Oleh: Ningrum | 28 September 2008

Undang-Undang Pornografi Gak Penting Banget??

Persoalan ini sudah muncul di 2006. Saya pun ingat ketika seorang teman menempelkan tulisan penolakan rancangan undang-undang (RUU) pornografi di mejanya. Sepertinya ia terilhami oleh aksi demonstrasi anti RUU Pornografi yang dilakukan oleh LSM Perempuan Damar yang tampak juga melakukan koordinasi dengan LSM Perempuan seluruh Indonesia.

Mau tahu  sett-big isue demonstrasi itu? budaya daerah-kebhinekaan dan hak asaasi manusia. Ternyata isu ini juga yang masih menjadi “senjata” penolakan di 2008, ini juga kembali muncul di segmen Save Our Nation-nya Metro TV beberapa waktu lalu.

Sebelum bicara setuju atau tidak, perlu atau tidak perlu mari pertanyakan kepada diri sendiri dulu, menggunakan setandar umum. Relakah jika anak-anak anda nantinya sedikit-banyaknya terpengaruh-terobsesi oleh hal-hal yang berbau porno?. Tengoklah bagaimana penasarannya anak remaja (masa transisi) pada hal-hal yang memang menarik (hal-hal yang bagi mereka baru) dengan stimulasi awal adalah media masa;cetak dan elektronik? Relakah anda jika sejak dini mereka sudah memiliki orientasi yang disebabkan-dipengaruhi kepornoan aksi media itu? (Apakah itu porno? Contohnya? Standarnya-barometernya? hmm… pasti persepsi beda-beda, tergantung kecenderungan dan tata nilai yang diyakini)

Cocokan jawaban anda (pertanyaan ini) dengan alasan hak asasi manusia-kebebasan berekspresi atau budaya daerah. Tepatkah alasan itu?

Pertama alasan HAM,  hak asasi yang mana? Saya kira hak asasi (hidup) kita juga selalu terbatas dengan hak hidup orang lain, kata lainnya hidup yang bertanggungjawab. Kita tidak bisa mentang-mentang hidup lalu menghilangkana hak hidup orang lain atau semena-mena karena merasa palinh berhak akan hidupnya. Bukankah dalam kondisi ini kita selalu akan dibatasi?
Kebebasan berekspresi, menghasilkan karya-kreatifitas. Mereka minta untuk dihargai dan dilindungi kebebasanya untuk berkarya (lukisan, pahatan dsb yang merupakan komuditas provinsi) karena ini juga HAM. Tapi pernakah mereka juga berfikir ada orang lain yang juga memiliki nilai yang beda, yang sangat menjunjung “ketertutupan”  atass kesadaran diri atau atas kesadaran akan kewajiban dari Tuhannya.
Alasan Budaya; yang saya tanggkap adalah soal pakaian adat, seperti yang di show-up kan setiap kali aksi. Atas kondisi ini, kelompok yang kontra RUUP beralasan pemerintah melaui undang-undangnya  tidak bias begitu saja menghilangkan atau menafikkan yang telah ada (pakaian adat itu;yang terbuka;yang dianggap atau yang juga berarti porno). Hmm…Saya kira hanya beberapa pakaian adat yang terbuka. Mungkinkah dipaksakan untuk mengganti pakaian adat? Kemungkinan kecil. Tapi saya kira bisa ada pengecualian untuk pakaian daerah atau produk-komoditas di beberapa provinsi, dengan catatan di gunakan di daerah yang bersangkutan. Kalaupun harus dipublikasikan saya kira bisa saja dengan cara-cara yang bisa mengelegankannya.

Jadi solusinya untuk negara yang majemuk ini? (karena bukan berasas salah satu agama) Sebisa mungkin pemerintah mengakomodir semuanya. Tidak menafikkan yang menjunjung “ketertutupan”, juga tidak mengabaikan yang tak terlalu mempermasalahkan “keterbukaan”, tapi kalau terlalu terbuka, saya kira ya banyak orang yang menentang juga. Budaya malunya?

Barangkali, untuk mengakomodir-mengambil  jalan tengah. Mau tidak mau, harus saling menghargai nilai masing-masing. Negera ini tidak mungkin tidak menghargai “ketertutupan” yang merupakan nilai mayoritas penduduk Indonesia. Jadi untuk yang lebih sepakat untuk bebas dan buka-bukaan, memandang semuanya adalah seni ya harus menghargai itu, tidak bisa memaksakan bahwa itu wajar atau bukan porno. Ingat lho kebebasan kita seslalu terbatasi oleh kebebasan  yang lain, alias tetap terbatas. Hmm kalau mau polling atau ambil suara terbanyak (asas demokrasi ketika musyawarah mufakat tidak bias menghasilkan keputusan), kemungkinan besar  banyak yang akin menyetujui UUAP tersebut. Tapi ya entah, apakah wakil kita? yang di Senayan mau berfikir jernih terbuka, jujur dan mempertimbangkan kejiwaan anak-anak alias masa depan bangsa atau tidak.

Mari kembali pertanyakanlah kepada diri sendiri soal pornografi itu. Pikirkan efek, bias juga sebab akibat dari kebebasan untuk anak bangsa-generasi penerus. Bukankah banyak kasus perkosaan dan pelecehan seksual (yang terjadi pad anak-anak) disebabkan karena pelaku terstimulasi oleh hal-hal yang pernah ia lihat?  Sehingga obesesi dan orientasi seksualnya bisa menjadi-jadi.

Saya tidak bias membayangkan jika tidak ada UU Pornografi. Akan berdasar apa, ditindak dengan apa hiburan masyarakat yang dikemas dalam hiburan perayaan, pernikahan-resepsi yang  ternyata juga syarat dengan kepornoan dari gerak, tampilan dan suara para biduan perempuan. Yang paling menyedihkan (lihat berita tv, liputan di beebread provinsi) anak-anak juga menjadi penonton yang mentakjubi para biduan-biduan wanita yang saya nilai (saya kira bukan saya pribadi saja yang menilai demikian) berpenampilan dan bergerak sangat seronok, dan tak pantas dilakukan di depan publik.

Jadi menurut saya, aturan sebagai acuan dan dasar pelaksanaan adalah sebuah keniscayaan. Aspek legal formal yang menjadi dasar aturan harus jelas dan detail. Sehingga tidak terjadi multi tafsir atau kekacauan-kekacauan pemaknaan , sehingga akan mempermudah pelaksanaan.

Dan perlu juga pemerintah mengatur batasan, terutama publikasinya, dalam hal ini meminta media antuk bias kooperatif bersama-sama menciptakan suasan yang kondusif. Sama-sama beri’tikad baik melakukan pembangunan baik secara mental, spritual, bukan hanya mementingkan ratting; pemasukan media.  Memilah jam tayang untuk segmen yang hanya untuk kalangan terbatas. Dalam artian anak-anak terlindungi atau tidak mudah mendapatkan akses informasi audiovisual kapanpun (tanpa aturan waktu) yang bisa mengganggu kondisi psikologis atau orientasi seksual mereka.  Blog perempuannya Ningrum

Iklan

Responses

  1. Yang dimaksud dengan “seni” adalah hasil ciptaan manusia yang memiliki nilai estetika yang tinggi, dan mengutamakan nilai-nilai intrinsik yakni yang bertujuan pada dirinya sendiri. Sebuah karya yang mengutamakan nilai-nilai ekstrinsik yakni yang bertujuan lain di luar dirinya sendiri, seperti tujuan promosi, meningkatkan penjualan, dan membangkitkan nafsu birahi, tidak dikategorikan sebagai karya seni.

    “Pertunjukan seni dan budaya” sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) huruf b hanya dapat dilakukan oleh lembaga kesenian dan kebudayaan di tempat khusus untuk pertunjukan seni dan budaya.

    saya ambil dari RUU hasil unduhan. selain itu ada beberapa lagi. masalah multitafsir itu yg banyak dipertanyakan. definisi porno sendiri juga multitafsir. arti seni pun kayaknya bukan bikinan orang seni tuh.

  2. gak apa2 sih mbak uu antipornografi itu diberlakukan. Semangat berapi2 untuk mengegolkan UU pornografi dan diberlakukan bagi semua dengan sama rata, adalah bentuk ari ketidakpercayaan diri. Kalau saya yang dipesantren kyai cukup ngajari cung aja wuwudah lamona sira adus.. cukup segitu, gak ribut2 bikin UU antri pornografi.

    Btw, bagus juga sih kalau uu ini diundangkan. Pernah dengar ada angin dari mana gitu mengatakan kalau di gedung dewan kita itu ada banyak berseliweran “kupu2 kertas”. 😀

  3. sudah lama sekali RUU ini diperdebatkan, tapi kok lum disahkan juga ya.
    qt semua sama2 manusia, sedikit banyaknya jg sama tahu gmn efeknya pornografi. so, kenapa harus menolak untuk jatuh terjerembab? bukan masalah percaya diri atau tidak, ingat, lebih baik mencegah daripada mengobati. lebih baik ga terkena efek pornografi dengan dilarangnya pornografi ini.

  4. yang menolak UU pornografi hanya segelintir orang…
    lagipula itu untuk kepentingan bersama.
    Ayo… DPR cepat sahkan UUO-nya kalau Anda semua peduli pada rakyat..

  5. 4.Sam Siti Jenang
    Wah saya ni ya ndak ngerti pengertian seni sesungguhny. Agak janggal pada redaksi “bertujuan pada dirinya sendiri”. Redaksi lainnya saya kira dimaksudkan pada hal-hal-aktifitas yang seringkali mengkambinghitamkan atau mengatasnamakan pertunjukan dan segala pertontonan adalah seni, tanpa menghiraukan etika dan mensalartikan estetika. Terlebih efeknya, tak terpikirkan-dimasabodohi oleh yang disebut-sebut dengan seni.
    Ya, kalo bias si sejelas-jelasnya agar tidak muncul penafsiran2 porno1, porno 2 dst. Yang nantinya bias menggugurkan keabsahan pasal perpasal undang2 tersebut.

    4.Bang Kurt
    Masalahnya bukan percaya diri atau tidak. Masalahnya adalah masyarakat (terutama anak-anak yang menjadi perhatian saya) itu lebiih mudah mencontoh apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar atau baca.Untuk beberapa provinsi yang bersuku-suku (berkaitan dengan pakaian) saya rasa juga bisa dielegankan tampilan dan bentukannya ketika harus dipertunjukkan si depan publik dan jika sangat dianggap penting upacara dikategorikan kurang pantas (jika ada) tersebut, barangkali ada pengecualian hanya berlaku-diperkenankan di daerahnya tanpa ada publikasi secara luas (untuk konsumsi terbatas).

    Bagaimanapun aturan harus tetap ada, untuk menertibkan. Kita sama-sama tahu lah kesadaran kita kan masih belajar, jadi perlu alat pengajaran (RUU-AP) sebagai aturan- dasar hukum sebuah aktifitas yang berpotensi meresahkan.

    “Kupu2 kertas”? ya informasi itu memang ada.

    4.Mbak Riza
    Ya mbak lama sekali ni, saya juga menunggu ketok palu RUU-AP. Banyak kemungkinan si: Tim perumus RUU-AP kerjanya kurang cepat, Sidangnya tidak quorum jadi tidak bisa membuat suatu keputusan. Perkiraan saya, banyak juga yang punya kepentingan- tarik menariknya kuat. Banyak yang hawatir usahanya bakalan tersendat, oplahnya menu run dsb. Pengusaha yang ada di luar parlemen juga ikut sibuk mbak. Ditambah sepertinya sekarang anggota parlemen lagi disibukkan dengan persiapan “hajatan” demokrasi di 2009. Jadi ya gitu deh 😦 ….

    4.Sam Jabir
    Repotnya kalau segelintir orang itu dengan kekuatan dan amunisinya mampu mempengaruhi setengah plus satu dari jumlah keseluruhan anggota parlemen.
    Ya jadi gak jadii di sahkan RUUAP nya 😦
    Semoga saja tidak terjadi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: