Oleh: Ningrum | 18 November 2007

Potret Nyata Kemiskinan: Mengantungkan Hidup dari Kotak Amal

Disuatu waktu, kunjunganku ke toko buku belum bisa menghilangkan penatku. Hampir menjelang sore tak tau mau kemana, pulang belum mau, akhirnya ku putuskan untuk duduk di halte bus dekat toko buku itu. Tak berapa lama dari itu, dua anak dibawah umur menghampiriku, sambil membawa kotak bertuliskan kotak amal, lalu meminta recehan untuk ongkos pulang kepadaku. Dari sanalah cerita tentang empat kotak amal yang disewakan juga sebuah warna pemukiman ini dimulai.

Pembicaraan singkat antara aku, putri dan putra pun terjadi. Dan kami bersepkat, ongkos dibebankan kepadaku dengan syarat mereka harus mengajak serta aku pergi ke tempat mereka.

Kami harus berganti dua kali jenis angkutan untuk sampai ke pemukiman yang dituju.Di ujung pertigaan, kami pun berhenti dan turun dari angkot. Dipandunya aku oleh kedua anak itu, mereka persis seperti gaet. Awalnya jalan yang kami lalui ramai dan lapang, tetapi semakin ke tempat tujuan, betapa pilunya hatiku, sesak. Gang yang kami lalui pun sangat sempit dan sepertinya mereka memang hidup dibawah garis sejahtera.

Anak yang kritis aku pikir, mereka pun selalu menanyakan prihal tentangku dan juga maksud tujuanku mengapa ngotot ikut. “hanya ingin main-main; jalan-jalan” jawabku selalu. Keakraban pun segera tercipta. Merekapun bercerita, mengenai jumlah uang yang mereka dapatkan di hari itu, juga rata-rata tiap harinya, juga untuk apa uang itu kemudian digunakan. Ah mereka benar-benar anak-anak.

Lalu, dititipkanlah aku di sebuah rumah tempat mereka mengembalikan dan menyetor sewaan kotak amalnya. Rumah itu milik bu Pat yang sangat sempit hanya ada satu ruang kamar tidur yang ukurannya juga tidak lebih besar dari ranjang nomer satu. Ruangan sisanya digunakan untuk ruang tamu dengan dua buah kursi plastik berwarna hijau, menyatu dengan dapur dan sumur yang hanya didutupi plastik. Sempit sekali.

Bu Pat pun sangat menerima kedatanganku, diberikannya aku segelas minuman. Lalu kami pun berbincang, bu Pat menyurahkan isi hatinya kepadaku, mengenai sulitnya hidup juga sedikit tentang keluarganya. Awalnya pikiran nakalku mengatakan ibu ini hanyalah orang korban kemalasan dirinya, ah tetapi entahlah. Kata dia, usaha mencari kerja kesana kemari sudah dilakukan, juga menjadi buruh cuci pun sudah pernah dilakoninya, namun itu pun hanya jika diperlukan, tidak setiap hari.

Bu Pat tidak memiliki pekerjaan tetap, dan harus menghidupi dua anaknya, yang waktu itu saya melihat hanya satu, membayar listrik juga untuk biaya makan. Saat ia berbicara, pandanganku masih saja membuat aku memikirkan susunan empat kotak amal disudut sebelah sumur. Ternyata tanpa ku tanya ia menjelaskan dengan sendiri, bahwa hidupnya ada di kotak amal yang disewakannya Rp 2000,-/kotak/hari kepada Putri dan Putra serta rekan-rekannya. Menurutnya bukan ia saja, tetangga-tetangganyapun juga banyak yang memiliki kotak amal untuk membiayai hidup, karena sulitnya mencari sumber penghasilan.

Mungkin karena memang benar-benar kesulitan, ditempat yang sempit itu bu Pat masih membuat sebuah ruang papan yang menggantung hampir menempel genteng. Ruangan itu disewakan kepada laki-laki dan perempuan untuk kamar tidur. Ah entah apa yang terjadi dalam ruangan sempit menggantung itu, yang kata bu Pat dihargai Rp75.000/bulan.

Rasa dan pikiranku tak bisa diam, bagaimana Putri dan Putra juga anak-anak lain bisa tumbuh “sehat” dalam lingkungan seperti ini? Bagaimana masa depan mereka? Pikirku. Terlebih lagi, di waktu pagi mereka lebih senang membawa kotak amal ketimbang sekolah. Lebih suka bernyanyi-nyanyi daripada mengaji, itulah yang aku lihat ketika magrib tiba.

Sebelum gelap aku memutuskan untuk pamit saja, aku ngeri sendiri di pemukiaman ini. Beruntunglah, Putri dan Putra segera menghampiriku untuk mengantarkanku ke depan jalan mendapatkan angkot. Disepanjang gang orang-orang memandangku aneh, tatapan mereka nanar. Keherananku pada yang memandangku pun tak habis-habis, magrib-magrib begini gadis-gadis remaja sudah berpakaian seksi. Nyaliku pun agak ciut melihat tampang pemuda juga laki-laki setengah baya yang terlihat seram bertato dengan gaya botolnya.

Ini hanyalah sebagian kecil gambaran hidup yang nyata di luar sana. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi lima tahun kedepan dengan pemukiman itu, dengan anak-anak itu. Bilakah mereka bisa memutuskan rantai kemiskinan, baik soal jiwa juga materinya? Salah siapa semua ini? Tanggung jawab siapa ini?

Salam kemirisan

Ningrum


Responses

  1. Ah, ternyata sebagian hidup memang bukan hitam putih. Lebih banyak kehidupan yang abu abu, sehingga sulit menentukan salah dan benar.

    @danalingga
    Saya juga prihatin dengan yang abu-abu yang semakin banyak saja……

  2. Semoga 5 tahun ke depan, pemukiman itu bisa lebih baik.

    Mungkin hanya itu yang bisa ku-lakukan? Sekedar berharap…

    @ alief
    Semoga saja, dari sekian banyak kekhawatiran di sana, yang paling saya khawatirkan adalah anak-anak itu…..

    Ya saya pun berharap demikian, semoga……

  3. banyak saudaraku yang merasakan kehidupan sulit
    uhmmmmm kalo mikir sendiri2 kayaknya susah ya.. sayah jadi berpikiran gimana kalo tiap orang peduli dan berbuat sesuatu pasti bisa mreingankan beban mereka dah
    🙂

    @ al,
    Sulit kayaknya bang al, bukan kayaknya deng, ini mah sebenar-benar sulit.
    Yups saya pun tidak berdaya dengan kenyataan yang cukup mengagetkan saya, yang selama ini hanya saya lihat di layar kaca.
    Seandainya saja orang-orang baik bisa bersatu, lebih bisa membantu….

  4. Cerita klasik tapi asik sebuah penilisikan yang berguna buat kita-kita. Pertanyaan yang sulit tuk mengatasi sebuah gambaran kemiskinan struktural.

    Btw, “magrib-magrib begini gadis-gadis remaja sudah berpakaian seksi
    hahaha.. sayang mana nih, seksi gambarnya… 🙂

    =============
    @ bgkurt;
    Bicara kemiskinan ruwet, kemiskinan juga bersumber dari diri, juga kebijakan struktural. Jika tidak hati hati bisa merugikan, bahkan memiskinkan bukan saja struktur juga miskin secara kultur. Kalu sudah bicara kultur, kita akan menghubungkannya dengan waktu juga pola pendidikan. Kalu sudah bicara pendidikan kita bicara mutu, kalau sudah bicara mutu kita akan kembali dibenturkan dengan biaya.

    Darimana? wong anggaran pembangunan dan investasi kita didominasi oleh hutang, kekayaan alam milik asing dan dibawa kabur selalu, rakyat kebagian kerusakan alam dan bencana. Budaya dan hasil karya dicuri. kita jadi miskin beneran
    Duh bang ruwet, benang ruwet, belum lagi usaha pemerintah dengan batuan Tunai langsung KPSBBM kalo ga salah namanya, keberadaanya justru menggelembungkan jumlah orang-orang miskin. yang mampu meminta didaftarkan menjadi miskin agar dapet bantuan. Duhhhhh….

    *emosi saya terpancing ngomongin miskin*

    Seksi, tanya gambarnya? bisa saya pulang tidak selamat kalau berani menjepret satu kali saja 🙂
    Tapi kira-kira, seperti kurang bahan, malu sendiri saya sebagai perempuan. Begitulah…..
    Saya belum bisa berbuat apa-apa 😦

  5. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi lima tahun kedepan dengan pemukiman itu, dengan anak-anak itu.

    ——-
    Berdoa saja sama Allah…..
    ——-

    Bilakah mereka bisa memutuskan rantai kemiskinan, baik soal jiwa juga materinya?

    ——-
    Segala sesuatu ada waktunya…
    ——-

    Salah siapa semua ini? Tanggung jawab siapa ini?

    ——-
    Udahlah,
    gak usah nyari siapa yang salah, atau mencari kambing hitam siapa yg salah….
    Mendingan kita usaha aja dengan kesanggupan kita masing-masing…
    Minimal dengan lantunan do’a yang kita panjatkan…..

    =salam=

    @ blogkeimanan
    maksih sudah mengingatkan….
    Ya jadi ingat, kalo ga bisa merubah dengan tangan, dengan kata-kata, kalau tidak bisa juga dengan hati.
    Selamat datang ya 🙂

  6. realita..
    ada yang enak ada yang susah..
    makanya kalo lagi kebagian enaknya tetep ingat ma mereka yg susah.

    @ joker
    Sepertinya ingat saja rasanya masih belum cukup bang joke.
    “Bersama kita dan meraka bantu-membantu mungkin bisa membantu mereka yang butuh bantuan yang juga harus mau membantu proses bantuan, agar semuanya selaras dan sampai ke tujuan.
    Ya ndak??

  7. selalu miris kalo melihat yang beginian, ah…kapan kita semua sadar dan bangkit bersama memperbaiki keadaan ya

    bener-bener speechless deh

    @peyek
    Saya yakin kesadaran itu selalu ada dan terselip dalam hati kita semua. Namun terkadang kemasabodoan. Atau mungkin juga ketidak berdayaan menjadikan kesadaran itu pun redup tak menyala terang.

    Nah ini kata “bangkit bersama!!” yups problem ini tidak bisa diselesaikan oleh, saya seorang, kamu seorang dan dia seorang atau mereka saja. Tetapi semua harus menunjukkan itikad baik dan tindakan konkrit. Semoga ya Cak

  8. hidup itu keras, dalam keras itu kita berjuang. apa perjuangan kita? apa sumbangsih kita? jangan hanya berkata “kita orang miskin”, tapi pikirkan “apa yg harus kita lakukan untuk keluar dari kemiskinan”
    maap ngelantur.. 🙂 tapi setuju ga?

    @brainst
    Berjuang itu wajib, setuju bang brainstorming 🙂
    Sumbangsih kita? bisa pakai tiga tahap yang sudah saya kasih ke blogkeimanan (BK)

  9. wah kamu wanita yang berani.

    @ :
    baru berani melihat dan merasa, belum berani seperti mereka atau memisalkan saya ada di posisi dan dalam keadaan yang sama dengan mereka.

  10. ahh … mengemis bukan hanya haknya mereka-mereka yang tak punya uang.
    setiap kita, berhak mengenyamnya … nggak peduli rakyat, pejabat, konglomerat, bangsat (ups … kebablasan 😀 ) dan seterusnya …
    pengemis … sikap mental yang menjadikan kita merasa berhak kepada hak orang lain atas nama kondisi yang kita jalani
    pengemis dan penjahat … sama saja
    satu mengancam dengan senjata ataupun kekuasaan
    satunya mengancam dengan rasa belas kasihan

    Perempuan:
    Masa’ si mengemis itu hak?
    Soal mental emang gak selesai dalam hitungan satu hari dua hari, sama aja ini bicara kultur, kebiasaan yang belum tentu juga jreng selesai dengan sistem.
    Gimana kalu biar gak merasa terancam, memberi sebelum diminta.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: