Oleh: Ningrum | 8 Maret 2008

Karamah

Postingan kali ini didedikasikan kepada ibu dan ayah Karamah, para calon orang tua atau pasangan muda yang baru saja menikah yang berencana atau sudah memiliki anak dan atau siapa saja. Postingan kali ini adalah upaya menguatkan pernyataan atau menghadirkan bukti bahwa pola laku-pembiasaan pengajar pertama, orang tua atau orang terdekat anak sangat menentukan bentukan kemampuan, siapa dan bagaimana anak itu. Benar jika anak adalah kertas putih yang siap dibubuhi atau digambar dengan berbagai bentuk.

Sebenarnya, saya hanya bercerita keterkesanan dari hasil pengamatan pada sebuah obyek, tepatnya pada Karamah, batita yang berumur belum genap dua tahun bertumbuh kembang. Keterkesanan saya tertuju pada jumlah perbendaharaan kata atau penggunaannya dalam memberikan respon balik terhadap lawan bicaranya, sehinga yang tercipta ketika kita berbicara dengan Karamah adalah sebuah gambaran keinteraktifan. Artinya, Karamah sudah mampu menterjemahkan maksud pengutara kata yang bertuju padanya. Biasa memang, tetapi tidak untuk batita seumurnya (ada tapi tidak umum atau jarang). Karamah sangat komunikatif juga sumeh (baca: murah senyum, ramah, bersahabat) membuat setiap orang yang bertemu dengannya gemes, menyukai dan terkesan.

Karamah juga mampu mengidentifikasi sesuatu yang beda atau yang sama bahkan yang mirip seperti, walaupun obyek yang diidentifikasinya tak bersanding, tak berwujud nyata dihadapannya. Kemampuan ini saya sebut atau golongkan sebagai kemampuan analisa dasar pada proses pembelajaran-tumbuh kembang yang pada suatu waktu nanti akan berkembang ke kemampuan menganalisa masalah untuk mendapatkan pemecahan masalah atau jalan keluar.

Kebisaan Karamah lainnya adalah bersenandung shalawat nabi dengan nyaris sempurna, menyanyikan berbagai lagu, berhitung dan menghafal huruf hijaiyah dan abjad. Oh iya Karamah juga tampak lebih memilih buku atau majalah untuk dieksplorasi, lalu dengan semangatnya Karamah akan menyebutkan maksud dari gambar di dalamnya. Ia juga lebih sering menggambar bentuk atau menuliskan apa saja daripada bermain boneka. Kata “apa ni?-apa tu? lihat” juga sering diutarakannya untuk sesuatu yang belum diketahuinya. Lainnya, tak lagi mengompol dan disiplin gosok gigi sebelum tidur, ia sudah bisa melakukannya sendiri.

Ternyata, kemampuannnya itu tidak lahir begitu saja. Ada sebuah “sistem” yang menciptakan Karamah menjadi yang seperti saat ini. Ada sebuah pola didik yang ditanamkan orang tuannya dengan maksud membentuk dan memprsiapkan Karamah nantinya. Sunguh usaha yang sangat berarti dan bernilai dari orang tuannya. Saya percaya, Karamah sangat mungkin tidak akan seperti Karamah saat ini, jika ia tumbuh dan berkembang pada subyek (orang tua atau pengasuh) lain.

O ya ada sebuah catatan, kebetulan Karamah mendapatkan pendampingan dan pengawasan penuh dari ibunya yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga dengan ayah yang bekerja. Tampaknya ini pun patut dipertimbangkan. Saya coba membayangkan jika ketika masa pertumbuhan 0-6 tahun (masa penting) anak diasuh atau lebih dekat dengan baby sister misalnya atau mbak-mbak yang diamanahkan untuk menjaga. Saya kira hasilnya akan jauh berbeda.

Jika ibu yang merawat, ia akan memikirkan efek psikologis apa (kedepannya) ketika ia melakukan sebuah tindakan kepada anaknya. Jadi seorang ibu akan jauh lebih hati-hati dari pada baby sitter, terutama pada saat melakukan sebuah tidakan, mengingat kejiwaan anak dan kemampuan dahsyat anak dalam meniru segala hal yang baik dan buruk tanpa pemilahan. Seorang ibu berkeinginan besar mengarahkan, menambah dan mengasah kemampuan atau kecerdasan anak lewat berbagai media atau cara, apakah ini bisa ditemukan pada mbak-mbak yang diamanahkan menjaga anak?. Seorang ibu akan berusaha memberikan yang terbaik dan menanamkan-mengajarkan nilai-nilai yang positif atau etika kesopanan dan sejenisnya, apakah ini juga terperphatikan oleh mbak-mbak yang dipercaya menjaga anak?.

Salam bahagia buat ibu dan ayah Karamah.

Iklan

Responses

  1. Menulis diatas kertas yang masih putih lebih mudah…yang penting tulisn yang hendah dicantumkan sudah ada dikepala…dan hasilnya ya…kayak karamah…masih kecil…anak anak seusianya akan menangis bila disuruh gosok gigi sebelum tidur, atau akan meninggalkan ompol setiap bangun tidur..tapi karamah memang berbeda..dia akan tersenyum setiap bangun tidur..dan terus ke kamar mandi…untuk pipis…jempolan…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: