Oleh: Ningrum | 30 Oktober 2007

Mengidentifikasi Kesungguhan Emosi Penulis (baca;blogger) pada Hasil Karyanya

Mengidentifikasi adalah sebuah usaha untuk mengenali sesuatu berdasar pada apa yang ada. Pengidentifikasian bisa hanya berdasar pada atau berhenti pada apa yang ada atau sering disebut apa adanya, sesuatu itu dengan mudah dapat terlihat oleh mata telanjang.

Pengidentifikasian kedua, pengenalan secara mendalam. Artinya orang yang melakukan pengidentifikasian, sebut saja identitor menginginkan sesuatu yang lebih. Ia tidak puas dengan hanya melihat sesuatu yang hanya bisa tertangkap mata, ada ketidak percayaan pembaca (identitor) terhadap apa yang tersaji. Lalu ia mampu menangkap jenis emosi sebenarnya yang terkandung dalam sebuah tulisan, sebuah ratapankah atau kesedihan, kegembiraankah atau kebahagiaan. Saya sebut sebanarnya karena yang tertulis itu bisa jadi tidak sebbenarnya, sekedar narasi tanpa isi atau deskripsi kosong tanpa emosi.

Untuk kasus pertama; pengidentifikasian biasa, yang melakukan kerja hanyalah mata sebagai alat indra penglihat. Penikmat tulisan hanya melakukan pembacaan terhadap teks atau tulisan. Jika teks tersebut meggambarkan kesedihan, keputusasaan, kegembiraan dengan kata-kata menghiba, pesimis dan atau kata-kata yang bernada riang. Maka pembaca tersebut menerima pesan sesuai dengan yang tertera.

Padahal, seringkali sebuah teks atau tulisan memiliki kesungguhan rasa yang belum tentu ditulis oleh penulis pada karyanya. Termasuk penggunaan majas-majas; mataforakah, personifikasikah, hiperbolakah dan lain sebagainya. Pada kasus pertama, teramat sering penglihat mengabaikan pesan tersembunyi ataupun rasa penulis sebenarnya yang hampir ada di setiap yang ada atau yang diadakannya.

Pada kasus kedua; Identitor merasa perlu melakukan penyelidikan lebih, berusaha mengidentifikasi sebuah atau banyak rasa pada satu tulisan. Coba menginventasir pertanyaan-pertanyaan dan memunculkannya. Sebenarnya ada apa dibalik yang ada? bukan hanya apa adanya pada yang ada.

Hal lain yang bisa membantu pembaca adalah memanfaatkan potensi duga-menduganya. Lalu mengumpulkan faktor-faktor apa saja yang kira-kira mendorong penulis mencipta sebuah karya. Bisa juga menghubungkan karya yang masih dalam satu jenis, adakah korelasi ataupun kejanggalan-kejanggalan. Melalui itu kita bisa mendapatkan kebohongan, pepesan kosong. Juga sebaliknya, kesebenar-benarnya kondisi jiwa/emosi, tidak ada kreatifitas mengada-ada.

Saya memiliki beberapa contoh kutipan penuh kekesalan sebenarnya yang ditulis pada akhir 2003:

“Renungkan, rasakan dan pikirkan apa yang kami rasakan. Jagalah sisa kepekaan rasa yang masih mau tinggal dalam lubuk hatimu. Yang pasti perlunasan adalah wajib dalam bentuk dan waktu yang serupa. Selamat menikmati kekuasaaan!”

“Masing-masing manusia akan mendapatkan hal seperti yang telah ia perbuat, siapa yang menabur angin akan menuai badai. Sebuah drama, konspirasi busuk telah berhasil diperankan oleh aktor terbaik dari KmHk. Dengan judul pembohong ulung, dengan melibatkan kami sebagai yang dikorbankan dengan pengulangan sekenario tahun lalu. Dimana penikmat kekuasaan menghancurkan kepercayaan dan berhutang sebuah janji. Selamat kepada yang berbahagia dan merayakannya!”

Akan ada ketidak mungkinan atau kemungkinan-kemungkinan yang akan teman’s percayai. Aktifitas ini mau tidak mau akan melibatkan otak untuk bekerja, dengan kata lain berlogika. Ketelitian sangat diperlukan dalam pengidentifikasian ini.

Jika belum yakin akan kesimpulan yang dibuat, hal yang bisa membatu adalah cobalah mengulang pembacaan. Akan anda temukan emosi penulis sesungguhnya. Hasilnya bisa sama dengan apa yang penulis deskripsikan atau sebaliknya, hanya berupa permainan diksi/kata tanpa rasa/emosi. Kemudahan lain lebih bisa teman’s dapatkan jika, pembaca mengenali kondisi psikologis atau memiliki kedekatan secara psikologis, ini akan sangat membantu mengenali emosi tulisan blogger.

Hal lain, mungkin bisa saja tanpa sengaja atau muncul dengan sendirinya, sering kali intuisi teman’s akan berbicara, tanpa harus bekerja keras mencari-cari atau menduga-duga. Hingga langsung pada kesimpulan bahwa, penulis sungguh-sungguh atau tidak sungguh sungguh merasa seperti yang ia tuliskan atau kabarkan pada pembaca/teman’s.

Teman’s, ini hanya salah satu cara pengidentifikasian emosi tulisan dari hasil mencoba-coba yang pernah saya lakukan. Tidak selalu, tetapi kerap benar hasilnya.

Hmmm atau barangkali ada cara lebih jitu yang dimiliki teman’s, bisakah berbagi dengan saya?

Dengan senang hati saya ucapkan terimakasih 🙂

Selamat mencoba, terimakasih.

Makhluk PerempuanNya


Responses

  1. wah selain butuh teliti jga sabar untuk melakukan identifikasi esmosi nih
    *coba ah*

    Perempuan:
    Ya nehh bang, namanya juga coba-coba, ya musti dicoba to
    Kalau hasilnya tidak memuaskan jangan komplen ya, kan coba-coba, dicoba terus atuhhh
    Selamat mencoba aja,hiiiii


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: