Oleh: Ningrum | 3 Februari 2008

Noe Letto, Mahasiswa dan Demokrasi

“Obyektivitas dan Kejujuran itu Mahal” menyadur Noe, vokalis Letto beberapa waktu lalu pada saat akan manggung. Hmm… jarang saya mendengar hal semacam itu dari komunitas ngepop yang se-generasi dengan Letto (Ah jadi ingat bang Iwan Fals dengan Orang Indonesia-OI nya). Cayo OI !!Balik ke Letto. Letto? Grup musik dari Jogya itu? Ah Yogya selalu membuat rindu. Yogya, padamu aku rindu. *belum apa-apa kok ngelantur seeh*.

Tapi bloggers, tulisan ini bukan akan membahas sejarah Yogya tempat mendiang leluhur ibu saya. Tidak juga bicara Letto yang dimotori Neo, putra budayawan cak Nun atau Letto secara keseluruhan termasuk lagu-lagunya yang sebagian saya sukai. Yang akan dibahas adalah “Mahalnya Obyektifitas dan Kejujuran” itu dalam demokrasi.

Saya Sepakat dengan Letto. Itulah kenyataan demokrasi merah putih kita secara umum, khususnya juga pada Musyawarah Umum (MU) salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berslogan Garda Idealisme Mahasiswa itu pada akhir januari 2008. Tepatnya di kampus dimana saya menjadi undangan atau peserta peninjau alias bukan peserta penuh, yang berarti tidak punya hak suara dalam memilih kandidat-pemimpin. Ya, peninjau hanya punya hak bicara dalam pembahasan dan perumusan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) UKM dan berkewajiban mematuhi tata tertib persidangan MU UKM yang telah disepakati oleh peserta sidang.

Bicara organisasi-komunitas kecil ataupun yang lebih besar seperti partai politik, bahkan wilayah negara, akan didapatkan gambaran permasalah yang tidak jauh berbeda, selalu ada benturan, perbdaan bahkan mungkin juga pertentangan pendapat. Kalau soal tingkat dan macam kesulitan yang dihadapi tentu saja beda sesuai dengan cakupan dan kekuasaanya.

Yang menjadi perhatian saya dari hal tersebut adalah pengaruh kuat sebuah ke-kami-an atau ke-wadah-an dalam keobyektifan dan kejujuran. Jika seorang subyek sudah memiliki ikatan psikologis, ideologi atau kedekatan-kedekatan sejenisnya terhadap sebuah wadah, kecenderungan yang akan muncul adalah unobyektiv terhadap pruduk-produk dari komunitas lawannya. Termasuk di dalamnya adalah; cara kerja, karya, cara berfikir, juga personil atau awak dari organisasi tersebut. Ketidak setujuan dan penentanganlah yang akan ada pada ketidak-obyektivitasan itu. Artinya, komunitas beserta ideologinya (jika punya) berpotensi besar meracuni obyektivitas dan kejujuran diri (terkecuali bagi yang tidak).

Dalam prakteknya, ternyata demokrasi yang relatif lebih baik dari sistem lain pun tak bisa sepenuhnya menyelamatkan obyektivitas itu. Itulah gambaran ril demokrasi. Kita semua tahu, aspek formal dari demokrasi itu ada dalam pengambilan keputusan yang dicerminkan oleh sila keempat yakni “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaranan perwakilan”.

Sila tersebut pun menjadi salah satu prisip demokrasi; pengambilan keputusan dengan musyawarah mufakat. Ternyata sila keempat ini kembali menemui kebuntuan. Bahkan sering mengecewakan. Terutama dalam kesempatan MU, ketika harus menempuh jalan terakhir setelah tak terwujudnya musyawarah untuk mufakat, yakni voting (pengambilan suara terbanyak), yang sering dibahasakan setengah plus satu untuk bisa menggolkan atau menyepakati sebuah rumusan redaksi-hasil keputusan atau dalam menentukan pimpinan. Tak jarang obyektivitas akan terombang ambing dan mudah tumbang, begitupun dengan kejujuran.

Jangankan dalam forum atau sidang, dalam sebuah praktek yang berasaskan Langsung Umum Bebas Rahasia (luber) saja bisa dikondisikan dan dihitung atau diprekdisikan di atas kertas sesuai dengan keinginan pemilik “amunisi” politik dan pembuat peta kekuasaan.

Itu jualah yang membuat salah satu peserta peninjau kecewa dan tak menyelesaikan sidang;walk out dari MU UKM (organisasi intra kampus) tersebut. Yup dengan ijin pimpinan sidang untuk interupsi sebelumnya, “Mohon bicara pimpinan sidang. Untuk peserta sidang yang hadir, pilihlah pemimpin secara obyektif sesuai dengan kenerjanya selama bergabung dengan UKM ini, keputusan kalian hari ini akan menjadi penentu jalannya, baik tidaknya UKM ini setahun kedepan, jujurlah pada diri sendiri” kata dia. Sebelum itu, ia meninggalkan forum dengan sebuah provokasi yang dimaksud untuk menyelamatkan yang sebagian yang belum terpengaruh. Hal itu dilakukannya berdasar pembacaan gelagat tak baik dalam sidang. Beberapa orang sudah melakukan gerilya. Permainan, strategi dan provokasi telah merasuki sebagian peserta sidang.

Agh…Hanya karena adanya hasrat berkuasa yang kuat, kehendak bereksistensi sekaligus menyerang lawan, meletakkan pertimbangan kesamaan wadah ekstra kampus diatas kepentingan keberlangsungan lembaga intra. Kerja-kerja setahun kedepan sebuah lembaga intra kampus ini telah menjadi tumbal. Saya pun ragu pada kandidat yang diusung sebagian mereka, rekan-rekannya tiba-tiba saja berdatangan (telat) dan minta maaf dengan alasan mengikuti sebuah kegiatan lainnya. Yang terlihat jelas adalah ego kesamaan wadah, tanpa memperhatikan loyalitas, kompetensi dan hasil kerja-kerja yang bersangkutan selama setahun lalu ketika ia bergabung/bertugas.

Ajaib!! (sebenernya biasa si, gak ajaib) prediksi tak meleset, tengah malam saya dihubungi pemimpin UKM demisioner, ia pun menyebutkan nama pemimpin periode berikutnya. Agh demokrasi, menapa kau mengecewakan lagi….

Jadi tersering hasil dari demokrasi itu sendiri telah didahului kecacatan proses. Lebih disebabkan adanya alternatif suara terbanyak. itulah salah satu sebab kuat mengapa kandidat beserta tim suksesnya hanya terlihat berorientasi dan berkosentrasi terhadap pencapaian jumlah-kuantitas dan sering mengacuhkan kualitas dan hal-hal yang dianggap perlu untuk memajukan organisasi.

Jabatan pemimpin sangat sering diperebutkan dengan cara-cara yang “nakal”. Padahal jika disadari adalah tak mudah menjadi pemimpin. Bersedia bertanggung jawab. Siap memikul dan menjalankan program kerja, visi, misi dan rekomendasi-rekomendasi hasil sidang yang telah disepakati. Juga siap mempertaruhkan diri dan namanya.

Akhirnya, lalu, di mana bukti kemahalan obyektivitas dan kejujuran itu? Ya ada di komunitas itu, pada demokrasi, di negeri ini. Pada jarang dan tak mudahnya mendapatkan keduannya. Sekali lagi, dalam kasus kali ini Noe Letto benar “Obyektivitas dan Kejujuran itu Mahal”.

Salam

Perempuan

Iklan

Responses

  1. saya ndak pernah mendewakan demokrasi mbak kalo para pendamba demokrasi justru sering ndak objektif dan jujur seperti yang diungkap oleh letto itu, coba deh mbak kita lihat carut-marutnya pelaksanaan demokrasi di negeri ini. kenapa setiap pemilu justru menghasilkan kaum yang elitis dan makin menjauh dari rakyat? kenapa tidak berhasil memilih wakil rakyat yang punya wisdom dan kearifan? arghh … apalagi kalau mayoritas pemilihnya justru para “bormocorah”> la iyalah pasti mereka akan milih “boromocorah” pula. negeri ini perlu membagun budaya demokrasi yang paling mendasar. objektif dan jujur itu tadi. *walah, maaf kalo sok tahu ya mbak, hiks*

    * * * * *
    Perempuan:
    Bang Sawal sok tahu? Ya gak lah bang, dah bener tuh analisanya 🙂
    Yup, jangankan di negara dengan karakter juga tingkat pendidikan yg sangat majemuk. Pada ingkup yg lebih kecil (Kampus, di Unit Kegiatannya) dan dikenal (bisa bener bisa gak) dengan kaum demokrat, intelektual dan idealis saja “obyektifitas dan kejujuran” itu masih carut-marut (seperti di postingan saya kali ini). Kualitas, visi, misi, kompetensi dan loyalitas calon pemimpin ternyata tak menjadi yang utama. Yang dipilih justru yang bukan itu.

    Soal wakil rakyat yang wisdom dan penuh kearifan itu, kemungkinan umumnya sudah di cut di partai ketika seleksi. Karena biasanya yang “obyektif dan jujur” itu susah diatur, susah kompromi, gak setuju kalau diajak makan yang bukan haknya. Karena dianggap bisa mengganjal atau gak kompak, jadi disingkirkan. Dan ada kemungkinan lain-lainnya. Akhirnya ya kira-kira seperti yang Bang Sawal bilang, “bormocorah” itu adanya.
    Masih perlu pendewasaan dan pendidikan berpolitik ni bang.*Haiyah* 🙂

  2. argghhh ,.. komenku lagi2 ketelen akismet mbak. payah, apa salah dan dosaku yak setiap kali komen di blog temen mesti mengalamai nasib seperti ini. arghhhh ….

    * * * * *
    Perempuan:
    Dah dibebasin semuannya, merdeka bang!! 🙂
    Dosa? wah ndak berni jawab, bukan otoritas saya untuk menjawabnya bang, hehehe

  3. dalam demokrasi menurut saya yang mahal itu adalah mengorbankan kepentingan pribadi.
    kalau suara sudah bulat dalam mufakat kenapa lagi masih mempertanyakan hasil yang di dapat, bukannya yang ada tinggal menjalankan keputusan. tapi kalau keputusan diambil berdasarkan voting maka akan ada yang merasa kalah karna tak memiliki suara lebih banyak. tapi kalau itu terjadi bukannya karna masing2 yang bermusyawarah itu tak lagi mengerti arti hikmah yang seharusnya menjadi pemimpin dalam musyawarah. saya sebenarnya tak mengakui voting adalah contoh dari penyelesaian dari musyawarah yang di pimpin oleh hikmah. jika yang bermusyarah mengerti akan arti hikmah maka masing2 orang akan mampu mengorbankan diri demi keputusan yang mementingkan persatuan.

    pada intinya saya mau bilang seandainya hasil musyawarah tak memberikan hasil yang mufakat dikarenakan karna yang bermusyawarah tak dapat disatukan. perpecahan terjadi karna masing2 manusia yang bermusyawarah hanya merasa keadilan jika keinginan diri sendiri terpenuhi.

    jadi hal itu yang membuat saya berfikir di dalam demokrasi yang mahal itu mengorbankan kepentingan pribadi.

    😀

    pakabar mbak?
    huhuhuhu

    * * * * *
    Perempuan:
    Sudah menjadi hukum kepastian, ketika kita bergabung dengan institusi, sekelompok orang atau bahkan ketika memiliki sahabat pun kita harus siap mengorbankan kepentingan pribadi untuk kebaikan bersama.

    Soal demokrasi, ya begitulah seperti judul postingan ini. Kerap kali kepentingan kelompok itu dipaksakan. Artinya kelompok tersebut tak perduli dengan kapasitas ataupun kualitas yang ia punya. Padahal secara kasat mata loyalitas dan segala visi, misi, kualitas dsb itu ada di kelompok lain yang juga memiliki kandidat. Tapi mereka tidak mau mengakui itu (tidak obyektif).

    Saya kira menang kalah itu juga biasa, semua harus siap menerima kemungkinan ini jika sudah berani bertanding. Tapi yang menjadi persoalan adalah proses dari memenangkan dan mengalahkan itu. Cara-cara yang digunakan tidak “bersih” jauh dari kejujuran.
    Hasil pada demokrasi postingan ini, selisih suara hanya satu. Cara dan kekalahan sebenarnya sudah dihitung diatas kertas oleh pihak yang menang. Karena mereka tahu maka dilakukanlah aksi penculikan peserta secara halus. Tujuannya mengurangi suara pihak yang dianggap lawan untuk memenangkan pertarungan. Bisa dibayangkan kan bagaimana kedepannya? Terutama dalam pelaksanaan tugas. Sebab, orang-orang yang sudah terbukti keloyalan dan kualitasnya bukan di pihak yang menang. Melainkan ada di pihak yang di kalahkan secara tidak fair.

    Mbak?Walah2 kok nambah lagi yang panggil mbak. Keberatan saya dipanggil mbak, Panggil puan saja ya 🙂

  4. “Noe Letto, Mahasiswa dan Demokrasi Ningrum di Blog Perempuan (Nya)” was indeed a remarkable article
    and thus I really was extremely pleased to discover it.
    Regards-Vaughn


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: