Oleh: Ningrum | 27 Mei 2008

Kehendak Tuhan dan Manusia (lagi-lagi soal Determinisme dan Free Will)

Postingan kali ini hanyalah simpanan file document mail. Saya hanya memindahkan tulisan saya dari tempat tersebut ke blog ini (tanpa ada pegeditan berarti). Arsip E-mail ini dikirimkan ke kota sepeda untuk teman baru (ketika itu) yang mengatakan kepada saya bahwa ia adalah seorang agnotis (ism).  Mengapa saya postingkan? Karena lagi ingin saja.
* * * * Soal determinisme-sebab akibat dan free will, juga selalu menggelitikku. Smsmu mengingatkanku dan mendapatkan inginku untuk membuka salah satu refrensi, Ini juga pernah kutemukan di ilmu kalam, selain itu aku dapatkan pada saat ikuti pelatihan kader pada materi nilai dasar perjuangan yang sekarang diganti nilai identitas kader (atau sekarang sudah kembali lagi?).

Tetapi bagiku itu hanya sebuah pengetahuan saja, berhenti pada proses penggugahan nalar dan salah satu usaha merasionalisasikan pilihan kita dalam berkepercayaan. Tetapi sayangnya hal tersebut tidak sampai kepada ke-penganut-anku terhadap sebuah paham. Karena aku pun tidak sependapat dengan keduanya, aku lebih mempercayai pikiranku yang mungkin sejak dulu sudah terformat untuk percaya dengan daya diri dan juga ketetapaNya. Ternyata, setelah melalui proses berfikirpun hasilnya tetap sama seperti semula. Disebut dualisme kah ini?

Mungkin cara berfikirku tidak sejelimet orang-orang, Saat ini pendapatku masih mirip dengan smsku kemarin. Manusia telah diberi banyak pilihan-pilihan olehNya. Adanya pilihan itu adalah bagian dari iradatNya (ketetapanNya). IradatNya dan daya yang akan menyatu juga sebuah ketetapaNya. Jika sudah diberi pilihan, artinya manusia punya hak penuh untuk bekehendak untuk melakukan atau tidak pilihan tersebut, bahkan untuk tidak memilih dan tidak melakukan pun menurutku terserah manusia.

Tetepi perlu diingat kebebasan A sampai Z itupun bersanding dengan konsekwensi masing-masing, kita sebut sebab akibat yang mndahuluinya. Kita sudah punya akal dan hati untuk berfikir. Kemampuan berfikir juga adalah iradatNya yang diberikan kepada manusia dengan dua alat tersebut. Tuhan juga tidak akan memaksakan kita untuk tetap tidak berfikir.

Terjadinya sesuatu itu pasti melalui proses juga karena ada lantaran terpenuhinya hal A sampai Z. Pada saat itulah kehendak dan kebebasan manusia bermain dalam proses yang akan menentukan akan berhenti (memilih) dimana kita, atau di-H atau di-K atau bahkan hanya di-B. Kondisi H,K dan B tentu saja berbeda, ada yang baik, setengah baik, sangat baik bahkan luar biasa. Hal itu terjadi karena proses ataupun sebab akibatnya maupun prasyarat terjadinya juga berbeda, kebedaan itu sendiri adalah ketetapaNya, hak memilih/melakukan tetap saja ada pada kita. Ya termasuk masa depan kita menurutku, bisa sesuai dengan keinginan dan kemampuan pribadi. (edit: ada campur tangan-Nya tentu)

Mau kecelakaan hari ini juga bisa, tiggal kita berdiri di tengah jalan atau menjatuhkan diri dari tingkat 10. Prosesnya cepat dan hasilnya juga demikian. Jika parah meninggal (jika memang takdirNya), jika tidak ya hanya dirawat, ini rasanya hal yang juga patut dinamakan sebab akibat yang merupakan ketetapaNya dari hasil kemerdekaan kita berkehendak dan bertindak. Ah mungkin ini contoh yang sangat tidak ideal.

Akhinya, aku tetap percaya kepada (ketetapaNya) dan juga kemerdekaan yang kita punya. Karena pada kitab yang kuanggap suci (isinya tentu) yang aku percayai itu terdapat beberapa bukti; salah satu firman-Nya, yang memuat keharusan berusaha dan juga segala sudah diaturNya dengan rasionalisasi yang sudah kusebutkan diatas.

Kalau tidak salah, Jauh sebelum kita dilahirkan pun terdapat kontrak antara manusia dengan Tuhan, karena kita menyetujui untuk mengakuiNya maka sekarang kita ada. Itu adalah pilihan yang sangat tidak kita sadari, pilihan untuk dihidupkan. Artinya kita punya kendak atas hidup dan telah bersepakat dengan konsekwensi yang telah ditetapkan-Nya. Dimanapun kita mencari dan berlari kita selalu akan berhadapan dengan hal-hal yang harus dihadapi dan ditanggung.

Kaitanya dengan determinieme sebab akibat dengan kebebasan manusia berkehendak adan bertindak, aku lebih sepakat dengan Ibn Taimiyah dalam ungkapannya bahwa tidak ada jalan keluar bagi manusia dari ketentuan-Nya, namun manusia tetap mampu memilih yang baik dan yang buruk. Jadi bukanya ia itu terpaksa tanpa kemauan melainkan ia berkehendak dengan terciptanya kemauan -dalam dirinya-.

Aku pun akan selalu mengingat bahwa, sangat mungkin segala isi dalam keterbatasn tetap saja akan bersifat terbatas mengikuti yang ditempatinya, karena kita saat ini pun ditempatkan pada ruang (bumi) dan waktu (hidup) yang juga terbatas. Jadi, termasuk juga pemikiran pemikir yang berjaya pada perkembangan ilmu pengetahuan, tidak juga para penganut paham jabariyah, qodariyah, kaum materialis, apalagi aku. Sudah tentu beda, hal yang sangat terbatas dengan ketidak terbatasan yang dimiliki Tuhan pada ilmu dan segala rahasia-Nya, juga kekekalan-Nya yang tidak sedikitpun kita miliki.

Tetapi sungguh,proses berfikir,dan mencari itu rasanya harus tetap dilakukan, setiap darinya pasti akan menemukan sesuatu yang berharga dari proses pencarian tersbut.
Tidak terkecuali untuk seorang ateis, yang menurutku pun memiliki alasan dengan pengalaman-pengalaman empirismenya, termasuk juga dengan ke apatisanya, sekeptis terhadap agama yang ber Tuhan. Semuanya bisa diterima, karena kita semua punya pilihan, pilihan dan pilihan yang sangat beralasan dan berkonsekwensi logis.

Mungkin, keprcayaan atas ketidaktahuan kita, akan berhenti pada ketahuan kita tentang keterbatasan kita atas sesuatu zat yang tidak terbatas.

Salam,
Ningroem____


Responses

  1. jadi teringat Qodariyyah, Jabbariyyah dan Asy’ariyyah… hmmmmm.. bagus banget untuk refensi pemikiran.. 😀

  2. jadi teringat novel “Kooong”-nya Iwan Simatupang yang menggambarkan proses perburuan seorang tokoh yang sedang mencari burung kesayangannya yang hilang. novel itu setidaknya *halah sok tahu* memberikan gambaran bahwa hidup manusia pada hakikatnya adalah proses mencari dan memburu utk menemukan sesuatu yang bermakna bagi hidup dan kehidupannya, baik utk masa sekarang maupun masa yang akan datang.

  3. ::seringnya sejenis obat akan diurai kandungannya, untuk dilihat unsur apa yang mendominasi, sehingga ianya perlu dikonsumsi untuk penyembuhan…, jika itu sebuah perumpamaan, mengapa tak diurai mengenai unsur keadaan dari struktur manusia,
    jika tubuh itu terbujur, dan setelah sekian lama tertanam hanya tulang belulang yg terlihat, apakah dia sebagai object iradatNYA, ataukah hanya sebagai pembalut…
    apa tidak sebaiknya diurai dulu yang mana object, dari suatu aturan, agar menenangkan diri dalam berlaku
    jadi jangan segera GEeR jika ada yang senyum seolah mengarah kepada kita, siapa tahu dibelakang kita ada yang dikenalnya…dan senyum itu untuk yang dibelakang kita itu… ah ternyata tangankupun mengajariku dari apa yg diketiknya…

  4. 🙂
    *aseli cuman bisa senyum (OOT) ninggalin jejak gtu loch..*

  5. 🙂 hemmmm..
    *aseli cuman bisa senyum (OOT) ninggalin jejak gtu loch..*

  6. 4 Sam Gempur;
    Yup, merekalah yang menggeliatkan dunia pemikiran Islam.

    4 Bang Sawal
    Wah bang mlah saya belum baca novel itu. Btw, makna itu akan ada jika kita mau memaknainya dengan berbagai sudut pandang. Boleh bang, dibagi ilmu hakekat hidupnya 🙂

    4 Sam Zal
    Saya koq malah jadi binun sam Zal akan pendapatmu? Pake analogi obat, penguraian, ada aturan untuk menenangkan diri dlm berlaku, terus senyum ke GeEr-an? *Keknya saya mikir dulu ne sam*

    4 Mbak Nurma
    Semoga saja senyumnya mbak Nurma tulus

  7. ::mbak ningrum, pada obatkan ada kandungan-kandungan, ada yg dominan ada hanya sekedar pendukung.
    demikian juga pada ukuran kita, ada yang dominan menurut Allah “yang hendak kulihat apa yg dibalik dada itu..”, sepertinya ini object yang akan menjadi sasaran penilaian apapun tingkah polah kita..
    uraiannya, ada Ikhlas, ada Soleh, dll, setiap kejadian apapun yg didatangkanNYA memiliki unsur-unsur mempropaganda unsur jika apa yg dibalik dada itu diurai…
    saat menunggu mungkin dikenalkannya dengan yang berinisial sabar..nah object inilah sasaran utama, sampai manusia itu benar-benar dalam kemurnian sabar, demikian juga lainnya…
    pengamatan akan Sebab yg datang, maka siapkan pula object yg dinilai untuk menerima..sehingga fokus pada object dan perubahannya…sepertinya gitu sich mbak…

  8. Gitu to maksudnya sam? heee

  9. Bagiq sederhana saja… selalu ada keharusan universalpada setiap free will manusia…

  10. 4.Muhammad Ikhwan
    Maksudnya sam? pada dasarnya manusia memiliki kemampuan dan kemauan yang sama? generalisasikah? Keharusannya dimana?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: