Oleh: Ningrum | 15 September 2009

Sutra Ungu

Takkan ada yang dinamakan pertemuan jika perpisahan itu tiada. Inilah yang terjadi pada ku berpisah dengan  teman, biasa juga adik. Awalanya, sekitar 17 November 2008 intensitas kebersamaan kami mulai terbangun oleh sebuah ide sepontan di Masjid Al-Ikhlas bulan Ramadhan tahun lalu yang menuntut untuk dinyatakan. Menggarap yang tidak layak menjadi layak pakai, membangunkan yang telah mati suri, mengadakan yang  sempat tidak ada, belajar bersama dan membahagiakan (berbahagia bersama) komunitas tabungan masa depan (ini adalah komunitas selain yang pernah kuceritakan di komunitas baruku).

23 Juni 2009  kata pamitku untuk sementara pada adik-teman, tak dinyana kepergianku hingga awal agustus. Lalu, seminggu bersama lagi. Tercatat dalam ingatan, 16 Agustus aku pun meninggalkan semua dengan tak ringan hati untuk sebuah amanah yang belum ku tahu sampai dimana kesanggupanku, juga hingga waktu yang belum ku ketahui kapan akan berakhir.

Saat itu, rasa haru tak sempat terluapkan sepenuhnya di pertemuan singkat Minggu sore, 16 Agustus di rumah (orang tua) ku. Sebuah amplop dan satu bingkisan  hijau bergambar bunga hati yang sudah bisa kutebak isinya. “Mbak aku tak bisa lama-lama” katanya.  Tak banyak kata-kata ataupun tawa seperti kami biasa bersama, barangkali karena rasa, rasa sedih yang memang tak sempat terucap utuh, rasa kami yang termini oleh alam pada mendungnya awan. Untuknya, Amalan Hati dan Cara Mendidik Anak, semoga bermanfaat.

Setelah itu, aku berniat untuk membuka pemberiannya saat sampai di Yogyakata. Tapi, baru sampai di Ibu  Kota kubuka pembungkusnya, isinya  Sutra Ungu. Terimakasih Miya.

* * * *
Dear mbakku,
Mbak saat yang terindah adalah bersama-sama denganmu, bercerita, tertawa bersama, bahkan pernah menangis bersama. Saat menyesakkan dadaku, berpisah denganmu. Tapi aku bahagia karena ada catatan kehidupan bersamamu walau sesaat.
Met jalan mbakku. Semoga di sana kau temukan kebahagian dan impian impian yang pernah kau utarakan terdengar oleh-Nya dan terwujud di sana, Amien.
Maafkan aku bila ada sikap dan perkataanku yang menggores di hatimu.
Mbak ini ada kenang-kenangan, pi maafkan aku yah, cos aku sudah membacanya. Aku baca duluan 🙂 . dan terimakasih untuk semuanya.

* * * *
Miya, maafkan  jika nanti pada hari pernikahanmu 3 Oktober 2009, aku tak bisa mendampingi seperti di hari pertunanganmu. Jangan merajuk lagi ya….., cukup kemarin saja….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: