Oleh: Ningrum | 10 Juni 2009

Soal si Pintar dan Perasa

Biasa adanya aku, 8 Juni 2009
Teruntuk perempuannya
Di-

Tempat kau memang ada selalu untukku

Ku kirimkan ini untukmu kawan, yang selalu menjadi cawan untuk aku membahasakan rasa dan akalku; mendengarkan kelu, bimbang dan bahagiaku, juga segala ketakmengertianku. Terimakasih untukmu.

Keabadian itu tiada namun apa ini artinya jika tiada hilang jua. Hampir separuh windu kurang seperdelapannya, ini masih saja, apa artinya ini kawan. Sejak lama ku mengabaikannnya lalu ketemukan dan tak bisa menolaknya. Bahagia tak tergambarkan, awalnya dan tetesan bening itu sering menghampiri. Akhirnya, tak pernah kunjung ini berakhir, masih ingin bersama dan ini yang membuat ia meniadakanku dalam pikiran dan rasanya.

Oh, rasa oh raga. Sesuatu yang ingin kuceraikan agar segumpal darah itu tak ada dalam seonggok daging ini, agar tak mampu merasa agar aku tak ada rasa bersalah, sedih atau senyawanya. Berharap semuanya lenyap bersama ketiadaannya. Menghilangkah? Oh sungguh tidak, benar-benar terus semilir. Terlenakah? Aku rasa bukan, ia tak pernah menjanjikan kegelimangan, tak pernah menggodaku dengan bait-bait puitis, tak pernah menimangku dengan senandung tembang merdu, tak pernah memanjakanku dan tak pernah meminjamkan sayapnya untukku ke langit ke tujuh, tak pernah kawan. Sebaliknya, ia seperti berkeinginan meniadakanku, enggan lagi menggetarkan pita suarannya untuk kedua indra pendengaranku, enggan menggerakan lima atau sepuluh jarinya untukku lagi, cuih untuk menyentuh kalbuku, seperti mempersetanikku. Hanya karena enggan menyakitiku, barangkali.

Akh kawan, tahukah kau, ke-engganannya juga begitu menyiksaku. Tapi mengapa tak ku bakar saja menjadi abu? Agar lenyap dan terhempas, tapi entahlah aku juga begitu saja menjadi dungu untuk mengerti akan aku. Lalu hawa kah ini? seperti yang ku khawatirkan selalu pada rasaku?. Hati dan otakku berkata bukan, nyatanya aku tak pernah menyentuhnya begitupun dengan nya, tak pernah menyentuhku. Tangannya tak pernah menggenggm tanganku, tatapan kami juga tak pernah beradu. Dan hati kami tak pernah bersatu walau pernah bersama. Inikah ketulusan?. Seperti sejak awal, aku menyukai ke-apaada-an nya, hingga aku menerima apa adanya dirinya, baik yang bisa tersentuh atau tidak, baik yang bisa tampak atau tidak. Baik yang pernah tersampaikan atau yang telah dan terus ia coba rahasiakan.

Lalu adakah yang mengelabuiku? Buta? Tidak, tidak. Aku yakin tidak. Tak ada yang menghalangi pandanganku. Lalu, akakalku masih cukup waras untuk hal seperti ini, hanya saja sering tak ku pahami yang tak mau hilang. Sepertinya ku pernah mendengar satu kali ia memanggilku untuk merasa bersama di tengah samudra. Ketika ku nyaris sampai padanya di tengah lautan, ia justru merapat ketepi tak mau mengajakku. Di atas kebiruan yang dalam itu, aku pun ke tepi yang hijau nan dangkal untuk melihat keadaannya. Tak kutemukan, ia telah pergi. Ia pergi mencari dunianya dan mencari pasangan jiwanya.

Suatu waktu, kutemukan ia lagi, aku hanya bisa bahagia karena ia berbunga membuncah, juga aku merana karena aku manusia. Kawan, Ia tampak begelora menemukan separuh hatinya yang juga menginginkannya dalam keutuhan raga dan jiwa. Keduannya berikat dalam satu utas tali yang dinamakan romansa bahagia. Tapi kawan, ia tampak kembali gundah karena ikatan itu tak cukup kuat, separuh yang dinanya jiwanya meninggalkannya, karena jauh sebelumnya telah dimiliki oleh perindu lain. Merintihkah ia? Ia yang pintar dan sangat perasa tenyata merahasiakannya, namun rasa yang dimilikinya tetap terangkai olehku.

Ia kini sangat bahagia untuk hal lain. Jelas sekali Ia telah menemukan dunianya. Dunia yang sejak dulu ia dambakan. Aku juga bahagia untuk ini.

Kawan, cukup kali ini dariku. Aku akan mengirimkan untukmu lagi soal ini atau soal yang lain. Bisa dalam waktu dekat atau hingga kau nyaris lupa kapan terakhir aku mengabarimu. .

Salam rindu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: