Oleh: Ningrum | 27 Oktober 2007

Ampuni Cinta Anak Ibu

Dalam Rasa

Garis-garis serupa lipatan di wajah ibu memberikan isyarat kala. Setiap kerutan itu terselip doa, sebanyak dan selama itulah restu Ibu.

Anak ibu mencoba menahan lara. Lara karena anak ibu belum seberdaya seperti inginnya untuk ibu. Ibu, bilakah anak ibu bisa memenuhi harapan tersembunyi ibu?

Harapan ibu yang bukan untuk ibu, tetapi harapan ibu untuk anak ibu. Ibu selalu berharap mampu memberanguskan duka anak ibu. Ibu berharap akan keberhasilan anak ibu. Harap milik ibu bukan balasan kembali untuk ibu. Harap ibu hanya ingin melihat dan merasakan kebahagiaan anak ibu.

Ibu, ampuni anak ibu.

Selama 712 hari anak ibu menjadi pemaksa, peminta dekapan dengan rengekan dan tangisan. Anak ibu menjadi perampas waktu istirahat ibu. Anak ibu menjadi penghisap darah ibuAnak ibu menjadi penjajah jeda ibu. Sedangkan ibu ketika itu adalah abdi setia dalam haus, tangis dan lelap anak ibu.

Ibu, sampai kini anak ibu belum juga mengembalikan semua yang dulu sudah ibu berikan.

Apalagi darah ibu, masih tetap mengalir di tubuh anak ibu, tak berpindah. Ibu, ibu tak pernah meminta darah itu kembali ke raga ibu, tak pernah. Ibu, terimakasih atas keikhlasan ibu.

Ibu, ampuni anak ibu. Anak ibu yang pernah menjadi taruhan nyawa ibu. Ke(ada)an anak ibu menjadikan ibu berada diantara hidup dan mati. Saat dalam perut, lahir-tumbuh menjadi kanak-kanak, remaja lalu dewasa, Ibu selalu setia merawat, membelai dan tetap menyayangi anak ibu. Ibu, terimakasih atas kesejatian ibu

Mampukah anak ibu, menjadi seperti ibu untuk ibu dari waktu kewaktu hingga akhir waktu ibu dan anak ibu?

Ibu, ampuni anak ibu. Ampuni, jika belum bisa menyumbang banyak. Padahal, apa yang tidak ibu berikan?. Darah, waktu, pikiran, hati, tetesan kringat, tarikan nafas, langkah kaki ibu semua untuk anak ibu. Termasuk ridho dan doa ibu juga

Ibu, semua milik ibu tak tertakar dan terukur oleh anak ibu. Terlalu banyak ibu, anak ibu tak sanggup menghitung setiap pengorbanan ibu yang tak berbatas.

Dapatkah anak ibu mengembalikan semua pada ibu?. Walau anak ibu tahu, ibu tak akan pernah meminta itu. Ibu, terimakasih atas ketulusan ibu.

Ibu, anak ibu hanya bisa memeluk ibu dan berkata, pada ibu anak ibu cinta, segenap sayang. Ibu, ampuni cinta anak ibu, sebatas ini baru mampu, ampuni anak ibu.

Ibu, ampuni anak ibu lagi.

Ampuni jika belum bisa menjadi matahari, yang menghangatkan ibu. Ampuni bila belum mampu seperti bintang dan bulan di malam-malam ibu. Ampuni bila belum dapat menjadi udara segar kala sesak ibu. Ampuni jika belum menyerupa air sejuk pada dahaga ibu. Ampuni jika belum bisa menjadi tangan dan kaki yang tangguh untuk ibu.

Ibu, sungguh anak ibu ingin bisa, ibu.
Ibu, doakan anak ibu, ya bu Ampuni anak ibu.
Terimakasih atas semua, ibu.

Iklan

Responses

  1. Duuh keikhlasan kasih sayang ibu begitu hebat dalam uraian puisi ini. Sebagai anak baik tentu saja banyak cobaan menimpa, namun toh pada akhirnya, ibulah satu² tempat yang tenang dan adem saat mudik… 🙂

    Perempuan:
    Bagi saya sosok Ibu, banyak memberikan pelajaran hidup.
    Mudik nich, dari mana mau ke Cirebon?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: