Oleh: Ningrum | 11 September 2009

Kesederhanaan Bahasa Tuhan dan Jalan “Pulang”

Kejadian-kejadian maupun cerita yang ada dalam hidup kita seringkali datang diluar perhitungan dan rencana kita. Begitu keinginan kita, bernyata menjadi begini. Banyak keinginan diri harus berkompromi dengan keadaan. Idealnya memang, kita yang mengkreasi keadaan, bukan keadaan yang mengkreasi diri. Tapi inilah salah satu ketaksudahan pernyataan dalam hidup. Kita (manusia) bisa mencipta banyak hal, tapi tak memiliki ke- Maha-an atas hidup (keadaan) dan waktu.

Kawan, pernahkah kau dihadapkan dan menghabiskan malam-malam dengan ketakberdayaan raga orang lain atau diri, karena renta atau karena celaka;kecelakaan?. Para lanjut usia (lansia dan atau yang masih muda penuh gelora) dengan sebab yang bisa terduga juga tak terkira sebelumnya. Hmm…. dalam keadaan itu, tak banyak yang bisa dilakukan diri kecuali berharap belas kasih sayang Sang Pencipta untuk melimpahkan daya-Nya.

Hidup memang sexy – fantastis, bisa sedikit terbaca, banyak yang tak dimengerti dan seringkali mengejutkan atau membuat shock. Lalu, seberapa mampukah pikir mengambil pelajaran dari apa-apa (kefantatisan) yang disuguhkan Sang Maha Pencipta dari kejadian paling dekat hari ini atau yang telah lalu?. Ini (setiap yang tertangkap oleh mata dan terasa oleh hati) memang berarti, sangat bernilai. Pelajaran yang berharga dari sebuah ketakberdayaan, salah satunya adalah soal sebuah pencegahan.

Tuhan seringkali menyandingkan sebab akibat sebuah kejadian. Banyak akibat (buruk) bisa dicegah dengan sebelumnya mencegah (tidak melakukan) akibat yang akan menyebabkan sebab itu muncul. Juga sebaliknya, untuk hal-hal yang baik atau yang banyak diharapkan. Pelajarannya adalah agar manusia tidak berlaku begini atau begitu, jika tidak ingin kejadian ini atau bancana itu. Intinya adalah bertindak aktif (melakukan) hal-hal pencegahan.

Selain memberi pelajaran, apa maksud Tuhan mempertemukan dan mengharuskan manusia melewati ini dan itu atau hal-hal yang sesungguhnya tidak diinginkan (musibah atau kesulitan;penderitaan) oleh kebanyakan manusia?

Kawan, pernah dengar ungkapan ini? “Ketika kita memohon kekuatan, Tuhan menghadirkan cobaan atau orang-orang untuk ditolong“. Ketika kita memohon kesabaran, Tuhan beri kita kesulitan untuk dihadapi. Ketika kita menginginkan cinta, Tuhan mengirimkan orang-orang untuk kita kasihi”.

Selama ini, kita baru akan memohon kekuatan ketika kita mendapatkan cobaan dan seterusnya terbalik dari ketiga ungkapan tersebut. Sampai disini jawaban pertanyaan mengapa Tuhan beri kita segala macam ini dan itu ada dalam ungkapan diatas. Tuhan berkata bahwa kita ini manusia yang kuat atau mampu hanya dengan melalui sebuah kejadian yang diciptakan-Nya. Jadi, bahasa atau jawaban Tuhan adalah kondisi-kondisi itu. Tidak terkecuali jika Tuhan ingin menyadarkan kita bahwa kita;manusia bukan siapa-siapa atau dan sebagainya juga hanya dengan sebuah peristiwa bisa juga bencana.

Karena harus kita akui, tersering kita;manusia tidak tahu atau barangkali tidak mau tahu bahasa Tuhan (baik itu bahasa cinta-Nya;yang tertulis atau yang tidak tertulis, peringatan-Nya atau ajaran-perintah;ajaran-Nya) kecuali hanya dengan sebuah peristiwa yang menghentak penglihatan dan nurani yang barangkali nyaris tertutup. Ya itulah kekuatan peristiwa (salah satu komunikasi;bahasa milik Tuhan terhadap manusia) yang berkemapuan menyadarkan.

Juga bisa jadi Tuhan memberi sebuah kejadian, hanya sekedar untuk menjadikan manusia cerdas berdoa dan melatih berfikir positif. Sesungguhnya dalam doa bergumul harapan-permohonan;bisa berasal dari imaji atau pikir-pikiran, spritual;hati-rasa;emosionalitas. Dari ritual;doa, beberapa potensi manusia terstimulus dan digunakan dalam aktifitas doa. Harapan-permohonan umumnya berasal dari kenyataan yang menjadikan seseorang tersebut berfikir, lalu yang bersangkutan menyimpulkan ingin atau tidak. Bisa juga doa adalah harapan terhadap yang belum dialami atau dilihat, atau meminta hal-hal yang demikian;baca baik dan meminta perlindungan dari hal-hal yang demikian;baca buruk. Semuanya tersampaikan dalam doa kepada-Nya.

Doa juga berasal dari olah rasa-spritualitas dan pikir. Berdoa untuk hal- hal yang baik (positif). Jika tidak salah, negatif atau positif diri itu berfrekwensi. Frekwensi terse but pun mampu diterima dan akan direspon oleh alam sesuai dengan apa pikiran dan prasangka kita (karena percaya atau tidak, pikiran itu energi penggerak;katalisator). Segenap alam akan bergerak, bekerjasama membantu manusia yang memiliki niat, i’tikad baik dan yang sungguh-sungguh (bisa baca Al-Khemist nya Paulo Coehlo atau The Secret nya Rhonda Byrne). Begitupun dengan Tuhan. Pernah baca ini? “Aku adalah sesuai prasangka hambaku”.

Kawan, karena Ia mempersilahkan kita untuk meminta dan sudah berjanji akan mengabulkan (apalagi di bulan ramadhan ini) maka dengan itu mari kita berdoa (jika kau mau). semoga kita menjadi manusia yang pandai mendengar-mengerti bahasa Tuhan, agar mampu mengambil pelajaran dari segala suguhan-Nya. Juga berdoa agar akan berkesudahan dengan “sederhana”. Tak ada tanda-tanda pada diri ini yang terbaca dan terasa oleh orang lain (terkecuali oleh diri), hingga tak ada kesibukan orang lain terhadap diri dan semuannya berjalan mudah. Mari memohon ke-mengertian terhadap bahasa Tuhan, kesederhanaan dan keselamatan-Nya dalam berjalan “pulang” hingga sampai pada pelukan damai-Nya, amin ya Rabb……


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: