Oleh: Ningrum | 10 Januari 2008

Perjalanan, Petunjuk dan Tujuan Perempuan-Perempuan “Buta”

Di akhir 2007 saya melakukan dua perjalanan. Perjalanan pertama bersama teman-teman perempuan pergi untuk bermalam menuju ke utara tempat Neni, salah satu teman yang mengundang kami pada pesta pernikahannya. Sedangkan perjalanan di minggu berikutnya menuju ke selatan, berdua dengan kak Ita yang meminta ditemani. Untuk perjalanan pertama dan kedua saya pun sama tidak tahunya dengan mereka pada tujuan, belum pernah ke tempat yang dituju. Termasuk di mana letak pasnya tujuan (nama), tentang bagaimana kondisi lokasi tujuan. Saya hanya tahu nama kabupaten dan ibu kotanya.Perjalanan pertama, hanya diberi petunjuk turun di lampu merah pul. Ketika saya sms balik nama daerah? dan ciri-cirinya apa? Terminal kah? Teman saya justru membalas yang intinya pokoknya turun disana. Sepanjang jalan siaga. Sembari menikmati view dari kaca bus. Akhirnya sampai juga. Saya pun baru diberi tahu bahwa ojeklah satu-satunya pilihan agar cepat dan mudah sampai ke tujuan. “Tunggu saja, akan ada yang menjemput kalian” kata Neni lewat sms.

Menunggu, lapar, udara dingin. Lama-lama mulai tidak nyaman. Lina mulai gak tahan menunggu, emosinya mulai bangkit. Saya dan Dea ingin pepsii tapi pintu toilet tergembok, tidak ada penjaganya. Sedangkan Titik, sibuk sms dengan siapa tidak tahu. Titik emosi juga, mungkin sedang bermasalah dengan kawan smsnya. Ia juga mengeluh karena Neni yang berumah di sana tidak juga membalas sms. Gelisah dan lelahlah kami dengan harus menahan emosi diri. Akhirnya, tak sampai kami pingsan, ada pria menghampiri kami dan bertanya “Temanya Neni?” “Ya, ya pak” kami kegirangan.

Di luar dugaan, kami melewati beberapa tempat serupa padang savana dengan jalan berbatu tak nyaman karena bergelombang (bahasa jawanya: nggerenjul2). Ditambah sesekali harus kekanan, sesekali harus kekiri, memilih permukaan jalan yang agak rata. Menurut pak Budi, motorria akan menempuh jarak 11 km. Jarak yang lumayan dan tidak nyaman karena kondisi medan yang tidak terlalu baik. Belum lagi saya hanya mungkin duduk perempuan (bahasa jawanya:mencingkrik) dengan menggendong rangsel bersejarah milik saya.

Ketidaknyamanan itupun terbayar oleh sejuknya desa yang belum genap satu tahun diterangi PLN. Saya mulai tak perduli dengan batu-batu penghambat putaran roda. Tinggi dan hijaunya pepohonan juga beberapa lapang padang serupa savana, irigasi besar, ayam-ayam yang berkeliaran, kandang kambing, rumah-rumah papan, cukup membuat saya bisa menikmatinya dan lupa bahwa saya “buta” dan sedang melakukan perjalanan “buta”.

Lalu pak Budi membawa kami melewati perkebunan tumpang sari dengan jalan setapak dengan lebar tidak lebih dari 1meter, kontur tanah lembut, licin tampak basah. Pak Budi pun tampak selalu siaga dengan remnya. “Motong jalan ya mbak”kata dia.

Yang mengesankan, ketika berada di tengah perkebunan jati terdapat sisi menyerupai jurang dengan cahaya yang temaram. “Wah kalu terpleset lumayan juga”. Saya pun bersukaria dengan ketegangan dan cerita pak Budi tentang keluarganya.

Ternyata, jika suasana sepi dan berkesempatan begal berani beroprasi di sana. Serasa reporter acara di TV jejak petualanglah saya ketika itu. Dalam perjalanan, kami nurut saja pemberi petunjuk dan pengantar (pak ojek) yang tentu saja lebih tahu dari kami. Kemudian, badan mulai pegel-pegel. Pak Budi sering mengerem mendadak pada kelokan hingga membuat saya tegang karena harus selalu waspada. Lepas berpegang jok bisa jatuh.

Benar perjalanan beresiko, yah demi teman dan sampai tujuan. Setibanya di rumah teman, saya pun merasa beruntung akan perjalanan pertama ini.

Perjalanan kedua, untuk mengejar waktu kak Ita meminta saya menemaninya melakukan perjalanan malam hari. Petunjuk yang ia punya adalah pergi ke daerah lintas di kabupaten C beribu kota D. Saya saja belum pernah masuk di kota D. Jadi sama-sama “buta” di perparah dengan gelapnya malam. Saat di bus saya panik, ponsel saya dan kak Ita nyaris kehabisan energi. Terus ponsel kak Ita, ketekan dan tak bisa menghubungi atau dihubungi. Kak Ita panik juga, mungkin karena ia “buta” juga. Alih-alih jadi menyalahkan saya, membuat saya agak kesal padanya. Geregetan campur khawatir, sudah dibantu malah menyalahkan orang yang membantu. Hal itu membuat saya berhitung, itung-itung untuk latihan sabar, biar bisa sabar betulan.

Lalu, saya mencoba sms Lena yang saya pikir tahu daerah D. Tapi nomor mentarinya tak aktif. Mencoba hubungi Kak Mif yang tinggal di Kabupaten D, tak dijawab. Dia mengirimkan sms, malah balik menyalahkan saya “Saya tidak tahu, coba tadi siang jadi enak cari alamatnya, malam begini dah ga da angkot”. “Ah, kak Mif menambah kekhawatiran perjalanan tanpa petunjuk yang jelas ini” saya ngrundel sendiri.

Buka-buka inbox, teringat nomor IM3 yang belum saya deled bersms idul adha atas nama Lena yang tidak tersimpan dalam nama-nama (kontak) posel. Coba sms, bersyukurlah, ternyata dia Lena yang saya maksud dan punya sedikit petunjuk. Turun di Koramil, cari ojek bilang hotel H. Bebeberapa kali saya tanya apa nama daerahnya, sebelah mana, petujuknya bagaimana. Ia juga tak menjawab, malah kirim sms yang menanyakan maksud kami. Lalu mengirim sms lagi “Dah kalo masih ada ojek, pokoknya naik ojek saja, minta diantar” isi smsnya. Waduh petunjuk yang kurang jelas.

Kami mengikuti saja saran dan petunjuknya. Kekhawatiran timbul, apalagi di daerah yang belum pernah saya datangi, berbeda kultur juga bahasa (bahasa Indonesia, terimakasih) dan daerahnya tak terlalu ramai bila malam. Untung masih ada ojek, lalu kami meminta diantar di tempat yang dimaksud.

Sepanjang jalan pak ojek banyak bertanya, mungkin mencari informasi atau sekedar basa-basi. Saya juga sekooperatif mungkin dengan pak ojek. Lalu saya berfikir, bisa saja kami dibawa pergi oleh pak ojek tanpa kami tahu akan dibawa kemana (kemungkinan terburuk). Untuk mencegah itu, sepanjang jalan saya menjadi perempuan yang seolah-olah tak “buta” padahal sesungguhnya saya “buta”. Gelapnya malamlah yang semakin membuat saya sadar akan “kebutaan” saya. Saya melakukan apa yang dipesankan Lena si pemberi petunjuk. Akhirnya sampailah kami di hotel H yang kebetulan terlihat di seberang jalan . Alhamdulillah….. selamat.

Pelajaran yang bisa diambil dari kedua perjalanan “buta” itu adalah:

*
Pentingnya berbekal tujuan pasti dan tahu tepatnya sebuah perjalanan.
*
Prlunya memiliki sebuah petunjuk dan rasa percaya (yakin)pada petunjuk itu. Jika tidak mengindahkan, petunjuk yang sudah diberikan, tidak percaya dan mau berbuat sesuai keinginannya (walaupun bisa-bisa saja semau gue), bersiap-siaplah dengan resiko yang akan ditanggung. Ada tiga kemungkinan ; Tersesat, terlambat sampai tujuan, tak selamat dan atau tak sampai ke tujuanPerlunya kerjasama akal dan hati. Diperlukan kepandaian menahan dan menata hati dalam beremosi. Memutar otak untuk membuat keputusan, mencari strategi agar tidak semakin “buta” dan memperburuk situasi tersebut.
*
Keindahan dan kesenangan cenderung menghilangkan kesadaran akan “kebutaan” diri. Ini terjadi diperjalanan pertama saya yang terlena dan terlupa. Sedangkan diperjalanan kedua yang terjadi adalah sebaliknya. Saya sangat sadar akan “kebutaan” saya karena situasi tidak begitu menyenangkan.
*
Pengorbanan dan usaha dalam sebuah perjalanan menuju tujuan adalah sebuah keniscayaan.

Kalau sudah mendapatkan lima poin pelajaran begini, bisa gak ya dipraktekkan secara konsisten? Mengambil perjalanan “buta” itu sebagai analogi perjalanan hidup di dunia. Mau dan mampu gak ya diri mengambil serta mengamini petunjuk dari Sang Pemilik Petunjuk?

Bukankah manusia sebenarnya hanya tahu sedikit sekali tentang segala yang sesungguhnya ada?. Jika demikian, pantaskah diri menjadi “Semau gue dan emang gue pikirin”. Lalu menyombongkan diri dari petunjuk itu? Akankah diri sampai pada tujuan?

Salam Berpetunjuk

Perempuan


Responses

  1. reporter di acara jejak petualang itu cakep banget huhu
    emosi memang kadang membutakan akal pikiran yah….
    perjalan tanpa tujuan yang jelas memang membuat semuanya berjalan hambar dan tak tentu arah, jika diharuskan melakukan pengorbanan demi mencapai tujuan saya rasa hasil yang akan di capai bakal setimpal dengan ketegangan dan keasyikan perjalanan itu.
    perjalanan yang seru.
    huhuhu

    Perempuan:
    Yupzz reporter JP emang cekep-cakep sam bedh….
    Tapi jangan membayangkan saya seperti mereka lho. Saya tuh biasa banget, suer!🙂

    Emosi (amarah-jengkel) kerap kali membuat kita salah kaprah dalam membuat keputusan, tindakan yang muncul darinya pun bukan memperbaiki keadaan, justru lebih sering menambah kacau situasi. Tapi sayangnya, kadang kesadaran itu datangnya belakangan setelah amarah. Neiih lagi nyari cara jitu agar kesadaran itu selalu lebih dulu hadir sebelum amarah, gimana caranya ya?

    Tanpa tujuan? membingungkan ya sam. Sudah memiliki tujuan saja kadang masih mampir sana mampir sini. Apa lagi ndak? jadi mau kemana dan sampai di mana diri nantinya?
    Perjalanan seru? ya, sensasi yang saya punya memang itu. Apalagi kalau teman-teman saya bersedia berjalan kaki, pasti lebih sweru dan banyak kejadian🙂
    Yakin juga sam jika sebuah usaha/pengorbanan itu tidak sia-sia? kalau hasilnya belum hari ini, ya mungkin besok-besok baru bisa didapat ya, dalam bentuk yang mungkin berlainan bahkan mungkin lebih baik. *belajar berfikir positif neh* heeeee…..

  2. Bacanya ikut deg2an…syukurlah selamat sampai ditujuan.

    Permpuan:
    Ah mbak Ratna, udah kok udah berlalu. Eh btw dag dig dugnya jantung mbak ratna nyampe di telingaku lho, Heeee

  3. Wah, perjalanannya seru. Untungnya yg melakukan perjalanan itu adalah perempuan2 hebat, klo aku ma lebih baik balik kanan terus pulang, hehehe…🙂

    Perempuan:
    Ya seru….
    Hebat? biasa saja kok mbak. Btw malah oke an mbak udah bisa melakukan perjalanan sampe di luar tanah air🙂
    Balik kanan? wah temenku bisa ngambek kalu gak sampe rumahnya, heeee

  4. Ada tulisan teman blog tentang perempuan, pemuja perempuan: di http://kandar4thegoodnews.wordpress.com/2008/01/21/terpujilah-engkau-para-wanita/

    * * * *
    Perempuan:
    Ya makasih atas infonya, ntar ya kapan-kapan saya tengok🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: