Oleh: Ningrum | 30 Mei 2008

Antara Keengganan dan Keharusan; Effek Domino dari Terhentinya Distribusi Tabung Berlisensi Pertamina serta Minyak Tanah

Heeee panjang banget judulnya, betewe itu mah bukan judul, tapi resume cerita saya kali ini. Hmm… postingan kali ini sama sekali gak up to date jika dikaitkan dengan perkembangan iptek di tanah air. Ya jelas saja, Djoko Suprapto  asal desa Ngadibyo Nganjuk Jawa Timur sudah menemukan blue energy (dinamakan demukian oleh Presiden) yaitu energi alternatif berbasis air laut yang proyekny akan dikejakan di Cikeas Bogor, sedangkan saya masih berkutat dan menggunakan kayu bakar sebagai alternatif terakhir. Duh..duh…ningrum…

 * * *
Bloggers, pernah dengar  pepatah yang mengatakan “Tidak ada rotan akar pun jadi?”Inilah yang terjadi pada saya dalam beberapa hari kemarin. Bukan saya saja yang repot karena urusan dapur/memasak jadi terhambat. Mamas (kakak laki-laki kandung) pun dibuat repot tanpa hasil. Ia harus  berkeliling mencari “rotan” ke toko dan atau ke warung-warung (yang biasanya menyediakan bahan bakar tersebut), bahkan ke pemasok utamanya yang jauh jaraknya dari rumah.

Akhirnya, alternatiif terakhirlah yang ada, menggunakan “akar” (memanfaatkan kayu bakar) untuk memasak. Heehe jujur saja, saya  sering enggan jika harus daden geni (menghidupkan api dengan kayu bakar dengan tujuan untuk memasak).

Keengganan itu disebabkan, hal tersebut saya pikir kurang praktis, jika dibandingkan dengan memasak menggunakan kompor berselang panjang sekitar 1,2 meter dan atau kompor bersumbu berbahan bakar minyak tanah.

Selain itu, saya tidak ahli dalam menjaga nyala api (kesetabilan api) mungkin karena tidak dibiasakan lagi (padahal pas belia sering ditanggungjawabi alm bapak untuk menunggui api hingga air se panci besar mendidih di pawon hee).  Sekarang, saya kurang pandai dalam memperkirakan atau membuat perbandingan jumlah antara kayu keras, kayu kecil (ranting-ranting), kelaras (daun kelapa yang sudah kering), sabut-kulit kelapa, batok kelapa dan minyak tanah sebagai pengantar nyala api. Jika saya yang daden geni, yang ada juga hidup sebentar dengan api besar (karena saya siram dengan minyak tanah yang lumayan), tapi kemudian mati lalu berasap banyak, hiks mata saya jadi pedih dan berair, bajunya juga jadi  berbau asap pawo, daftar resiko nih.

Lainnya, effek yang menambah  keengganan saya: aktifitas itu (memasak) jadi sangat  tidak efisien, memakan waktu dan tenaga jauh lebih banyak karena harus menunggu stabilnya api dari kayu. Setelah memasak pun pekerjaan ekstra (mencuci alat-alat) telah menunggu. Mengingat alat tersebut yang diletakkan diatas tungku pasti akan hitam legam (berlanges/langesan), hanya akan bersih dicuci dengan menggunakan awu; bakaran merang (kulit padi) yang berwarna keabu-abuan.

Bisa juga dengan mengoleskan sabun colek/sabun cream ke alat yang akan digunakan. Niscaya, meskipun dicuci biasa akan kinclong kembali, langes akan terlepas mengikuti mencairnya sabun cream yang terkena air. Tapi, efeknya pada saat alat/panci/wajan temumpang (berada diatas tungku dan terpanasi api), sontak akan terjadi polusi udara, karena aroma sabun cream yang terpanggang api sungguh menyengat. Pernapasan kita akan terganggu karenannya.

Dari segi kegunaan dan waktu memang sangat tidak efektif juga tak efisien seperti yang sudah dijelaskan. Namun, jika dilihat dari segi matematis (selain waktu) ternyata memasak menggunakan kayu sangat ekonomis. Hal tersebut tidak lain karena saya tidak perlu membeli bahan bakar tersebut, ada saja saja patahan ranting, pohon, papan, daun kelapa  kering, sabut, juga batok untuk keperluan memasak jika jumlahnya tidak  banyak.

Selain itu, yang bisa menambah keekonomisan adalah bentuk tungku. Tungku  yang digunakan bentuknya hampir seperti limas tak lancip-tumpul banget dengan lubang diatasnya dan juga berbentuk 180 derajat di bagian depan tempat kayu.  Bentuk tungku yang terbuat dari campuran abu dengan tanah tersebut yang sedemikian rupa, menjadikan panas api terpusat keatas  dan tak menyebar. Jika telaten menjaga kesetabilan api, panasnya cepat mematangkan masakan.

Pas saya mengoreng lauk menggunakan kayu bakar kemarin, saya  mengalami hambatan menghidupkan api yang sempat mati, karena semprong semata wayang terselip/hilang belum ditemukan. Padahal menggunakan semprong; berupa pipa besi (bisa juga si dari bambu) berlubang dengan diameter 3-4cm, sebagai media untuk meniup dan menghidupkan bara api adalah cara jitu. Karena itu, saya masukkan saja dahan-dahan kecil dan daun kelapa kering hinga hampir memenuhi pintu tungku dengan harapan bara menjalar ke ranting-ranting kering yang baru saya masukkah. Mau tauh hasilnya? Tungku malah mengeluarkan asap buwwannyak. Tapi kemudian lama-kelamaan apinya hidup sendiri, gede banget, jadi saya kurangi klaras dan ranting yang menyala tadi.

Terimakasih kayu bakar, berkatmu dapur tetap mengepul, heeee….

Iklan

Responses

  1. wah, energi alternatif yang benar2 merakyat, mbak puan. di tengah situasi terpuruk seperti sekarang, agaknya saat yang tepat bagi kita utk bersama2 berteriak: “Kembali ke Alam”. Muah, meriah, dan dijamin halal, hehehehe 😆

  2. Yup!! sudah benar!! bek to netur
    Nama saya sudah ningrum, bukan puan lagi bang 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: