Oleh: Ningrum | 31 Mei 2008

Komunitas Baruku

Bloggers, saya lagi demen cerita neh. Setelah sekian lama mesin tik permanen yang mengandalkan energi listrik (kategori tidak bisa dijinjing jinjing) error, belum lama baikannya, ternyata membuat saya rindu ngeblog di perempuanNya 🙂

Cerita apa ya?  Hmm ini aja deh tentang komunitas baru saya, gak papa ya jika porposi cerita antara komunitas 1,2 dan 3nya tidak sama dan sama sekali tidak mengurangi kesan saya pada ketiga komunitas tersenut. Mulai yuk :-).

Sekitar empat bulan terakhir ini saya berinteraksi dengan tiga komunitas beda genre. Komunitas pertama, saya menjadi anggota yang tergolong paling imut, hehe *sok imut*. maksudnya paling kecil n muda, kalau tidak salah sudah sekitar 3-4 bulan saya bergabung di sana. Komunitas ini bebas kepentingan, malah saya yang merasa berkepentingan untuk ada di sana, syukur-syukur jika bisa terus berbuat lebih. Saya senang juga ada bersama beliau-beliau. Bloggers, ini komunitas biasa, bisa ada di mana-mana, tapi cukup membuat saya suka. Terimakasih Allah.

Komunitas kedua, diawali pada 4 Maret lalu, komunitas ini sangat erat kaitannya dengan ketrampilan. Tujuan memilih komunitas ini adalah memiliki ketrampilan, sukur-sukur bisa untuk bantu-bantu dikemudian hari. Selain itu ada kaitannya dengan kegiatan bisnis *apa biar tertulis keren gitu, hiks* yang masih sedang coba saya lakukan, kata lainnya si belajar!!,membuktikan kata Sang Junjungan Utusan “sebagian besar rezeki di dunia ini ada di “sini”. Biar hidup dimana saja  atau jadi apa saja nantinya (belum diketahui) saya kira ini bisa membantu tau menerbangkan saya ke mana, asalkan sudah bisa atau jago. Ya, coba melakukan dua hal yang saling berkaitan dan mendukung, juga upaya untuk membebaskan diri dari kata buruh yang pernah saya lakoni. Berada di komunitas ini, saya menemukan teman-teman yang periang dan telaten (teliti n sabar). Kata mereka sih senang berkenalan dengan saya. Padahal bisa jadi saya jauh lebih senang daripada mereka karena, bisa berteman dengan mereka. *rahasia ya, mereka gak boleh tahu soal ini 🙂 *

Komunitas ketiga, baru kali keempat saya berinteraksi dengan mereka. Berawal dari ketaksengajaan saya, tepatnya si kecele’; bahasa jawa yang belum ketemu padanannya dalam bahasa Indonesia. Pertemuan pertama sekitar dua tahun kebelakang, hari Minggu. Waktu itu saya berkeinginan kuat (pokoknya harus) membawa CPU yang hang dari rumah ke tempat servis pada hari itu juga (maklum ilmu IT saya cetek jadi gak bisa ngatasin sendiri, padahal  beres masalahnya  hanya dengan  dicopotin terus dipasangin lagi, gak perlu dikotak-atik).  Di tempat servis tersebut ternyata sedang ada pertemuan. Saya tidak tahu jika setiap hari minggu servis dan kegiatan jual beli di sana  diliburkan karena, tempatnya digunakan untuk suatu kegiatan. Biasa sih jenisnya tapi terlihat sangat eksklusif, begitupun orang-orangnya.

Saya masih ingat sekali gaya juga pakaian saya ketika itu,  beda (dikit atau banyak ya?) dengan saya yang sekarang? dan sangat beda jauh banget lah dengan mereka yang ada di komunitas itu *penting gak si ginian ditulis?, dah terlanjur di ketik gak usah di delete*. Awalnya saya tidak mengetahui keeklusifan mereka. Setelah saya cuek, pasang muka tembok duduk di pinggir pintu masuk, saya baru mengetahui sedikit siapa dan bangaimana orang yang ada di dalamnya (walaupun yang terlihat  hanya beberapa). Seketika, saya terperangah dan ingin meningggalkan tempat itu.

Tapi jika itu saya lakukan, tenaga dan ke-pokok-an dalam berkeharusan  menormalkan CPU akan sia-sia. Jadi bersabarlah  di sana. Muka tembok saya masih bertahan,walaupu pria setengah baya tersebut menyatakan bahwa pelayanan tutup, saya tetap akan menunggu hingga selesa. Agak lama masih duduk di kursi papan panjang yang terletak di depan pintu hingga 10-15 menit. Tampaknya pria separuh baya yang ada di hadapan saya (agak menyerong ke kanan)ini risih melihat saya yang seolah-olah betah berlama-lama duduk di depannya. “Mbak yang perempuan di ruang belakang”  kata dia. Ya Tuhan, malu sekali saya ketika itu.

Akhirnya saya pun mengikuti saran lelaki tersebut. Keterkejutan saya muncul. Jreng jreng… terlihatlah perempuan-perempuan yang sangat eklusif dari warna juga cara berpakaian mereka. Sedangkan saya ketika itu? Berpakaian belel! beda ukuran penutup kepala, warna, corak juga lebar dan bentuk. Demi CPU, saya pun berusaha biasa saja, seolah-olah tak beda dengan mereka.

Akhirnya, ada mungkin satu jam lebih 30 menit atau lebih, pertemuan itu pun berakhir hingga azan zuhur tiba. Saya pun harus menungu semuannya pergi, hanya tingal bberapa membereskan tempat. Lalu saya  baru bisa  ke konter servis yang sebelumnya tempat para pria-pria berkhidmat mendengarkan petuah sang alim. Sepulang dari sana, setelah melewati kebedaan saya yang bisa saya terima, tapi entah oleh mereka. Saya justru ingin berinteraksi dengan komunitas itu, ingin tahu lebih jauh siapa dan bagaimana sesungguhnya mereka.

Sekian lama, dari sekitar dua tahun kebelakang, saya baru empat kali, akhir April hingga Mei 2008 ini berkesempatan kembali bersua dengan mereka di tempat baru (pindah) di salah satu tempat fasilitas umum, sehingga lebih terlihat juga terjangkau oleh banyak orang. Kebetulan juga si, ada  Mina, teman di komunitas ke dua (paragraf 3) yang mau diajak serta, jadi bisa menemani saya.

Semoga, secara perlahan mereka bisa menerima yang tidak atau belum sama dan saya pun bisa beradaptasi dengan mereka.

Bertahankah saya?

Salam Berkomunitas
Ningrum

Iklan

Responses

  1. walah, saya kok nggak diajak utk bergabung ke komunitas baru itu, mbak puan, haks, haks, haks!

  2. You were not mistaken

  3. Yupz, i hope so


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: