Oleh: Ningrum | 19 September 2008

Covey, Semar dan Pandawa; Langkah Menuju Manusia Paripurna (bagian2-habis)

Kebiasaan-kebiasaan positif-efektif yang dipopulerkan Covey yang menurut Pitoyo juga dimiliki Semar dan Pandawa yang Jawa dan nge-Ramayana-ni lainnya adalah:

3. Batara Kresna; Mendahulukan Yang Utama. Kebiasaan ketiga ini melatih aspek personal management; mengatur dan memilah yang mana terpenting, penting kurang penting atau tidak penting. Hal terse but tentu saja sangat berhubungan dengan persoalan waktu dan  jenis kegiatan atau aktifitas. Pelaksanaannya sesuai dengan misi diri. Dalam pewayangan Pitoyo mengidentikkan poin kebiasan ketiga ini dengan Raden Naryana (nama ketika muda) alias Prabu Sri Batara Kresna.

Yang saya tangkap dari cuplikan kisah Kresna adalah ia sosok dengan misi menciptakan perdamaian, seringkali melakukan upaya preventif agar tidak ada  peperangan dan perpecahan yang ketika itu adalah persoalan yang cukup rentan ada. Dengan visi-misi yang dimiliknya tersebut, sejak usia muda ia menganggap silahturahmi dalam rangka membangun kepercayaan adalah hal yang paling penting dilakukan. Bahasa mudahnya si, Naryana melakukan diplomasi dan tampak ia adalah sosok yang diplomatis dan popular-ngetop. Ia selalu menciptakan dan membina hubungan diplomatik (politik-kerajaan) juga hubungan kedekatan psikologis (personal).

Ia rajin mengunjungi raja-raja negeri besar; Prabu Salya diMandraka, prabu Pandu di Hastinapura, Raja Matswapati di Negeri Wirata dst. Ia  juga berhubungan baik dengan Semar Badrayana yang dikenal bijak dan berwawasan luas,  juga kerap berkunjung ke Gunung Kendalisada untuk menemui Resi Hanoman. Dan tidak meninggalkan Syang Hyang Guru;penguasa para dewa-dewa (hlm 143). Sehingga atas usaha yang berdasarkan visi-misinya terssebut, ia menjadi duta perdamaian dan merupakan sosok yang dipercayai (karena berintegritas, jujur, menepati janji) dipewayangan. Ini adalah merupakan hasil personal management.

Pembawaan Kresna ini bisa digolongkan seperti apa kata Covey emotional bank account; menabung rekening di bank emosi, kata lainnya membina hubungan baik dengan orang lain. Bila dicermati, hal-hal lain yang dilakukan Kresna tersebut diatas, juga dirumuskan Covey, diantanya: Undestanding  The Individual;berusaha mengerti masig-masing pribadi. Attending to The Llittle Things; datang di kesempatan atau momen-moment yang terkesan sederhana. Keeping the Commitment; memegang janji. Clarifying Expectation; klarifikasi harapan diri terhadap oranag lain atau hrapan orang lain terhadap kita. Showing the Integrity; menunjukkan integritas; melakukan apa yang dikatakannya. Apologizing When You Make Withdrawal; meminta maaf jika melakkan penarikan atas rekening bang emosi, meminta maaf jika mengecewkan orang lain.

4 Yudhistira: Berfikir Menang-Menang. Istilah ini bukan berarti kita telah mengalahkan, tapi kemenangan ini dimaksudkan kita mampu mengkondisikan diri saat berinteraksi dengan orang lain,bukan hanya diri yang akin mendapatkan hal-hal positif- manfaat, melainkan  juga orang lain .(hlm 156)
Berfikir Menang-menang adalah cara pandang bahwa kita bis menang tanpa harus mengalahkan. Kata bijak jawa Nglurug tanpa bala, perang tanpa gaman lan Menang tanpa Ngasorke (Menyerbu sendirian, bertempur tanpa senjata dan menang tanpa harus mengalahkan) yang juga muncul di rumusan Covey; menang-menang. Menang tanpa Ngasorke lebih terlihat sebagai akibat atau kondisi eksternal.

Pitoyo menulis, Orang yang bias berinteraksi secara effective dengan orang lain adalah orang yang mau untuk berusaha memimpin dirinya sendiri, seperti halnya Yudhistira yang berkeinginan untuk menang-menang.
Menang-Menang;  level tertinggi sebuah interaksi, kondisi dimana saya menang begitupun dengan orang lain.

Pada level ini khas dengan watak kematangan (maturity) dan mentalitas kelimpahan. Watak yang mempertemukan keberanian (courage) dan pertimbangan (consideration). Kelimpahan ditunjukkan dengan kemampuan sesesorang dalam menciptakan kemungkinan-kemungkinan dan mengkreasikan kemungkinan terse but untuk mendapatkan hal yang lebih besar atau menciptakan sebuah kemandirian.
Menang-Kalah; saya menang orang lain merasa dirugikan. Semangatnya, pokoknya saya harus meaning, masa bodo dengan kesusahan orang laian
Kalah-menang; Interaksi yang membiarkan diri dikalahkan secara tidak adil. Memilih merasa tertindas dan menyimpan rapat-rapat  untuk dirinya
Kalah-Kalah; terjadi pada orang yang putus asa. Pitoyo menulis, ini terjadi pada orang yang gemlike kebrabian rendah dan kemampuan pertimbangan yang rendah
Menang-Menang atau lebih baik tidak; biasanya terjadi pada hubungan bisnis.

5. Arjuna dan Bima: Mengerti Dahulu Sebelum Dimengerti. Hal ini terlihat pada Arjuna dan Bima pada saat Yudhistira melarang keduannya untuk tidak membalas perlakuan Dursasana yang melecehkan Drupadi. Keduannya pun menahan diri karena isyarat Yudhistira. Selain itu, karena memiliki kemengertian dan jiwa  ksatria, mereka pun bersedia menjalani pengasingan selama 13tahun akibat kecerobohan Yudhistira yang  mempertaruhkan istana Hastinapura pada Kurawa.
Mengerti dahulu sebelum dimengerti orang lain bisa ada dengan didahului proses mendengar dan atau melihat secara empatik. Menurut Pitoyo, keempatikan tidak bisa muncul sendirinya, harus melatih pendengaran dan penglihatan agar atau muncul ke-empatikannya.

Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa juga Drupadi, tak ada yang memojokkan atau menyalahkan-menghukum Yudhistira atas keputusannya. Justru mereka bersedia merasai  apa yang menimpa Yudhistira, bahkan  juga harus meninggalkan istana dan berpisah selama belasan tahun dalam penyamaran dan pengembaraan juga untuk merenungi dan memahami apa yang telah dan sedang terjadi. Saelama itu pula mereka wajib menutupi identitas mereka sebagai keluarga kerajaan. Jadi, proses menjadi mengerti akan benar-benar bisa terjadi bila kita mau untuk melihat apa yang menjadi paradigma lawan bicara. Mengerti dimulai dari mendengar  da melihat dengan empati.

Ada hal yang bias membantu untuk mengerti dahulu yakni dengan cara menghilangkan kebiasaan mendengar untuk memberikan respon otobiografik. Respon autobiografik. Untuk penjelasan lebih lanjut terdapat di halaman 180-186.

6. Senergi Persaudaraan Pandawa. Sienergi muncul dari potensi beda pandawa; Yudhistira, Arjuna, Bima Nakula dan sadewa. Dalam buku ini Yudhistira denilai memiliki jiwa kepemimpinan. Arjuna; dianugrahi rupa yang bagus, Bima; ketangguhan fisik, Nakula;pemikir, Sadewa; pandai berkomunikasi dan diplomatis. Kelimanya diberikan anugrah  yang tidak sama, dalam keberbedaan itu justru mereka saling menghargai, melengkapi dan mampu bersinergi; saling mengisi dan menghasilkan sesuatu yang lebih besar dari hasil kerjasama mereka. Sinergi ini dapat terwujud diantara mereka dengan terpenuhinya kebiasaan-kebiasaan 1 sampai 5.

7. Mengasah Watak Kesatria-Mengasah Gergaji. Gergaji saya analogikan sebagai potensi diri;alat untuk memproduksi, sedangkan mengasahnya adalah kegiatan subyek untuk memanfaatkan potensi, mempertahankan atau menjaga proses produksi itu. Apa kah yang diproduksi? Segala tindakan-tindakan yang bisa mempengaruhi terwujudnya visi yang bersangkutan. Prosesnya? Ya pada perjalanan penerapan tindakan-tindakan itu.

Atas ini, saya tartarik dengan gagasan atau konsep empat ruang dalam diri milik Rummer Goldden yang saya dekatkan pengertiannya dengan gergaji:


Dimensi Fisik.
Contoh tokoh pada pandawa;Bima. Sejauh mana fisik dimaksimalkan kemampuannya untuk berproduksi. Ya tentu saja ini berkaitan dengan aktifitas-aktifitas ragawi yang merupakan tindakan dari hasil pikir diri.  Dengan ragawi  (dimensi materi) bisa mewujudkkan  dimensi lainnya (kreasi mental;imajinasi;visi).
Dimensi Mental. Bagaimana memaksimalkan fungsi dimensi mental? banyak hal yang bias memperkaya ranah ini;  Membuka wawasan dari aktifitas membaca, berdiskusi dengan orang lain tentang kehidupan, ilmu kesehtan dsb. Berbahagialah untuk para bloggers, karena kebiasaan membaca dan me-review-nya kembali, menuliskannya kembali (seperti yang bloggers banyak lakukan) berfungssi sebagai pensejahtera dimensi mental. Titik tekannya pada aktifitas otak; aktifitas nalarisasi dan logikaisasi, juga berarti ada kegiatan pada pikiran;cara piker-berfikir  dan cara pandang. Contoh Pandawa; Nakula dan Yudhistira.Yudhistira selalu megingatkan adik-adiknya untuk terus belajar dari siapapun yang mereka temui, kepada Nakula ia pernah berkata ”….bahkan dari kata-kata seorang pembohong pun, bila kita mau mendengar, … kita bias belajar sesuatu…”


Dimensi Spritual.
Konsentrasinya pada hal-hal yang menyangkut hati, perasaan dan emosi. Mendekatkan diri kepada hal-hal, kejadian atau peristiwa yang menimbulkan sisi kehumanitasan; kemanusian diri. Juga bias pada kegiatan keagamaan dan rutinitasnya.  Di dimensi ini, kesadaran terdalam;hati nurani atau lentera jiwa akan muncul sedikit demi sedikit, juga suatu saat barangkali bisa menjadi penuntun. Contoh wayang;Semar Badrayana.


Dimensi Sosial
. Contoh tokoh wayang pada Kresna. Tuntutan pada fungsi manusia sebagai makhluk social, Bagaimana bias berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan disekitar atau berbagai komunitas dan lalu hingga sampai kepada andil dalam kegiatan social, baik secara pribadi atau melalui dengan sebuah institusi. Pada poin ini Pitoyo mengutip tembang Mijil atas gubahan Sunan Gunung Jati (hlm 210). Paring taken marang kang kalunyon lan wuto, Paring pangan marang kang kaliren. Paring sandahang marang kang kawudan. Lan paring paying maeang kan kodanan. “Memberi tongkat bagi yang berjalan di jalan licin dan gelap, Memberi makan bagi yang lapar, memberi pakaian bagi yang tak berbusana, memberi payung bagi yang kehujanan. Maksud dari tembang tersebut adalah memiliki kebermanfaatan bagi orang lain, yang juga digolongan Pitoyo sebagai salah satu watak kesatria, selain sumeleh, menang tanpo ngasorke; mentalitas berlimpah.

Setelah ketujuh kebiasaan positif-efektif itu, manusia akan sampai kepada seperti yang disebut Covey dengan greatness (menurut saya, sebenarnya greatness sudah tersirat di the7 habbit) istilah ini;greatness  diidentikkan Pitoyo dengan kebesaran jiwa. Pitoyo pun mengambil salah satu sampel yang dihadirkan Covey, yakni Muhammad Yunus dari India peraih nobel dari PBB untuk keberhasilannya mengentaskan kemiskinan dengan bank kreditnya.

Tapmak olehku visi misinya bermanfaat bagi orang lain dengan cara memberdayakan diri dan memandirikan orang lain. Saya kira ia memang layak menjadi salah satu sampel. Ia memiliki sebuah konsep-pemikiran (social-ekonomi) yang ia yakini. Berhasil menjadikan kemiskinan sebagai peluang kesejahteraan. Ia yakin dengan gagasannya; hati nuraninya yang terus menuntunya untuk bertindak. Ia yakin dengan kemampuannya. Ia mampu merubah pola pikir dan kondisi orang lain menjadi peribadi-pribadi yang berdaya dan mandiri. Itu semua berarti, M.Yunus mampu memaksimalkan segala yang dianugrahkan Sang maha Pencipta.

Hmm…saya tidak tahu, seberapa mengenalkah Covey dengan sabda sang Junjungan bahwa “Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”. Tapi yang jelas tampaknya, Covey, Semar dan Pandawa punya kesamaan misi (misi dalam hidup;meski tak seluruhnya) dengan Sang Junjungan. Mereka juga percaya pada prinsip tanam “Apa yang diperoleh-dipanen  adalah yang telah dan coba ditanam”. Bisa jadi kepercayaan ini pun cikal bakal atau pun bisa membantu merasionalisasikan kepercayaan terhadap Sang Maha Pemberi Perhitungan yang memiliki prinsip balasan dan keadilan. Lalu, bagaimana manusia yang paripurna? Barangkali ya seperti itulah, seperti uraian diatas dari postingan bagian 1. Anda sepakat?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: