Oleh: Ningrum | 27 Oktober 2009

Poligami Sudah Tuntas

Sampai saat ini poligami masih menjadi pro dan kontra. Satu pihak berpendapat poligami adalah perintah, sedangkan pihak lain poligami adalah salah satu dari bentuk kekerasan keluarga, tepatnya kekerasan terhadap jiwa (bukan fisik) terhadap perempuan.

* * * * *

Entah apa visi dan misi club poligami yang menginduk ke Global Ikhwan Malaysia. Klub yang baru ini mendeklarasikan diri di Bandung Jawa Barat beberapa waktu lalu. Namun sampainya informasi tersebut kepada khalayak diartikan beragam, bisa sebagai salah satu bentuk kampanye poligami, bisa dilihat sebagai pemenuhan terhadap keinginan para poligamis bereksistensi, atau mungkin juga meluruskan persespsi masyarakat terhadap praktek poligami.

Memang benar, jika dalam Islam (Q.S.4;3) memang terdapat ke-boleh-an (yang berarti bukan serta merta dapat dimaknai sebagai perintah atau sebuah kewajiban) Lalu, poligami yang dibolehkan yang berarti diizinkan itu pun diikuti (memiliki syarat) dengan kalimat

“….Jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka nikahilah seorang saja. Maka demikian itulah lebih dekat kepada tidak berbuat aniyaya.” (terjemahaan Al-qur’an digital)

Kata-kata ini yang seringkali dilupakan atau mungkin ditinggalkan atau tak disertakan ketika pelaku praktek poligami melegitimasikan tindakannya melalui ayat ini. Redaksi sering tidak dibacakan secara utuh, terutama pada redaksi “Jika kamu tidak dapat berlaku adil maka dst“.

Jadi, hipotesanya adalah poligami sudah selesai sampai di sini (di ayat ini). Jika khawatir tidak dapat berlaku adil, anjuran utama dari Nya adalah monogami.

Tersurat juga dalam ayat ini, bahwa pelaku poligami juga telah diberikan warning;peringatan bahwa, poligami juga berpotensi menganiyaya (menyakiti) ketika sang suami bermasalah dengan keadilan-nya. Mulai dari persoalan waktu;kuantitas dan kualitas kebersamaan, kasih sayang, pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani (meteri dan immateri) dst.

Saya kira perempuan dan laki-laki sama. Sama-sama memiliki kecenderungan terhadap salah satu yang menarik hati atau yang lebih disukai. Sama-sama berkeberatannya jika menjadi yang ke dua, artinya ketika ada orang lain yang lebih diutamakan. Sanggupkah berlaku adil?

Dengan demikian sebenarnya para poligamis memilik beban yang lebih banyak daripada monogamis. Kewajiban berlaku adil dari-Nya. Tuntutan untuk siap mepertanggungjawabkan kepemimpinan diri kepada-Nya sebagai suami dari para istri-istri dan ayah dari keturunan yang banyak laku dan karakter.

Saya kira, pelegitimasian yang “mudah” terhadap ayat ini, bersanding dengan keperluan untuk mepelajari aspek kontekstual-an ayat yang sudah tentu tekstual itu. Terutama pada sejarah tutunnya ayat atau asbabun nuzul;sebab-sebab turunnya ayat. Bagaimana kondisi sosial saat itu ketika ayat ini diturunkan-Nya. Bagaimana kedudukan perempuan ketika itu, hingga beberapa perempuan dinikahi oleh hanya satu laki-laki. Diharapkan dengan ini, kebijakan-Nya ini benar-benar bisa menjadi sebuah kebijaksanaan yang dipahami oleh kita.

Saya percaya, Dia tidak sedikitpun bermaksud menyakiti hamba-hamba yang diciptakan-Nya, termasuk perempuan, yang secara umum (mayoritas) menjadi pihak yang “dibagi-bagi“.


Responses

  1. http://etikush.blogspot.com/2009/03/aq-ingindipoligami.html

  2. semoga itu dapat menjadikan qita bisa menghargai pasangan qita 🙂

  3. 4.Etikus
    Gak pake endang kan?
    Ya sudah baca dan sudah saya beri komentar di postingan itu

    4.Lilis
    Mbak, heeeee…. senyum wat mbak lilis 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: