Oleh: Ningrum | 28 September 2007

Kesalahan Saya

Dalam evaluasi saya

Hari ini saya menyempatkan membaca kembali postingan tulisan di perempuanNya. Ternyata, banyak kesalahan pada pemakaian tanda baca, yang menyebabkan kerancuan kalimat dan pengertian. Seharusnya berhenti dengan tanda titik saya menggunakan koma. Belum saatnya berhenti sudah saya hentikan dengan titik. Mestinya menggunakan tanda seru sebagai penegasan, tidak saya gunakan.Selain itu, ada maksud diri berbicara satu tema, menyusun kalimat dan mensistematiskannya.  Seharunya A,B,C,D, E dan seterusnya, hasilnya A,D,B,C,E. Ternyata ada paragraf yang seharusnya berada di depan, justru berada di tengah atau di belakang dan seterusnya. Selain itu, ada saja kata-kata yang tidak menyambung dengan kalimat berikut yang menyertainya, meskipun maksud tujuannya masih seperti semula. Lalu, ketika saya mengulang lagi membacanya lagi, lagi-lagi saya jadi sedikit bingung. Kok bisa-bisanya bikin kalimat begitu. Tapi karena diri yang menulis, meskipun terputus, loncat dan berhenti mendadak tetap saja bisa dimengerti maksudnya oleh diri.

Doakan saya pembaca, mudah-mudahan saya tidak berlama-lama dalam kondisi seperti ini. Soalnya saya juga khawatir menjadi pemosting yang egois, karena hanya saya yang tau maksud tulisan saya.

Setelah saya mencoba cermati lagi, terlepas apakah pencertmatan yang saya lakukan cermat atau tidak, saya mendapatkan beberapa kelemahan saya. Hasilnya, ternyata saya tidak menggunakan kata atau kalimat penghubung yang bisa menyatukan satu kalimat dengan kalimat yang lainnya hingga selaras. Mungkin pikiran saya lebih aktif bergerak kesana kemari daripada tangan yang memainkan key board atau sebaliknya ya? Jadi akibatnya, tulisan saya tersering meloncat seperti kutu loncat yang tidak setelaten dan sesabar ulat. Apa untuk satu hal ini saya lebih buruk daripada ulat? Pembaca saya baru meloncat, dari tulisan hingga ulat.

Wah, parahnya, setelah saya mengetahui ketidak beresan dan permainan loncat meloncat pada tulisan yang sudah saya buat, saya belum mau memperbaikinya atau mengeditnya. Ada niatan saya untuk menghapusnya. Tapi setelah dipikir sejenak, jika saya melakukan itu saya akan menyayangkannya. Jadi ya biarkan adanya dalam jejak penulisan saya.

Timbul lagi pertanyaan dalam loncatan ini. Bagaimana jika postingan berikutnya juga masih belum seberes atau sebaik bloger lainnya ya? Kalau begitu kenyataannya, saya akan memiliki banyak catatan ketidak beresan saya.

Kesimpulan untuk tulisan saya:

Sungguh tulisan yang belum baik. Tulisan saya belum bisa senikmat dan selezat tulisan para bloger senior lainnya.

Salam untuk blogers senior PerempuanNya


Responses

  1. ciri khas seseorang terkandung dalam tulisannya, kesalahan diri sendiri susah dimengerti dan diperbaiki namun dengan belajar terus menerus semua dapat teratasi

    PerempuanNya;
    “Semuanya dapat diatasi dengan terus menerus belajar” Setujuuuuuuuu!!!!!!

  2. Kalau saya selama ini jarang me-review tulisan saya sendiri, maksudnya biar ada sejarah penulisan. Apakah tetap atau ada perbaikan dari setiap tulisan atau malah semakin buruk. Mari tetap menulis dan terus belajar. Salam. Maaf, baru bisa berkunjung (lagi ?)

    PerempuanNya
    “Tetep menulis dan terus belajar”. Ide bagus tuh bang, makasih;-)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: