Oleh: Ningrum | 31 Mei 2008

Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cintanya Muhidin M.Dahlan Tidak Bermanfaat?

Judul postingan ini saya ambil dari novel berpenerbit Jendela. Tidak Bermanfaat adalah pendapat peminjam novel milik saya selama April hingga akhir Mei 2008. Sebelum mengembalikan, ia menyatakan bahwa novel tersebut tidaklah bermanfaat. Ataukah   subyek yang tidak bisa mengambil manfaat? Atau hanya dibaca beberapa halaman, pas  yang memang agak kurang berfaedah dan peminjam justru hanya terfokus pada hal tersebut tanpa memperhatikan hal-hal yang memang lebih bernilai?.

Hmm…tulisan ini muncul karena kekesalan saya, novel yang disebutkan tidak bermanfaat tersebut dikembalikan dalam kondisi lusuh, luaran tampak kotor, bersepidol dan bersetabilo, ditulis2 (dicoret-coret, bertuliskan makian terhadap teks di beberapa halaman). Lengkapnya, kondisi novel yang memiliki cerita dalam mendapatkannya di Shoping centre (sekarang Taman Pintar) tidak lagi seperti semula.

* * * * *
Menurut saya, ada atau tidaknya kebermanfaatan  sesuatu itu bersifat sangat personal atau subyektif. Sangat tergantung pada siapa (subyek) dan apa (obyek) yang dinilainya. Subyak akan berpendapat bahwa obyek yang bermanfaat adalah  jika didalamnya terdapat sesuatu yang dapat diambil, ada pelajaran yang bisa dipelajari atau dicontoh.  Sebaliknya, ketidakbermanfaatan oleh subyek bisa hadir jika obyek tersebut dinilai tidak memberikan apa-apa.

Saya pikir, ada banyak faktor yang berpengaruh dalam proses menilai hingga menghasilkan kesimpulan bermanfaat atau tidaknya obyek, dalam hal ini teks (novel):

Pertama, tata nilai atau bisa juga idiologi yang dipegang oleh subyek. Seorang bertata nilai A akan cenderung menolak obyek bertata nilai B atau hal-hal yang dianggapnya tidak sesuai dengan nilai-nilai A, dsb. Antara subyek pemegang tata nilai A dan B, tidak menutup kemungkinan teramat sering berbeda dalam asumsi dan berargumentasi. Bisa jadi bermanfaat bagi yang satunya, sangat tidak bermanfaat untuk yang lainnya.

Kedua, soal kebutuhan dan kesukaan, Kebutuhan terhadap suatu obyek juga sangat  berpengaruh terhadap hasil atau efek dari obuek tersebut. Kebermanfaatan akan sangat terasa jika subyek merasa dan sudah memiliki kebutuhan akan informasi yang berkaitan dengan obyek, juga pada kasus sebaliknya. Demikian dengan kesukaan, misalkan: Subyek yang menyukai komik adalah subyek yang bisa menikmati komik dan bisa mendapatkan keasyikan dari membaca komik, jika demikian bisa dikata komik terbseut bermanfaat (mendatangkan keasyikan bagi subyek, keasyikan yang bisa menghilangkan penat;mungkin). Namun hal tersebut bisa tidak terjadi pada subyek yang tidak menyukai komik karena tidak bisa menghadirkan keasyikan, maka komik untuk subyek yang ini tidaklah bermanfaat.

Ketiga adalah kecermatan. Cermat mana yang bermanfaat dan tidak bermanfaat. Yang penting atau tidak penting. Yang patut diambil atau yang harus dibuang (tidak perlu dibaca). Yang  baik dipikirkan atau yang tidak pelu. Pilah yang positif dan buang yang negatif. Yup, saya kira hal-hal tersebut dipandang perlu dalam proses menilai obyek, dalam hal ini membaca.

Lainnya, bukan tidak mungkin, sesuatu yang berharga itu tidak selalu tersurat, tetapi juga sering tersirat saja. Jadi memerlukan kejelian ekstra dalam mengambil poin-poin bernilai/berharga. Poin-poin tersebut bisa diambil dalam potongan-potongan kalimat ataupun dari hasil pembacaan keseluruhan isi dari obyek; general conclution.

Untuk kesimpulan menyeluruh novel yang sangat Yogyaman tersebut silahkan baca sendiri, sensasi satu pembaca dan yang lainnya sepertinya akan berbeda, tergantung kecenderungan ketertarikannya pada hal apa dalam novel tersebut, pada aku (sepak terjang tokoh dalam novel;Gus Muh), pada buku atau pada sajak cintanya?. Pada salah satunya, keduannya atau ketiganya?
 
Kali ini saya petikkan yang tersurat di novel tersebut, bermanfaat atau tidak silahkan nilai  kutipan  di bawah ini (tanpa analisa dari saya):
1. “Scripta Manent Verba Volant; yang tertulis akan tetap mengabadi yang terucap akan berlalu bersama Angin, hlm xi
2. Dunia Buku adalah dunia penyembuh kesunyian. Dunia ini adalah dunia yang memanjakan imajinasi yang walaupun setelah itu kita bertekuk lutut kepada dunia yang real  yang di sana kita hanya seperti kapas yang kadang tidak punya arti apa-apa. hlm 76
3. Bersabarlah, jangan pernah putus asa. Di mana-mana hidup harus dihadapi dengan cara sabar, dengan cara tidak putus asa. Siapa saja, termasuk anda sebagai seorang penulis (dikutip penulis dari Arswendo Atmowiloto), hlm 138
4. “Sebab siapa berkemampuan memilih,  dia mengatasi nasib, hlm 232.
 
5. Aku sadar sesadar-sadarnya, bahwa aku tak boleh kalah dalam peruntungan hidup ini. Minimal tidak membiarkan hidup ini dikerkah oleh kesunyian  yang runyam; Kesunyian yang tidak menyenangkan; kesunyian yang terpaksakarena kalah oleh kompetisi  dalam hidup bermasyarakat  yang saling berlomba dan menyalib nasib. Kesunyian ini yang sangat berbahayakarena bisa menumpulkan ketajaman pemikiran atau bahkan membunuhnya dan membuang bangkainya di comberan . Tapi bagaimana caranya? hlm 233-234
6. Menulis itu adalah tradisi paten dalam diri seseorang. Tinggal apakah ia sering dipakai atau tidak. Dan dia akan hilang jika tidak sering dipakai, hlm 235
7. Kita harus Menanam Harapan, manusia tanpa harapan, dia mayat berjalan, hlm243

8. Aku merenung-renungkan apa hakikat kehidupan manusia dan takdir-takdirnya  Ihktiar-ikhtiarnya Gapai-gapaiannya. Tangan manusia tak seberapa luas merangkul, tapi keinginan yang membabati hatinya siapa yang bisa  mengukur, hlm 353
9. Kami semua tidak sabar. Si kecil Anne Frank mungkin betul bahwa sebetulnya manusia itu tidak sabar. Yang bersabar barangkali hanyalah kertas. Maka aku mulai menulis lagi dengan tertatih dan jembar asa yang masih tersisa dalam benam jiwa, hlm 355

Salam Baca
Ningrum

About these ads

Responses

  1. mbak puan, sungguh, tega2nya si peminjam novel bilang tidak bermanfaat. apalagi kondisi novelnya sudah dalam keadaan lecek. saya sepakat dng mbak puan, bermanfaat atau tidaknya sangat relatif, bahkan subjektif. meski demikian, idealnya bangsa ini perlu belajar memberikan apresiasi terhadap buku, apa pun jenisnya, kecuali buku2 yang memang secara normatif tak layak baca, seperti buku2 picisan atau porno yang hanya mengumbar naluri purba utk melakukan perbuatan tak terpuji. ok, deh, mbak puan, anggap saja si peminjam itu seperti, maaf, angin busuk yang kebetulan menusuk hidung kita, hehehehehe :lol: tetep semangath, mbak puan.

  2. Assalamuálaikum,
    salam kenal. saya kebetulen menemukan blog ini ketika saya mencari info tentang Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta. saya lumayan geram membaca komentar si peminjam buku mbak ningrum. sepertinya saya sepakat dengan mbak ningrum kalau si peminjam buku itu tak membaca seluruh halaman Aku, Buku dan sepotong sajak cinta secara keseluruhan hingga dia langsung memvonis buku ini tidak bermanfaat. ia pastinya belum menyelami setiap bait-bait buku ini. makanya keindahan yang tersembunyi didalamnya tak terdeteksi. tapi, itulah pendapatnya. namun bagi saya, novel Gus Muh ini adalah novel yang mampu membuat saya terpana. maaf banyak komentarnya. terima kasih sebelumnya.
    Wassalamuálaikum.

  3. Assalamuálaikum,
    salam kenal. saya kebetulan menemukan blog ini ketika saya mencari info tentang Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta. saya lumayan geram membaca komentar si peminjam buku mbak ningrum. sepertinya saya sepakat dengan mbak ningrum kalau si peminjam buku itu tak membaca seluruh halaman Aku, Buku dan sepotong sajak cinta secara keseluruhan hingga dia langsung memvonis buku ini tidak bermanfaat. ia pastinya belum menyelami setiap bait-bait buku ini. makanya keindahan yang tersembunyi didalamnya tak terdeteksi. tapi, itulah pendapatnya. namun bagi saya, novel Gus Muh ini adalah novel yang mampu membuat saya terpana. maaf banyak komentarnya. terima kasih sebelumnya.
    Wassalamuálaikum.

  4. 4.Ummu Syahiddah
    Ya, sama halnya jika kita memandang sebuah bidang hanya pada satu titik, atau penilai sudah memiliki persepsi negatif. Maka hasil penilaiannya juga akan tak sebaik obyek yang di nilainya
    Wah gak apa-apa Ummu, banyak juga aku malah berterimakasuh ada yang ngerespon.
    Ummu saya sedikit kesuliatn memberikan komentar di blogmu, ribet, ribet, musti ngulang-ngulang, jadi ilang :-(


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: