Oleh: Ningrum | 18 Desember 2007

Laki-laki dan Perempuan yang Memimpin dan Dipimpin

Sebenarnya saya ingin membahas prihal perempuan saja, namun saya pikir hal itu tidak terlalu menarik bagi kebayakan. Jadi saya coba membahas laki-laki dan perempuan yang beda sekaligus sama.

Perempuan dan laki laki, makhluk ciptaanNya yang beda dan yang sama. Berbeda dalam takdir, takdir yang tidak dapat dipertukarkan antara yang satu dengan lainnya. Perempuan ditakdirkan untuk mengandung karena dikaruniai rahim, sedangkan lelaki tidak. Sama dalam hak dan kewajiban untuk menjalankan perintahNya, berbuat kebajikan ataupun kejahatan, sama-sama ada imbalan dariNya pada dua perbuatan itu.Satu dan lainnya dikaruniai kelebihan masing-masing, dalam hal ini saya menyebutnya sifat kecenderungan dan keumuman. Laki-laki diberi kekuatn fisik yang jauh lebih kuat dari pada perempuan (umum), meskipun ada perempuan yang mampu menjadi atlet angkat besi, kuli panggul, sopir truk, penarik becak (hanya sebagian kecil perempuan, tidak umum). Dan perempuan lebih kepada kerja-kerja rasa, meskipun tak menutup kemungkinan ada lelaki yang lebih berperasaan daripada perempuan dan atau ada perempuan yang dinilai tidak berperasaan daripada laki-laki. Saya tidak ingin berpolemik dengan hal ini.

Seperti postingan saya yang dulu mari menghargai perbedaan (walaupun konteks yang dibicarakan lain), maka biarlah yang beda, laki-laki dan perempuan.

Maka kaitannya dengan itu, DIA telah memberikan kewajiban mencari nafkah untuk lelaki dan perempuan untuk menyusui anak yang dilahirkannya. Saya kira ini adalah sebuah pembagian kerja antara keduannya yang mutlak ada. Pembagian kerja tersebut dimaksudkan untuk menyelesaikan tugas-tugas secara fokus untuk memperoleh hasil yang tidak mengecewakan. Karena jika laki-laki dan perempuan sudah memutuskan untuk hidup bersama maka, tiada kata lain selain menyusun rencana bersama dan bekerja secara bersama juga untuk mencapai tujuan yang telah disamakan antara keduanya untuk keberhasialan dan kebahagian bersama.

Lalu apakah dengan ini perempuan hanya bisa menyusui dan melakukan kerja-kerja domestik alinnya (tugas-tugas rumahan) dan tidak boleh bekerja atau melakukan aktifitas publik? Atau sebaliknya, laki-laki hanya harus mencari nafkah ansich dan membebankan semua tugas rumah kepada perempuan?

Hmmm, kewajiban-tetaplah kewajiban, apalagi kewajiban dariNya. Yang wajib bagi keduannya adalah melaksanakan tugas wajibnya, jika ada amalan lain yang bisa dilakukan diluar kewajibannya itu saya pikir sah-sah saja, selama hal tersebut membawa manfaat bersama. Catatannya, dengan tidak mengabaikan kewajibannya dan ada persetujuan antara kedua belah pihak dengan tetap menjaga keharmonisan untuk saling menghargai.

Kata-kata menjaga dan saling itu menandakan ada sebuah kerjasama antara keduannya. Kerjasama bisa terjalin oleh kedua belah pihak yang memiliki kebedaan, saling melengkapi dan saling membutuhkan. Kerjasama bisa terjalin itu muncul karena ada hal-hal yang bisa dipertukarkan, ada hal-hal “menarik” satu dengan lainnya yang tidak dimiliki satu dan lainnya. Artinya yang satu dan lainnya memberikan manfaat ataupun merasa terbantu dengan potensi beda yang dimiliki kedua belah pihak. Justru karena beberapa potensi yang berbeda itu keduanya bisa bekerjasama dan saling melengkapi. Seperti halnya anggota tubuh yang berpasangan, kaki, tangan, otak kanan dan kiri yang tidak lain adalah untuk keseimbangan.

Lalu bagaimana dengan firmanNya, laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan?. Juga jangan hilangkan pesanNya bahwa masing-masing dari kamu (laki-laki dan perempuan) adalah pemimpin bagi dirimu dan masing-masing akan dimintai pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya. Ada konsekwensi logisnya to mau jadi perempuan atau laki-laki.

Firman yang pertama, soal hak kepemimpinan menjadi perdebatan ramai tak kunjung usai antara feminis fundamentalis dan feminis leberal, agh tapi maaf saya tidak ingin membahas dari sudut pandang mereka. Kita coba memanfaatkan nalarisasi pribadi saja ya.

Kalau ada pemimpin pasti ada yang berposisi sebagai yang dipimpin. Apakah pemimpin itu lebih terhormat, lebih pintar daripada yang dipimpin? Apakah setiap pemimpin itu selalu memenuhi kriteria pemimpin? Apakah yang dipimpin itu lebih bodoh dari pemimpinnya? Benarkah yang dipimpin menjadi yang dipimpin karena lebih layak menjadi yang dipimpin? Apakah menjadi yang dipimpin hanya karena kesempatan yang tidak berpihak padanya? Heeehe jawab sendiri ya. Petunjuknya, silahkan lihat realitas (kenyataan) yang ada disekeliling masing-masing apakah benar seorang pemimpin sudah berlaku benar sebagai pemimpin? Apakah yang dipimpin sudah ikhlas benar menjadi yang dipimpin? Apakah mereka sudah mau dan mampu bekerja sama menciptakan keselarasan? Apakah sudah menjalankan kewajiban sesuai dengan sebutan yang disandangnya?

Saya pikir, siapapun yang menjadi pemimpin atau yang dipimpin itu tidaklah prinsip (kecuali dalam sholat; imam). Yang lebih penting adalah kemampuannya menyadang dan melaksanakan sebutan itu. Lalu, Pemimpin yang benar-benar berjiwa kepemimpinan saya pikir tidak akan: meminta kepemimpinannya itu. Tidak akan menyemena-menakan yang dipimpinnya. Tidak akan mengabaikan begitu saja suara-suara hati yang lain. Tidak akan menyesatkan yang dipimpinnya. Tidak akan merampas hak dan mengabaikan kewajibannya. Tidak akan mementingkan kebahagiaan dan atau kebutuhan pribadinya dan mengabaikan lainnya. Yang terakhir (versi saya) pemimpin tidaklah sombong/pongah akan kepemimpinannya.

Bagaimana pantas sombong, lah wong kalu ga ada yang dipimpin itu tidak akan ada sebutan pemimpin. Sama halnya kalu tidak ada yang miskin tidak akan ada muncul sebutan si kaya. Tidak akan ada kanan jika tidak ada sebutan kiri. Jadi ternyata, dipimpin atau pemimpin saling menunjukkan ketergantungan. Dari istilah atau sebutan itu mengisyaratkan ada semacam kebutuhan “pengakuan” ataupun “penegasan” dari keberadaan jenis yang tidak sama atau bahkan berlawanan arti dan bentuk dari dirinya untuk menjadi dirinya.

Maka, kita pun harus mengakui, kita tidaklah bisa menjadi dan bukan “kita” (yang laki-laki atau perempuan) tanpa kehadiran yang lain yang bukan “kita”.

Catatan: Karena belum sempat mencari lagi yang pernah dibaca, kutipan firmanNya tidak disertakan dengan jelas apa surat dan ayatnya, mohon dimaklumi.

Salam sama dan beda untuk perempuan juga laki-laki

Perempuan


Responses

  1. Ya ya … lah wong kalu ga ada yang dipimpin itu tidak akan ada sebutan pemimpin … Karena itu, saling berkontribusi bukan ‘ngerjain’ yang dipimpin. Sangat setuju.

    Perempuan:
    Sangat setuju juga bang Ersis. Tapi kenapa ya tersering wilayah dan posisi ini memperbesar kesemena-menaan pemiliknya?

  2. seandainya saja pemahaman saya terhadap postingan ini seperti yang dirimu inginkan, maka saya mengatakan sangat setuju sekali dengan posting yang satu ini lewat postingan saya yang ini.🙂

    Perempuan:
    Sangat setuju sekali? ehehe jadi inget pas ngerjain soal Pelajaran Sejarah dan Perjuangan Bangsa jaman dulu
    yang suruh milih S (setuju), TS (tidak setuju) SS+S (Sangat setuju sekali)🙂
    Sebuah pernyataaan persetujuan yang sangat kuat akan sebuah obyek….
    Berarti kalau setuju ada kesamaan cara pandang, tapi ntar dulu saya baru mau baca tulisan dirimu sam bedh🙂

  3. nice post
    pemahaman seperti ini yang sebenarnya bisa mengurangi friksi, yang laki tau posisi “dilebihkan: itu bareng dengan kewajiban yang merupakan satu bundel, yang perempuan mendapatkan porsinya dengan pas…
    so ga perlu ada kata emansipasi lagi kan😉

    Perempuan:
    Waduh bicara soal emansipasi ne…. akan panjang paparannya mbak ord, belum selesai sampai disini.
    Tapi bisa buat tambah-tambah apa itu emansipasi wanita Indonesia dalam perkiraan, boleh baca “Panggil aku Kartini Saja” punya Pramudya Ananta Toer.

    Laki-laki mutlak dilebihkan dari perempuan?
    Perempuan juga punya keistimewaan lho, ini ada di bawah….

    DIA sudah memberikan kelebihan untuk masing-masing kaum. Lelaki lewat jumlah warisan yang 2xlipatnya perempuan dan sebagai pemimpin An Nisa:176 dan 34.. Perempuan keistimewaannya untuk dimulyakan (dihormati) 3x lipatnya daripada laki-laki (Sesuai dengan hadist: hormatilah ibumu, ibumu dan ibumu baru bapakmu), surga di bawah telapak kaki ibu. Jika baik perempuan maka baik negara, jika rusak rusaklah negara. Dari sana terlihat bahwa masin-masing diistimewakan olehNya bukan?

    DIA menjadikan laki-laki dan perempuan yang beda dan sama itu adalah patner untuk bekerjasama, bukan untuk “menjajah” oleh yang merasa diberi kuasa selama ini pada yang bisa dikuasai. Hal inilah yang memicu tuntutan emansipasi atau kesetaraan gender itu muncul. Kalau diambil psositifnya dengan tidak memelihara kecurigaan dan kekhawatiran atas tuntutan perempuan-perempuan tiu, mereka hanya menginginkan kerjasama dan dilibatkan dalam mengambil keputusan

    Lalu bagaimana pola kerjasamanya?
    Kerjasama yang sehat adalah yang menghargai potensi masing-masing, saling membantu, melengkapi dan mendukung. Bukan melanggengkan atau menguatkan seterotip perempuan yang sudah terlanjur tercipta oleh sistem yang berwacana dan atau wacana yang menghasilkan dan menguatkan sistem.

  4. antara yang dipimpin dan yang memimpin ada kaitan dan simbiosisnya. Barangkali kalau yang saya tangkap dari artikel ini jenis mutualisme …
    Ini sangat setuju dan begitulah alam keseimbangan bermain. Tanpa itu, jomplang lah bumi ini… bukankah negara pun kuat salah satunya keberadaan sang perem itu.

    Dan anak jadi kuat karena mentil sama sang perem juga.. jangan lupa, ketenangan sang laki pun juga karena sang perem.. apalagi banyak!

    heheheheh

    Perempuan:
    Simbisosis mutualisme (saling menguntungkan)? Bagaimana kalu kita ganti ganti istilahnya ya dengan kebaikan bersama. Emang bang, sudah semestinya yang tercipta dari keberadaan mereka adalah kebaikan bersama pada pemimpin dan yang dipimpin. Masing-masing yang memiliki sebutan bisa memaksimalkan peranannya jadi nantinya bukan mereka saja yang mendapatkan kebaikan, tetapi juga lingkungan.

    Betul! Baik buruknya sebuah negara tergantung kepada kaum perempuannya, karena ditangan merekalah anak yang merupakan generasi penerus itu tumbuh dan berkembang (dengan tidak bermaksud mengabaikan peranan ayah yang laki-laki). Artinya ibu menjadi agen pembelajar pertama anak di dalam rahim. Biasanya nilai-nilai yang ditanamkan seorang yang memiliki intensitas kedekatan psikologis ataupun waktu yang lebih banyak itulah yang paling memepengaruhi bentukan watak atau kemampuan anak. Kemudian baru pengaruh-pengaruh ayah yang juga akan menjadi rule model dasar bagi anak.

    Anak kuat karena ibu yang perempuan? Yup, baik fisik juga mentalnya.
    Ketenangan? Ar Rum:21 “…Allah menciptakan kamu berpasang-pasangan dari jenismu sendiri agar kau merasa tentram…”
    Banyak? Yakin bisa menjamin ketenangan? Yakin bisa adil? Wah apakah bang Kurt termasuk laki-laki yang pro poligami?

  5. Saya kira ini adalah sebuah pembagian kerja antara keduannya yang mutlak ada.

    SETUJU…
    Ya memang ada beberapa hal yang bisa dikerjakan oleh laki2 maupun perempuan. Tetapi bagaimanapun juga laki2 dan perempuan memiliki kodrat masing2.
    Laki2 dan perempuan diciptakan untuk saling melengkapi … bukan saling menandingi dan menguasai.

    Perempuan:
    Tegas baget SETUJU nya, heeee…..
    Hal-hal yang bisa dikerjakan secara bergantian itulah kesempatan kerduanya untuk saling membantu. Kerja-kerja domestik (rumahan) yang lebih dilekatkan pada perempaun itu tidak harus selalu dibebankan kepada permpuan, jika laki-laki bisa membantu ya bukan sebuah kesalahan to?. Sebaliknya, dalam situasi tertentu ketika laki-laki membutuhkan perempuan untuk ikut andil dalam ranah publik (aktifitas di luar rumah, bisa kegiatan ekonomi atau sosial) juga bukan suatu yang haram to?
    Yang perlu diingat pada kemungkinan-kemungkian itu adalah pada tujuan bersama, selama itu membawa kebaikan dan melalui persetujuan bersama hal-hal itu bisa dilakukan dengan tidak meninggalkan kewajiban utama-NYA.

    Yup, masing-masing sudah memiliki kodratnya.
    Yup, bukan saling menandingi dan menguasai. SETUJU!
    Ga mudah lho menciptakan ini sam deKing. Diperlukan kesadaran dari kedua belah pihak. Menurut saya, sebisa mungkin meniadakan wacana dan praktek “ketimpangan” relasi keduanya. Yang satu merasa berkuasa atas yang lain, sedangkan yang lainnya merasa dikuasai dan “dijajah” hak-haknya.

    Harus ada i’tikad baik keduanya untuk duduk pada satu “meja”.

  6. Maka, kita pun harus mengakui, kita tidaklah bisa menjadi dan bukan “kita” (yang laki-laki atau perempuan) tanpa kehadiran yang lain yang bukan “kita”.

    Perempuan ada karena laki-laki begitu juga sebaliknya
    Oleh karenanya dibutuhkan kesadaran saling mengisi, menghormati dan tidak saling merendahkan ngasorke .

    *mataku pedes mbakyu..tulisannya kecil-kecil*

    Perempuan:
    Kalau komentarmu demikian, sama ya dengan yang lain juga saya. “Membiarkan yang berbeda”.

    Untuk membaca tulisan yang kecil-kecil sudah ada tips tu dari bang kurt. Pake ctrl+. Ya saya lihat juga tulisannya terlalu kecil.
    *Lagi nyari template yang pas ne, bisa bantu?*

    Derita bertambah jika sam regsa bermata minus seperti saya, yup benar-benar melelahkan. Apalagi kalau tulisannya dianggap panjang, capeee deh jadinya😦

  7. sebenernya sih lebih karna rasa senang menemukan sesuatu di tulisan ini yang tidak ada di tulisan saya hehehe
    saya kaget aja kok berasa seperti nyambung gitu (gr mode : on) huhuhu,
    tulisan saya tentang terikat itu dengan tulisan dirimu ini dan tulisan deKing yang judulnya hasrat, dan tulisan toleransinya sigid.
    kalo gw sih ngerasa ada hub antara masing2 tulisan diatas, berasa bisa lebih paham setelah baca 3 tulisan lain huhuhu.
    tapi lama2 kok berasa seperti orang bego yah gw ngomong kaya gini huhuhuhu
    seru aja kaya main puzzle gitu hehehehe

    duh jadi nggak enak masukin banyak2 link ke sini.
    maap yah.

    Perempuan:
    Bisa-bisa disambungkan dengan tulisan dirimu sam, juga tulisannya sam deKing, Di ketigannya ada hasrat (keinginan) untuk mengawali atau melakukan sebuah aktifitas

    Tulisan dirimu bagus tu sam bedh, apalagi kata-kata terakhirnya yang saya maknai sebagai- keiklasan-. Wah ilmu tingggi ni menyoal keikhlasan.

    Bego? Ya enggak lah sam bedh. Orang bisa nulis terikat yang bisa menerjemahkan dan menggunakan bahasa langit ke bahasa bumi gitu kok bego si?
    *Bahasa langit dan bumi saya pinjam dari sam deKing*

    Maaf? Ih gak usah minta maaf kenapa, gak papa lagi banyak komentar dari dirimu sam🙂

  8. perempuan bisa menjadi dewa, raja, hamba, abdi dan kali..😀

    yang pasti perempuan mempunyai ketabahan yang lebih dibanding lelaki..walau kadang mendewakan HATi bukan logika..

    tapi bagaimanapun juga lelaki dan perempuan mempunyai porsi masing2 antara hak dan kwajiban dalam menjalani kehidupan ini…

    pengertian..penghargaan..dan penerimaan itu diperlukan untuk menyatukan antara perempuan dan lelaki…

    “setiap insan/manusia mempunyai ketidaksempurnaan..namun kita bisa mencintai insan/manusia itu dengan cara yang sempurna”🙂

    hidup lelaki dan perempuan!!

    Perempuan:
    Amma semangatnya masih membara, negara butuh pemudi yang seperti Amma nih untuk berjuang terus

    Dewi? Kwan in, Ratu? Ratu Balqis, abdi sekaligus pejuang?Siti Khadijah ra

    Ndak semua perempuan mendewakan hati dan mengabaikan logika lho Ma? Amma yakin ne?
    Bagaimana dengan Sri Mulyani (menteri keuangan RI), menteri perindustrian dan perdagangan RI sekarang (perempuan juga). Panglima perang 5000 pasukan di Aceh (Laksamana Malahayati-perempuan)

    Keduannya memang sudah dibagi cara, wilayah juga porsi kerjanya secara minimal. Karena DIA tidak ingin memberatkan dan menyulitkan. Jika ada yang bisa maksimal dan berbuat lebih, ya ndak masalah to? malah bisa nambah catatan kebaikan dan membobotkan timbangannya kelak. Tul ndak?

    Boleh dong ma bagi ilmunya, bagaimana cara mencintai insan yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna?

    Yup kerjasama juga sudah merupakan keharusan, lah kalo ndak mau kerjasama gimana dunk?🙂

  9. bikin Kaleidoskop-Blog™ yuk… Liat contohnya di
    http://alief.wordpress.com/🙂

    Perempuan:
    Usul bagus cak🙂
    Dipertimbangkan. Hmmm ada gak ya tentang diriku yang layak dikaleidoskopkan?
    Btw makasih ajakannya…

  10. Sebetulnya antara laki-laki dan perempuan saling melengkapi. Kalau kita melihat riwayat Khadijah, dulunya kan merupakan pemimpin bisnis, tapi setelah menikah dan suaminya menjadi pemimpin, ganti Khadijah menjadi follower.

    Sama seperti kita kaum perempuan, sesibuk apapun berkarir, tapi tanggung jawab atas rumah tangga, kelancaran pendidikan anak, semuanya tetap ada dibahu peremuan (walau pendidikan anak juga tanggung jawab ayah). Perempuan bisa berkarir juga atas dukungan laki-laki (thanks suamiku)….karena dibalik wanita yang sukses ada laki-laki yang mendukung, demikian juga laki-laki yang sukses ada wanita yang mendukung dibelakangnya.

    Bagaimana kalau kita saling bahu membahu untuk meningkatkan pendidikan anak kita dan lingkungan, sehingga semakin banyak manusia Indonesia yang berpendidikan, baik ilmu dan akhlaknya?

    Perempuan:
    Khadijah? Wah mbak dia itu perempuan hebat! Bangsawan yang berhati darmawan. Bisa berhasil berperan ganda, di sektor domestik (rumahtangga) juga publik (dengan bisnisnya). Menjadi penenang dan pemodal terbesar perjuangan rasul. Bisa gak ya kita seperti beliau? Semoga ya…..

    Saya tahu beliau hanya sedikit, cuma secuil yang ada dalam sirah nabawi.
    Punya biografi beliau gak mbak?

    Soal kewajiban kalau yang tertera jelas dari firmanNYA adalah laki-laki mencari nafkah dan perempuan menyusui (berdasar kodrat yang tidak bisa dipertukarkan). Tapi, soal keberlangsungan rumah tangga ataupun pendidikan anak adalah menjadi tanggungjawab kedua belah pihak, meskipun tak bisa dipungkiri ibu menjadi agen pertama dan paling berpengaruh pada pendidikan anak berikut perkembangan jiwa anak.

    Keduanya memang semestinya bekerjasama, bahu membahu dan memiliki kesepakatan bersama akan seperti apa dan mau dibawa kemana keluarga yang mereka bina. Bagaimana bentuk atau cara pelaksanaan kesemestian itu, ya tergantung hasil kompromi keduanya. Tergantung dengan situasi dan kondisi yang ada (sosial ataupun ekonomi) yang mempengaruhinya. Tergantung pada cara pikir dan pandang keduanya. Tergantung target dan kemampuan keduanya.
    Kata lainnya si, diatur bagaimana baiknya saja mbak. Asal bertujuan untuk kebaikan bersama dan membawa manfaat bersama *maaf sedikit mengulang postingan*

    Ezakli! keberhasilan ada karena keduannya saling pengertian dan memberikan dukungan.
    *Opini saya belum berdasar pada pengalaman pribadi. Ini hanya didapat dari pengamatan, belum praktek. Jadi Mbak endaratna sudah tentu lebih banyak tahu soal keluarga. Wah saya jadi bisa belajar ne dari mbak, siapa tahu tahun ini ada pangeran dariNya buat saya untuk hidup bersama🙂

  11. Duh, mba. Tulisannya imut sekali. Maaf banget-banget saya tidak begitu jelas membacanya.

    Perempuan:
    Kalau mau diperbesar bisa praktekkan tipsnya bang Kurt;tekan Ctrl+.
    Ya mbak Hanna, saya lagi cari-cari template yang pas soalnya. Saya pilih ini karena suka dengan gambarnya (padi kalua tidak salah). Tetapi ternyata tulisannya kurang baik (mengecil otomatis) jika postingannya agak panjang.
    Saya berkeinginan menggantinya nanti-nanti.
    Makasih lho mbak Hanna atas kesediannya, kamsia……

  12. Met Tahun Baru 2008, ya,mba.
    Sukses selalu…

    Perempuan:
    Met tahun baru juga mbak hanna, ya semoga ya apa yang kita citakan bisa terwujud, semoga!

  13. wahh.. aku terlalu banyak setuju untuk postingan ini, nggak ada yang labih hebat antara pemimpin dan yang dipimpin or Perempuan dan Laki-laki, yang hebat adalah sinergi keduanya yang kemudian menciptakan sejarah. Kelemahan yang satu menjadikan yang lain punya kesempatan untuk berbuat baik lebih banyak lagi, kelebihan yang lain menjadi kebanggaan yang satunya dan membuatnya ingin menciptakan monumen kebanggaan yang baru.. very well!

    Perempuan:
    Ya ni sam Gatho, kalau sudah menyadari semuanya harus berjalan seiring sejalan dan berkewajiban mewujudkan kesinergian itu kan menyebabkan semuanya menjadi lebih indah.
    Semua potensi konflik bisa diminimalisir sekecil mungkin. Tidak ada rasa curiga mencurigai, tak ada rasa lebih berkuasa antara satu daripada yang lainnya. Tak ada kaum yang merasa tersubordinasi. Tak ada yang merasa lebih untung dan yang lain dirugikan. Yah, no bodi is perfek, semuanya dari kita memiliki celah keterbatasan dan ketidakmilikan sesuatu. Ternyata adanya itu membuat kita sadar akan kemanusiaan kita yang tidak bisa hidup tanpa adanya orang lain. Identitas diri pun terbentuk karena keberadaan identitas lain.

    Jadi, mari menghargai perbedaan, biarlah yang beda berharmoni🙂

  14. tapi perempuan pun bisa juga menjadi pemimpin dan penguasa tanpa terasa melakukan pemberontakan atau kudeta. Soft power seperti ini pasti tidak pernah ditimbang dalam diskusi yang perspektifnya perjuangan kesetaraaan gender. cuma sebuah celetukan usil, jangan diambil hati hehehe…

    Perempuan:

    Konteksnya negara bang? Gimana kalu menengok diskusi feminis liberal? Ada lho itu, penggeraknya bermula di konvensi hak-hak perempuan pertama di Seneca Falss, New York 1848. Hal itu menjadi isu strategis malah. Mereka berpendapat bahwa kesetaraan jender hanya dapat dicapai dengan mengajak publik yang rasional dan dengan menggunakan negara. Mereka menuntut keuniversalan hak-hak manusia, dimana perempuan itu sama dengan laki-laki. Mereka meminta diberi hak yang sama dalam berpolitik dan diberi kebebasan dalam bergerak juga untuk berkuasa menjadi pemimpin. Hingga nantinya mereka tidak lagi terkooptasi dan bisa merubah sistim sosial juga politik yang sudah tekesan sangat patriarkhis.
    Pemimpin perempuan memang ada. Hanya sekedar menyebut nama; Ratu Balqis yang ada di zaman nabi Sulaiman. Baru baru ini Benazir Bhuto bin Ali Bhuto yang menjadi koban penembakan dan bom bunuh diri. Laksamana Malahayati dari Aceh yang memimpin 5000 prajurit melawan Belanda pada pra kemerdekaan. Philiphina dengan Aroyo- nya.

    Perempuan melakukan pembrontakan atau kudeta? Bisa bagi informasinya bang?
    Diambil hati? Ya ndak lah, santai aja lagi bang….
    Saya ini terbuka lho soal begini *mulai narsis neh*

  15. Selamat Tahun Baru 2008

    Perempuan:
    Met tahun baru juga🙂

  16. Aku sama sekali nggak keberatan dengan perjuangan politik perempuan. Tapi menurut aku, setelah pertempuran politik dimenangkan, toh tetap saja si perempuan kepingin bercengkerama atau bercinta dengan kekasih (pria) atau suaminya. Disini aku pakai ukuran normal secara universal, bukan berarti tidak mengakui kalau adanya alternatif lain. Artinya, jangan pula hasil perjuangan kesetaraan gender nantinya malah membuat para perempuan kita menjadi teralienasi.

    Di Indonesia, lagi-lagi menurut aku, “musuh” perempuan bukanlah sistem atau kebijakan politik, melainkan budaya patriarki yang sudah merasuk ke tulang sumsum –dan ironisnya pendukung utama sistem budaya ini justru kaum perempuan . Artinya ini perjuangan yang makan waktu, butuh kesabaran dan bisa menyakitkan secara timbal balik.

    Perlukah kita belajar pada Women Libs atau gerakan lebih radikal macam New York Red Stockings?

    Bukan jatahku untuk menjawabnya, karena meskipun mendukung kesataraan gender, aku tak punya hak untuk menjawabnya. Itu pilihan kalian sendiri my dear sisters.

    Ada fakta menarik yang bisa mengkontraskan sehingga nampak jelas bahwa secara umum pria Indonesia sangat koperatif dan supportif terhadap perjuangan gender di negeri ini. Di kalangan kulit hitam di Amerika Serikat ada dua gerakan emansipasi yang justru berlawanan. Kaum prianya berjuang untuk kesetaraan hak-hak sipil dengan kulit putih, sedangkan kaum perempuannya berjuang untuk bebas dari penindasan para pria kulit hitam sendiri. Itu sebabnya pria kulit hitam yang tergolong intelektual umumnya menikah dengan wanita kulit putih, agar terbebas dari sindrom warisan perbudakan yang membuat mereka selalu beranggapan bahwa perempuan kulit hitam terlalu “itchy”, makanya layak dikasari.

    Menurutku, kedudukan perempuan dalam sistem patriarki di kalangan etnis Batak perlu juga dipertimbangkan sebagai referensi untuk kesataraan gender versi lokal. Ini sekadar saran saja. Trims.

  17. Oh ya, mengenai perempuan yang melakukan pemberontakan atau kudeta : Tjut Njak Dien salah satu contoh perempuan yang sanggup melakukan pemberontakan secara militer. Memang, dia bersama-sama dengan para pria Aceh melakuan pemberontakan atau perlawanan itu, tapi tidak mengurangi arti bahwa perempuan bisa memberontak dengan cara pria.

    Kudeta yang dilakukan perempuan memang hanya ada di zaman kerajaan dahulu dan umumya dengan mengandalkan soft power atau malahan the power of love. Theodora menjadi maharani Romawi dengan cara itu.Apa ini bukan suatu inspirasi bahwa soal merebut kekuasaan dan aspek-aspek kehidupan yang lain mungkin saja ada perspektif atau cara khas perempuan?

  18. Perempuan:
    Brother sobadream terimakasih komentarnya. So, tanggapan saya agak panjang, sekalian untuk dua komentar brother.
    Saya kira sah-sah saja ketika proses membaca atau belajar dilakukan dengan menghadirkan berbagai literatur sebagai perbandingan. Dari hasil belajar, diri akan memutuskan. Apakah akan mengamini dan mengikuti atau sekedar tahu dan setengah setuju (tidak total), mengambil sedikit yang positif atau bahkan menolak seluruhnya.

    Komentar balik saya yang sebelumnya hanya ingin menunjukkan bahwa ada juga feminis yang mendiskusikan dan berisu strategis soal kepemimpinan yang konteksnya kekuasaan negara.

    Ada yang tidak saya sepakati dari mereka. Terutama soal kecenderungan penentangan terhadap takdir/ kodarat. Salah satu contohnya: Mereka (bukan saya tentu) menolak rahim-melahirkan-menyusui-menjadi ibu. Yang saya tangkap dari mereka adalah bahwa rahim hanya akan mempersulit mereka dalam beraktifitas, memperkecil produktifitas juga mengurangi penghargaan sosial terhadap mereka. Dan baik diingat, munculnya feminis radikal juga dipengaruhi oleh Marxianism yang cenderung menghitung semuanya dari persoalan kemampuan produksi-materi dari sudut pandang ekonomi. *halah sok tahu ni saya brother, heheee….* .

    * * * *
    Lho kok ada pembahasan cinta segala brother….
    Kalau soal cinta itu naluri manusia saya kira. Bukan saja milik perempuan tapi juga laki-laki. Manusia diciptakanNya memang untuk saling mengenal dan berkasih sayang satu sama lainnya.

    Kalau di Indonesia, pria-prianya ada yang kooperatif ada yang gak….
    Begitupun dengan perempuannya juga gak jauh beda….
    Kalau bloggers saya yakin bisa bekerjasama, heeeeee🙂

    Kalau kasus yang terjadi di USA itu si murni persoalan RAS saya kira, bukan gender. Mengapa itu bisa muncul? Karena pemerintah USA masih terkesan tidak adil dan tidak konsisten dalam menegakkan HAM, masih ada diskriminasi RAS. Contoh kasus di Ohaiyo, Ohio USA tempat berdomisilinya orang kulit hitam yang terkenal dengan daerah misikin, Tingkat kriminalitas tinggi. Mereka kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah. Berita ini dapatkan di liputan 6 SCTV hasil reportase M.Nurul Amin. Jadi tidak bisa menyalahkan kulit hitam saja, tetapi siapa yang memiliki kekuasaan itu juga perlu dimintai komitmennya kembali.

    Dan diskriminasi ini sudah sejak dahulu ada (tepatnya kapan muncul saya lupa, bisa di cek di teori-teori sosial). Ras kulit putih terus membuat propaganda bahwa merekalah kelas atas, unggul dan terhormat. Sedangkan kaum negro adalah kelas bawah, tidak terpelajar dsb. Mungkin karena itulah pria negro membuat pilihan. Sedangkan mayoritas perempuan negro harus bekerja sendiri seperti yang brother katakan.
    Kita tunggu Bark Obama yang berkulit hitam Dari Partai Demokrat untuk memperbaiki keadaan ya…..

    Hmmm…. Theodora menjadi maharani Romawi dengan cara khas perempuan? Wah ini hasil bentukan sistem juga neh agaknya….

    Saya kira agak sulit jika sistem dilepaskan dari budaya. Asal muasalnya budaya ada, dikenal meluas, dan diserap dan terlakukan itu, karena ada sistem yang memproduksinya secara masal. Siapa yang memiliki kekuasaan untuk mempropagandakan? Siapa yang bisa membuat kebijakan politik? Bukankah penguasa dan pencipta sistem itu sendiri?.
    Kedudukan perempuan dalam sistem patriarki di kalangan etnis Batak? Refrensi baru neh, boleh lah…..

    Perempuan pendukung utama sistem budaya patriarki?

    Bisa juga begitu brother, sebuah kedilematisan buat saya yang perempuan, juga untuk perempuan lain. Karena merubah sistem bukanlah perkara membalikkan telapak tangan. Butuh waktu laamaaaaa dan ke-legowo-an.

    Saya coba menyikapi ini dengan anteng (baca:tenang). Berada di tengah, lebih setuju dengan cara-cara yang damai. Menawarkan kerjasama dan terus menghidupkan kesadaran. Tujuannya menghargai kesamaaan dan kebedaan antara laki-laki dan perempuan. Ya agar keduanya bisa dalam keselarasan. Bukan saling “mendandingi atau menguasai” (pinjam dari sam deKing).

    Salam damai……


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: