Oleh: Ningrum | 24 November 2007

Memeras Saudara Sendiri

Pembodohan dan pemerasan terhadap TKI bukan hanya dilakukan oleh warga Malaysia atau bangsa lain tempat para TKI itu mengadu nasib dan menghabiskan keringatnya. Tetapi ini justru terjadi oleh saudara sendiri (baca:satu tanah air) di lembaga yang berada di bawah naungan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) yakni keimigrasian.

Ceritanya, saya sempat beberapa kali memastikan nominal biaya pembuatan paspor pada hari yang berlainan. Untuk kali pertama saya menanyakan langsung kepada petugas keimigrasian. Lalu saya membaca sebuah pengumuman atau surat edaran Peraturan Pemerintah PP No 19/2007 soal Penerimaan Kas Negara Bukan Pajak, yakni pembuatan paspor bagi WNI dan WNA yang mencantumkan nominal pembuatan paspor dan atau perpanjangannya yang dipampang di ruang tunggu. Yakinlah saya pada nominal yang tidak lebih dari Rp.300 ribu sudah termasuk photo di tempat.

Namun pada 22 November kemarin, sangat beda sekali kenyataan yang saya dapatkan dari hasil perbincangan tak sengaja saya dengan calon TKI yang sepertinya hanya menempuh pendidikan wajib belajar sembilan tahun. Sebut saja Rince, ia harus membayar Rp.1 juta. Pembayaran tidak dilakukan di kasir, melainkan dalam sebuah ruangan.

Juga Pak Joy dan dan Jack yang agak sedikit beruntung dari Rince, masing-masing mereka hanya dikenai Rp.750 ribu. Ketika saya tanya kepada mereka di sudut dan waktu yang berbeda, “kok mahal amat? Peraturannya kan bukan segitu?”. Jawab mereka ”Ya gak tahu mbak, mungkin buat biaya tambahan apa-apa”. “Lho orang ini bagaimana to, kok begitu aja mau diperas” kata saya dalam hati. Seperti biasa temans, saya sering bertanya dan berbicara dengan diri sendiri.

”Kemana lari uang ratusan ribu yang sama sekali tidak termasuk dalam biaya yang ditetapkan PP No 19/2007?”. Ini saja baru satu hari sudah ada tiga korban, belum ditambah si wajah oriental yang pernah berkaisar Cheng Ho yang selalu mewarnai kantor ini dalam beberapa kali saya ke kantor ini.

Ketika ditanya balik, saya ndak bisa ngomong apa-apa, karena memang belum melakukan pembayaran dan menempuh tahapan wawancara yang sudah lebih dahulu mereka lakukan. “Belum tahu mbak Rince, setahu saya hanya berkisar itu, sambil menunjuk PP yang ditempel di dinding ruang tunggu, ga lebih dari Rp.300 ribu kok”. Sempat saya dan mbak Rince membaca kembali PP yang dipajang, tapi mbak Rince tampaknya tidak mau repot.

Ceritanya berlanjut, tibalah giliran saya dipanggil menghadap pejabat yang berwenang untuk diwawancarai. Ia hanya memberikan pertanyaan masih kuliah atau sudah kerja? Itu saja. Lalu keluarlah dari sana sebuah memo bersama berkas-berkas milik saya yang dibawa petugas. Pejabat itu meminta saya langsung ke kasir, tidak ke ruangan yang diceritakan mbak Rince yang ada di sudut dengan pintu tertutup. Lho kok beda ya prosedurnya?

Sambil melangkah ke kasir saya sempat dag dig dug, karena isi dompet saya tidak sebanyak dompet milik mbak Rince. Ternyata, alhamdulillah, uang yang saya keluarkan tidak mencapai jutaan rupiah seperti mbak Rince atau pak Joy dan Jack. Saya hanya mengeluarkan kurang dari Rp.300 ribu sesuai PP. Karena ada yang harus dilakukan lagi, saya pun meniggalkan kantor tersebut. Sedangkan Rince, pak Joy dan Jack juga beberapa wajah oriental lainya yang sejatinya selesai, masih menuggu dan terganjal atau diganjal?.

Temans, selalu saja ada yang tertinggal dalam benak saya setiap kali bertemu dengan kisah hidup, kenyataan. Kalau yang diperas dan dipersulit itu berwajah oriental yang terkenal dengan dompet tebal dan banyak modal si wajar, walaupun tidak niscaya benar. Tapi ini, tega-teganya memeras orang susah, memeras orang yang tidak bermaksud bersenang-senang ke negeri orang, sebaliknya bertujuan mempertahankan hidup.

Saya tidak tahu apa yang menyebabkan biaya yang dibebankan itu jauh berbeda antara saya dan mereka. Saya tidak mungkin serta merta melakukan protes saat itu juga atas ketidak adilan dan pemerasan yang ada. Saya tidak bisa apa-apa atas pe-malak-kan terorganisir yang dilakukan oleh mafia keimigrasian yang sangat berwibawa kelihatannya dengan segala perlengkapan kerja dan pakaianya, juga naungan lembaganya.

Lagi-lagi temans, saya tidak punya daya dan harus merubah dengan hati kembali.

Temans, saya rindu dengan yang lurus-lurus, kapan ya dunia ini bisa benar-benar menentramkan?

Salam ketakberdayaan

Perempuan

Iklan

Responses

  1. memang nikmat sih yang namanya duit itu. Selagi masih demen banget dengan “duit”, artinya masih “bertuhan” dengan duit, ya sebagai “hambanya” akan selalu taat padanya. Jenis ibadahnya macam2 seperti di postingan di atas…

    pengen lurus: Harus kembali kepada Ketuhanan Yang Maha Esa!

    caranya: belajar sama Nyak Perempuan 🙂

    @ bg kurt
    Repot ya bang kalau sudah bicara keinginan. Ingin cepat kaya, ingin hidup makmur dll. MUngkin keinginann mereka itu banyak sehingga membutuhkan cost yang juga tidak sedikit. uang memang membuat manusia sering menjadi budaknya.

    Pengen lurus-lurus? rindu lurus-lurus? ya karena saya kira di sini banyak yang tidak lurus, tidak peduli mana halal mana haram main hantam saja. Apa begitu ya kalau sudah memiliki tanggungan hidup (anak, istri, biaya pendidikan, biaya hidup, dll)?

    Maksudnya Nyak itu apa bang? ibu dalam bahasa betawi? atau NYA yang kelebihan k?

  2. ini adalah hal yang biasa dijumpai tapi bukan keharusan yang terjadi…

    @ :
    Pemandangan yang biasa memang, tapi apakah yang biasa itu bisa untuk tidak dibiasakan ya? karena kalau dibiasakan saya khawatir lalgi-lagi, akan ada pelegalan pada yang biasa itu. Ah entahlah, semoga saja tidak ya……

  3. lah dunia tidak akan pernah menetramkan kok.
    karna yang sakit juga bukan rumahnya tetapi orang yang di dalamnya, lah kok jadi ke rumah sakit yah?

    @ :
    Saya khawatir sakit itu semakin parah kalau tidak segera disadari dan diobati…….

  4. let`s kick racism out of Indonesia!! sampe kapan ya pembodohan intelektual seperti ini berakir, btw tulisan mbak ini jg merupakan salah satu usaha untuk merubah itu semua, paling nggak kita semua jd tau kl biaya paspor 300rb kalo ada yg minta lebih ya harus kita tolak.

    @ :
    Biayanya memang segitu sam klikiri sesuai dengan Peraturan Pemerintah.
    Diskriminasi di imigrasi entah berdasar apa, bukan ras saya kira.
    Soalnya mbak Rince yang diperas, yang saya ceritakan diatas juga bukan keturunan kaisar Cheng ho, tapi patih Gajah Mada.
    Mungkin yang melakukan pemerasan pake analisa SWOT dulu ya 🙂

  5. semoga orang2 itu tau gimana caranya bersyukur ya bu.. 🙂

    @ :
    Wah saya dipanggil bu? terimakasih 🙂
    Ya semoga ya, semoga untuk panggilan itu dan semoga untuk rasa syukur mereka dan kita atas karuniaNya…..

  6. Saya juga merindukan yang lurus-lurus mbak. Sepertinya martabat kita sebagai manusia kian menurun karena sebagian orang sudah diperbudak duit. Duh, duit.

    Blognya saya link yach..

    @ :
    Ya link saja mbak Hana, terimakasih ya 🙂
    Ketika duit dianggap segalanya, mungkin dunia yang berisi kita akan semakin tak karuan….

  7. bukan hanya “memeras” tetapi lebih dari itu, “menjajah” atau mungkin “pembunuhan massal” tidak salah jika di negeri ini begitu kaya akan bencana.

    @ :
    Itu salah satu akibatnya ya pak, perbuatan salah dilakukan seorang/sekolompok berakibat azab bagi semua.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: