterbatasnya dalam mengucapkan kata. Amat sedikit orang yang bisa memahami apa maunya juga mengenali bagaimana kondisi emosinya.

Tak ada yang bisa kulihat dalam dirinya selain semangat hidup, semangat untuk bertahan dan tidak ingin bergantung. Pemuda tunaganda itu menolak tinggal dan dirawat kakaknya, meskipun ia masih memiliki kakak kandung. Mino’ memilih untuk hidup dan mengurus dirinya sendiri di rumah yang sejak kecil ia tinggali, peninggalan almarhum orang tuanya. Kisahnya, hanya sesaat ia merasakan sentuhan lembut tangan dan juga kasih ibunya. Ibunya meninggal saat ia masih kecil. Kemudian, bapaknya dengan kesetiaanya memilih untuk tidak mencari pengganti istrinya yang sudah terlebih dahulu dipanggil Sang Pencipta. Sampai Mino dewasa, bapaknya menjadi single parent, hingga saatnya tiba dipanggil juga dalam keharibaan-Nya.

Mino’, Seolah-olah tidak ingin menyempurnakan kebisuannya. Ia seakan-akan ingin menunjukkan kepada orang lain, kalau ia pun sanggup berbicara dan menjawab hidup. Mungkin jika ia bisa berkata-kata, ia akan berucap pada setiap orang yang ditemuinya juga padaku tentunya “Saya memang bisu dan terbatas, tapi saya tidak akan menyerah begitu saja pada keadaan”. Terharu aku dibuatnya, bisunya tidak untuk sikapnya terhadap hidup. Ketidaklurusannya hanya untuk mulut dan tangan kirinya, bukan pada prinsip hidupnya. Entah bagaimana caranya ia memilih bersikap untuk tidak membisu pada keadaan. Memiliki prinsip yang terlihat dalam laku. Sayang, aku tidak bisa bertanya dan mendapatkan jawaban darinya.

Sebenarnya, ingin ku dibagi cerita olehnya, tapi bagaimana mungkin? Suaranya pun sering mengagetkanku, karena keluar dengan gelegar, tak teratur, berintonasi tinggi. Aku tidak mengerti setiap gumaman yang keluar dari mulutnya. Hanya senyuman tak sempurnanya yang aku pahami, sebagai tanda penerimaan dirinya terhadap kehadiranku, juga sebagai balasan senyumku.

Salam haru pada Mino’


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: