Oleh: Ningrum | 11 Oktober 2008

Perpustakaan yang Mematikan – Membunuh

Novel The Name of The Rose, Maret 2008 dicetak kali pertama oleh Bentang. Novel fenomenal karya Umberto Eco ini lumayan tebal, 624 halaman, bercover perempuan (lage-legei; malah sepertinya tak ada hubungannya dengan isi novel). Ingin saya perlihatkan (masuk dalam postingan), tapi koneksi innetnya sedang lemot minta ampuuun, loadingnya lambat apalagi jika posting gambar, weeeh bisa mendapatkan kelas sabar plus plus plus (Tapi sekrang udah di ikutkan cover novelnya). Btw, ini novel luwama, tapi baru saya ketahui;terlambat (ini saja ada yang memberi tahu, kalau tidak ya bablas).
* * * * *
“Kejahatan bisa muncul dari kesalehan”
(wow!! Kalimat kontradiktif ini ada di bawah judul novel, membuat saya penasaran).

Beberapa pendapat yang juga memperbesar keingintahuan menyertai sinopsis novel: “….mempertanyakan kebenaran dari perspektif teologis, filosofis, ilmiah dan historis.”- The Merriam-Webster Encyclopedia of Literature.
“Sebuah dunia penuh metafor dan pradoks hasil kreasi seorang cendekiawan” Library Journal.
* * * * *
Hal pertama yang ingin saya lakukan dalam membaca novel ini adalah mencoba tak melihat siapa dan berlatar belakang apa tokoh-tokoh yang ada pada novel tersebut (dari konteks SARA maksudnya). Lalu (lebih penting) mengetahui-bisa menangkap pesan sesungguhnya novel itu. Novel yang saya kira menarik, bukan an-sich fiksi namun juga hasil petualangan nyata Adso (petualangan dan atau kisah nyata: ini ni yang menjadi keterertarikan untuk membaca sebuah novel). Adso adalah tokoh yang mempertanyakan kemutlakan logika dan ingin mengetahui sebab-sebab lima kematian di perpustakaan, kata lainnya si tanggap terhadap yang ada di benaknya dan segala yang terjadi (diluar dirinya).

Saya baru sampai di 20-an halaman, jadi belum bisa meresume cerita. Tapi memang St.Sunardi dalam kata pengantar yang mengkilaskan bahwa ada lima orang mati dengan meninggalkan jejak-ciri kematian yang tidak wajar. Aldemo Dante Otranto (ilmuninator perpustakaan), Vanantius (petugas perpustakaan), Berengar (tak jelas siapa, tapi ia termasuk dalam anggota komunitas biara, barangkali di bab berikutnya akan ada kejelasan siapa dia), Severnius (yang membantu William, mengautopsi mayat-mayat) dan yang terakhir Maleakhi seorang bibliothecaricus.

Saya pikir kelima orang terse but punya pengaruh terhadap sesuatu atau sebuah yang dianggap penting dan rahasia- pengetahuan. Wohoo ada apa ini?

Atau barangkali memang ada hubungannya mereka dengan kata Prof Zan, Antopolog dalam film animasi-kartun Avatar “Perpustakaan Lebih berharga dari emas, ilmu pengetahuan tak ternilai”. Ini juga yang tampaknya menyebabkan Wa Shin Thong, roh penunggu perpustakaan Universitas sangat membenci dan ingin menghancurkan siapa saja yang berniat megambil ilmu dari buku-buku yang tersimpan di perpustakaan tersebut, termasuk ketika Avatar (Aang), Katara, Saka juga Momo masuk ke dalam sana. Roh itu bekata dengan penuh amarah “Aku benci manusia, mereka menggunakan ilmu pengetahuan untuk melukai dan menghancurkan manusia lain”.

Ada keterkaitan (secara tidak langsung) lima orang terse but dengan apa yang terjadi di film Avatar. Karena kelima orang terse but dianggap tahu atau memiliki pengetahuan terhadap sesuatu yang dianggap sangat penting (barangkali), maka atas dasar itulah mereka dibunuh. Apakah mereka (yang dibunuh) akan menggunakan pengetahuannya untuk menghancurkan manusia lain? Belum saya ketahui. Tampak (tersirat) justru sebaliknya, pembunuhlah orang yang ingin menghancurkan pengetahuan dengan cara membunuh orang yang memiliki pengatahuan atau sebuah rahasia penting yang kapan saja bisa menguakkannya-menyebarluaskannya ke khalayak.
Jika dikaitkan dengan kejadian nyata di belahan dunia, maka cukup beralasan jika bangsa Mongol (dijamannya) menghancurkan perpustakaan Negara lain yang merupakan perpustakaan terlengkap dan tertua di dunia (ada yang tahu dimana dan apa nama perpustakaan itu?). Lalu pebumi hangusan perpustakaan dan museum (yang benda-benda bersejarah juga dijarah-dicuri) di sebuah negara yang kaya minyak baru-baru ini.

Ya karena perpustakaan benar seperti kata Prof Zan bilang. Yang itu berarti ada berjuta pengetahuan. Juga pada museum, yang saya piker di sana (keduannya) ada “kekayaan“, ada jejak rekam sejarah bangsa-identitas bangsa, kejayaan dan segalanya yang berharga. Hancur perpustakaan berarti adalah berseraknya atau bahkan hilang “kekayaan”, sejarah dan identitas sebuah Negara.

Perpustakaan (buku-buku) -ilmu pengetahuan-subyek yang kenal dekat dan tahu, sebuah hubungan yang nyata. Maka tidak heran jika ada pembunuhan lima orang dalam novel ini.
Hmm… perspektif yang beda akan ada jika pembaca lain menggunakan sudut pandang yang beda dengan saya, maka novel ini pun akan kaya makna dan bentukan.

Bagaimana selanjutnya dan akhirnya? Baru akan dibaca kelanjutannya, belum diketahui akhirnya🙂
Blog perempuannya ningrum.


Responses

  1. Pernah dengar maling budiman ?? atau “Ateis yang sholeh” sbgai julukan untuk Karen Amstrong?
    Huh… kadang orang terjebak pada permainan kata yang sebenarnya bisa dibuat lebih sederhana dan dimengerti oleh semua kalangan.

  2. kata kata yang agak panjang maksudnya agar lebih indah dan penasaran…………..
    yang polos dan sederhana malah enggak laku….

  3. reviewnya keren jadi pengen baca.
    saya rasa bukan hanya thdp buku, cara pandang seseorang akan membuat tanggapan terhadap sesuatu menjadi berbeda. kalau saja semua orang mau mengenyampingkan persoalan benar dan salah dan berpikiran terbuka bisa saja perbedaan pendapat menjadi suatu yang indah dan mendidik. huhuhuhu seperti biasa sotoy kan gw….🙂

  4. Membuat satu kesalahan itu wajar. Tapi kesalahan yg disengaja dan berulang (apalagi) dengan niat menyakiti itu diluar kewajaran dan pantas diberi pelajaran. Halah! malah lebih sotoy …

  5. 4.Muhamadjabir & hidayat
    Keren Amstrongnya gak asing, tapi “ateis yang sholeh” wah blum?😦
    Yaaaa…, berkreaasi lewat bahasa barangkali sam🙂

    4.Bedh
    Beragamnya cara pandang bisa menyadarkan kita, ternyata banyak hal yang tidak terpikirkan oleh masing-massing kita yang dipirkan orang lain dan kita juga jadi bis llihat latar belakang “nilai” yang ia pegang *halah*

    4.Mbak atau sam timun?
    Waduh keknya komentar salah alamat deh ini….
    Kalo emosi jangan disini… lagi tidak membahas emosi🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: