Oleh: Ningrum | 9 Desember 2009

Istri; ibu, Pola Asuh dan Golden Age Balita

Rasanya sempurna sudah kebahagiaan seorang perempuan jika ia sudah menjadi seorang ibu, tepatnya mampu mendidik anak. Hmmm benar-benar menjadi perempuan (bukan berarti yang bukan seorang ibu belum bahagia atau bukan perempuan). Apalagi jika ia dapat memaksimalkan perannya untuk anak dan keluarga. Peran itu diantaranya proaktif mendampingi  dan  optimal mengisi golden age anak;0-3tahun, dalam bahasa umumnya ini disebut usia penting anak dalam tumbuh dan berkembang, baik  kognitifnya;aspek kecerdasan, dan afektifnya; menyangkut emosi, perasaan anak dan watak yang akan terbentuk.

Sebelum dilanjutkan, postingan ini bukanlah pengalaman langsung, karena saya belum menjadi ibu rumah tangga, baik yang bekerja atau tidak bekerja dan atau dalam mendidik anak secara langsung. Tulisan ini hanya pengamatan terhadap ibu yang bekerja di luar rumah, serta pengamatan singkat namun periodik terhadap perkembangan salah satu murid play group  Bakti Insan Cendekia yang ibunya tidak bekerja; menjaga golden age anak.

Menjaga masa ini adalah sebuah keniscayaan, namun ketika sang bunda memilih untuk bekerja, maka secara otomatis akan mengurangi waktu bersama dan bermain dengan anak-anak. Bahkan akibat terburuknya adalah hilangnya peran atau kesempatatn ibu untuk mengoptimalkan kemampuan anak dalam tumbuh kembang, terutama pada masa golden age-nya. Sangat disayangkan ketika masa ini terlewati dengan seadanya, karena akan  berpengaruh besar  atau menjadi bentukan dasar kemampuan; termasuk kecerdasan dan karakter anak dikemudian hari.

Jika ada yang mengatakan bahwa kualitas (kebersamaan) lebih penting daripada kuantitas, bisa jadi benar. Tetapi dari yang benar itu ada yang lebih baik dan lebih berpeluang untuk meningkatkan kualitas dan memaksimalkan potensi anak, salah satunya adalah ketersediaan waktu luang.

Saya pikir, ketika seorang ibu bekerja, biasanya Ibu akan mengalihkan tugas-tugasnya kepada “wakil”; babysitter. Rentan sebenarnya menyerahkan tiga tahun pertama kepada babysitter. Banyak waktu belajar bersama yang akan terlewatkan oleh ibu dan anak. Banyak hal yang  akan disimpan dalam bawah sadar anak dari pengasuh, kata dan tindakan apa saja yang diucapkan dan diperbuat. Jika ini terjadi maka, asimilasi kebiasaan dan sifat dari “wakil” ibu dalam diri anak tidak dapat dihindari.

Beruntung, jika baby sitter tahu dan mau menjaga anak dari hal-hal yang negatif. Lalu, mengetahui mainan dan permainan apa dan bagaimana yang dapat melatih sensorik dan gerak motorik anak, melatih daya kosentrasi serta meningkatkan kerja otak anak. Mengetahui bagaimana caranya agar anak tumbuh menjadi sosok yang mengesankan.

Namun, bagaimana jika ia;babby sitter merasa cukup hanya dengan melakukan sesuatu (memberi makanan walau diragukan komposisinya dari segi kesehatan atau dengan cara yang paling ekstrim memberikan obat tidur kepada anak) untuk tujuan agar anak yang dijaganya senang, tidak menangis atau rewel dan tidak merepotkan. Bagaimana apabila ia tak ambil pusing apakah anak yang dijaganya harus dilindungi dalam artian tidak diperlihatkan atau didengarkan kata-kata atau tindakan kasar yang akan direkam lalu ditiru. Siapa yang bisa menjamin ini?

Saya pikir, jauh lebih baik dan terjamin jika, seorang anak dijaga oleh ibunya.  Si ibu akan mencari tahu bagaimana cara yang terbaik untuk mengasuh anak. Memilih mainan dan permainan apa saja yang bisa menggali, mengasah dan mengoptimalkan kemampuan anak. Seorang ibu tidak hanya akan berfikir agar tidak kerepotan. Seorang ibu akan mengerahkan segala kemampuannya untuk menjadikan balitanya menjadi anak yang membanggakan  untuk hari ini  sebagai pondasi  untuk esok.

Jika seorang ibu  memiliki waktu dan konsep mendidik anak atau pengetahuan seputar itu, maka akan mampu berperan memaksimalkan mengisi golden age anak. Mampu melakukan dan memberikan hal-hal terbaik dan segala yang diperlukan pada masa itu. Menjaga anak dari tontonan kurang baik yang bisa mempengaruhi prilakunya atau  alam sadarnya. Memberikan kebiasaan-kebiasaan positif. Menanamkan kedisiplinan dan nilai-nilai ke-santunan. Belajar bersama anak  dalam banyak hal untuk mampu lebih cepat dari pada teman sebayanya. Dengan kata lain si ibu all out, memanfaatkan masa-masa penting ini.

Masa ketika anak memiliki kemamapuan belajar luar biasa, anak ibarat busa yang mempu meresapkan air dengan mudah. Anak seperti mesin perekam yang berkemampuan menyimpan apapun yang ada dihadapannya; hal baik maupun buruk. Sedangkan soal kapasitas, sangat tergantung dari seberapa besar lingkungan berhasil menstimulasinya; terutama ayah dan ibunya atau orang yang memiliki intensitas berinteraksi  terbanyak dengan anak.

Oh ya, anak yang sering didampingi ibunya (bukan juru asuh), lebih memiliki kepribadian yang hangat, santun, cerdas dan lebih mudah diarahkan. Lalu, umumnya berlaku sebaliknya untuk yang didampingi pengasuh.

Kemudian, untuk bunda yang bekerja, ada hal bermanfaat dari pilihannya ini, ia bisa membantu kondisi finansial keluarga dan mensukseskan program pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan yang salah satu termnya adalah mengupayakan ibu rumah tangga bekerja; berdaya secara ekonomi dalam meringgankan kewajiban suami sebagai kepala rumah tangga.

Sedangkan untuk yang memilih menjadi ibu rumah tangga, ia memiliki konsekuensi logis  kebergantungan secara finansial terhadap suami sebagai penopang keluarga. Dibalik itu, profesi ini juga bisa menyenangkan dan membanggakan, terlebih untuk buah hatinya. Karena, mengutip Tantowi Yahya, duta baca nasional “Ibu adalah perpustakaan pertamaku”. Hmmm….. Berbangga dan berbahagialah para ibu yang bisa mendampingi anak-anak secara maksimal untuk bisa dan terus maju.

Selamat Hari ibu untuk semua para bunda, 22 Desember.

 

___________

Tulisan Terkait:

1. Anak-anak


Responses

  1. assalamu’alaikum
    sepakat bahwa golden age super penting…dan ibu pendidik pertama dan utama.tapi perlu ada yang perlu diluruskan…bahwa kebanyakan manusia byk termakan filisofi barat dalam memeknai golden age.padahal kita kaum muslimin dan islam sudah punya teori sendiri tentang masa-masa emas ini.pertama,usia prabaligh adalah masa dimana seorang anak harus memenuhi file otaknya dengan alqur’an dan hadist. sebagaimana disebut…didiklah anak2mu sejak dari buaian…dan tidak diisi dengan yang lain.kedua,mempersiapkan skillnya ketika dia sudah baligh untuk kemajuan islam dengan pondasi alquran dan assunah yang telah terfilekan dalam otak dan pemahamannya.hasil dari proses pembelajaran ini sudah terlihat dari baribu-ribu abad yang lalu, seperti bapak dokter kita syekh ibnu sina….bapak matematika kita syekh aljabir dll.
    mudah-mudahan ini menjadikan kiblat kita berubah

    wassalamu’alaikum

  2. Wa’alaikumussalam warahmatullah…..
    Benner ammu Fah, pendidikan itu dimulai sejak 0 (nol) tahun;di dalam kandungan. (kita sebagai ibu hehehee: aku sok tahu ni….padahal belum pernah hamil ni aku), baca dibuku si, mendidik anak yang paling top/jitu itu dimulai sejak anak belum dilahirkan. Kebiasaan-kebiasan dan apapun yang diperdengarkan anak sejak lahir itu juga sudah direkam dan saat itu juga mereka juga sudah bisa merespon segala bentuk-bentuk komunikasi. Jika yang diperdengarkan al-Qur’an secara terus menerus dan pengajaran kebiasaan ibu, insyaallah bayi juga akan tumbuh dengan pribadi yang santun dan taat pada Allah…
    Iya sebenernya Islam juga sudah punya konsep dalam hal ini.
    Rasulullah banyak berpesan soal: anak itu seperti kertas putih, soal anjuran-nya untuk mengajari anak berkuda dan memanah (ini sebagai metafor). Bagaimanan memperlakukan anak umur 2 tahun, 7 tahun dan seterusnya, semua punya dan butuh perlakuan/pendidikan yang beda dan bertahap…

    Makasih ya ummu Fah, saya jadi termotofasi buka refrensi lagi ni🙂

  3. Ralat: bukan sejak lahir; sejak dalam kandungan🙂
    Yang jelas si, di usia 0-3 tahun, lebih efektiv untuk membentuk karakter positif, ketimbag jika ia sudah besar🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: