Oleh: Ningrum | 8 Juni 2009

Ragam Kebenaran dan Keselamatan

Terdapat Satu kitab Kebenaran dan satu penjelas Kebenaran. Penjelas yang telah terlaku oleh utusan Sang Kebenaran dan ditujukan kepada pengikut kebenaran. Ternyata satu kitab dan penjelasan tersebut kemudian ditafsirkan, dipahami dan dilaksanakan dengan bentuk sejuta ragam. Akibatnya, yang semula satu menjadi sejuta makna, yang semula satu menjadi berpuluh aliran, yang semula teguh berubah menjadi runtuh. Yang seharusnya memelihara justru saling menyakiti (walau tak secara sengaja). Dan mereka semua merujuk pada kitab Kebenaran, memliki pembenaran-pembenaran yang dihadirkan dari kitab Kebenaran yang ditafsirkan sendiri. Hingga mereka pun merasa yang benar atau barangkali bahkan menganggap diri paling benar. Polemik tak kunjung usai, semua merasa benar…..

Barangkali Objektifitas dan rasionalitas bisa membantu menyelesaikan hal ini. Tapi lagi-lagi Objektifitas itu terganjal oleh rasionalitas yang sulit atau barangkali enggan objektif. Rasionalitas yang sudah terwarnai dan terbentuk oleh keyakinan yang terbentuk sejak mereka belum bisa memilih “jalan mana dan cara benar yang mana untuk bisa mendapatkan keselamatan dari Yang Maha Benar? Yang Maha Pemberi Keselamatan?”.

Sulitnya merubah pendirian atau keyakinan orang yang bersangkutan. Terlebih pada hal-hal yang berangkali tidak umum atau oleh mayoritas tidak dilakukan. Betapa sulitnya berdialog untuk menemukan “persetujuan” bersama. Barangkali karena memang semuanya merasa paling benar. Keduannya atau lebih menolak untuk membicarakan lebih jauh demi terjaga dari emosi yang tanpa sadar sudah berbenih dalam dada. Lalu, kalaupun ada itikad baik untuk “berdamai” pun seringkali buntu tak menemukan penyelesaian, karena akhirnya masing-masing tetap pada kayakinan pada jalan keselamatannya yang sejak semula ditanamkan oleh lingkungan yang lama atau yang baru. Keyakinan akan kepercayaan yang terbentuk atas warisan dan kebiasaan atau bahkan yang lahir belum lama dari rassionalitas dan kebenaran yang menurutnya tidak subyektif.

Keberagaman memang sebuah khasanah, tapi sepertinya jika keberagaman menimbulkan prasangka dan bara dalam sekam, maka keseragaman pada tafsir kebenaran tampaknya perlu untuk kedamaian dan sebuah pintu keselamatan-Nya. Tapi apakah ini:keseragaman hal yang mungkin?

Tahukah manusia apakah ia benar-benar yang selamat atau tidak?. Sepertinya manusia hanya punya keyakinan, keyakinan yang bisa menyelamatkan atau sebaliknya menjerumuskan. Sesungguhnya, manusia hanya bisa tahu jalan dengan tanda-tanda yang tertulis dan tidak tertulis. Manusia hanya bias mereka-reka tanpa mengetahui pasti hasil akhir dari perjalanan yang dianggapnya benar. Manusia hanya bisa berproses menuju keselamatan yang baru akan diihat pada waktunya nanti. Dan akhirnya, untuk sementara ini manusia hanya bisa memilih, merubah pilihan dan atau melanjutan perjalanan yang telah dipilih. Atau bahkan memilih untuk tidak memilih semua ke-samawi-an yang dianggap sebatas keformalan.

Kawan, semoga kedamaian selalu melingkupi dalam ragam pemahaman dan kebeda-an laku ini. Atau bisa jadi kedamaian ini adalah salah satu jalan kebenaran untuk selamat.


Responses

  1. wah balik lagi nih…. bacanya besok deh… 😀

  2. 4×4=16 itu benar kanom?,kalau ngutang harus ngembalikan itu bener kan om?, kalu bukan milik kita jangan di ambil itu bener kaqn om?, kalo di baiki sama orang bilang teriama kasih itu bener kan om? kalao salah mau mengakui kesalahannya & minta maaf itu bener kan om?. Korupsi, menipu, menindas itu nggak bener kan om?

  3. buatlah keputusan dengan kata hati, nikmatilah kehidupan dengan rasa syukur, hadapilah persoalan dengan keikhlasan, jadikan kejujuran dan kesabaran sebagai pegangan untuk berpijak, lewati hari dengan senyum terindah tak ada yang abadi semua hanyalah ilusi tak ada yang sempurna jadikanlah apa adanya diri kita

  4. 4. STM, Dalbo
    Makasih wat semuanya…. Dalbo, saya perempuan lho bukan om 😦

    4.Angga
    Dicoba, deh… terimakasih sarannya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: