Oleh: Ningrum | 18 Februari 2008

Angin dan Kepastian Entah

Angin….Kemanakah kau berhembus saat ini? Bahagiakah kau menyusuri malam dan siangmu? Syukurlah….
Angin…Tanah coklat masih di sini, mengkhidmati rindu, bernostalgia dengan sisamu, bermain dengan sandi. Asal kau tahu, saat ini tanah itu bebal, tak perduli pada tanda yang kau sematkan padanya. Karena bebal, ia tak percaya dengan yang dilihatnya, ia tak mau membunuhmu. Ia menginginkan kata benci dan makianmu padanya, cepat katakanlah!Angin….Katakan juga padanya, kabarmu ketika melewati perbukitan nan sejuk, sahara yang menyengat atau saat di langit nan luas tempat kau memprasastikan keluluhan hatimu.

Angin….Sesekali turunlah, terbangkan capung, sentuh ilalang, hempaskan daun kering, buatlah pasir itu berbisik atau sekedar menyelusup ke pori tanah sebagai tanda hadirmu.

Angin….Apakah ketaksudi-an sudah kau hujamkan di hatimu sekedar untuk menyapa? Sekedar berbagi cerita petualangan bahagia atau prahara cintamu dengan yang ada di langit, tak sudi juga kah kau berkisah pada tanah ini?

Agh untuk angin….Mungkin tanah ini memang terlalu naif. Terlalu tak punya arti. Terlalu tak pantas. Terlalu tak penting. Terlalu biasa. Ya, karena memang tanah ini biasa. Yang terlalu biasa untuk mendengar dan menikmati hembusan angin yang lebih berbahagia di atas. Laranya tanah ini, menyentuh dan melihat wujudmu, tak bisa, tak biasa….

Angin…. Ajaklah tanah ini terbang mengenali kekasihmu, menyusuri rasamu. Tapi apakah angin mau? Entah, yang pasti tunggu dulu datangnya angin dan tanyalah padanya. Kapan? Entah, yang pasti selagi bisa dan masih ada waktu Sampai? Entah, yang pasti entah….

Iklan

Responses

  1. walah, kalau jawaban “entah” itu biasanya pertanda sedang ambigu *halah sok tahu ya mbak puan*, hiks. Bimbang dan ragu, dibayang-bayangi perasaan penuh harapan, tapi tak tahu mesti bagaimana memulainya. “Entahlah!” aku sendiri ndak tahu jawabannya, mbak, hehehehe 😆 BTW, puisi naratifnya indah banget, Mbak, bisa jadi saingan beratnya andrea hirata, hehehehe 😆

    * * * * *
    Perempuan:
    Duh Bang Sawal jangan panggil saya mbak. Nanti saya malah yang kualat, heehe….
    Akan ada banyak interpertasi yang akan muncul dari sebuah kata, apalagi puisi yang merupakan kumpulan kata-kata itu, bisa menjadi kumpulan2 makna2.*haiyah*
    Harapan tanah dalam puisi itu, semoga angin berbahagia selalu pada yang ditujunya ….

    Saingan berat bang Andrea Hirata? Wah berlebihan kayaknya, Kalau bang AH jelas pijakannya sains dalam bermetafor, bernarasi dan berargumentasi. Lah kalau saya? Belum jelas berdiri dimana, masih kesana kemari. Apa iya sains? apa iya religi? apa iya sosial-humanity?. Apa bisa ya bikin Pancalogi? *emang ada?mimpi ei* 🙂

  2. angin itu datang dan pergi sesukanya
    jadi jangan di tahan
    nanti malah masuk angin
    huhuhuhuh

    maap oot nya kumat.
    😀

    * * * * *
    Perempuan:
    Datang dan pergi sesukanya? Selalu begitukah angin?
    Masuk angin? Kalau orang pintar minum tolakangin. Kalau yang gak pake pintar minum bintangin *heeehe iklan tv sedang sibuk-perang, ngrebutin sebutan yang gak pintar dan pintar*

    Oot? Gak oot kok sam, hanya tergesa menuliskannya atau mungkin ada yang sedang menggangu pikiran 🙂

  3. Perempuan…, salam kenal dari Jogja nih….
    Apakah perempuanku ini sedang rindu pada seseorang ? Hati-hati aja asal jangan kena “Angin Malam” ya….ntar masuk angin lho….
    Salam,
    Listiana Lestari.

    * * * * *
    Perempuan:
    Lam kenal bali mba dari saya 🙂
    Rindu Yogya mbak :-), makasih atas sarannya, jarang-jarang soalnya ada yang mau kasih saran, tnx mbak.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: