Oleh: Ningrum | 24 Januari 2008

Rugi Lho Kalo Ga Mau Baca ini: “Kekuatan Pikiran” (bagian 1); Andrea Hirata Sema, Penulis Tetralogi Laskar Pelangi

Di bawah ada wawancara dengan Hirata soal kekuatan pikiran. Sumber majalah Paras edisi Januari 2008. Saya bagi untuk bloggers. Dibagian 2 nya banyak yang bisa kita ambil (tapi belum selesai saya salin-sekarang sudah tinggal klik). Mudah-mudahan di bagian 1 ini juga bermanfaat.

* * * * *

Sebelumnya, saya berikan pengantar untuk bloggers, maaf kalau dianggap berbelit dan bercerita. Ternyata kekaguman yang saya miliki terhadap Hirata bukan milik saya seorang, khususnya hasil karyanya yang dicetak kali pertama September 2005 Laskar Pelangi. Lalu disusul Sang Pemimpi 2006 dan Endesor 2007. Subyektifitas yang dulu saya pendam dan saya kira, kini menjadi banyak diperbincangkan di tv, koran, majalah atau via yahoo e-mail yang sering saya terima berupa undangan diskusi karya sekaligus jumpa penulisnya (sayang, sampai kini saya belum berkesempatan bertegur sapa dengan Bang Hirata, kapan ya?).

Dari waktu ke waktu, bukan saya saja yang menilai bahwa tetraloginya Hirata itu menarik, inspiratif, mengharukan dan mengesankan. Nyatanya dunia pun mengakuinya, buku tersebut masuk dalam kategori best seller dan akan terbit di Eropa dan Amerika, bahkan akan difilmkan. Wow!!

* * * * *

Mati saja kalau orang seperti kita tidak punya mimpi!!. Keep fighting!” kata-kata yang masih hangat di ingatan saya sejak beberapa tahun lalu saya baca tetraloginya. 11 murid SD miskin yang kaya semangat pantang menyerah, penuh motivasi, dan kreasi. Mereka adalah penyelamat sekolah yang nyaris ditutup oleh Dinas P dan K karena stigma kurang pada kualitas, jauh dari popularitas dan juga pada realitas sekolah yang minim kuantitas. Dua guru yang melimpah ruah ilmu, penuh kebijaksanaan-kearifan dan kasih. Kedua guru itu hanya bergaji10-20kg beras/bulan. Lainnya, Kisah cinta dan persahabatan sejati. Kerelaan untuk berkorban dan berbagi. Juga tekad untuk berarti bagi orang lain, dst. Wah lebih seru baca langsung ketiga tetraloginya Hirata atau kapan-kapan saya resensikan? (eh tapi lum janji).

* * * *

Novel berwarna pendidikan itu adalah kisah sejati hidupnya. Mewujudkan mimpi yang tampak mustahil dengan kekuatan pikirannya; kuliah pascasarjana ke Perancis dan Inggris, keliling Eropa dan Afrika. Kini ia punya posisi bagus di Telkom Bandung.


Bagaimana Anda memandang sebuah kekuatan pikiran?

Saya sangat percaya bahwa kekuatan pikiran itu adalah suatu paradigma yang menentukan jalan hidup orang, prinsip-prinsip dan integritasnya. Kekuatan pikiran merupakan second curva atau kurva kedua setelah kurva pertama, yaitu mentality development atau pembentukan mental. Sebetulnya yang dibentuk di awal bukan kekuatan pikiran, melainkan mentalitasnya. Kekuatan pikiran itu dibangun atas platform bagaimana menjadi orang yang mencintai ilmu. Kemudian baru masuk ke pengelolaan kekuatan pikiran itu, seperti mengelola diri sesuai dengan talenta masing-masing. Ada berkembang secara matematis dengan analisis kuantitatif. Ada juga yang berkembang dalam aspek estetika/seni dan sebagainya. Sekarang kita kenal istilahnya multiple intelligence. Saya lihat dalam pendidikan sekarang, justru gelombang kedua saja. Sementara mentalitas atau spritualnya tertinggal. Kebanyakan sekolah lebih menekankan pada ilmunya, apa yang disebut pendekatan material, kursus, bimbingan tes dan segala macam. Tapi mentalitas itu ditinggalkan, tumpang tindih atau seporadis.

Kapankah anda menyistematiskan kekuatan pikiran?

Waktu kecil saya tak bisa menggonstalasikan masa depan. Saya tak tahu apa yang akan terjadi saat kelas enam SD. Apakah saya akan berhenti sekolah untuk membantu di pantai? Apakah saya harus ke pulau lain dan jadi kuli kopra? Tapi kami diajari oleh Bu guru Muslimah untuk menjadi orang yang berani bercita-cita di luar batas yang realistis. Sejak SMP dan SMA saya sudah melihat bahwa suatu saat saya akan kuliah di Prancis. Walaupun itu sudah sangat tak mungkin. Tapi saya diajarkan untuk membangun kekuatan pikiran. Tidak berhenti bercita-cita dan melihat tujuan-tujuan yang lebih luas di luar kemampuan sendiri.

Bila muncullnya kesadaran kekuatan pikiran?

Itu muncul otomatis. Ketika mentalitas menyukai pendidikan dan senang pada ilmu sudah dibangun, kemudian pelan-pelan kita teracuni oleh ilmu.

Konsistenkah pencapaian cita-cita anda dengan yang didapat sekarang?

Salah satu cita-cita yang ditanamkan bu Muslimah adalah agar saya mengejar ilmu. Apa yang saya capai sekarang berada dijalur itu. Cuma dalam pencapaian sastra afa sesuatu di luar ekspetasi saya. Konsekwensi yang terjadi, sekarang buku itu best seller, akan terbit di Eropa dan Amerika, difilmkan, banyak orang datang ke Belitung mencari bu Muslimah dan teman-teman. Saya merasa sesuatu yang dulu terhinakan, terlupaklan dan dikalahkan, pada gilirannya akan muncul lagi membawa kebenaran. Buku itu seperti janji kebenaran yang akan terungkap.

Sejauh mana pengaruh kesulitan atau penderitaan terhadap kekuatan pikiran?

Saya tak percaya hubungan sebab akibat bahwa orang susah akan rajin belajar, terus pintar. Banyak orang pintar adalah orang kaya. Saya tak melihat hubungan logis antara kesusahan saya sekolah dengan kapasitas pikiran saya pada tingkat tertentu. Orang-orang seperti saya bisa eksis hanya melalui pendidikan. Saya tak punya harta benda, tak punya koneksi, tak punya bakat dagang, tak punya fasilitas. Pemicunya bukan karena kemiskinan tapi mentalitas yang dibentuk oleh agama orang tua dan guru.

Saya diundang oleh sekolah elit di Bandung. Gurunya sedih melihat murid yang sangat kaya tapi tak punya mentalitas fight dalam belajar. Pasalnya, mereka mendapatkan semuanya dengan mudah. Mereka mengundang saya, seorang yang berjuang setengah mati sejak anak-anak bekerja seperti orang dewasa. Jadi ini persoalan pembangunan mentalitas, bukan faktor ekonomi. Bersambuuung ____________________________________________________________________

Iklan

Responses

  1. Salut untuk Hirata, Andrea: yang katanya nama Andrea adalah nama seorang Italy yang sakit jiwa. Dia sudah membuktikan bahwa mentalitas dan paradigma berpikir memang amat luar biasa berperan dalam transformasi hidupnya. Sungguh perjuangan yang luar biasa. Tidak menyerah pada keadaan. Dan tidak mau diperbudak oleh pikiran “aku orang miskin”, “aku tidak bisa”. Inspiratif-Menggugah. So, Bangun………Bangun………sudah siang boo….

    * * * * *
    Perempuan:
    Yup, karakter kejiwaan ataupun cara pandang yang sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang kita percayai memang bisa menuntun kita berubah ke arah yang lebih baik. Potensi mengembangkan diri itu ada pada setiap manusia. Namun yang masih menjadi persoalan adalah belum tertatanya mental/sikap konsistensi memaksimalkan diri untuk mencapai yang terbaik itu. Hirata membuktikan, faktor-faktor di luar dirinya itu tidak lebih besar dari apa yang ada dalam dirinya. Kita bisa belajar darinya, cukup menggugah!! Dan sangat mengharukan…..
    Bangun? Bukan dari tidur kan? Dari ketidaksadaran ya? ayoo bangun!!

  2. andrea hirata lewat karya memang telah memberikan inspirasi banyak orang sampe2 ada pencandu narkoba yang bertobat gara2 mbaca tetraloginya. sayang, yang maryamah karpov kok belum nongol juga. padahal, anakku yang kelas 1 SMA dah merengek-rengek minta dibelikan, hehehehehe 😆 makanya ketika ada sebuah millis yang melontarkan wacana agar hirata dicalonkan jadi presiden banyak yang ndak setuju. itu juga saya tulis di blog saya: http://sawali.info/2008/01/07/andrea-hirata-menjadi-presiden/
    lebih bagus kalo andrea jadi penulis saja agar memberikan inspirasi demi sebuah perubahan di negeri ini.

    * * * * *
    Perempuan:
    Karyanya bang Hirata *bang?hihihi sksd* cocok banget buat seseorang yang berprofesi seperti panjenengan :-). Hebat kalau bisa jadi guru seperti bu Muslimah yang membuat sya gak sadar sampe berair mata baca kisahnya di Republika 16/12/2007 karena kebayang-bayang keadaan di Laskar Pelangi.
    Maryamah karpov? Seru juga kali ya….Wah kalu di tempat bang Sawal saja belum terpasarkan, apalagi di tempat saya yang jauh dari peradaban, heeee…
    Jika dianggap tak berlebihan, kalau setuju tetraloginya Hirata yang penuh motivasi itu jadi bacaan wajib untuk anak-anak Indonesia, juga anaknya bang sawal 🙂
    Hirata jadi presiden? Wah jangan, nanti saya ndak bisa kenalan.heee….
    Ya insy4JJ nati saya tengok tulisanya Bang Sawal soal Hirata. Yup, negara ini masih perlu memperbanyak penulis beride cermerlang, bukan saja berwacana tapi berpengalaman menjalani ide yang berguna itu…. Hidup Perubahan Bangsa!!

  3. sebenarnya ini sudah tersarikan dalam novelnya, kalo kita benar-benar memnbacanya…..

    * * * * *
    Perempuan:
    Sudah baca juga Sam? Wawancara ini pesannya memang sama dengan tetralogi satu hingga tiganya. Cuma bentuk/media penyampaian pesannya saja yang beda.
    Lebih cepat/singkat baca wawancaranya, jauh lebih serruuuuuu baca tetraloginya 🙂

  4. belum mudeng, nanti baca lagi, tapi syukur tulisannya dah keliatan, gede2 lagi *ni anak protes mulu 😀 *

    * * * * *
    Perempuan:
    Halah pura-pura gak mudeng ni sam joyo 🙂
    Ya maklum lah sam, lagi njajal2 huruf ,tapi hasilnya malah kegedean gak umum 🙂 besok-besok deh dibenerin lagi 🙂

  5. ::andrea, orang Telkom, koq ya sempat-sempatnya nulis..mana bukunya tebal-tebal lagi…padahal biasanya menulis membutuhkan fikiran berkesinambungan..wah..ini orang mesti hebat membagi ruang fikiran, antara duduk fikiran pada pekerjaan dan imajinasi penulisan yang beralur tetap terjaga….
    pokok pikirannya sepertinya saya dulu pernah membaca buku “kekuatan alam bawah sadar” ,
    namun kefahaman saya mengatakan, mungkin yang perlu lebih difikirkan, “ada apa dengan fikiran”
    seringnya kita terjebak pada pengaguman kualitas tulisan, atas alur ceritanya, padahal sepertinya dia yg memandang tulisan memangil “mari kemari…lihat ini aku …bukan pada buku itu..disini..disini wooi akulah sebenarnya yang kau baca meski buku yg kau lihat”…

  6. To Sam Zal 🙂
    Komentarnya Sam Zal ini memuji atau ngritik Hirata ne?

    Soal waktu, mungkin memang itulah kemampuan dirinya memenej keinginan dan waktu hingga bisa menyelesaikan Judul Laskar pelangi hanya sekitar satu atau dua minggu? Ini bisa menjadi bukti bahwa yg ditulisnya memang pengalaman pribadinya, bukan karangan atau cerita semata. Tak perlu mengada-ada alur (walaupun ada juga yang serasa hiper dalam pemilihan kata atau dalam penggambaran keadaan). Alur yang tidak diada-adakan itulah yang membuat pikirannya ringan bekerja, mengalir dan cepat menghasilkan karya.

    Apalagi Hirata seorang pekerja keras dengan tekad yg luar biasa(kalau tidak salah saya membaca karakternya). Ia yakin dengan kekuatan mimpinya, keterwujudanya. Hasilnya? Bisa dilihat sendiri.

    Soal imajinasi, bukunya emang imajinatif banget, banyak menggunakan personifikasi atau metafor-metafor. Soal kekuatan imajinasi ada di https://perempuannya.wordpress.com/2008/01/16/I-m-aj-i-n-a-s-I-baca-imanjinasi/

    Pokok pikirannya menyerupai buku “kekuatan alam bawah sadar” atau Freudiankah?. Bukan sebuah kemustahilan. Justru mungkin itulah buku dari sekian banyak buku yg paling menginspirasinya (selain guru bahasa/sastra Indonesianya pak Balia yg mengenalkan Paris lewat sastra yag membuatnya bermimpi ke Paris). Tetralogi keduanya saja judulnya “Sang Pemimpi”. Artinya Hirata mampu mengejawantakan gagasan buku “kekuatan alam bawah sadar” itu dari waktu kewaktu (tetraloginya).

    Ada apa dengan pikiran? Selain hati inilah yang menggerakkan manusia. Sampai bisa muncul kta-kata; “Tindakan yang positif itu berawal dari pikiran-berpikir positif” atau sebaliknya.

    Ya mungkin pada pandangan orang lain yg lainnya saya terjebak. Itulah yg saya pikirkan ketika pertama kali di 2005 sya baca buku itu. Apakah Kick Andi (Salah satu acara di MetroTV) juga terjebak? Ketika memilih Hirata menjadi bintang tamu, sampai siaran tersebut diulang-ulang? Atau bahkan majalah/koran, Malaysia (Novelnya hirata best seller juga di Jiran), Amerika, Inggris juga terjebak ketika akan mencetak bahkan akan memfilmkan tetraloginya? Mungkin….???

    Hirata dan bukunya saya pikir sulit dipisahkan. Tetraloginya saya kira adalah upaya untuk membangkitkan atau membuat orang lain percaya dengan kekuatan pikiran, disana ada mimpi-imajinasi yang bisa memotivasi. Lalu media yang paling mudah untuk mengajak dan membuat orang lain mengikuti jejak/melakukan sebuah laku/tindakan adalah dengan contoh (bahasa rasul si uswatunhasanah).

    Bagaimana bisa pembaca mempercayai kekuatan pikiran (mimpi-imajinasi) ketika pengalaman itu bukan berasal dari dirinya sendiri atau setidak-tidaknya ia sudah melakukan hal yang sama dengan apa yang di tulisnya, bukan orang lain (ya meskipun Freud merumuskan alam bawah sadar dari hasil experimen dan eksplorasi pasien-pasiennya).

    Sam Zal, inilah pendapat subyektif saya.
    Makasih ya dah mau kasih komentar 🙂

  7. ::bukan freudian, kalau engga salah anthony hings, tks, juga untuk mengulasnya 🙂

    * * * * *
    Perempuan:
    Oh… saya ingatan saya langsung pd Freud, soalnya Freud juga sempet ngebahas alam bawah sadar itu, hiks…..
    Btw sam Zal, kenapa ga diulas sekalian Anthony Hings, aku lum tau lho tntg AH 🙂

  8. kapan yah postingan selanjutnya?
    maaf, saya sudah tidak sabar !
    karena saya juga mengidolakan Andrea Hirata
    😀

    • @mbak Fitri>>>
      postingan selanjutnya tentang andrea? waah kapan ya:D
      terimakasih mbak apresiasinya 🙂

  9. Setuju.
    Meski sy belum pernah membaca karyany alias baru menikmati dari hasil yang difilmkan, tapi itu sudah sangat menggugah. Sy kembali tersadarkan akan mimpi2 yang pernah sy tuliskan. Perjuangannya memamng harus luar biasa.
    Sy jd pengen cepet2 lanjut baca edensor yang sempat menggoda saat bertandang ke Gramedia…..>.<


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: