Oleh: Ningrum | 31 Desember 2009

Bintang-bintang, Mangkuk Putih dan Embun Mawar Ajaib Dara

Setiap hari Dara melangkahkan kaki tanpa henti. Selalu menunggu dan menyambut datangnya pagi untuk kembali mengawali lagi. Berjalannya adalah upaya menyambungkan harap dan melanjutkan hidup. Di sore menjelang senja ia pun melakukan rutinitasnya, mengantarkan sinar hangat jagad itu untuk tenggelam menggelapkan dan mengistirahatkan isi bumi. Di gulitanya malam, biru yang seolah menjelma menjadi hitam, Dara tak jua memberhentikan harapnya. Tak pernah merasa sendiri, karena kesyahduan langit dengan tata surya-nya pun mampu ia nikmati untuk meramaikan hati.

Belasan tahun Dara melakukan ini. Lama-lama alam seperti menjadi sahabat yang selalu saja mengerti akan segala rasa  miliknya. Seperti bintang gemintang yang terhubung satu dengan lainnya, menggoda imaji membentuk sebuah tanda yang bermakna “Hai sobat, aku dan kawan-kawanku di sini, setia menemani malammu. Dara, malam ini kau menginginkan apa dari kami? Pandangi kami yang berkelip. Kami bisa mewujud serupa juta khayalmu. Cepat sambungkan aku dengan ribuan lainnya. Segala bentuk akan kau dapatkan dari kami yang dianugrahi sinar dari Pencipta Cahaya. Tersenyumlah Dara, nikmati jamuan ini, bersiaplah akan dekapan langit, mari bermain bersama kami”. Kira-kira begitu yang Dara baca dari cakrawala malam ber-bintang.

“Absurd kah sesuatu yang sedang kucari?” tiba-tiba saja dan mulai saat itu ternyata pertanyaan ini sering muncul dalam benak Dara. Namun jangan panggil dia Dara jika ia seperti kebanyakan. Seringkali jika orang ingin ke hilir, dia justru mencoba ke hulu. Ketika banyak orang menertawakan keabsurd-an, ia justru suka bermain-main dengan itu. Dara juga tidak selalu percaya dengan segala bentuk yang dilihatnya.  Dara tersering bisa mengabaikan yang menyata datang ketimbang apa yang baru ada di hati dan pikirannya. Dara punya harap yang ia sendiri kadang bilang mirip labirin itu adalah bagian dari mimpi-mimpinya. Entah bagaimana cara mewujudkannya, Dara sendiri seringkali tidak tahu pasti.

Hingga di suatu sore ia membuka inbox dalam e-mailnya. Mendapatkan sebuah pemberian nomor kontak (yang  tak diminta Dara) dan mulai dari sinilah Dara bahagia sealam raya. Hari-hari indahnya dimulai pada suatu malam akhir Juli 2006.  Berlanjut, berbagi cerita, berbagi rasa dan selalu  mendapatkan pesan dari Bujang tiap harinya. Berkirim surat dan bercerita soal latar belakang, laku dan sifat. “Kita sama Dara dalam hal itu” kalimat Bujang yang mengatakan sama menggirangkan dan juga sangat menyenangkan dan menyamankan Dara. Bahagia Dara membuncah karena Bujang adalah salah satu seperti yang ia cari dalam hidupnya.

Dara yang sudah kesana kemari ternyata merasa bertemu belahan jiwanya, Dara jatuh hati!! Suatu yang sulit terjadi padanya, meskipun Dara adalah gadis supel juga normal yang hanya tertarik dengan pria dan pernah bersimpati pada beberapa diantara dalam perjalanannya. Namun, rasa suka dan bahagia Dara kali ini adalah yang terbesar ia rasakan seumur hidupnya. “Akhirya aku menemukannya” dalam hati Dara selalu bicara.

Suasana hati Dara jika di gambarkan dalam grafik sumbu X dan Y adalah melonjak cepat dan semakin meningkat drastis. Jika sebuah musim, musim itu adalah musim semi. Jika itu buah, maka buah itu sedang ranum. Jika itu warna, berbagai warna ada di sana. Ingatannya tak pernah kosong akan kepolosan Bujang. Matanya juga tak mau absen dari menyantap tulisan-tulisan Bujang yang begitu terbaca terasa punya ruh.

Tak sampai terlalu lama, Bujang suatu waktu sedang berkumpul dengan keluarga. Ia menawarkan Dara untuk bicara lewat telepon kepada Bapak, Ibu dan atau adiknya yang cantik. Bujang juga pernah memanggil “Say” ketika Bujang sedang bersama teman-temannya makan malam di pinggir jalan, ada menu sate brutu katanya dan Bujang memilih makan tahu tempe. Bujang tidak malu memberitahukan bahwa ia sedang menangis, saat memeluk  Za adiknya ketika menjengguk Za di area perkemahan Pramuka. Bujang adalah laki-laki yang polos, apa adanya, keras hati dalam berprinsip, tapi juga sangat perasa dan cemerlang. Ini yang membuat Dara yang memiliki kesan cuek bebek dimata sobat-sobat prianya dengan cepat menggilai Bujang.

“Duh mengapa aku bisa seperti ini?” kata Dara. Ia juga tak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi padanya, hingga ia menangis untuk rasa bahagia sekaligus ketakpahamannya akan air mata itu juga dirinya. Tanpa disadari sejak itu dalam diri Dara tumbuh mawar ajaib.

Mawar ajaib yang tumbuh dan mekar tanpa akar, tak berduri, juga tiada punya daun. Mawar itu adalah mawar ajaib. Mawar yang sering berembun tiba-tiba bukan pada kelopak, bukan juga pada daun, tetapi melalui sepasang mata bola Dara. Mawar ini adalah mawar ajaib yang terus hidup juga tak layu hanya karena menahun.

“Deskripsi kognitif yang menarik, tapi bukan itu, maaf selamat tinggal!!” kurang lebih begini kata Bujang kepada Dara sebagai balasan e-mail yang isinya diragukan kesungguhannya oleh Bujang. Memang, kala itu ada rasa yang disembunyikan Dara pada Bujang. Hanya saja Dara enggan mengaku pada Bujang. Namun karena merasa akan ditinggalkan Bujang karena ketidakterusterangan yang terbaca oleh Bujang jadi, Dara pun akhirnya jujur pada Bujang. “Nah ini yang aku maksud, Bukan aspek kognitif. Tapi rasa. Rasa lah yang menggerakan hidup!! menggairahkan!” kata Bujang.

Dara mengharu biru seperti menyesal, malu namun juga bahagia. Hari berganti hari tetap saja indah untuk Dara. Bujang telah merubah Dara, Bujang telah menuntun Dara menemukan sesuatu yang berharga dalam hidupnya. Yakni rasa dan berartinya air mata. “Langit, aku sedang bahagia, begini rasanya, sungguh aneh.” teriak hati Dara dalam hari-harinya.

Di luar harapan Dara, tidak dalam perkiraanya, tanpa sepengetahuan Dara.  Dikemudian hari Bujang bertemu lalu tertarik dengan Gadis yang ternyata mampu megambil hatinya. Perlahan Bujang meninggalkan Dara. Bujang meminta Dara untuk menghapusnya. “Cobalah satu bulan tidak menghubungiku, bila rasa mu lebih baik, hapus aku dalam memorimu selamanya” kata Bujang. Dara sangat terpukul oleh perkataan Bujang.

Mawar ajaib berembun hingga meluap-luap kemudian mengalir jauh. Sesekali hidungnya pun  tersumbat. “Hai kerlipan yang tampak menggantung, ternyata kau sejak  tadi ada di sana. Maaf, aku datang padamu dikala sedihku, tidak seperti kemarin dengan rupa berbunga-bunga” Dara bicara pada semua lintang yang memenuhi langit.

Padahal pernah sebaliknya, Bujang menolak permintaan Dara hanya untuk mengurangi intensitas berkirim kabar di bulan Ramadhan.  Selain alasan itu, Dara juga memiliki alasan lain. Dara amat sangat sudah merasa memiliki ketergantungan rasa pada Bujang. Rasa rindu, rasa sayang dan rasa tak mau kehilangan Bujang. Posesifitas yang besar pun tercipta dan dipunyai Dara. Dara ingin mengurangi berbagai rasa, namun sekaligus dalam hati terdalamnya tak mau kehilangannya.  Agaknya Bujang punya rasa yang nyaris sama dengan Dara. “Gak, aku gak mau, kenapa mesti begitu?” Bujang menolak saran Dara. Mereka pun tetap saling berkirim kabar. Ya tapi ini sebelum Gadis datang pada Bujang.

Sang kala yang tak pernah mau berhenti, menjadikan mawar ajaib milik Dara menyatu dengan raganya. Bujang lebih menyukai Gadis, bukan Dara. Namun Dara tetap kepada Bujang. “Sungguh aku terlalu pada Bujang dalam ingatan dan rasaku”. Itu selalu berbayang pada Dara meskipun di akhir hari-hari ke 888, Dara sempat mencoba sejenak bekerja keras mengganti Bujang dengan Ujang. Tapi usaha Dara sia-sia, mawar ajaib itu tetap hidup hingga dalam hitungan 1068. Dengan segala maaf Dara bercerita apa adanya pada ujang. Kemudian Dara memutuskan untuk tidak lagi bersama Ujang.

Lalu, masih saja Dara seringkali merindu dan menyeka embun mawar ajaib itu. Rindu-rindu  tertahan menjadi pilu untuk ribuan hari atau mungkin sampai tak terhingga. “Aku tak tahu apa dan mengapa bisa seperti ini?” hati Dara berkata.  Kini, mawar ajaib dalam kalbu yang seringkali berdegub tiba-tiba kala merindu itu tengah bersahabat dengan mangkuk putih. Sebuah cawan yang ia gunakan untuk menampung banyaknya tetesan. Juga guna melihat sebening apa embun yang mengalir dari  Mawar ajaib miliknya;Dara itu.

Malam yang syahdu dengan kerlipan tak terhitung telah berjanji setia pada Dara untuk selalu bermain atau menenangkannya. Persis kali pertama berjumpa “Bagaimanapun engkau Dara, datanglah pada kami, di saat sedih atau bahagiamu”.  Begitupun Dara tak akan mengabaikan kegemintangan sebagai anugrah dari Pencipta Cahaya “Engkau tetap indah dan berarti untukku, selamanya”.  Terimakasih Tuhan *peluk hangat*

Sebuah narasi pendek.

Handayaningrum


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: