Oleh: Ningrum | 9 November 2007

Memfilosofikan Hidup : Hidup itu Dijalani Saja, Ikuti Kemana Air Mengalir

Dalam Cerita dan Pelajaran 

Demi memilikinya;ilmu hidup, kerap kali saya mengabaikan rasa malu dan meminta secara terang-terangan dengan mengajukan pertanyaan secara tu du puin. “Bagaimana si hidup itu mesti dijalani?”. Selain malu yang dikesampingkan, juga sering mengabaikan siapa lawan bicara. Maksudnya dengan tidak terlalu memperdulikan setatus sosialnya, siapa dia dalam stratifikasi sosial, karena apa yang dibicarakan dan dilakukannya itu lebih menarik, lebih punya nilai daripada siapa dia.

Ketika masih remaja belia, hidup itu sungguh menyenangkan, meskipun ada saja hal-hal yang membuat air mata mengalir karena sebuah kegagalan. Ketika muncul pandangan bahwa, hidup itu seperti lukisan. Secara keseluruhan bisa diatur sesuai dengan usaha, kehendak diri atau cita-cita, dengan terus berfikir positif, bahwa DIA itu selalu ada dipihak saya; hiper optimis kedengaranya ya temans. Artinya DIA akan mengabulkan doa-doa atau cita-cita selama kita mau meminta dan berusaha.

Jadi, hidup itu ibarat lukisan. Mau menggambar apa saja itu bisa diwujudkan. Juga indah tidaknya, cerah atau buram warnanya, itu sesuai dengan keingianan yang melukisnya.

Hingga membuat saya memiliki segudang cita-cita yang sering terimajinasikan, dari yang tidak muluk-muluk hingga yang paling muluk yang bisa dibilang muluk akult.

Ternyata temans, menurut orang-orang yang saya temui, mayoritas berpendapat bahwa hidup itu seperti judul postingan kali ini. Itulah jawaban yang paling banyak saya dapatkan ketika mencoba mengambil ilmu hidup dari orang-orang yang lebih berpengalaman. Pengalaman itu didapatkan pada orang yang memiliki waktu lebih lama hidup, punya banyak kisah/cerita dan pernah atau sedang melalui episode kejayaan ataupun kejatuhan berada pada pahit getirnya hidup. Pada mereka, hasrat untuk mendapatkan ilmu yang kemungkinan besar mereka miliki, banyak bisa terpenuhi.

Dari mereka, didapatkan kesimpulan sementara, bahwa hidup itu berjalan dari bercampurnya banyak kehendak. Kehendak Yang Kuasa (tak berbatas), kehendak manusia;terbatas, kehendak alam;terbatas dan tergantung. Hasil itu dipengaruhi oleh tiga faktor; Tuhan dengan kehendak penuhnya. Manusia dengan potensi berusaha dan tawakalnya. Juga Alam atau kita sering menyebutnya kondisi exsternal atau lingkungan atau jaman yang juga tanpa tersadari juga punya kehendak, kehendak untuk menolak dijadikan khalifahNya (maaf surat dan ayatnya lupa). Kehendak untuk seimbang, menyeimbangkan, berubah;berevolusi. Alam juga punya kemampuan,kehendak menstabilkan dirinya, hanya jika manusia masih mau berkompromi dengan kelestariannya (saling mempengaruhi kehendak alam dengan manusia dan akibat dari pengaruh mempengaruhi itu ada pada hukumNya).

Kehendak tidak akan dibahas secara dalam dalam tulisan kali ini. Hipotesis dangkalnya adalah kehendak satu dengan lainnya saling mempengaruhi; (tanpa bermaksud mengurangi kekuasaan/kehendak penuh Allah yang memang tidak bisa dikurangi;absolute dalam banyak hal. Juga kehendakNya yang bisa “dirundingkan” dengan kehendak manusia dalam hal-hal tertentu; tobat, memperbaiki diri) Selain dari orang-orang; dewasa.

Hidup juga bisa dipelajari dari anak-anak. Mereka juga punya hal-hal yang berharga. Kita bisa berguru kepada mereka tentang; kesetiakawanan, persahabatan, ketulusan, keikhlasan, kejujuran dan optimisme, semangat!. Ya, untuk menjalani dan menjadikan hidup lebih berharga dan bermakna, dimata manusia juga dimata-Nya.

Filosofi hidup (dari orang;dewasa juga anak-anak) seperti air mengalir, usaha yang harus mendahului tawakal (berserah diri pada iradat;kehendak Allah setelah berusaha), tentang keikhlasan, optimis, semangat dan seterusnya yang mereka gunakan untuk hidup terdapat dalam ilmunya Allah.

Sebelumnya perkenankan saya meminta maaf kepada yang non muslim, rujukan diambil hanya dari al-quran yang diturunkan dengan ilmu Allah QS Hud 11:14. Jika ada di weda atau injil boleh juga memberitahu dan dengan segenap hati saya ucapkan terimakasih.

Beberapa dari ilmu hidup-Nya juga tanda-tanda kekuasaanNya, kehendakNya. Diantaranya:

DIA berpesan untuk tetap semangat. Tak ada yang perlu dikhawatirkan karena Barang siapa yang bertaqwa dan mengadakan perbaikan; tidaklah ada kekhawatiran dan tidak pula mereka bersedih hati, Q.S Al- A’raf 34 dan Q.S Al-baqorah 112.

DIA berpesan kepada kita untuk meminta, AKU sungguh dekat dan akan mengabulkan dengan syarat Q.S Al-baqorah;186. Lalu bersabar dalam menunggu ketetapanKU Q.S At-tur 52;48

Dalam kutipan di atas menandakan bahwa manusia itu diberi kehendak/ kemampuan (jika mau) untuk optimis, bertaqwa, melakukan perbaikan, percaya, menyerahkan diri atau juga berdoa dan menunggu. Kalau tidak mau ya tidak apa-apa to, asal sudah tau dan mau menaggung konsekwensinya. Memilih yang baik apa yang buruk, lurus atau yang bengkok, mau sampai tujuan atau pake tersesat, mau percaya dengan janjiNya atau tidak, mau memperbaiki diri atau tidak, mau pesimis atau semangat?

Mengapa harus semangat lagi sii? Kata DIA semua itu sudah diatur, digariskan dan dijanjikan: Jodoh; dari jenismu sendiri agar manusia menjadi tentram, Q.S Ar-rum;21. Rizki; Allah memberi rizki kepada yang dikehendaki-Nya tanpa batas Q.S Ar-Ra’ad;26. Maut; dan semua yang hidup itu pasti akan mati Q.S Ali Imran;185 dan semua umat memiliki batas waktu Q.S Al A’raf 7:34.

PesanNya yang menggembirakan juga, semua akan diberi sesuai dengan batas kesanggupannya Q.S Al-A’raf 42. Kalaupun ada kesulitan, itulah pernak pernik hidup, untuk memanusiakan manusia akan ada coba atau uji, akan didatangkan kesenangan dan atau kesulitan agar kembali kepada kebenaran Q.S Al-A’raf 168

Jadi bisa benar jadi, hidup itu seperti berada dalam aliran sungai-air, pada saatnya nanti akan bermuara/berhenti. Tugas manusia hanya menerima hidup sebagai kesempatan dan melaluinya dengan kemampuan/kehendak yang terbatas, baik saat aliran “deras atau tenang” untuk sampai kepada “kebenaran”. Kalau orang jawa menyebutnya “Menungso kuwi cuma sak dermo”, (Artinya:manusia itu tinggal menjalani, adanya musibah, kejayaan itu sudah hukumnya, dilalui saja). Toh roda kehidupan itu ada yang memutar dan masih berputar.

Kemudian, air mengalir bisa dimaknai tempat kita hidup; bumi/dunia. Semua itu berjalan seiring berubahnya waktu, bahkan mungkin juga tempat. Ini kehendak Allah yang tidak bisa kita campuri,”Semua diciptakan dengan batas waktu”. Kita tidak bisa mengembalikan atau mengurangi bahkan menambah waktu yang kaya dengan peristiwa dan warna. Manusia tak sanggup, karena keterbatasanya atas KuasaNya yang tak terbatas.

Salam semangat untuk terus melanjutkan dan mengartikan hidup!!

Ningrum_
Perempuan


Responses

  1. Melukis hidup??? mewarana sekali dan membuat semangat yaa…
    btw, ada kalanya orang tak bisa menggambar jeng, ada pula yang buta warna. jika analoginya melukis kira2 gimana yang buta warna dan gimana yang tak bisa menggambar… dan tentu menemukan keasyikan bagi si pelukis, bisa pameran sana-sini, bisa jual lukisannya dengan mahal2 duuh rasanya memang pelukis itu mesti mengajarkan cara melukis itu pada saya… 🙂

    Perempuan:
    Sebentar, sebentar, sebentar.
    Yakin sudah baca keseluruhan tulisan ini?
    rasanya bukan itu maksud saya atau barangkali tulisan ini tidak jelas mengungkapkan-mengeksposisikan ya?
    Dalam tulisan ini meskipun keyakinan tidak jauh beda akan kuasaNya, ada ada sebuah perubahan cara pandang yang agak terpengaruh oleh orang-orang yang bersedia berbagi ilmu hidup dengan saya. Maka membuat salam pengantarnya berbunyi-bertulis “dalam cerita dan pelajaran” dan bukan diberi judul hidup adalah lukisan, tetapi menjadi mengalir seperti air. Penjelasannya baca legi aja, kalau kurang jelas berarti saya nulisnya belum bisa membuat jelas pembaca 🙂

  2. heheheh… sengaja saya sedang mengomentari yang menarik hati.. sebab yang lainnya ok-ok saja.. hidup seperti air; hidup diberikan semangat seperti ayat-ayat di atas, aapa lagi ya,

    bahwa manusia itu diberi kehendak/ kemampuan (jika mau) untuk optimis, bertaqwa, melakukan perbaikan, percaya, menyerahkan diri atau juga berdoa dan menunggu.

    Kalau itu sih benar² aku setuju dan susah mengomentarinya. Makanya relung hatifikirku mengomentari hidup bagai lukisan.. nah ini menarik.. cuma saya belokkan dengan logika sedikit ke kiri… yaa namanya juga komentar anggap aja anjing belalu kafilah berlalu… 🙂 eh salah yaa..

    Sorry jeng kalau komentku OOT… 🙂

    perempuan
    Kata siapa komentar bangk Kurt OOT?OOT? ya enggak lah
    Bang Kurt kan lagi pake jurus ilmu padi to? 🙂

    Makasih ya, itu tulisan setelah saya baca lagi ternyata juga lum bagus.

  3. Ya ya ya…
    Hidup itu di jalani saja…
    Dan air yg mengalir itu telah membawaku kesini… 🙂

    perempuan:
    Yupz mbak dwi, ga ada pilihan lain selain menjalaninya. karena hari ini juga untuk bekal hari kemudian, semoga kita bisa pulang bawa bekal ya….
    Kesini kemana? ya hidup memepertemukan kita, syukur saya ucapkan bisa mengenal mbak dwi 🙂

  4. aliran hidup. semoga.

    @sungai
    Ya semoga ya, kita semua bisa melaluinya dengan sabar hingga selamat, selamat di sini dan di “sana”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: