Oleh: Ningrum | 31 Maret 2008

Idealis Vs Realis

Agak kesulitan saya dan akan menjadi sebuah perdebatan panjang saya kira jika keduanya dimulai dan atau sekalipun diberhentikan pada domain istilah atau pengertian secara bahasa. Jadi, pada kesempatan ini hanya akan dipaparkan lebih melalui contoh nyata juga analogi.Menjadi idealis atau menerapkan-melakukan hal-hal yang semestinya, sesuai dengan aturan tertentu dengan tujuan menertibkan dan mengatur, menempatkan yang benar di tempat yang benar, bukanlah serupa perkara memasak mie instan. Dimana keinstantan tersebut bisa dikata menjadi pilihan favorit, karena mudahnya proses, cepat dapat memenuhi tujuan yang ingin dicapai.

Sekali lagi, idealis bukanlah memasak mie instan. Idealis adalah pergulatan berat batin, pelaksanaannya kerap mendatangkan peperangan dengan yang realis; kenyataan. Subyeknya kerap menuai cibiran mungkin juga cacian atau disisihkan.

Yang realis tersering menggoda, mengganjal dan menjadi lawan yang idealis. Realis tersering menjadi satu-satunya alasan, pelumrahan, pe-umum-an dan pe-wajar-an, menjadi jalan bebas hambatan bahkan pembenaran-pembenaran dari yang sesungguhnya tidak benar.

Ini kasuistis, terjadi pada teman saya (bukan berarti saya mengeneralisasikan yang ada di politik itu tidak idealis, tapi realisasinya masih tetap terus menjadi pertanyaan saya). Seiring berjalannya waktu dan mungkin perubahan pada cara pandang mungkin juga terpengaruh lingkungan atau keadaan, atau bahkan terdesak kebutuhan, yang dulunya idealis, kini kawan-kawan pun memilih untuk merintis kedekatan dengan elit politik, jalannya macam-macam. Ada yang bisa menjadi tim sukses (TS), anggota tetap partai, menjadi broker setiap pemilihan kepala daerah (memilih mengolah mie instan). Lainnya, bersedia menjadi robot yang selalu digerakkan dengan remot kontrol. Rela menjadi bayi yang terus disuapi.

Mau tahu mengapa ia melakukan itu? Alasan adalah hal tersebut merupakan sebuah ke-realistis-an hidup. Kata idealis untuk mencapai tujuan yang di elu-elukan saat mahasiswa tampaknya mulai redup di benaknya.

“Ngapain idealis?, idealis sudah tidak jamannya, sekarang ini kita harus berfikir dan bertindak realistis” kata Ys kawan saya. Sepertinya hal yang ia pilih dianggap lebih realistis untuk bisa atau cepat mendatangkan, mendukung atau menjamin hidup dan kepentingannya. Sehingga bagi kawan jauh lainnya bisa melancongkan diri ke negeri singa putih sebagai hadiah dari kepala derah yang merasa dimenangkan oleh tim sukses.

Ya begitulah, hidup dan caranya adalah pilihan. Pilihan yang juga tentu memiliki konsekwensi logis.

Lainnya, yang ideal sebuah proses demokratisasi itu diljalankan dengan cara-cara yang semestinya dengan prinsip jujur dan adil (jurdil) dengan asas yang sejak lama telah disepakati di merah putih kita yakni: langsung, umum, bebas dan terjaga kerahasiaannya (luber). Hal tersebut tampaknya hanya dianggap angin lalu, terutama menjelang pemilihan kepala derah, kepala daerah incumbent (yang sedang menjabat sebagai kepala daerah) kabupaten dan akan mencalonkan diri menjadi orang nomor satu di propinsi, terlihat cukup sigap berkampanye walaupun belum waktunya serta mengamankan barisan timnya.

Ya, kekuasaan membuat manusia ingin memapankan dan memperluas kekuasaanya, lupa diri dan berkecenderungan memiliki tangan besi.

Camat dan lurah yang terlihat tidak sejalan baru-baru ini disingkirkan, dicopot dan diganti dengan orang yang bisa di setel. Hingga seorang sekertaris camat, perpanjang tangan-an camat pun sangat merasa bertangung jawab untuk memenangkan bakal calon gubernur yang sekarang masih menjabat bupati. Padahal semua warga, termasuk birokrat-aparat pemerintah punya hak yang sama dalam undang-undang untuk bebas menggunakan haknya; suara untuk memilih, tapi kenyataanya? Seperti dipaksa harus memilih si X, jika tidak ingin dihadapkan pada mutasi atau dicopot jabatannya.

Saya pikir, proses pemilihan kepala daerah yang baru akan (belum terlaksana), sudah cacat proses. Tidak fair. Ada kesan penseragaman awal suara konstituen, penyelusupan tim sukses pada panitia pelaskana formal (yang telah diatur undang-undang:KPU,PPK, PPS, bisa jadi pada KPPSnya). Memingrkan, melupakan visi misi dan pemaparan tawaran konsep perubahan, demi perbaikan daerah sebagai dasar konstituen untuk memilih.

Yang terjadi justru sebaliknya, pemunculan, penguatan, propaganda dan pengarahan kosentrasi calon pemilih (masyarakat) kepada isu kedekatan psikologis, isu kesukuan dan simbo-simbol kedaerahan. Kalaupun ada yang mengusung kebersamaan pun rasanya hambar, karena tetap menyertakan simbol keasliannya-daerahnya tanpa mengakomodir simbol yang bukan miliknya .

Ada juga yang membuat resah saya, gencarnya salah satu ormas memobilisasi masa (ibu-ibu awam politik) tanpa mejelaskan maksud dari kegiatan yang berlagu agama tersebut. Padahal secara kasat mata, organisasi kemasyarakatan (ormas) hijau tersebut mengendarai sebuah kepentingan dan mengarah ke satu titik dan kepentingan.

Lainnya, melihat kasus diatas, tampaknya cara lama masih akan bersemi kembali. Akan ada konsolidasi internal antara birokrat tertinggi kabupaten, petinggi-petinggi daerah terhadap bawahannya, panitia pelaksana dan perangkat desa terkecil mulai kepala lingkungan, RT hingga RW. Bahkan penarikan seorang manula (sudah simbah-simbah) yang aktif dalam wadah pensiunan dan senam lansia pun dimintai untuk menjadi tim penanggungjawab kelompoknya. Welweh….

Kapan pesta demokrasi yang selayaknya menjadi pembelajaran, pencerdasan dan pendewasaan warga negara akan haknya bisa terwujud? Jika saat ini pun masyarakatnya justru sengaja dibuat tak sadar oleh pemilik masa, kuasa dan kebijakan?

Kembali ke idealis versus realis.

Menurut saya, yang idealis itu prosesnya panjang, mungkin juga sangat melelahkan dan tak seenak atau semudah memasak mie instan. Sebenarnya idealis adalah hal yang paling realistis untuk kebaikan bersama. Hal itu berdasar pada cara-cara yang digunakan dalam wilayah idealis itu. Bila cara yang digunakan baik, kemungkinan besar hasilnya juga tidak akan jauh dari cara awal. Kalau tidak salah si ketepatan cara penentu ketepatan hasil, akhirnya menjadi tepat guna. Baik dalam jangka pendek atau panjang.

Kaitannya dengan proses demokratisasi diatas saya kira, jika idealisme masih dipegang dan dijunjung, pemilik masa atau kuasa akan membiarkan semuanya berjalan seperti semestinya dengan cara dan aturan yang ada, bermain strategi dengan hal-hal yang memang sesuai aturan (tapi katanya, dalam ranah ini sulit dilakukan, karena lawan menggunakan strategi yang kelicik-licikan). Tak perlu melakukan tindakan terselubung terhadap masyarakat awam atau tindakan represif terhadap bawahannya (tindakan ini terlanjur dan masih diangap paling realistis, efektif dan cepat dapat sampai tujuan), mungkin juga demi tujuan pribadi untuk mengamankan posisi kroni dan juga memenangkan dirinya. Saat ini dua kata yang masih terdengar keras dari mereka. Menang! Berkuasa!

Bilakah rakyat tercerahkan?

Salam

Iklan

Responses

  1. idealis di Indonesia itu utopia mbak! mereka hidup dalam bayang2 mimpi yang tak kunjung menghampiri kesadaran.. kasian para idealis dan beruntunglah realis.. hehehehe…

    Jika masih diizinkan saya berharap berdiri di antara keduanya.. hahahahahaha.. mana bisa!

    * * * * *
    Ningrum:
    Utopis? masa sih? bukan itu sepertinya. api, sangat sulit sekali 😦
    Berada di keduannya? kalo bisa silahkan sam 🙂

  2. idealis terus nggak bakalan kenyang-kenyang! eh itu kata teman, lah realis bikin botak, malah ditambahi!

    * * * * *
    Wah sama tuh Cak, teman saya jg bilang begitu.

  3. meniru nasehat seorang sahabat, katanya..
    “hidup secara idealis memang susah. Tapi yang jelas, idealis atau kompromistis, kita harus sadar di mana kita berada dan apa yang harus kita perbuat. Kita tidak boleh terjebak pada arus yang kita tidak tau apa arus yang kita ikuti itu. Memang sesekali hidup ini harus pakai topeng. Karena kalau tidak, kita bisa mati di hadapan lawan” Hehe.. mbak, nurma itu nama cewek loh 🙂

    * * * * *
    Ningrum:
    Sib lah Mbak Nurma, Kata al-quran (bukan kata saya) “jangan kau ikuti sesuatu yang tiada pengetahuan akan hal itu” . Makanya ya kita disuruh cari tahu, heee.
    Wah ma? pake topengnya gimana? nuraninya?. Pilihan yang sulit di ranah ini, dibunuh atau membunuh *itu juga kata dedengkot ranah ini. Ya lam kenal ya buat mbak nurma 🙂

  4. Realis mungkin akan membawa kebaikan kalau tidak disalahkaprahkan menjadi pragmatis, kompromistis, oportunis dan akhirnya prostitute (maaf).

    Hidup sesuai dengan realita, apalagi di Indonesia, kita harus siap menjadi seperti harimau, singa dan predator lainya; kalau tidak jadiilah makanan yang patuh dan imut buat mereka.

    Salam.
    Keknya banyak yang milih jadi oportunis karena pragtis bang :-).
    Siap-siap menghadaaapi hidup yang keras, apakah kita juga harus bringas?.

  5. Hari gini idealis….!
    Cuma mimpi….skr udah jamanya kembali ke alam kafir…!
    No rule,no law.

    • Kadang memang kita harus memilih antara mempertahankan idealisme atau beralih ke realis, pragmatis bahkan oportunis.

      Tapi kalo ditanya hati kecil kita, kita pasti membenarkan sikap idealis.

      Ingat…..! Setiap logika yang muncul dari akal kita harus dibarengi dengan petunjuk di hati …..!!

  6. 4.Danar
    Biarkan siapapun yang ingin mewujudkan mimpi
    4.Erwin
    Mangut-manggut sambil senyum :-). Banyak yang gak kuat mempertahankan ke-idealis-annya, dengan dalih realistis seringkali hati nurani diabaikan. Padahal setiap keputusan bisa bijaksana jika mempertimbangkan hati dan berguna jika ada logika disana.

  7. nabi muhammad katanya ‘realis’, tp realis dlm pengertian mana yua?..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: