Oleh: Ningrum | 17 November 2007

Awas Menyesatkan; Rokok Putih lebih Aman atau Mampu Mengurangi Resiko Kanker Paru daripada Rokok Kretek

Lihatlah iklan di televisi setelah pukul 21.00. Rokok putih begitu gencar berkampanye. Kampanye itu ternyata berhasil memikat banyak orang. Dengan klaim sepihak “Lebih ringan” berhasil meyakinkan orang untuk menikmati rokok putih. Padahal kenyataan sebenarnya tidaklah demikian. “rokok putih ataupun rokok kretek sama bahayanya”. Kata Dr.Asrul Harsal, SpPD-KHOM.

Rokok putih pun tidak mengandung zat berbahaya yang lebih sedikit daripada rokok biasa. Karena itu klaim “lebih ringan” adalah menyesatkan. Ini saya kutip habis dari majalah kesehatan keluarga, Dokter kita edisi 11-THN II-Nopember 2007.

Hal itu benar temans sudah ada faktanya. Kakak ipar saya dulunya pengkonsumsi rokok putih, iseng mengunjungi dokter paru, hanya ingin mengetahui sekaligus membuktikan. Ternyata hasil pemeriksaan/scan didapatkan flek pada parunya, kondisinya pun sangat berbeda dengan contoh paru yang bebas dari asap rokok. Karena khawatir dengan apa yang akan terjadi kedepannya, ia berkeinginan untuk berhenti.

Berhenti bukanlah usaha tanpa perjuangan, beliau pun tersiksa dalam menjalankan terapi karena harus berpisah dari rokok untuk beberapa bulan. Sebelumnya ia adalah pembela fanatik kenikmatan rokok, mulai dari mengisap rokok untuk meringankan pikiran, memunculkan ide hingga penyempurna rasa setelah makan. Namun sekarang semua itu berbalik. Menurutnya, semua terasa lebih baik setelah berhenti total dan jauh dari asap rokok, nafsu makan pun bertambah dan badan jauh lebih fit and fresh. Bukan kakak ipar saya saja yang berhasil berhenti, seorang “preman” yang sekarang sudah tidak jadi “preman” lagi juga berhasil ko. Susah bukan berarti gak bisa kan?

Betapa susahnya berhenti merokok, juga teramat sering saya dengar dari bapak-bapak, abang-abang yang pernah menjadi patner saya menguli (baca:kuli) dulu, juga dari teman-teman lainnya, tidak laki-laki dan perempuan perokok yang ingin berhenti merokok. Berat, jika harus jauh dari lintingan tembakau itu. dibidang ini, selain cerita di paragraf dua dan tiga. Maka tulisan kali ini saya ambil dari majalah kesehatan keluarga, Dokter kita.

TROBOSAN BARU SUPAYA BERHENTI MEROKOK

Keluhan yang sering muncul pada perokok yang mau berhenti adalah beratnya mengatasi ketergantungan. Belum lagi dampak yang timbul pasca berhenti merokok, lemas bad mood, sulit kosentrasi dan pusing. Alhasil perjuangan untuk berhenti merokok pun terkjadang hanya setengah jalan.

Kini perokok yang ingin berhenti dapat terbantu dengan hadirnya verenicline, yakni obat non nikotin pertamayang secara khusus diciptakan untuk berhenti merokok. Obat tersebut telah diluncurkan di Amerika sekitar pada tahun 2006. Tahun ini, obat tersebut resmi beredar di Indonesia. Obat itu hadir sebagai upaya memerangi rokok yang berdampak baru bagi kesehatan. Apalagi menurut survei Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok laki-laki paling besar yaitu 69%.

Menurut Dr. Irwan Rustandi, verenicline memiliki cara kerja yang unik dan berbeda dengan produk berhenti merokok lainya, seperti nicotine replacement theraphy (NRT) dan bupropion. NRT bekerja dengan menggantikan kebutuhan nikotin perokok yang biasanya diperoleh dari rokok. NRT mungkin tidak mensuplai nikotin. Lain halnya dengan verenicline yang bukan merupakan terapi pengganti nikotin dan tidak mengandung nikotin.

KERJA NIKOTIN

Saat merokok, nikotin mulai diserap aliran darah dan diteruskan ke otak. Nikotin terikat di reseptor nikotinat antikolinergik 42 di ventral tegmental area (VTA). Nikotin yang terikat di reseptor 42 akan melepaskan dopamin di nucleus accumbens (nAcc). Dopamin itulah yang diyakini menimbulkan perasaan tengan dan nyaman. Tak heran bila perokok akan kembali merokok untuk memperoleh efek nyaman itu.

Bila perokok mulai mengurangi atau berhenti merokok maka asupan nikotin berkurang dan pelepasan dopamin juga berkurang, akibatnya timbul gejala putus obat berupa iritabilitas dan stress.

Hal itu menyebabkan jalan untuk berhenti merokok menjadi sulit karena rasa ketagihan terhadap nikotin. Peran verenicline berfungsi sebagai pemutus rantai adiksi. Biasanya nikotin berikatan dengan reseptor 42, namun nanti yang akan berkaitan dengan reseptor 42 adalah verenicline yang bekerja dengan dua cara. Pertama, verenicline menstimulasi reseptor untuk melepaskan dopami secara pasrial, tujuanya untuk mengurangi gejala putus obat berupa pusing, sulit berkosentrasi atau badmood yang ditimbulkan dari proses berhenti merokok.

Kedua, verenicline menghalangi nikotin yang menempel di reseptor. Jadi bila merokok kembali, nikotin tidak dapat menempel di reseptor, sehingga mengurangi rasa nikmat dari rokok tersebut. =Verenicline dapat diberikan pada perokok dewasa atau minimal usia 18 tahun yang ingin berhenti merokok. Verenicline dapat diberikan pada perokok berat maupun ringan. Dosis awal yang diberikan ringan yang ditingkatkan secara perlahan-lahan. Untuk mencapai kesembuhan berhenti merokok, dibutuhkan waktu selama tiga bulan, baik bagi perokok berat atau ringan.

Efek samping verenicline adalah mual, nyeri kepala, insomnia dan mimpi abnormal. Meski demikian, manfaat yang ditimbulkan dari berhenti merokok jauh lebih besar karena dalam sebatang rokok terkandung lebih dari 4 ribu bahan kimia dan 250 zat karsinogenik.

Bahkan bahan kimia yang ditemukan pada asap tembakau (rokok) seperti aseton, butan, arsenic, cadmium, karbon monoksida dan toluene sama seperti yang ditemukan pada bahan industri. Jadi dapat dibayangkan bukan dampak buruk rokok?. **DK; Feny Apriyanti.

Bagi temans yang berminat, ada bahasan lain yang juga ada dalam majalah edisi November itu diantaranya : Stop Merokok, Stop Kanker Paru; rokok penyebab utama. Lebih Dekat Dengan Kanker paru; mengapa sulit diobati, resiko tinggi terkena kanker paru, jenis kanker paru, pilihan pengobtan kanker paru (radioterapi, bedah), Diagnosis Kanker paru: Gejala khlinis, pemeriksaan Fisik, Kemoterapi Pada Kanker Paru. Pencegahan Dimulai dengan Mengubah Gaya Hidup; Wawancara khusus dengan Prof. DR.Anwar Jusuf SpP(K)6. Trobosan Baru Supaya Berhenti Merokok; sudah saya copy-pastekan di atas. terakhir, Zat yang Mengancam di dalam Rokok.

Selamat membaca, selamat berjuang ya.
Ningrum_Perempuan


Responses

  1. pertamax..
    salam kenal…

    awas rokok juga dapat mengakibatkan kerusakan sel kelamin secara permanen….he.he..

    😀

    @conan
    Lam kenal juga, makasih ya dah tengok-tengok 🙂
    Benarkah?

  2. mengisap rokok emang sama bahayanya…
    sayah lagi mo berhenti merokok tapi belom bisa iks.. arghhh butuh niat yang kuat sekaliiiii
    🙂

    @al,
    Iya, iya, sedikit demi sedikit lama lama bisa kok bang 🙂
    *dapet cerita dari yang sudah berhenti*

  3. Jeng, kalau tipsku berhenti merokok ya tinggal berhenti saja. titik! Masalahnya sekarang saya belum mau berhenti. Padahal bahaya merokok sudah ditulis beribu kali dalam segala hal, bahkan ancaman “masuk neraka” sekalipun… tapi kenapa yaa, gak pada kapok.. tanyakenafa?? 🙂

    @ bgkurt
    Berhenti titik! dah bener tuh kayaknya…
    Tapi gak da salahnya lho baca punya danalingga tentang pengalamannya yang ditulis tanggal 18 nov 2007 tentang tip berhenti merokok, dah berkunjung kesana bang?
    Ya tanya diri sendiri, bukan tanya kenafffffa?…. hehehe 🙂

  4. Wah, mbak manteb nih, saya dukung blognya, saya mantan perokok berat, smp waktu di kuliah dulu dijuluki “asap” atau “asep sangking ngerokok terus gak berhenti, rata2 sih saya habis 2 bungkus, tapi lama2 sy pikir gak ada manfaatnya ngerokok, dan langsung berhenti total, untuk nahan kecanduan selama 2 minggu hampir kayak orang sakaw, keringet dingin. Tapi Alhamdulillah dah lewat

    @ :
    Syukur ya saya juga ikut seneng kalau memang merasa lebih baik. Wah sakau? sakit banget tuh, kondisi tubuhnya ga karuan sakitnya, mual-mual, suhu tubuh tak teratur. *pengalaman temen SMA waktu sakau, kecanduan ptw=putau.

    Selamet ya buat orang ganteng 🙂

  5. wah, bisa nggak aku berhenti merokok ya?

    Perempuan:
    Bisa, ayo diniatin dulu sam. Keputusan dan hasil ada ditangan sam panda….

  6. Perokok Indonesia Bersatu Memperjuangkan hak-hak kebebesan merokok tanpa didiskriminasi oleh siapa pun. Memperjuangkan hak-hak untuk mendapatkan persamaan hukum sebagai warga negara yang membayar pajak lebih dari orang yang tidak merokok.

    http://aliansi-perokok-indonesia.blogspot.com
    Aliansi Perokok Indonesia (API) adalah organisasi formal di Indonesia yang melakukan gerakan penyadaran untuk merokok nasional. API adalah organisasi nonprofit yang berorientasi pada pembelaan terhadap hak-hak perokok. Program Kerja API terfokus pada peningkatan jumlah perokok aktif di Indonesia.

    Perempuan:
    Lho ya ndak apa-apa to ada web aliansi pendukung rokok. Monggo kerso…..

    Kalau organisasi itu dimanfaatkan, bisa digunakan untuk mengenal karakter anggota yang satu dan lainnya. Jadi dapat punya koleksi keragaman karakter dan bisa belajar dari orang lain. Bagus to?
    Btw dah bikin Anggaran dasar dan Angggaran Rumah Tanga (AD/ART) lum?
    Setahu saya si perlu untuk menggodok kesamaan, mulai dari asas organisasi, tujuan, visi, misi, cara kerja, sususnan kepengurusan dan perangkat organisasi lainnya.

    Ya memang sudah lama juga saya dengar bahwa pabrik rokok menjadi salah satu penyumbang pajak terbesar di negeri ini. Jadi gimana dong? Solusinya?

    Ya udah lah ya gak usah diperpanjang.
    Ndak, saya tidak akan memaksa kok.
    Nanti kalu imunitas tubuh sudah melemah, organ tubuh lainnya udah aus, juga akan kerasa…….
    Bukan saja wacana, bahwa Mencegah itu lebih baik dan lebih murah daripada mengobati.

  7. Saya baru tahu kalau rokok putih yang sering dibicarakan itu adalah yang seperti ini…

    @Cahya,
    y saya juga baru tahunya dari majalah itu 🙂

  8. flek / TB itu disebabkan oleh bakteri tuberculosis, bukan rokok

    @mz etemon,
    heheh, anda gak baca paragraf dua ya 🙂

  9. Saya sangat tertarik dengan judul artikelnya bahwa rokok putih mengurangi risiko kanker adalah menyesatkan. Akan tetapi, pada isi artikel kurang dijelaskan alasan bahwa klaim yg dilakukan produsen rokok putih adalah menyesatkan. Padahal yang saya cari adalah fakta bahwa rokok putih tidak lebih “baik” dibandingkan rokok non-putih. Saya kira untuk mendukung klaim/argumen Anda sebaiknya dipaparkan juga fakta yang mendukung. Akan lebih baik lagi apabila diambil dari artikel dr. Asrul dan Majalah Kesehatan Keluarga, Dokter edisi yang Anda kutip, bukan hanya mengutip perkataan dokternya saja tetapi dipaparkan juga temuan fakta dr. Asrul.

    Mengenai yang dialami oleh kakap ipar Anda, saya kira tidak menjadi bukti yang kuat bahwa rokok putih tidak lebih “baik” dari rokok non-putih, sebab perokok pasti memiliki kondisi paru-paru yang lebih buruk daripada non-perokok. Akan tetapi, tidak membuktikan kondisi paru-paru perokok rokok putih sama dengan kondisi paru-paru rokok non-putih, bisa saja perokok non-putih lebih buruk kondisinya dibandingkan paru-paru perokok putih. Oleh karena itu, pengalaman kakak ipar Anda tidak bisa dijadikan bukti bahwa rokok putih tidak lebih “baik” dari rokok non-putih. Sehingga saran saya untuk melengkapi artikel Anda, dapat ditambahkan perbandingan hasil scan paru-paru kakak ipar Anda dengan hasil scan perokok non-putih.

    Hal yang disayangkan juga adalah paragraf ini diikuti dengan pengalaman kakak ipar Anda yang berusaha berhenti merokok, dan diikuti kembali dengan terobosan baru berhenti merokok dan kerja nikotin. Walhasil 80% dari artikel Anda adalah memaparkan bahaya merokok (global bukan hanya rokok putih) dan bagaimana berhenti dari merokok, padahal ini tidak termasuk dalam judul yang Anda berikan pada artikel ini. Sehingga untuk melengkapi artikel Anda, pemaparan bahwa klaim produsen rokok putih adalah menyesatkan lebih diperbanyak dan dipertajam, serta pemaparan bagaimana berhenti merokok disesuaikan proporsinya dan ditaruh diakhir sebagai tambahan, saran, atau refleksi.

    Overall artikel ini memberikan saya informasi baru mengenai rokok walaupun bukan seperti yang saya harapkan, yaitu mengenai “menyesatkan”-nya klaim produsen rokok putih. Terima kasih, semoga informasi yang dipaparkan bisa bermanfaat bagi yang berkunjung. 🙂

    • terimakasih ya apresiasi positifnya 🙂

      Sebenarnya postingan ini tidak ada pelegitimasian kebenaran dari saya soal tema ini, hanya copy paste dari majalah kesehatan. Begitupun Head Line yang disajikan majalah tersebut yang kali ini juga saya jadikan judul. Jadi, jika ada ketidaksesuaian judul dengan isi, kekurang lengkapan penjelasan-penjelasan, data atau fakta-fakta, yah itulah adanya yang di majalah yang salah satu artikelnya saya copas di sini.

      Soal kakak ipar saya itu hanya pelengkap, salah satu contoh kasus, bahwa kakak ipar saya yang notebene pengkonsumsi rokok putih pun kondisi paru-parunya tidak serta merta baik atau terbebas dari flek. Artinya rokok putih yang mempopulerkan dirinya rendah nikotin pun tetap punya peluang merusak kesehatan. Tak perlu membandingkan, jika yang diperlukan adalah “kejamnya” rokok putih yang katanya lebih “ringan” dari rokok kretek.
      Begitu lho, salam kenal ya 🙂

      • Salam kenal juga 🙂

        Oh, kalau begitu tujuan dari penulisan blog ini, berarti pemilihan kata dalam artikelnya mungkin harus dipercantik, walaupun dalam metode penulisan maupun copas. Anda kan menggunakan kata “lebih aman” dan “mengurangi risiko”, saya kira kedua kata ini perlu dicarikan ganti kata yang lebih pas, atau dihilangkan saja sekalian. Berikut alasannya:

        Kita mulai dari kata “lebih aman”. Misalkan dalam suatu organisasi mencantumkan sebuah standar bahwa seseorang dikatakan tinggi apabila tinggi tubuhnya lebih dari 150cm. Seseorang yang memiliki tinggi tubuh 160cm secara otomatis akan tergolong kategori tinggi. Sekarang apabila dalam organisasi tersebut terdapat dua orang yang memiliki tinggi tubuh 130cm dan 120cm, maka dapat dikatakan apabila orang yang memiliki tinggi tubuh 130cm lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang memiliki tinggi tubuh 120cm. Fakta ini tetap berlaku walaupun kedua orang tersebut tinggi tubuhnya kurang dari 150cm. Hal ini bisa menjadi analogi dengan rokok putih yang diklaim lebih aman dibandingkan rokok non-putih. Apabila standar aman yang digunakan adalah “tidak merokok” (seperti yang Anda lakukan), maka orang yang merokok rokok putih non-putih sama-sama berada dalam kategori tidak aman. Sedangkan apabila disebutkan rokok putih lebih aman dibandingkan dengan rokok non-putih, maka standar yang dipakai bukan lagi “tidak merokok” karena keduanya merokok, tetapi harus ada standar baru seperti kakak ipar Anda mungkin bisa membandingkan hasil scan paru-paru antara perokok putih dengan perokok non-putih. Jadi intinya untuk membuktikan apakah benar salahnya sesuatu yang “lebih daripada yang lain”, harus dilakukan melalui perbandingan, dalam hal ini adalah antara perokok putih dan non-putih.

        Kemudian untuk kata “mengurangi risiko”. Mengurangi risiko tidak berarti sama sekali bebas dari risiko. Mari kita gunakan analogi sabuk pengaman. Apabila ada dua pengendara kendaraan, yang satu menggunakan sabuk pengaman dan yang satu lagi tidak, ketika mengalami kecelakaan, maka pengendara yang menggunakan sabuk pengaman akan mendapatkan impact kecelakaan yang lebih ringan daripada yang tidak menggunakan sabuk pengaman. Hal ini juga berlaku pada perokok, kedua jenis perokok mungkin akan mengalami sakit paru-paru. Akan tetapi, perokok putih dengan risikonya yang lebih kecil akan mendapatkan sakit paru-paru yang lebih ringan dibandingkan dengan perokok non-putih. Sebenarnya hal ini kembali lagi kepada perlunya perbandingan.

        Jadi, sudah menjadi fakta bahwa rokok itu merusak kesehatan (“kejam” mungkin kalau dalam bahasa Anda), tetapi yang Anda tunjukkan dalam judulnya adalah klaim yang satu tidak lebih “kejam” daripada yang lain adalah menyesatkan. Oleh karena itu, untuk menuju ke sana tetap diperlukan perbandingan dan tetap harus ada pemaparan fakta. Kalaupun dari majalah yang Anda copas tidak menyediakan faktanya, mungkin bisa dicari di artikel yang lain.

        Begitu….

      • hmmmm, baiklah, argumen, saran dan analogi-analogi anda bisa saya terima. Cukup logis. Terimakasih ya 😀
        Tapi ndak janji lho, mengedit bahasa; pemilihan kata juga mencari artikel lain untuk memperkaya fakta.
        Btw, thanks banget apresiasasinya 🙂

  10. Sama-sama.
    Gpp, mudah-mudahan bisa menjadi masukan untuk penulisan berikutnya 🙂

    • bapak bergiat di bidang mediskah? atau malah pengkonsumsi?, tampak serius menanggapi artikel copas ini hingga menghadrikan analogi-analogi dan logika:premis mayor juga minor, btw terimakasih saran bermanfaatnya 🙂

      • Bukan, saya tidak bergerak di bidang medis, tapi saya sedikit mengerti mengenai medis. Saya juga pengkonsumsi, tapi dalam skala kecil. Tapi bukan kedua hal tersebut yang mendorong saya untuk menanggapi artikel ini. Sayang aja judulnya sudah berani, tapi isinya kurang mendukung judulnya. Kalo analogi2 yang saya berikan, sekedar untuk mendukung argumen saya saja.

  11. Oh gitu, jika demikian saya punya harapan untuk bapak, semoga segera bisa menamatkan pengonsumsian 🙂
    Soal yang satu lagi, hal itu juga seringkali menjadi kesayangan saya, dalam artian saya juga kerap menyayangkan ketika ada sebuah content artikel atau buku yang tak semengejutkan judulnya. Jika artikel copas ini dianggap demikian, apakah bapak punya alternatif judul?

    • Untuk penamatan pengkonsumsian sebenarnya saya sudah punya target waktu dan kondisi yang harus dipenuhi, jadi kecenderungan saya untuk pengkonsumsian adalah semakin mendekati nol 🙂

      Untuk judul alternatif, sebenarnya sulit juga untuk artikel ini. Sebab seperti telah saya bahas sebelumnya dalam artikel ini nampak ada dua artikel yang berbeda, yaitu bahayanya merokok (global ya… rokok putih maupun non-putih) dan bagaimana caranya berhenti merokok/terobosan baru dalam berhenti merokok. Jadi kalau mau, sebaiknya artikel ini dipecah menjadi dua artikel. apabila hal ini dilakukan maka artikelnya akan menjadi lebih fokus dan lebih relevan dengan judul yang diberikan.

      sebernarnya ada alternatif lain, yaitu kita ambil salah satu bahasan yang akan kita fokuskan, kemudian bahasan yang tidak terlalu berkenaan dengan fokus tersebut kita reduksi dan dijadikan hanya sebagai tambahan atau reflesksi saja.

      apabila ingin mempertahankan judul/pembahasan mengenai rokok putih sama saja dengan rokok non-putih, maka pembahasannya harus ditambahkan seperti yang telah saya sarankan sebelumnya.

      • Wah saya jadi ikut senang dengar kabar itu, beritahu saya jika sudah berada di titik nol :).
        Beberapa komentar bapak, membuat saya membaca lagi artikel ini, ternyata gak karuan arahnya, untuk kedua kalinya saya amini koreksi bapak, hehee…

        Btw, kalo gak salah ingat, karena tidak mungkin menuliskan kembali semua isi majalah itu, jadi saya bermaksud mengambil hal-hal yang menurut saya penting dari beberapa artikel dimajalah itu. Tapi eh, setelah dikoreksi kembali (tepatnya ada pengkoreksi) jadi banyak cabang begini ya. Inilah yang seringkali tak saya lakukan, membaca kembali atau mengedit artikel atau postingan2 lainnya. jadinya begini dan begitu, kesana dan kemari 🙂

        Kalau memecah menjadi dua artikel atau memfokuskan bab rokok putih dan nonputih saja berarti ini akan menambah daftar PR saya pak 🙂 *heheh alasan saja* ^_^

  12. saya mau tanya nih ka ,saya sudah hampir kurang lebih 2 bulan brhenti merokok .

    tapi saya sering mendapat gejala.a ,yg paling saya gk sukai gejala :
    » cemas/jadi pikiran ,
    » suhu tubuh gk tratur ,
    » dan kaya orang sakaw .

    berapah lama gejala ini berhenti ??
    dan bagaimana saya menyikapi ??

    saya berhenti merokok keinginan saya tanpa pendamping dokter yg mmberi nasehat dan masukan .

    jadi saya mohon balasan.a ya .
    kirim ke Facebook saya saja karna email saya tidak bisa dibuka ,nh email saya Angga_sbaztian@yahoo.com .

    oke makasih ,salam sehat selalu .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: