Oleh: Ningrum | 2 September 2008

Apresiasi dan Sederet Tanya untuk Mendadak Religius

“…. inilah waktu dimana segalanya menjadi mendadak religius, semoga mendapat manfaat”, beginilah  kutipan pesan singkat Ramadhan yang dikirimkan Amirul, teman yang pernah bersama-sama mempertahankan nafas sebuah komunitas.

Hmm… mendadak religius tiba-tiba saja nyangkut di benakku. Tampaknya memang begitulah adanya. Tengoklah acara teve, mulai dari talk show, musik-hiburan juga sinetron. Di sana menunjukkn bahwa Ramadhan tampak sangat komersil, tepatnya dikomersialisasikan. Sehingga pelaku hiburan pun harus menyesuaikan diri dengan moment yang ada, tampak dituntut-memainkan peran sesuai dengan tema yang dikomersialisasikan. Yang biasanya menggunakan yang terbuka-dibuka dimana-mana, kini agak sopan-tertutup, bahkan bertutup kepala. Yang biasanya gemar dangdutan dan jingkrak-jingrak mendadak berlagu rohani, nasid dan kalem. Lihat juga pariwara-pariwaranya, semua produk sangat dikait-kaitkan dengan ramadhan atau mengalami ramadhanisasi.

Fakta lainnya, sekolah-sekolah baik negeri atau swasta mewajibkan siswanya untuk membawa al Qur’an yang akan digunakan  untuk bertadarus sebelum pelajaran diimulai. Ya, ada juga sekolah yang mewajibkan siswi muslim menggunakan jilbab selama bulan ramadhan. Muncul berbagai bakti sosial keagamaan oleh instansi atau perusahaan perusahaan. Semuanya ramai dan berbau religi(us).

Walaupun agak geli, kemendadakan itu ku apresiasi dengan positif. Ya setidak-tidaknya mereka menghormati  ramadhan. Juga tanpa tersadari (barangkali) mereka yang membuat wacana (realitas buatan;media) atau individu; pelaku peran, bahwasanya mereka mengakui nilai-nilai yang baik atau yang seharusnya dilakukan, dibiasakan dan dipopulerkan. Bagiku, itu pun berarti munculnya  kesadaran terdalamnya, barangkali untuk ini bisa meminjam bahasanya Andy F.Noya;Kick Andy “hidupnya lentera hati“.

Tapi, ada yang  menjadi pertanyaan saya “Mengapa ini tampak sementara, hanya  30 hari dari 365?

Tidak cukup komersialkah nilai-nilai tersebut diluar Ramadhan?
Tidak sesuaikah nilai-nilai atau aktifitas tersebut untuk diterapkan selain di ramadhan?
Tidak dinilai pantaskah berpenampilan seperti di bulan ramadhan untuk diluar ramadhan?

Bukankah Ramadhan bukan sekedar momentum? Selesai perkara setelah dirayakan?

Bukankah Ramadhan itu  kaya spirit? Spirit untuk terus belajar bagaimana manusia hidup dan bagaimana manusia memanusiakan dirinya?. Memanusiakan manusia;diri  degan Allah Swt dan memanusiakan diri terhadap manusia lainnya.
Bukankah Ramadhan itu kaya nilai? Nilai yang sesungguhnya diamini oleh sebagian banyak dari kita. Ya untuk mengendalikan ke-ego-an diri, ego diri yang lebih sering teriak kegirangan dan merayakan  kemenangannya dalam diri, daripada ego yang menginsafi  diri akan keegoannya.
Bukankah Ramadhan itu kesadaran? Kesadaran atas segala yang ada, diri dan bukan diri.

Masih menjadi tanya, mengapa semua ini hanya ramai saat Ramadhan?

Apakah ini tanda bahwa kami belum dewasa dalam beragama dan berkeyakinan? Baru sangat termotivasi hanya karena semuanya menjadi berlipat-lipat ganda di bulan Ramadhan?. Baru sangat rajin dan semangat ketika dihadiahi oleh sang Maha Pemurah 10 hari pertama kedua dan ketiga dengan keistimewaan masing-masing?

Apakah ketika diluar ramadhan mayoritas dari kami yang berkepercayaan di “sini”  juga diam-diam tanpa sadar menghianati kepercayaan diri akan nilai-nilai ini? Atau barangkalai tak percaya diri untuk menyatakan secara terang bahwa kami memilih untuk menjadi dan menjalankan nilai-nilai lima huruf yang tertulis  I-s-l-a-m dalam Kartu Tanda Penduduk kami?.

Hei apa yang terjadi di negeri ini? Bukankah kita yang percaya terhadap nilai-nilai tersebut cukup banyak?
Kemana larinya nilai-nilai itu;spirit ramadhan dari kehidupan keseharian kami diluar ramadhan? Dimana kemampuan kami untuk menunjukkan dan membuktikan kepada semua bahwa nilai-nilai ini adalah juga rahmatan lilalamin; rakhmat dan berkah untuk semua? Bukankah setiap tahun kami selalu diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, bahkan di setiap hari? Bagaimana agar tidak mendadak?

Dimana kemampuan kami untuk mewarnai bukan terwarnai? .
Ha’a barangkali kami masih dalam kondisi yang lebih parah, tidak tahu secara pasti dan menganal secara dalam dan menyeluruh apa “warna” kami, sehingga kami terus dan mudah terwarnai oleh “warna” lain yang mengatasnamakan dirinya modern dan internasional yang cenderung mengabaikan nilai yang bukan-belum dianggap  menginternasional.

Dalam tanya dan geli masih ada syukur,
Alhamdulillah ada anugrah Ramadhan
Setelah ini semoga tak mendadak hilang

Salam Ramadhan


Responses

  1. Di Indonesia memang belum ada stasiun TV yang khusus religi. Tapi cobalah berlangganan Astro, ada channel Astro Oasis yang program – programnya kental dengan siaran Islam. Dan cukup luas cakupannya, dari ekonomi, hiburan, life style, culture, travelling, isu perempuan… Lumayan, bisa jadi alternatif pilihan kalau sudah muak nonton sinetron – sinetron itu lho, Mbak… Eh, jangan dianggap saya sales nya Astro ya hehehe… Oh iya, itu juga bisa termasuk komersialisasi juga?
    -Mee-

  2. sedihnya kalau ramadhan di-komersil-kan😦
    tapi khusnudzhan aja deh mbak😉 sapa tau mrk emg lg dapet “hidayah”

  3. 4Mee
    Wah makasih mbak Mee atas informasinya, tapi saya ini jarang nonton TV kalo gak pas kebetulan lagi ngapain gitu🙂.
    Sales Astrto? Ya gak lah mbak
    Mba moga cepet kelar ya masternya, nanti saya kapan-kapan nyusul insyaallah, terus cepet dikabilin doannya ma Allah🙂

  4. 4. Nurma
    Semoga ja komersialisasinya bawa dampak yang baik🙂
    Ya dlam postingan kali ini (paragraf 4) saya juga memberikan apresiai positif atass ramadhanisasi segala produk media atau juga kegiatan lainnya ya juga mendadak ada🙂

  5. pertanyaan kritis yang dikemukakan memang benar. ada ke-mendadakan yang mandek pada saat ramadhan. Bagaimana ini terjadi, karena ruang ritual rupanya sudah dibatasi pada yang namanya ibadah tok: taraweh beramai-ramai, tadarus berjus-jus atau jilbabisasi selebrities. Semua seakan kompak melantunkan kehebatan ramadhan sebagia bulan penuh ampunan, berkah dan maghfiroh. Seakan ramadhan dibatasi dengan penuh ibadah ritual secara kolosal itu. Setelahnya biasa lagi?

    pertanyaan2 yang cukup cerdas sayang bahasannya belum tuntas mbak… ayo dong diterusin…. ini sangat menarik🙂

    dalam tanya dan penasaran maish ada Ningrum
    itukah yang namanya perempuannya ?😀
    salam ramadhan

  6. hehehe33x

    alhamdulillah,,semakin kagum saya,,,,baca tulisan diatas,,,
    itulah indonesia mbak….kedewasaan beragama,,,kecerdasan spiritual,,belum merata,,,,,,apalagi cosmic quotient,,belum tercium baunya…hal inilah yang menyuburkan pemberhalaan AGAMA,,dan menuhankan Paham… jadi tumbuh merata,,,
    Salah satu dampaknya ya ,,,mendadak religius..walau cuma sebulan dan hanya “casing” dan gincu,,,masih jauh dari spiritual…Yang ada ramadhan jadi komoditas industri dan dagang yang KERING…
    bayangkan jika 50% penduduk ini berfikir..apalagi berpola rasa seperti mbak…wuih sejuknya NUSANTARAKU…dimana esensi dari puasa tidak hanya di bulan ramadhan,,pengendalian hati dan happiness management berlaku sepanjang hari dan tahun…

    JALAN YANG LURUS setipis rambut dibelah tujuh adalah hari SENIN sampai dengan Minggu…

    But it,s ok mbak…proses,,,hanya kita masing2 TETAP berdoa..supaya proses…menuju pencerahan bersama bangsa ini berjalan mulus tidak lemot..dan tidak selalu tergantung dengan faktor dan pemahaaman eksternal…yakni terus menerus mengagungkan paham import yang sudah merasuk masuk dalam D N A setiap putra bangsa,banyak teman MEJADI TULI dari INNER VOICE kita,,inilah fakta dari kurang berfungsinya para light workers yang terlalu lama dalam comfort zone & anteng dituakan oleh komunitas mereka…..THIS TOO WILL PASS…

    salam CAHAYA……..

  7. 4.bang Kurt
    Agh entahlah saya juga bisanya keheranan-menanyakan hal-hal yang tampak-terlihat.
    Menuntaskannya sampai di mana? Untuk memulainya kembali, saya justru dibombardir tanya diri. Pertanyaan yang saya miliki tidak mencipta jawab yang juga saya anggap termasuk dalam pembahasan. Alih-alih tanya yang ada justru semakin menambah tanya-tanya lain-efek dari pertanyaan awal.😦

    4.SamAntum?
    Inilah fakta yang menurut saya masih tergolong dalam masalah. Bagaimana caranya kelas yang diberikanNya selama 1 bulan bisa ngaruh ke 11 bulan yang lain.

    “Pemberhalaan agama dan menuhankan paham? Salah satu dampaknya mendadak religius?”
    Dalem banget ni sam, keknya klewat dalam pemikiran saya. Bisa dibagi penjelasannya?. Sekalian paham import tu??🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: