Oleh: Ningrum | 11 September 2009

Agama ; Identitas yang Merisaukan?

Kali ini saya sebut agama sebagai salah satu identitas manusia. Disebut identitas karena dengan simbol-simbol yang dimilikinya, obyek dalam hal ini agama langsung bisa dikenali dengan mudah. Apakah Islam, Nasrani, Budha, Hindu atau Konghudcu atau lainya. Jika identitas itu melekat pada si A atau digunakan si A, jilbab misalnya atau kutipan teks yang berasal dari Al-Qur’an yang dirujuk. Salib atau Injil, maka dengan mudah orang lain akan menyebut A sebagai muslim atau Nasrani.

Kaitannnya dengan blog ini, Ingin sekali saya memposting tulisan-tulisan ringan milik pribadi bebas dari isu yang berkaitan dengan identitas (agama). Tujuannya adalah agar bisa diterima oleh semua kalangan dalam hal ini pemeluk agama manapun. Sehingga pesannya itu tak bersekat, alias universal.

Jadi, menghilangkan sekat itu penting, karena tidak menutup kemungkinan, masih banyak kawan-kawan yang “alergi” terhadap identitas yang saya pilih ini. Jangankan pemilih selain identitas yang saya gunakan, sesama pemilik identitas pun masih saja ada yang beropini sok suci, sok tahu dan sok alim dan sebagainya. Padahal tiada lain, hanya menghadirkan sebuah rujukan yang ternyata juga tertulis dalam kitab suci umat Islam. Baik itu soal syari’ah;peribadatan-hukum atau ber muamalah (kemasyarakatan; sosial). Jujur, saya juga masih belajar untuk tahu.

Jika menghapus sekat itu penting, berfikir hal ini juga penting. Mengapa diri harus risau ketika kemuslimahan diri tampak jelas? Atau ketika menunjukan bahwa hal ini atau itu terdapat dalam al Qur’an atau hadist. Bagaimana bisa menunjukkan bahwa Islam itu Rahmatan lil alamain (Rahmat bagi sekalian alam) jika kita (baik secara langsung atau tidak) mencoba memisahkan nilai-nilai itu dengan keislamannya, dalam hal ini kitab suci atau atau identitas lain yang mudah diketahui. Bagaimana Islam yang terbuka dan toleran akan tersyiarkan, jika kita enggan mempublikasikan?

Jika demikian, jangan-jangan kita mengalami krisis percaya diri (pd;pede) sebagai muslim di negeri dengan muslim terbanyak di dunia. Krisis pd yang ditunjukkan dengan enggan mengatakan atau menyembunyikan bahwa hal-hal (nilai-nilai) ini atau itu bersumber dari refrensi utama;kitab suci. Tidak pede  jika tidak sama (atau tidak umumnya) atau jika terlihat jelas ke-Islaman-nya. Ini juga barangkali terjadi pada kawan-kawan yang non muslim.

Jika demikian adanya, bisa jadi tingkat toleransi kita masih rendah, masih dipertanyakan, masih sungkan jika berbeda, masih risau (karena beda) jika tidak diterima. Kok jadi membahas toleransi? Adakah hubungan ketidak pede-an ini dengan toleransi?. Ada, kira-kira begini, toleran itu sendiri memiliki pengertian sebuah sikap yang berkemampuan menerima hal-hal yang tidak diamini (disetujui), dalam hal ini tidak dipilih sebagai kepercayaan (agama) pribadi, termasuk simbol-simbol; identitas yang dimiliki masing-masing kepercayaan. Kata ber-kemampu-an menjadi kunci. Berkemampuan menerima ke-beda-an yang ada di diri, menerima seutuhnya hal-hal yang menyertainya. Juga mampu menerima kebedaan yang ada pada orang lain.

Jadi, bukan menghilangkan (menyembunyikan) perbedaan (karena khawatir akan tidak diterima), tetapi mampu menghargai perbedaan (tidak merisaukan perbedaan) yang ada ada diri karena memiliki ke-beda-an. Jadi, ketika si B merujuk kepada kitab suci yang berbeda dengan kita, atau menggunakan simbol yang tidak sama dengan diri, beridentitas beda, ya terima saja. Juga sebaliknya.

Jadi, saya pikir pekerjaan rumah kita adalah membiasakan diri, membiasakan dengan yang beda. Membiasakan diri untuk tidak merisaaukan kejelasan identitas kita. Membiasakan diri untuk mampu menerima yang tidak disetujui (tidak dilakukan diri).  Membiasakan diri untuk tidak risau akan ketidak penerimaan. Membiasakan diri untuk mengurangi kadar atau prosentase “alergi” kita terhadap yang beda, sehingga sedikit demi sedikit ke apriorian (jika ada) terhadap yang beda bisa hilang. Semoga bisa….

Iklan

Responses

  1. posting yang bagus, sebelum kasih komentar yg lainnya, saya perkenalkan dulu nih, saya Agus Suhanto

  2. Saling menghargai dan menghormati pasti membuat hidup lebih nyaman

  3. 4.Sam Agus
    Oh ya salam kenal balik, terimakasih…

    4.Bang Singal
    Sesuatu yang masih perlu dijaga untuk menjaga agar semuanya baik-baik saja…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: