Oleh: Ningrum | 18 Februari 2008

Originalitas dan Batik karyaku

Originalitas adalah sesuatu keadaan yang menunjukkan sebuah keaslian. Kali ini yang dimaksud tersebut adalah hasil karya. Saya percaya jika bloggers dalam ngeblog ataupun dalam media selain blog memiliki keinginan kuat untuk menjaga dan menghasilkan sebuah keoriginalan karya-kreatifitasnya. Alasannya adalah percaya dengan kemampuan diri. Juga belajar sesuatu itu, apapun dan bagaimanapun bentuk-hasil dari kreatifitasnya.

Sederhananya si, memanfaatkan yang ada di diri, menghargai diri. Dan jika itu selesai dilalui dan menghasilkan sebuah karya yang baik atau buruk sekalipun, hal tersebut akan lebih memberikan kepuasan tersendiri. Jika dibandingkan dengan ketak jujuran pada kegiatan menjiplak karya-karya lain. Tapi bukan berarti saya menghilangkan rumus kemungkinan-kemungkinan kesamaan ide, karakter, karya, prinsip, cara pandang satu blogger dengan blogger lainnya lho.

Pernah tersadari tidak? Bahwa ternyata keoriginalan kita itu bukanlah sebuah keaslian. Mengapa saya sebut demikian? Karena sebelumnya diri sudah memproses informasi yang pernah masuk, baik secara disengaja atau tidak. Kita sebut saja itu dengan input. Input yang berasal dari Al-quran, injil, weda, pemikiran orang-orang besar, orang-orang terdekat, dari orang yang tidak respect dengan diri atau bahkan dari onggokan sampah. Semua itu adalah sebuah informasi atau pesan kepada diri, berarti-terpikirkan atau tidaknya tergantung pada diri mau memaknainya atau tidak.

Kemudian, berbagai macam input tersebut suatu ketika akan menjadi output yang merupakan olahan dari bermacam bentuk informasi yang mampir di otak-ingatan. Output inilah yang akan membantu kita dalam mencipta atau bisa juga output itulah karya.

Blogger, hal ini terpikirkan lagi ketika belajar singkat membatik (membuat batik tulis) di Museum Textil di kawasan Tanah Abang Jakarta Pusat minggu lalu 11-2-2008. Sedikit informasi, eksterior museum mengingatkan pada Yogya. Desain tiang berlampu khas Yogya dan beberapa pohon beringin seperti di alun-alun. Suasananya sejuk, serasa bukan di Ibu Kota saja. Aku rindu Yogya! *gak usah diterusin deskripsi suasananya ya, ntar melantur*

Rupiah sejumlah 30 ribu untuk biaya administrasi mampu menjadikan diri PD-OD (percaya diri yang over dosis, bisa juga disebut ketakmau tahuan akan ke-tak tahu-an diri akan mebatik). Rasanya seperti mengikuti lomba menggambar ketika menjadi utusan sekolah ketika SD. Karena PD-OD itulah diri menolak menyontek tumpukan kertas yang bergambar bermacam-macam contoh motif batik yang disodorkan petugas. Ketaktahuan-kebutaan akan macam-macam batik tak menghilangkan ke-ngeyel-an (baca:keukeh:ngotot) untuk tetap membuat pola dasar sendiri.

Sejadi-jadinya lah menggambar, kemudian dilukis menggunakan lilin dengan kemampuan yang minim pada kain mori yang tidak terlalu lebar. Ke- ngeyel-an diri ternyata menghasilkan bermacam-macam motif, maksudnya biar rame-bhineka tunggal kain. Output-hasil lukisan yang dililin beralat canthing tak terlalu mengecewakan (ukuran subyektif, PD-OD juga) tapi menurut orang lain mungkin buruk, hee…

Gambar yang sudah jadi sampai proses pengikatan dan pewarnaan tak jauh dari bentuk lingkaran, daun, bunga, garis, kotak, oval, bulat, rumbai-rumbai, percikan kembang api, lengkungan, sudut segi tiga sama kaki dan sisi dengan berbagai derajat kemiringan. Ternyata, usaha untuk me-originalkan karya tidak berhasil, walaupun sudah ber modal ke-ngeyel-an diri. Hal ini pun pernah terjadi ketika SD, menggambar bunga kesukaan dengan bentuk tidak lazim, persegi empat, persegi panjang, kadang juga segi tiga bersudut agak tumpul dengan lingkaran kecil di tengah,.

Lukisan batik-gambar itu masih menggunakan dan menyambung selaraskan bentuk-bentuk yang pernah mampir di otak. Mulai dari seni, biologi-alam, fisika sampai matematika. Bahkan motif yang sering saya gambar dan anggap motif batik sejak sekolah dasar hingga menengah pun tergoreskan lagi dengan modifikasi secara otomatis.

Jadi bloggers, tampaknya tak ada yang original di pikiran. Yang sedang dipikirkan atau yang keluar dari sana ternyata hasil olahan kumpulan informasi-informasi yang pernah ada di luar diri. Masih tetap originalkah? Bukankah lebih tepat disebut modifikasi? Modifikasi yang tentu bernilai untuk diri, mungkin juga atau jika bisa- bermanfaat untuk orang lain.

Salam Kip Berkreasi


Responses

  1. mungkin tepatnya modifikasi yang unik. sesuai dengan karakter atau kepribadian penggambar batik. *barangkali* 8)

    Perempuan:
    Mungkin juga ya unik, pengennya si unik🙂.
    Tapi ndak tahu apa benar-benar unik apa gak?

  2. Lukisan batik-gambar itu masih menggunakan dan menyambung selaraskan bentuk-bentuk yang pernah mampir di otak. Mulai dari seni, biologi-alam, fisika sampai matematika.

    dan tradisi gini dilupakan oleh kita semua, tradisi yang membuat manusia menjadi lebih menghargai dirinya dan alam sekitar… kita lebih terpaku pada instan maniaks dari pada menelusuri makna dibalik alam

    * * * * *
    Perempuan:
    Bettull bang! batik tulis cap ngeyel, tanpa pakem tertentu yang dibuat diri itu adalah sebuah upaya menghargai diri dengan menggunakan informasi dan memadupadankannnya. Ada juga si upaya keluar dari ke umuman informasi, tapi hasilnya tetap saja, yang tertuang di sana berasal dari alam, dari yang ada.

  3. setuju mba, tanpa ada input dari luar sulit membayangkan apa yg akan kita hasilkan bahkan apa yg kita pikirkan.

    * * * * *
    Perempuan :
    Yap sam, informasi itu yang menstimulasi pikiran untuk bisa berkreasi. Barangkali semakin banyak informasi, semakin bisa juga kita memodifikasi informasi2 itu

  4. Hm… menghasilkan sesuatu yang original memang membutuhkan energi dan pergulatan batin yang panjang

    * * * * *
    Perempuan:
    Cak, kalau menurut pendapat saya, koq keknya gak ada yang original pada manusia ya, yang ada hanya proses kreatif, bukan mencipta yang sebelumnya tak pernah ada (originalitas).Yang ada hanyalah modifikasi, perangkaian dan pertautan dari yang ada.
    Originalitas? Nating, sekalipun itu pemikiran yang dilahirkan oleh orang-orang besar. Karena merekapun berkarya dengan masih menggunakan informasi yang pernah ada.
    Tapi bukan berarti tak berharga, sangat berharga. Karena mereka sudah memanfaatkan akal dan mungkin juga hati mereka untuk berkarya, terus bekarya.

  5. sudah baca belum tentang kepusingan para pengajar di Inggris karena anak2 didiknya pada demen jadi plagiat?
    Ya dan tulisan2mu mulai menunjukkan siapakah sejatinya dirimu……..

    * * * * *
    Perempuan:
    Belum sam, saya belum baca😦
    Sejatiku? saya juga masih terus mencari kok sam🙂

  6. visit my blog
    http://jerzz.wordpress.com/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: