Oleh: Ningrum | 9 November 2007

Kabar dari Negeri Jiran

Judul yang singkat, tidak sebanyak kekesalan saya terhadap perampasan kekhasanahan tanah air kita. Kekesalan ini berawal dari berita TV. Juga bersumber dari HS, seorang warga negara Indonesia (WNI) bervisa konsultan yang sudah selama empat tahun menetap di Malaysia dan bercerita langsung pada saya soal batik yang akan diakui Malaysia dan lagu anak-anak yang seolah-olah juga milik Malaysia; nanti akan tebahas di paragraf berikutnya.

Temans, teramat sering kepatriotismean saya muncul ketika harus menyoal Indonesia dan yang bukan Indonesia. Patriotisme itu tidak dalam bentuk berperang secara fisik ala perjuangan 1945, tetapi hanya berupa pembelaan-pembelaan yang tentu saja berdasar.

Tapi saya juga diam-diam punya kekesalan dengan pemerintah, departemen terkait yang seolah-olah tidak bisa berbuat banyak, terutama dalam mematenkan semua hasil karya, kekayaan bangsa Ini. Mulai seni budaya yang bermacam-macam bentuknya. Hingga sains lewat penemuan anak bangsa, salah satunya khasiat daun pecah beling yang berkhasiat mengobati kanker justru lari mengadu ke Malaysia. Hanya karena Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tidak mau membiayai penelitian yang bersangkutan, dengan alasan negara tidak memiliki pendanaan? Masuk akalkah?. Ada beberapa hasil karya cerdas anak bangsa(maaf saya lupa apa saja)lainya yang justru difasilitasi oleh negara lain yang mampu dan berani membayar mahal karya tersebut, dengan konsekwensi logis, produk tersebut akan menjadi hak paten negara donatur.

Saya pun harus mengakui negeri ini tidak punya kemauan mematentkan produk sendiri, kurang rajin, kurang pandai mengurusi dan mengelola kekayaan bangsa. Jadi akibatnya, Indonesia miskin. Baik secara finansial, juga kikir rasa penghargaan terhadap kemampuan dan jerih payah anak bangsa yang sangat berharga. Kita sudah kehilangan rasa sayang-sayange dan tempe;makanan dari kedele yang berprotein tinggi. Haruskah terlepas kelekatannya dengan Indonesia lagi pada angklung, jali-jali, lagu-anak-anak dan batik?

Batik? Siapa yang tidak kenal dengan batik? Busana yang sudah mendunia, etnis dan syarat nilai seni. Busana kekhasan kenegaraan elit negeri ini yang digunakan disetiap acara kenegaraan, dalam acara penyambutan tamu negara. Produk yang sudah jelas-jelas terpublikasikan secara online (klik sejarah batik) saja Malaysia berani sudah berencana dan akan mematenkan. Kesaksian itu juga sudah diberikan oleh desainer terkemuka yang juga mampu membatik asal Jakarta yang sering dipanggil mas Wd.

Jika itu benar terjadi besok berarti, Malaysia akan melakukan pengklaiman kembali kepemilikannya atas batik sebagai produk penemuannya. Sedangkan Indonesia kembali kecurian, kehilangan dan menyesal setelah dipatenkan oleh negara lain. Eh malah mungkin biasa saja tidak bereaksi, menganggap sepele dan masa bodoh. Padahal jelas jelas akan merugikan bangsa dimasa yang akan datang. Jadi, setiap kali negeri ini memproduksi produk yang sebenarnya milik kita, kita harus mendapatkan lisensi terlebih dulu dan membayar mahal kepada mereka yang sesungguhnya pencuri. Jika tidak, kita akan terkena denda yang lebih besar daripada nilai lisensi tersebut yang memang sudah mahal bersetandar dolar.

Sudahkah hal ini terdengar dan terpikir oleh dinas terkait atau juga Istana negara?

Soal lagu anak-anak,

Juga sempat terjadi perdebatan konsultan bersetatus WNI (HS) dengan rekan-rekannya yang beridentitas warga negara Malaysia (WNM). Ternyata, banyak sekali mereka mengambil dan melagukan lagu anak-anak Indonesia karangan Ibu Kasur, Ibu Sud dan pencipta lagu lainnya bernotabene WNI yang kebetulan masih diingat oleh konsultan WNI itu dengan lagu-lagunya. Sebaliknya, WNM tidak bisa menjawab siapa pengarangnya. Lagu-lagu itu diajarkan guru di tingkat TK dan Sekolah Dasar Malaysia tanpa memberikan keterangan kepada murid siapa dan berasal dari mana pengarang lagu itu. Itu bisa diartikan amat dekatlah tanda-tanda pencurian dan penghak patenan kembali.

Beberapa lagu yang sangat familiar di telinga kita tersebut oleh konsultan WNI, diantaranya:

1. Sayang Semuanya (Satu-satu Aku Sayang Ibu)

2. Bintang Kecil

3. Kasih Ibu

4. Gelang Sipatu Gelang

5. Balonku Ada Lima

6. Pelangi-Pelangi

7. Potong Bebek Angsa

Menurut kesaksian WNI yang sudah pernah menjelajah Malaysia Barat: Perlis, Kedah, Perak, Kelantan, Trengganu Pahang, Johor dan Malaysia Timur; beberapa wilayah di Sabah dan Serawak yang berbatasan dengan Kalimantan. Ia mendapatkan dan berkesimpulan bahwa sebenarnya Malaysia tidak sekaya Indonesia dalam berkarya dan berkesenibudayaan. Hampir tidak ada yang bisa dicirikan kemalaysiaanya selain baju kurung dan proyek mercusuarnya; Twins Tower, juga lagu rampasan Rasa Sayang-Sayange yang sudah menjadi lagu/maskot pariwisatanya Malaysia.

Di Malaysia nyaris tidak didapatkan jejak sejarah kebudayaan, jika dibandingkan dengan Indonesia yang sangat banyak dari sabang sampai merauke dengan peninggalan fisik berupa candi-candi, monumen, batik alat musik, tari-tarian, baju daerah dan lagu daerah dari ribuan suku bangsa:termasuk anak suku pedalaman.

Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya bukan?. Tapi kok tidak ada yang terpatenkan di mata dunia ya??? jangan-jangan mayoritas karya itu tidak ada dalam arsip negara Indonesia, duh sempurnanya kelalaian pihak yang berkompeten. Malang benar generasi negeri ini.

Apa negeri ini terlalu kaya ya? Sehingga berkesadaran terlalu tinggi mendermawankan hasil karya anak bangsa yang unik dan sangat berharga dengan begitu saja????

Salam Kepiluan

Iklan

Responses

  1. Semua punya kita mulai diakui sebagai punya malaysia. hanya satu yang tidak akan mereka akui… yaitu… TKI!!! 🙂

    permpuan:
    Yups, kira-kira begitu. Seringkali semua orang Indonesia yang di sana sudahh di cap sebagai pembantu atau buruh, mendapatkan perlakuan yang menyakitkan hati, disepelekan. *ini menurut konsultan yang saya ceritakan di judul ini*

  2. hahaha
    klo geto qt klaim ja lumpur sidoarjo milik malaysia..
    kan sbenerny ntu lumpur mang pny kuala lumpur..

    @ :
    Sebaiknya malaysia saja ya yang mengklaim…
    Tapi apa mau? soalnya masalah lumpur tidak akan menaikkan derajatnya di mata dunia, malah sebaliknya.
    Eh dia sudah mengakui lagi lho, lagu (judulnya saya lupa) dari daerah sumatera selatan dipertunjukkan oleh malaysia di festifal budaya di Asia. Belum lama juga


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: