Oleh: Ningrum | 4 Januari 2008

2008

Pada sesuatu yang baru, termasuk dalam waktu yang baru, selalu saja melahirkan harapan dan mimpi, sifatnya bisa baru atau melanjutkan yang lalu. Evaluasi pun tak tertinggal menyertai yang lalu untuk yang baru. Pada usaha yang lalu, hampir bisa dipastikan ada ketakmaksimalan. Ada kekurangan, kesalahan ataupun kebelum terlaksanaan cita-cita.
Dan pada detik pemostingan ini, saya masih berani memiliki mimpi dan harap untuk berusaha menjadi lebih baik. Apakah akan terwujud di 2008? Hanya Dia yang tahu.Kita hanya tahu bahwa kita masih memiliki modal keinginan, harap bahkan mungkin juga keyakinan yang akan disusul oleh sebuah perjuangan. Perjuangan yang masih belum melahirkan kemenangan di penghujung/detik terakhir 2007 dan akan dilanjutkan atau dirubah pada esok. 2008 tidak lain adalah waktu yang didahului oleh hitungan dan kumpulan angka-angka dalam tahun/ penandaan angka pada tahun kita dilahirkan. Menjadinya kita hari ini juga adalah merupakan hasil akumulasi tindakan-tindakan yang kita ambil sebelumnya (dengan tetap mempercayai Iradat, takdirNya dan sedikit kehendak bebas-berusaha dariNya). Begitupun keadaan saya baru-baru ini yang mencoba mendapatkan “bagian”Nya dari bisnis-bisnisan dengan omset yang masih pas-pasan, semoga saja bisa berkembang dan berkah.

Keadaan ini berawal dari keputusan saya menjelang 2007 untuk meninggalkan rutinitas yang sangat berpeluang mempopulerkan banyak hal. Setelah keputusan itu, saya seolah tak “terhitung” baik secara sosial juga ekonomi (kecuali untuk seorang perempuan yang kami cintai). Keseolahan itu disebabkan karena pilihan yang diambil pun mungkin tak terlalu populer dimata banyak orang:masyarakat. Mengapa dan apa pilihan itu? Maaf saya belum bisa memberitahukan kepada bloggers.

Terimakasih 2007. Terimakasih bloggers yang telah berkenan menjadi tempat bercerita dan memberikan komentar. Terimakasih hidup. Terimakasih Sang Pencipta hidup atas kegamangan dan keoptimisan yang kerap dihahadirkan bergantian. Terimakasih atas ketenangan dan kekhawatiran yang tak luput dari hidup saya. Terimakasih atas kebahagiaan dan kesedihan yang juga berkenan hadir dalam diri. Pada yang ada, saya mencoba untuk mengkhidmati dan memaknai untuk tahu diri dan malu padaNya. Melanjutkan dan menikmati proses untuk mencoba bisa sampai tujuan, tiada lain. Jadi benar kata Gie “Hidup adalah soal keberanian. Maka terima dan hadapi”.

Keberanian untuk apa? Bagaimana cara menerima dan menghadapi hidup yang penuh fatamorgana, godaan dan ujian? Berani untuk semua. Berani menghadapai sesuatu yang sama sekali belum kita ketahui. Berani untuk bermimpi dan memiliki sejuta harap.

Mimpi dan harap untuk berhasil. Berani berharap mejadi lebih baik. Berani berharap mendapatkan yang terbaik. Harap berani kembali padanya dengan kebaikanNya. Berani untuk berusaha hingga titik darah penghabisan. Juga berani bertanggungjawab atas segala pilihan.

Lalu, disaat itu pula kita kita dituntut untuk legowo (berlapang dada) dan atau berjiwa besar, jika ternyata segala mimpi-mimpi dan harap itu tidak atau belum terwujud saat ini. Tapi, bagaimana bisa menikmati ketidakterwujudan atau ketidaktercapaian cita? Menyesakkan, bahkan bisa pernah merasa tak ada lagi hari esok. Sungguh ini rasa yang nyata. Inilah episode tantangan hidup yang meminta jawaban dan perjuangan kembali tanpa kita tahu sampai kapan harus berakhir. Yang awal, yang akhir, yang ada, tak lain untuk menguji kebersyukuran diri. Dia menjadikan kita manusia pembelajar seumur hidup. Kesejahteraan ataupun musibah yang ada akan menunjukkan kepada diri, apakah diri termasuk orang yang taat atau ingkar, lemah atau kuat. Dan untuk ini, saya pun memberikan anggukan pada kata Albert Camus, bahwa “Tantangan apapun yang tidak membuat kamu mati, akan membuatmu kuat”, semoga!

Semoga tahun lalu bisa menjadi kekuatan buat saya dan kita semua di 2008. Menjadikan lebih berdaya dan mampu berdiri di kaki sendiri. Memiliki kaki yang kokoh dan tangan tangguh, berharap mampu menopang “kaki-kaki” lain dan memberi kepada tangan-tangan yang lain. Semoga pada esok ada pilihan terbaikNya untuk mendampingi dan menjadikan kita fokus, terarah dan matang Amin.

Dan akhirnya, saya kira memelihara kepositifan fikir dan rasa adalah keseyogyaan yang bisa membantu diri atas misteri hidup, karunia dan rencana terbaikNya. Semoga!

Mari kawan,Berguru dari hidup dan kehidupan untuk melanjutkan hidup.Juga berguru dalam hidup untuk mati.

Salam perjuangan pada kemisteriusan hidup! Semangat!

Perempuan

Iklan

Responses

  1. semangat aja di tahun 2008 😛

    Perempuan:
    Yup, kata-kata yang sebenarnya ada tapi ndak muncul/keikut setelah “Salam perjuangan pada kemisteriusan hidup! Semangat! 🙂

  2. Semoga tahun 2008 mendatangkan kesehatan, kesuksesan, kedamaian dan kebahagiaan bagi kita semua. Amien

    Perempuan:
    Amin ya robbalalamin.
    Do’a nya mbak Endratna komplit…. Semoga dikabulkanNya ya mbak

  3. Semoga harapan kita bisa terwujud di tahun 2008.

    Perempuan:
    Ya semoga, bisa terwujud hal-hal yang terbaik untuk kita semua amin.

  4. hahaha… ternyata stelah di cek linknya yang salah tercatat: http://santribuntet.wordpress harusnya dikasih (dot)com menjadi :
    http://santribuntet.wordpress.com

    makasih atas pelajaran hidup yang ditulis dan sering saya lupa:
    “Hidup adalah soal keberanian. Maka terima dan hadapi”.

    Perempuan:
    Iya ya ….. 🙂
    Saya juga masih belajar hidup kok bang….. berharap bisa sampai tujuan…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: