Oleh: Ningrum | 11 September 2008

Keresahan Masih di Indonesia

Barangkali posting an ini kurang bernilai, tapi entah, saya begitu ingin menulisakannya.

Setelah gonjang ganjing pematenan batik oleh negera tetangga yang serumpun. Kini giliran batik murah buatan negeri tirai bambo (NTB) yang membuat resah para pengusaha batik cetak dalam negeri. Kali ini yang saya persoalan bukan prihal pengakuan NTB terhadap batik yang sangat identik dengan Indonesia yang tampaknya mulai mendunia. Persoalan yang berhenti dibenak adalah keresahan pengusaha domestik (Seputar Indonesia, Rabu 10 September 2008). Mereka tampak panik karena harga batik cetak NTB lebih murah daripada harga batik hasil produksi Indonesia, kuantitas yang diproduksi pun cukup dapat diperhitungkan (barangkali teknologinya lebih unggul). Dengan demikian menjadi wajar ketika keresahan muncul, terutama soal penurunan omset yang diperoleh. Hal itu tentu saja  berhubungan langsung dengan perputaran modal usaha yang juga akan mempengaruhi hidup matinya sebuah usaha.

Kejadian seperti ini bukan kali pertama mendera bangsa Indonesia. Disparitas harga yang sedemikian rupa antara produksi dalam negeri dan negera tentara juga terjadi pada gula dan padi produksi Thailand yang juga sudah menjadi masalah sejak Megawati memerintah. Bahkan kini, kelengkeng (lengkeng) atau buah-buahan lainnya yang sejatinya bias tumbuh dan dikembangkan  di Indonesia pun lebih banyak diimpor dari negeri gajah putih. Pasar pun seolah-olah terus membuat citra kepada konsumen bahwa yang bagus itu yang impor. Sehingga  tak ayal membuat petani kita juga sibuk terus-terusan bukan bohongan.

Hal yang sangat wajar, muncul kekesalan dan semakin sedikitnya petani atau pengusaha yang enggan memproduksi disebabkan  harga jual rendah, tidak sebanding dengan biaya produksi. Belum lagi mereka harus menghadapi gempuran harga dan barang dari luar negeri. Agh bisa-bisa kita jadi bangsa yang hanya bias mengonsumsi tanpa berkemampuan memproduksi.

Saya jadi ikutan mikir (bisanya mikir, tidak bias merubah/bertindak), seandainya kita yang membuat bangsa lain sibuk, barangkali Indonesia akan diperhitungkan oleh bangsa lain atau memiliki daya saing. Dan yang paling penting adalah rakyat (pengusaha kecil atau petani) tak sakit terus-terusan karena pukulan keadaan atau karena kebijakan permerintah (soal impor) yang tampaknya merugikan mereka.

Dalam kondisi ini, kita tampaknya tidak bisa begitu saja menyalahkan pihak yang bisa memenangkan pasar atau merebut hati konsumen. Barangkali produk yang mereka hasilkan memang lebih bagus kualitasnya atau bahkan lebih murah daripada produksi pengusaha kita. Hal lain, sangat mungkin mereka pandai membaca bahkan mungkin berkemampuan menganalisa pasar, mulai dari melihat kecenderungan konsumen atau kebutuhan atau pun minat pengguna hingga titik (wilayah) yang dianggap marketable atau tidak, mengendalikan harga,  mampu memetakan pasar, bahkan membuat mem-pasar-kan yang sebelumnya bukan pasar. Dengan kemampuan politik daganngya, pasar lengkap dengan konsumennya dapat digenggam. Lalu, ekspansi bisnis (termasuk jumlah dan jenis produk) pun berhassil dilakukan.

Kondisi ini memiliki sisi positif, semakin banyak produsen berarti membuka atau memunculkan persaingan sehat dan meminimalisir adanya monopoli pasar atau harga.

Tapi ini pun tak bisa membuat saya yang homoekonomikus diam, masih saja tersisa tanya. Seberapa besar bangsa ini mampu bertahan? (Luar biasa jika bangsa ini bisa bertahan, bersaing dan menjawab  tantangan-gempuran yang ada atau bahkan dapat lebih unggul). Namun, Seberapa jauhkah kebijakan dagang (impor) pemerintah berpihak dan mempertimbangkan kondisi pengusaha dan petani domestik? Seberapa besarkah peran pemerintah dalam memperbaiki hasil produksi milik sendiri? Cukup kooperatifkah pemerintah dalam memberikan bantuan atau modal yang selama ini selalu dan masih menjadi masalah kelasik pengusaha dan petani domestik? Tahukah pemerintah bahwa mereka tersering tidak dipercayai (daripada pengusaha non domestik) untuk meminjam dan mengelola modal?

Agh entahlah, semoga saja semuanya membaik dan semakin ber-daya, distribusi kemakmuran atau kesejahteraan bisa merata, hingga tak sampai membuat kita merasa menjadi orang lain di negeri sendiri, tidak menjadikan anak bangsa sebagai kuli di tanah-ibu pertiwi sendiri.

Semoga, semuanya bisa bersuka cita.

Blog Perempuannya Ningrum

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: