Oleh: Ningrum | 13 Desember 2009

Kematian

Kematian adalah sebuah tragedi terbesar manusia, kematian akan datang kepada setiap yang pernah hidup. Lalu, bagaimanakah kematian itu? kembali ke asal penciptaan, dari sari pati tanah. Kembali kepada yang menciptakan, sang Maha Pencipta. Dimana dan kapan kita tidak tahu kematian itu akan datang.

Jika kita mati, maka berarti kita tidak berkemampuan melakukan segala aktifitas hidup, kematian adalah ketidakberdayaan terhadap diri dan yang bukan diri. Mati adalah  hidup yang tamat. Tamat untuk segala nafsu, keinginan, perbuatan, kebahagiaan, kesedihan, doa dan dosa, juga harapan. Semuanya tamat untuk hidup yang lalu.

Makam; kuburan di Bambang Lipuro Yogyakarta

Tersadari, kematian ada untuk manusia selalu aware terhadap diri; atas tindakan. Kematian adalah jalan menuju pertanggungjawaban. Akankah sengsara dan atau bahagia di kemudian hari  di waktu pertanggungan  setelah jawaban diri?. Kawan, aku takut, takut akan tumpukan dosa ku sendiri. Takut dengan cara pembersihan-Nya, takut jika disucikan terlalu lama karena banyaknya pembangkangan.

TPU; tempat pemakaman umum Kuncen, Yogyakarta

Terkira, cukup banyak dosa seumur hidup yang tersadari jika dikumpulkan. Belum lagi yang tak terhitung karena tak terinsafi. Setiap tarikan nafas ini, setiap gerak tubuh, setiap penglihatan, setiap kata. Setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, setiap bulan, setiap tahun, sudahkah menjadi seperti yang diinginkan-Nya?. Justru terkira sebaliknya, tersering diri seperti yang diingini diri, ego yang juga tersering mau se-enak-nya, mau yang enak-enak;gampang-gampang nya saja dan meminta hidup selamanya.

Nyataannya, begitu kuat pesona dunia hingga mampu menciptakan uforia ke-sejenak-an hidup;kesejahteraan sesaat. Kesementaraan yang sanggup melenakan dan melalaikan. Hingga diri terlupa akan Dia,  kekasih-Nya, tujuan hidup, tempat kembali dan hari perhitungan.
Sudah tahu akan ada hari yang abadi, namun mengapa tergoda dengan yang sesaat?. Telah mengerti bahwa diri pasti akan mati, sendiri  dan dikafani, tapi mengapa masih seperti ini?

Hanya tanda

Seharusnya, diri bahagia dengan datangnya kematian. Karena dengan kematian akan hilang semua nafsu, keserakahan, keinginan, perbuatan, kebahagiaan, kesedihan yang menyengsarakan dan berpeluang menambah dosa diri. Seharusnya diri bersyukur atas kematian, karena kematian adalah pembebas manusia atas segalanya.
Kematian adalah proses menuju hari bahagia, hari pertemuan penerima Cahaya, Sang Cahaya dan Pencipta Cahaya. Namun dosa kembali menjadi penghalang kesemestian ini.

Yang Maha Penyayang, limpahkanlah keinsafan untuk diri yang masih takut mati.
Jangan biarkan diri berjalan sendiri. Kemari, tuntunlah aku manusia biasa ini.

Ketika tersadar.

Iklan

Responses

  1. Berbahagialah orang yang mati dalam kebenaran, karena dia akan beroleh hidup yang kekal.

  2. Semoga saja kita semua mendapatkan kebahagiaan dalam kematian yang pasti itu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: